NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 026 - Kembalinya Sang Pengawas Asli

Derap langkah kaki bersepatu bot bergema cepat menyeberangi lantai marmer hitam aula gua altar darah. Suara benturan logam pelindung lutut dengan lempengan batu marmer dan desah napas kasar yang terengah-engah memantul berulang-ulang di antara stalaktit runcing langit-langit batu kapur.

Gu Yuan yang masih merayap maju di dalam celah sempit dinding tebing di belakang singgasana batu seketika menghentikan gerakannya. Kepalanya menoleh ke belakang melalui celah sempit setinggi dua jengkal, mengintip ke arah aula tengah yang kini diterangi oleh nyala empat obor minyak besar yang berkedip-kedip liar ditiup angin masuk.

Di depan pintu gua yang baru saja terbuka lebar, berdiri sesosok pria bertubuh jangkung dengan penampilan yang sangat mengerikan dan memalukan bagi seorang murid senior.

Pria itu hanya mengenakan celana dalam kain putih dan kemeja dalaman compang-camping yang basah kuyup oleh darah, lumpur parit, dan kotoran limbah barak luar. Separuh wajah kirinya bengkak membiru dengan tulang pipi yang tampak melesak ke dalam akibat hantaman batu kali Gu Yuan tadi. Darah kental terus mengucur dari sudut bibirnya yang robek, menetes membasahi janggutnya yang kusut dan kotor. Beberapa gigi depannya yang patah membuat mulutnya tampak menganga aneh saat ia bernapas memburu.

Di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang baja bergagang tembaga yang bergetar hebat karena amarah yang mendidih di dadanya.

Itu adalah Luo Biao.

Rupanya, regu prajurit penegak hukum yang turun menanggapi suara peluit darurat tadi sempat memeriksa bilik tahanan nomor sepuluh di ujung barat lorong bawah tanah. Mereka menemukan Luo Biao terikat dalam keadaan tak berdaya dengan mulut tersumpal kain kotor. Begitu ikatan rantainya dipotong, rasa malu yang membakar dan ketakutan akan kemurkaan Tetua Mo membuat pria itu meminjam pedang rekannya dan langsung memimpin regu pengawal memburu Gu Yuan ke tebing air terjun.

Nafsu membunuh yang buas, liar, dan membakar memancar dari sepasang matanya yang memerah darah seperti binatang buas terluka yang terpojok di tepi jurang.

Di belakang Luo Biao, empat orang murid pengawas berseragam jubah abu-abu gelap melangkah masuk dengan tombak besi panjang terhunus siaga di tangan. Salah satu dari mereka membawa lentera minyak gantung sambil memeriksa kondisi tiang-tiang formasi di sekeliling kolam darah dengan mata ketakutan.

“Keparat tengik!” raung Luo Biao dengan suara parau yang cadel dan bergetar hebat karena amarah yang meluap-luap. “Berani-beraninya bocah bangkai rendahan itu memukul mukaku dari belakang, mencuri jubah pengawasku, dan membawa kabur pelat formasi ke tebing air terjun! Cari dia di setiap sudut gua ini! Kalau ketemu, jangan langsung dibunuh, patahkan kedua tangannya dulu agar dia tahu rasanya merangkak memohon ampun!”

“Senior Luo, lihat kolam darah!” seru salah seorang pengawas bertombak sambil menunjuk ke arah parit barat dengan tangan gemetar. “Ular Sisik Lendir… monster penjaga altar sudah mati tergeletak kaku di samping parit!”

Luo Biao tersentak kaget, langkah kakinya membeku di lantai marmer. Matanya melotot ngeri menatap bangkai ular sanca berkepala dua yang sudah menghitam kaku di genangan lendir busuknya sendiri dengan kedua bola mata pecah berdarah.

Matanya seketika bergeser ke arah tiang ketujuh dan kedua belas dengan rasa panik luar biasa yang menusuk jantungnya; jika binatang buas penjaga altar mati sebelum ritual dimulai dan Tetua Mo menemukan ada yang tidak beres pada susunan formasi darah, selain Gu Yuan yang akan dikuliti, kepala Luo Biao sendiri pasti dipenggal di atas altar saat itu juga.

“Siapa yang peduli dengan bangkai ular itu?!” bentak Luo Biao sambil meludah darah ke lantai marmer untuk menutupi kepanikan jiwanya. “Pasti bocah itu yang meracuninya dengan racun daun pahit dari dapur! Dia tidak mungkin bisa keluar dari gua ini karena pintu tebing depan tadi terkunci rapat dari dalam! Dia pasti masih bersembunyi di sekitar mimbar altar!”

Luo Biao mengacungkan pedang bajanya sambil melangkah cepat menaiki anak tangga marmer hitam menuju mimbar singgasana batu di ujung utara aula.

Saat tatapan mata liarnya menyapu celah dinding tebing cadas di belakang kursi kayu cendana merah Mo Cheng, Luo Biao mendadak menghentikan langkahnya di anak tangga teratas. Cahaya obor minyak di tangannya memantulkan bayangan sepasang kaki beralaskan sandal jerami berlumpur yang sedang merayap masuk ke dalam celah retakan sempit di dasar dinding batu tebing.

“Di sana!” teriak Luo Biao dengan urat leher yang menonjol kebiruan dan mata melotot buas. Tangannya yang berdarah menunjuk lurus ke celah sempit di belakang singgasana batu. “Bocah keparat itu sedang merayap di celah kisi-kisi angin belakang mimbar!”

Keempat murid pengawas bersenjata tombak seketika menghambur menaiki anak tangga mimbar dengan langkah berderak keras, mengepung panggung marmer dari kedua sisi.

“Tusuk kedua kakinya dengan tombak!” perintah Luo Biao buas sambil mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi. “Jangan biarkan dia merayap tembus ke lereng tebing luar! Tarik tubuhnya keluar dan seret ke depan kolam darah!”

Dua pengawas terdepan meluncur berlutut di atas lantai marmer tepat di depan celah sempit dinding tebing. Dengan sekuat tenaga raga lapis kelima mereka, kedua pria itu melancarkan tusukan tombak besi panjang mereka lurus ke dalam rongga celah sempit, mengincar tepat ke arah pergelangan kaki dan betis Gu Yuan yang masih berada di dalam jangkauan bilah baja.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!