NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bekerja di restoran

Suara dentingan gelas kaca dan alunan musik jazz pelan jadi latar belakang malam yang sibuk di "Senja Resto", tempat Maya mencari nafkah setiap hari.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi keramaian di kafe kelas menengah ke atas itu belum juga surut.

Maya, dengan apron hitam yang melilit pinggangnya, berjalan cepat sambil membawa nampan berisi pesanan ke meja sudut. Napasnya sedikit memburu karena kaki pegal berdiri sejak siang, tapi dia tetap pasang senyum ramah ke setiap pengunjung.

​"Pesanan atas nama Meja 12, steak medium rare sama jus alpukat ya," kata Rian, rekannya sesama pelayan, sambil meletakkan nampan tambahan di konter bar.

​Maya mengangguk cepat. "Oke, siap!"

​Tapi di meja nomor VIP paling pojok—meja yang selalu dikosongkan khusus untuk tamu-tamu tertentu—suasananya jauh beda. Meja itu hening. Kosong dari obrolan santai, tapi penuh dengan aura tegang yang bikin siapa pun enggan mendekat. Di sanalah Reza duduk.

​Pria itu adalah langganan paling misterius di restoran ini. Orang-orang sekitar sering berbisik kalau Reza bukan pengusaha biasa.

Setelan jas hitam mahal yang melekat di tubuh atletisnya, tatapan mata tajam bagai elang, serta tiga orang pengawal berbadan besar yang berdiri kaku di belakangnya sudah cukup jadi bukti kalau pria itu memegang kendali atas dunia bawah kota ini.

​Maya sebenarnya benci harus mengantar pesanan ke meja itu. Bukan cuma karena takut, tapi karena setiap kali menatap mata Reza, rasanya ada hawa dingin yang menusuk tulang. Namun malam ini, giliran Maya yang harus mengantar kopi hitam pahit kesukaan pria tersebut.

​Dengan langkah hati-hati, Maya berjalan mendekati meja VIP. Ia menunduk sedikit, berusaha tidak menatap langsung mata tajam Reza.

​"Silakan, Tuan," kata Maya dengan suara pelan namun jelas, sambil meletakkan cangkir keramik hitam di atas meja marmer.

​Reza tidak langsung menyentuh kopinya. Pria itu justru melirik Maya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menilai.

Maya bisa merasakan bulu kuduknya meremang seketika. Ia ingin segera berbalik dan kabur ke dapur, tapi etika kerja menahannya untuk tetap berdiri di tempat.

​"Kamu anak baru?" suara Reza mendadak memecah keheningan meja itu. Berat, rendah, dan berwibawa.

​Maya menelan ludah dengan susah payah. "B-bukan, Tuan. Saya sudah kerja di sini hampir setengah tahun."

​Reza mengangkat sebelah alisnya. Jarinya yang dihiasi cincin perak mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja. "Setengah tahun? Aneh. Baru kali ini saya perhatikan kamu."

​Maya tersenyum kaku, berusaha menutupi rasa gugupnya. "Mungkin karena Tuan jarang memperhatikan pelayan di sini."

​Suasana mendadak hening lagi, tapi kali ini terasa lebih mencekam. Salah satu pengawal di belakang Reza, pria berbadan gempal dengan bekas luka di pipi, tiba-tiba maju satu langkah saat melihat ponsel di saku Maya bergetar agak keras.

​"Jangan bergerak," tegur pengawal itu dengan nada mengancam.

​Maya kaget bukan main. "Eh? Saya cuma mau angkat telepon..."

​"Biarkan," potong Reza singkat, memberi gestur tangan agar bawahannya mundur. Ia kembali menatap Maya lekat-lekat, membuat gadis itu merasa seperti mangsa yang sedang dikunci oleh predatornya. "Siapa nama kamu?"

​"Maya, Tuan."

​Reza terdiam sejenak, mencerna nama itu di kepalanya. "Maya..." ulangnya pelan, seolah sedang merasakan sesuatu yang menarik dari nama tersebut. "Dengar, Maya. Malam ini jangan pulang lewat jalan belakang restoran."

​Maya mengerjap keningnya berkerut, bingung setengah mati. "Hah? Maksudnya bagaimana, Tuan? Jalan belakang kan lebih dekat ke kosan saya."

​Reza menyesap pelan kopi hitamnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah bingung Maya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sama sekali tidak terlihat ramah.

​"Kalau kamu nekat lewat sana malam ini," bisik Reza dengan nada dingin yang membuat darah Maya mendadak terasa berhenti mengalir, "kamu bakal menyesal karena sudah terlahir di dunia ini."

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!