Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
— Emira —
Sekeluarnya dari butik, aku bertanya pada sahabatku mengapa para pramuniaga tadi bereaksi seperti itu. Dengan mata berbinar penuh semangat, ia menjelaskan makna warna kartu-kartu itu.
Di dunia ini hanya ada dua jenis kartu untuk orang-orang kaya. Yang pertama, kartu emas, dimiliki oleh para presiden, wali kota, atau miliarder. Yang kedua, kartu hitam, konon dimiliki oleh kalangan bangsawan atau orang berpangkat tinggi.
Setelah penjelasan itu, kami berdua akhirnya bisa membeli gaun untuk acara nanti.
Pukul enam sore, tapi Daniel masih berada di ruang kerjanya bersama Wisnu. Beberapa saat kemudian, dengan wajah agak lelah, ia beranjak mandi untuk kemudian mengenakan setelan jasnya. Aku berada di kamar lain agar Daniel bisa berganti pakaian dengan tenang, sementara aku sendiri dirias.
Daniel sedang berusaha mengikat dasinya sambil berbincang dengan sepupunya dan Wisnu.
Ketika aku sudah siap, aku menuruni tangga, memperlihatkan penampilanku yang anggun dalam gaun panjang keemasan yang membalut tubuhku, menonjolkan siluetku yang ramping. Para pegawai terkesima oleh kecantikan calon nyonya rumah mereka. Aku berjalan menghampiri Daniel, yang tertegun menatapku sampai berhenti mengikat dasinya. Dengan senyum lembut bak bidadari, kukatakan padanya bahwa aku akan membantu mengikat dasinya. Lalu ia mendekat ke telingaku dan berbisik,
"Begitu kita pulang, hal pertama yang akan kulakukan adalah melahapmu."
Wajahku merona, tapi seketika aku menenangkan diri karena semua orang ada di sana. Cepat-cepat aku menjauh darinya dan menoleh ke arah Wisnu.
"Di mana Regina?"
"Ia sedang dalam perjalanan. Tiga menit lagi ia akan tiba."
Sementara kami berdua asyik mengobrol, Leo mendekati sepupunya dari belakang dan berbisik dengan nada mengejek,
"Ada apa? Cemburu pada sekretarismu, atau kesal karena tak bisa melakukan hal lain?"
Daniel tersenyum sombong. "Memangnya kau tahu apa? Kau saja pria hidung belang berumur tiga puluh tahun yang masih perawan."
"Kau juga masih perjaka," balas Leo kesal. "Kutebak kalian belum pernah berhubungan intim."
Daniel mengangkat sebelah alis. "Kau kira begitu..." Ia berlalu dengan wajah mengejek. "Kubiarkan imajinasimu berkelana."
Sesampainya di Hotel White S, semua tampak tenang tanpa masalah. Daniel dan yang lainnya sudah pergi, meninggalkanku bersama Regina. Beberapa saat kemudian, ia ingin ke toilet, dan aku menemaninya, tapi begitu masuk, aku pun jadi ingin ke sana.
Kudengar ia sudah keluar untuk mencuci tangan. Beberapa saat kemudian, suasana jadi sunyi, tapi aku tak terlalu memikirkannya. Ketika keluar, kukira ia menungguku di luar. Namun ternyata ia tak ada. Aku mulai khawatir dan kembali masuk untuk memeriksa apakah ia masih di dalam, tapi tak ada siapa-siapa.
Aku mulai melangkah cepat, mencari Regina ke sana kemari di sepanjang lorong, tapi tak juga menemukannya. Lalu kurasakan seseorang membekap mulutku dari belakang, hingga aku kehilangan kesadaran.
Ketika kubuka mata dengan berat, kurasakan seseorang bernapas di leherku. Marko sedang menciumi leherku, berada di atasku di ranjang. Kudorong ia sekuat tenaga hingga terjatuh. Dengan ketakutan aku cepat-cepat memeriksa tubuhku, tapi lega melihat pakaianku masih utuh. Lalu aku turun dari ranjang dan menatapnya dengan geram.
"Marko, kau sudah gila. Berani-beraninya kau menyentuhku. Padahal kau tahu siapa kekasihku."
"Emira." Ia berusaha mendekat. "Aku tahu kau marah padaku karena memutuskan hubungan kita. Tapi aku tak bisa berhenti memikirkanmu."
Aku menjauh, menghindarinya. "Di mana Regina? Apa yang kau lakukan padanya?"
"Ia baik-baik saja, ditinggal di dekat air mancur. Sebentar lagi ia akan siuman." Wajahnya tampak sedih. "Aku hanya ingin berdua saja denganmu."
"Marko," ucapku sinis, "kau selalu menjauhkanku dari sisimu, dan sekarang kau ingin kita kembali. Tidakkah menurutmu sikapmu itu bertentangan?"
"Emira, apa kau sudah jatuh cinta pada bajingan itu?"
"Dia bukan bajingan." Aku geram. "Satu-satunya bajingan di sini adalah kau."
Aku berusaha keluar, menarik gagang pintu, tapi Marko menahanku dari belakang, memelukku sambil berkata,
"Kumohon, kumohon." Ia meratap dengan air mata. "Jangan tinggalkan aku, Emira, maafkan aku."
"Lepaskan aku, Marko," ucapku sambil meronta.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi." Ia marah, lalu mengeluarkan afrodisiak milik Selena sambil terus mencengkeramku. "Kau harus jadi wanitaku. Kau hanya milikku, kali ini kita akan bersama."
Aku mencium bau aneh, tapi dengan cepat kuinjak kakinya dengan hak sepatuku dan kusikut wajahnya. Aku berlari menyusuri lorong tanpa tujuan.
Lama-kelamaan kurasakan lariku melambat dan napasku memburu. Efek afrodisiak itu mulai bekerja. Aku berjalan sambil berpegangan pada dinding sampai, saat berbelok, aku menabrak seseorang. Aku masih sadar, dan bisa mengenali pria yang berada di hadapanku.
"Kak Bara, tolong aku," ucapku sambil berpegangan padanya.
"Emira?" Ia terkejut, lalu menahan tubuhku. "Ada apa?"
"Lepaskan wanitaku, jangan sentuh dia," seru Marko.
Marko mendekat untuk merebutku, tapi Bara menendang perutnya hingga ia terbatuk darah. Aku terengah-engah, berusaha mempertahankan kesadaran.
"Aku k-kepanasan, panas sekali." Aku megap-megap. "Ah— ah~"
Bara menyadari aku telah dibius. Ia segera memasukkanku ke kamarnya, yang berjarak empat meter dari situ. Sebelum itu ia berkata,
"Bawa masuk benda itu dan bekap mulutnya." Ia menatapku dengan cemas dan mengangkatku. "Tenang, sebentar lagi kau akan merasa lebih baik."
Para pegawai hotel membawakan bongkahan es dan menempatkanku di dalam bak mandi, sementara tanganku dan kakiku diikat karena efeknya kembali menjalar. Lalu dengan susah payah ia menenggelamkanku ke dalam bak. Setelah keluar, ia mengunci pintu untuk berjaga-jaga kalau-kalau aku terlepas.
Kemudian, dengan amarah yang meluap-luap kepada Marko, ia memukulinya berkali-kali sampai amarahnya mereda. Lalu dengan sepatunya ia menginjak wajah Marko, dan berkata dengan nada mengancam yang mengerikan,
"Bangsat. Berani-beraninya kau menyentuh sepupu kecilku. Hari ini kau akan merasakan seperti apa neraka. Akan kuajari kau apa artinya jadi gila. Akan kubalas seribu kali lipat perbuatan keji yang ingin kau lakukan padanya hari ini, sampai kau berharap lebih baik mati."