"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Melewati Batas
"Jangan gila! Bayu tidak pernah menyentuhku sejauh itu!" desis Naya tajam. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman Aksa. Dadanya naik-turun memburu menahan amarah yang meledak. "Lepaskan aku! Kamu menyakiti tanganku!"
Mendengar kata sakit, cengkeraman Aksa langsung mengendur. Namun dalam sepersekian detik, pria itu menarik pinggang Naya dengan lengan kirinya. Tubuh mereka bertubrukan keras. Dada Naya menghantam dada bidang Aksa yang terasa panas bak besi membara.
"Bagus kalau begitu. Karena bagian ini hanya milikku," bisik Aksa tepat di depan bibir Naya. Suaranya serak dan mematikan.
Sebelum Naya sempat memaki, Aksa meraup bibir wanita itu tanpa ampun. Ciuman itu tidak lembut sama sekali. Sangat menuntut, beringas, dan penuh keputusasaan. Semua kerinduan yang membusuk selama tujuh tahun, dendam masa lalu yang menyesakkan dada, dan rasa bersalah yang mencekik leher Aksa tumpah ruah dalam satu lumatan kasar itu.
Naya membelalak lebar. Tangan kirinya mengepal kuat, memukul dada Aksa berulang-kali untuk mendorong pria itu menjauh. "Aksa... lepaskan... mhh!"
Bantahan Naya tertelan habis. Aksa menahan tengkuk Naya, memperdalam ciuman mereka hingga Naya kehabisan oksigen. Pukulan Naya di dada Aksa perlahan melemah. Hawa panas yang menjalar dari bibir Aksa melumpuhkan seluruh fungsi otaknya. Kebencian yang Naya pertahankan susah payah luruh seketika. Wanita itu memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi. Tangan kirinya perlahan merambat naik, meremas kerah kemeja Aksa dengan putus asa.
Naya membalas ciuman itu dengan sama gilanya.
Merasakan balasan Naya, kewarasan Aksa benar-benar putus. Pria itu menyudahi ciuman mereka sejenak hanya untuk meraup napas. Dadanya naik-turun memburu menatap mata Naya yang basah dan sayu.
"Kita selesaikan ini di tempatku," bisik Aksa parau.
Tanpa aba-aba, Aksa menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Naya dan lengan lainnya menopang punggung wanita itu. Ia menggendong Naya dengan mudah dalam satu gerakan cepat. Naya memekik pelan, refleks mengalungkan lengan kirinya ke leher Aksa agar tidak jatuh menabrak lantai.
Aksa berderap keluar dari ruang terapi, melangkah lebar menuju lift VVIP dan menekan tombol lantai basement parkir.
"Turunkan aku, Aksa! Orang-orang bisa melihat kita!" protes Naya panik. Wajahnya merona merah padam melihat Aksa mendobrak pintu basement hingga terbuka.
"Persetan dengan orang-orang," potong Aksa tajam.
Aksa mendudukkan Naya di kursi penumpang mobil sport hitamnya, memasangkan sabuk pengaman, lalu memacu kendaraan itu membelah jalanan ibukota. Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat panas dan mencekam. Tidak ada yang bersuara, tapi tarikan napas keduanya saling memburu menahan gairah yang sudah di ubun-ubun.
Tiba di gedung apartemen megah milik sang CEO, Aksa kembali menggendong tubuh Naya keluar dari mobil. Mereka masuk ke dalam lift pribadi yang langsung melesat naik dan terbuka tepat di tengah ruang tamu penthouse mewah.
Langkah panjang Aksa berderap membawa Naya masuk ke dalam kamar utamanya, membaringkan wanita itu perlahan ke atas ranjang berukuran raksasa. Lampu ruangan dibiarkan mati, hanya ada cahaya remang dari lampu kota metropolitan di balik jendela kaca.
Aksa menindih tubuh Naya hati-hati, memastikan berat badannya sedikit pun tidak menekan tangan kanan Naya yang dibalut penyangga elastis.
"Maafkan aku, Naya. Maafkan semua kebodohanku," bisik Aksa bergetar. Ciumannya turun menyusuri leher Naya. "Aku sangat mencintaimu sampai rasanya mau gila."
Naya menangis terisak. Tangisannya pecah memecah keheningan kamar mewah itu. "Kamu jahat, Aksa. Kamu membuatku menderita bertahun-tahun. Kamu menghancurkan satu-satunya hal yang paling aku banggakan. Tanganku cacat karena kamu!"
"Pukul aku," jawab Aksa penuh penyesalan. Pria itu menghentikan gerakannya, menatap Naya dengan mata berkaca-kaca. "Pukul aku sekeras yang kamu mau. Bunuh aku sekarang juga, Naya. Tapi tolong, jangan usir aku lagi dari hidupmu."
Aksa meraih tangan kanan Naya dengan kelembutan luar biasa, mencium telapak tangan yang kaku itu berkali-kali seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Air mata Aksa jatuh menetes mengenai kulit telapak tangan Naya.
Melihat hancurnya pertahanan pria angkuh itu, sisa kemarahan di dada Naya lenyap sepenuhnya. Ia menarik kerah kemeja Aksa, membawa pria itu kembali menyatukan bibir mereka.
Di atas ranjang itu, pertahanan mereka berdua hancur tanpa sisa. Semua rasa sakit, air mata penyesalan, dan rindu yang membakar jiwa melebur menjadi satu. Sentuhan lembut Aksa menghapus semua ketakutan Naya, menggantikannya dengan gairah dan kehangatan gila yang sudah lama hilang dari hidup sang dokter bedah.
Cahaya terang yang sangat menyilaukan menerobos paksa masuk lewat celah gorden besar di kamar itu. Sinar kuning keemasan jatuh tepat menyinari wajah Naya yang tertidur pulas di balik selimut tebal.
Naya menggeliat pelan. Ia merasakan rasa pegal mendominasi sekujur tubuhnya, namun ada kehangatan luar biasa yang menyelimuti batinnya. Naya membuka kelopak matanya dengan berat, menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menusuk pandangan.
Tangan kirinya bergerak mengusap mata. Saat Naya bermaksud merilekskan tangan kanannya yang masih terpasang penyangga dari rasa kebas, sudut matanya mendadak menangkap kilauan silau yang memantulkan cahaya.
Naya membeku seketika. Kantuknya hilang tak berbekas. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan mendekati wajah. Jantungnya seakan berhenti berdetak detik itu juga. Di jari manisnya sebuah cincin berlian bertahtakan batu murni dengan potongan sempurna sudah melingkar sangat pas, mengikat tangannya erat-erat tanpa bisa ditolak.
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak