NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayo, Nafkahi Aku!

**

​Rafa berlari terburu-buru di koridor sekolah, sesekali melirik jam di pergelangan tangan yang menunjukan ia sudah sejak telat dari pemanggilan.

​Rafa tadi tiba-tiba mendapat telepon saat sedang ada kerjaan di lapangan dari sekolah Elvan, yang mengatakan jika bocah itu berkelahi dengan teman sekelasnya.

Ya, Tuhan! Bocah itu baru 5 tahun, tapi kenapa kasusnya harus perkelahian? Jika dia sudah SMA, mungkin Rafa akan bisa memaklumi.

​Apa dirinya dulu senakal ini?

​Tok tok tok

​Nafas Rafa sudah memburu, saat tengah mengutuk pintu. Setelah mendapat sahutan dari dalam, dirinya langsung masuk. Mata Rafa terbelalak kaget, saat melihat penampilan Elvan yang sudah penuh lumpur, ah ... empat bocah lelaki di sana juga sama kacaunya kecuali satu anak perempuan.

​"Om Rafa?" panggil seorang anak yang tadi menunduk, ternyata sedang makan coklat. Bisa-bisanya? Tunggu, dia, kan?

​"Cio?" panggil balik Rafa, kenapa keponakannya juga ada di sini?

​"Silahkan duduk, Pak!" titah seorang lelaki yang Rafa yakini pasti guru di sini.

​"Ah, iya." Rafa mendudukkan dirinya, di tengah-tengah Elvan dan Cio yang kebetulan duduk satu sofa.

​Rafa sudah yakin, jika mereka berada dalam satu sekutu saat dilihat dari cara duduk anak-anak di sini. Di sofa depan, ada ketiga anak lelaki lain yang sudah didampingi ibu mereka, yang anehnya sedari tadi ibu-ibu itu terus memperhatikan dirinya. Ada yang salah, kah?

​"Papa," ujar Elvan yang sama asyiknya makan coklat yang sama dengan Cio. Bisa-bisanya dua bocah ini?

​Tunggu, jika ada Cio, berarti dipanggil juga orangtuanya? Mati sudah Rafa, jika harus ketahuan disaat situasi dan kondisi seperti ini!

​Tok tok tok

​Terdengar suara ketukan pintu, setelah guru di sana menyuruh masuk, pintu itu terbuka dan munculah seorang lelaki. Ah ... Rafa langsung mengusap dada lega, saat menemukan Alex ada di sana.

​"Kakak, kamu ngapain lagi?" Alex langsung menanyai Cio, yang sayangnya bocah itu masih santai memakan coklat.

Rasakan, itu mungkin karma! Tapi kenapa, Elvan juga begitu?

​"Kak Rafa, lo juga?" tanya Alex yang langsung mendudukkan diri di samping Cio sebelum dipersilahkan duduk.

Dasar lelaki ini, masih tidak punya adab!

​Alhasil, sekarang mereka duduk berdempetan di sofa kecil. Sejujurnya, Rafa masih terganggu dengan tatapan seolah ingin memakan dari ke tiga ibu di depan sana. Apalagi setelah kedatangan Alex, membuat tatapan mereka semakin terlihat menakutkan.

​

"Ok, sekarang semua orangtua sudah datang. Mari kita mulai!" seru seorang lelaki tua yang duduk di kursi depan mereka semua.

​Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya mereka keluar dari ruangan kepala sekolah dengan perasaan yang beragam.

Rafa dan Alex sendiri dirasa perasaan dongkol setengah mati, jika mengingat lagi ulah kedua anak mereka tadi. Sedang kedua tersangka, masih asyik tertawa memamerkan gigi mereka yang sudah penuh coklat, dasar bocah! Sedang ketiga ibu di sana, malah langsung memintai mereka nomer ponsel, mengajak berkenalan. Alhasil, Rafa dan Alex buru-buru kabur menyeret kedua anak nakal itu.

​Bagaimana Rafa tidak kesal? Dua bocah itu yang pertama mencari ribut terhadap ketiga bocah itu, dan satu anak perempuan di sana. Rafa pikir, pertengkaran mereka karena dua bocah nakal itu membela anak perempuan itu karena diganggu oleh tiga bocah itu. Jika dramanya seperti itu, mungkin Rafa masih bisa memaklumi.

​Tapi ini? Mereka mengambil tas anak perempuan lalu digantung di pohon, yang kebetulan Cio bisa memanjat sampai anak perempuan itu menangis. Sedang tiga bocah itu, mereka terkena lemparan minuman yang disengaja, serta sepatu mereka di buang ke tempat sampah.

​Sebulan ini, Rafa pikir Elvan baik-baik saja di sekolah. Tapi ternyata, kenakalan bocah itu masih banyak lagi, yang semua digurui oleh Cio dan dilakukan secara bersama. Rafa tidak tahu, jika mereka bisa sedekat ini!

​"Kakak, mau pindah sekolah lagi? Papa pusing loh Kak, disekolah kamu buat ulah terus. Kamu masih Tk, tapi tingkah kenakalan kamu, sudah luar biasa bikin Papa darah tinggi!" Alex sedari tadi terus mengoceh, sementara Cio terlihat asyik dengan eskrimnya.

​Rafa ikut memijit kening pusing, keponakannya itu memang cerminan sekali papa-nya. Rafa melirik Elvan yang sama asyiknya dengan eskrim, tanpa peduli sekitar. Memang sekarang mereka sedang di restoran, sekalian makan siang bersama.

​"Kakak, denger Papa, kan?" Alex kembali mengoceh.

​"Kata Mama, kalau lagi makan jangan ngomong. Aku bilangin Mama, mau Pa dimarahin!" balas Cio tak kalah galak dari Alex.

​"Terserah, Papa pusing. Papa juga bakal lapor kelakuan kamu sama Mama nanti. Awas aja kamu, Kak!"

​Alex dan Cio sudah saling bertatapan dengan pandangan tajam. Kedua orang ini, memang yah!

​"Itung-itung rasain jadi orangtua lo dulu, ngurus kenakalan lo!" celetuk Rafa.

​"Iya, bener." Alex sudah menyandarkan dirinya ke kursi. "Nyesel gue dulu kaya gitu. Langsung kena karma lewat nih anak!"

​"Sayangnya anak lo, jadi guru anak gue juga. Bisa mati muda gue!" Rafa mengeluh tak kalah pusing. "Masih mending lo di rumah ada Lexa, lah gue?"

​"Oh iya, gimana cewek itu ada kabar lagi?"

​"Tahu deh, dia datang kaya jelangkung suka-suka dia," balas Rafa malas jika sudah membahas wanita itu yang datang sesuka hati menghubungi dia dengan nomer baru.

​"Sabar Kak, hidup itu ujian! Burung lo masih harus puasa itu artinya," ledek Alex tertawa puas.

​"Sialan!"

​"Om Rafa punya burung, Pa?" tanya Cio tiba-tiba yang langsung membuat Alex gelagapan, sementara Rafa tertawa puas.

​"Pa, sialan!" celetuk Elvan tiba-tiba.

​

"Heh!" tegur Rafa yang kali ini membuat Alex tertawa senang.

*

​Sekitar jam 10, Rafa masih berkutat dengan dokumen pekerjaan yang dia bawa pulang karena tadi terpaksa ditinggal untuk pergi ke sekolah Elvan. Sementara bocah itu sudah tidur, setelah Rafa ceramahi panjang lebar, yang sepertinya hanya dianggap angin lalu saja.

​Tiba-tiba teleponnya berdering, saat melihat yang menelpon, Rafa hanya menyeringai dan kembali meletakan ponsel.

​"Rasakan, gak akan gue angkat kali ini."

​Tapi dering ponsel yang berbunyi untuk yang kesekian, akhirnya sangat mengganggu konsentrasi Rafa. Otak Rafa menyuruh untuk memencet tombol reject, tapi tangannya malah memencet tombol angkat.

​"Sialan!" umpat Rafa sambil tersenyum kecil.

​"Hallo!"

​"Hallo. Kamu kaya, kan?"

​"Hah, apa?" Rafa berteriak kaget, melihat lagi siapa yang menelepon untuk memastikan.

​"Duit kamu banyak, kan?" tanya wanita diseberang telepon lagi.

​"Tunggu, kamu masih sehat?"

​"Uang ditabungan kamu ada berapa? Ah, gaji kamu perbulan berapa?" tanya wanita itu lagi terdengar terburu-buru, tanpa peduli jika Rafa sudah yang syok di tempat.

​"Kamu gak waras!" bentak Rafa pusing.

​"Jawab aja! Duit kamu banyak?"

​"Saking banyak-nya, bisa sekolahin anak Elvan sampai jadi sarjana," jawab Rafa asal.

Dia memang punya tabungan, gaji lumayan tapi uangnya tidak sesultan itu.

​"Sialan! Elvan masih kecil yah, udah ngomongin anaknya! Gak waras yah, kamu?"

​"Kamu yang gak waras! Malam-malam nanyain duit orang!"

​"Aku udah total uang dari aku hamil, melahirkan, mengurus Elvan. Setidaknya itu lebih dari cukup untuk biaya hidup aku 5 tahun berfoya-foya. Tapi kamu tenang aja, aku cuman mau minta biaya hidup setahun saja."

​"Tunggu, apa maksudnya?" tanya Rafa sama sekali tidak mengerti dengan topik yang sedang dibahas.

​"Seminggu lagi, aku pulang. Aku lagi butuh tampungan. Jadi, aku udah pilih kamu buat nanggung biaya hidup aku selama setahun. Hitung-hitung, bayar biaya kamu tidak bertanggungjawab."

​"Gila, yah?"

​"Iya, aku gila. Jadi, ayo nafkahi aku!"

​"Hah?"

​

##

1
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!