NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Kepulangan Rezvan

Malam makin larut, menaburkan kesunyian yang tenang di sekitar kediaman keluarga Lazuardi Santoso. Di ruang keluarga rumah utama, kehangatan terpancar dari lampu gantung bergelombang kuning keemasan.

Zahira duduk di salah satu sofa empuk, menyesap teh melati hangat yang disuguhkan Bunda Heni. Setelah sebulan berlalu sejak kelulusannya, hari-hari Zahira terasa jauh lebih ringan.

Ia kini bisa berfokus penuh pada pekerjaannya di Kafe 55 milik orang tua Gisel tanpa dibayangi beban revisi skripsi.

Meski sesekali ia menggunakan hari liburnya untuk menjenguk adiknya di rumah utama keluarga Sumargo atau sekadar berjalan-jalan ke mal bersama Gisel, tempat ini selalu menjadi oase tersendiri baginya.

Gisel yang tak mau sahabatnya mendekam sendirian di pavilion, sengaja menarik tangan Zahira untuk ikut bergabung di ruang keluarga.

"Lagian kamu di pavilion ngapain sih, Ra? Mending di sini, temenin aku nonton sambil ngemil kue bikinan Bunda," cerocos Gisel seraya menyuapkan sepotong kue bolu ke mulutnya sendiri.

Bunda Heni tersenyum lembut mengelus lengan Zahira. "Bener kata Gisel, Ra. Rumah ini selalu terbuka buat kamu. Jangan pernah merasa canggung, ya. Kamu itu udah seperti putri Bunda sendiri."

"Terima kasih banyak, Bunda," tutur Zahira tulus, mengukir senyum hangat yang menenangkan.

Pak Lazuardi yang baru saja menutup koran fisiknya, melirik Zahira penuh perhatian. "Oia, Ra. Om dengar dari Gisel, kamu sudah beres urusan wisuda dan ijazah sudah keluar belum?"

"Belum, Om. Sama nunggu acara wisuda," Jawab Zahira santun.

"Oh gitu," Pak Lazuardi membetulkan letak kacamata bacanya. "Kebetulan divisi keuangan di perusahaan Om sedang butuh staf baru. Latar belakang pendidikan kamu sangat cocok. Om mau tawarkan posisi itu buat kamu, Zahira. Gimana?"

Zahira tertegun sejenak. Ada rasa haru yang membuncah di dadanya atas kebaikan Pak Lazuardi. Namun, nuraninya berbisik pelan.

Keluarga Lazuardi sudah terlampau baik memberinya tempat tinggal gratis di pavilion saja sudah merupakan kemurahan hati yang tak ternilai.

Jika ia menerima pekerjaan ini, rasa berutang budinya akan semakin menumpuk.

Dengan gestur tubuh yang sangat sopan, Zahira menangkupkan kedua tangannya di dada.

"Terima kasih banyak atas kebaikan dan kepercayaan Om. Zahira sangat terharu," ucap Zahira hati-hati dan penuh santun.

"Tapi... Zahra mohon maaf sebelumnya, Om... Zahira belum bisa menerima tawaran emas ini. Sebenarnya... kemarin Papi juga sempat menelepon dan menawarkan posisi di perusahaan papi. Zahira masih mempertimbangkannya."

Pak Lazuardi tersenyum mengerti, mengangguk-angguk tanpa tersinggung sedikit pun. "Tentu, Ra. Keputusan ada di tangan kamu. Papi kamu tentu punya hak utama atas potensi anaknya."

"Nah gitu dong, ayah jangan nodong Zahira terus! Biarkan dia bernapas dulu," celetuk Gisel ceriwis yang langsung mendapat sentilan pelan di dahinya dari Bunda Heni.

"Kamu ini, Sel... makin hari makin makin aja celetukannya," tegur Bunda Heni tertawa kecil.

Tawa renyah baru saja tercipta di ruangan itu ketika langkah kaki berat terdengar memecah keheningan dari arah pintu depan.

Seorang pria berpostur tinggi tegap melangkah masuk. Ia mengenakan kemeja kasual yang tergulung hingga siku, membawa dua buah koper berukuran sedang di tangan kanan dan kirinya.

Wajahnya yang tegas namun tampan tampak sedikit lelah setelah perjalanan jauh.

"Assalamu'alaikum, Bunda, Ayah..." panggil suara berat nan hangat itu.

Gisel yang pertama kali menoleh seketika mematung dengan mata membelalak. "Kak Rezvan?!"

Tanpa membuang waktu, Gisel langsung bangkit berdiri dan berlari kencang menerobos ruang tamu, melompat memeluk tubuh pria itu. "Kak...! Kok enggak bilang-bilang kalau pulang?!"

Rezvan Aditama Santoso, putra sulung keluarga Lazuardi, terkekeh renyah seraya membalas pelukan erat adik perempuannya, mengacak rambut Gisel gemas. "Surprise, dong. Kalau bilang-bilang namanya bukan kejutan."

Bunda Heni dan Pak Lazuardi bergegas berdiri dengan raut wajah tak percaya. Tiga tahun lamanya Rezvan menimba ilmu dan bekerja di Singapura, kini sosok anak laki-laki kebanggaan mereka akhirnya kembali merengkuh hangatnya rumah.

"Ya Allah, Nak... kenapa enggak kasih kabar ke Ayah biar dijemput di bandara?" ujar Bunda Heni seraya memeluk erat tubuh Rezvan, menahan haru.

"Sengaja, Bunda. Rezvan mau kasih kejutan buat semuanya," jawab Rezvan tulus, bergantian menyalami dan memeluk Pak Lazuardi.

Di tengah momen reuni keluarga yang mengharu biru itu, Zahira berdiri perlahan di sudut ruangan.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya berada di tengah momen internal keluarga yang sangat berharga. Zahira masih ingat sosok Rezvan pria itu dulu pernah disapa sekilas saat Gisel diantar kuliah bertahun-tahun lalu, sebelum Rezvan berangkat ke Singapura.

Rezvan yang baru saja melepas pelukan bundanya, mendadak menghentikan pandangannya pada sosok wanita berkerudung anggun yang berdiri tak jauh dari mereka.

Zahira melangkah maju selangkah, menundukkan kepala dengan senyum sopan. "Selamat datang kembali, Kak Rezvan."

Rezvan terpaku sejenak. Tatapan matanya mengunci paras Zahira yang kini makin matang, cantik, dan memancarkan aura ketenangan yang begitu memikat.

Berbeda dari ingatan sekilasnya beberapa tahun lalu saat Zahira masih menjadi mahasiswi baru yang polos.

"Zahira... kan?" bisik Rezvan suara pelan, menyunggingkan senyum tipis yang amat hangat. "Kabar baik? Kamu... makin beda ya sekarang."

Gisel yang menangkap basah arah tatapan dan nada suara kakaknya seketika menyenggol pinggang Rezvan dengan sikunya, menatap sang kakak dengan binar jahil.

"Ehem! Lirikannya biasa aja dong, kak'! Jangan mementang-mentang baru pulang dari Singapura terus matanya langsung jeli ngeliat yang bening!" goda Gisel dengan gaya ceriwis khasnya. "Inget ya, Zahira itu sahabat Gisel, bukan target operasi!"

Pipi Zahira seketika merona merah mendengar godaan spontan dari Gisel. Ia tahu tabiat sahabatnya itu jika sudah mulai menjodoh-jodohkan orang.

Sebelum godaan Gisel makin melantur dan suasana makin canggung, Zahira bergegas mengambil langkah.

Ia berbalik menghadap Bunda Heni dan Pak Lazuardi dengan senyum manis. "Bunda, Om... karena kak Rezvan baru sampai dan butuh istirahat bersama keluarga, Zahira izin pamit kembali ke pavilion dulu ya."

"Eh, Ra? Kok buru-buru? Kan saya belum cerita banyak," tahan Rezvan spontan, menatap Zahira penuh harap.

"Nanti kan masih banyak waktu, kak" potong Gisel cepat seraya mengedipkan mata menggoda ke arah kakaknya. "Kasihan Zahira mau istirahat juga, kak'!"

Bunda Heni tersenyum memaklumi kepribadian Zahira yang selalu tahu diri dan sopan. "Iya sudah, Zahira. Terima kasih ya sudah menemani Bunda. Istirahat yang nyenyak."

"Terima kasih Bunda, Om. Mari kak Rezvan, Gisel..." ujar Zahira pamit santun, lalu melangkah keluar melewati pintu kaca menuju pavilion kecilnya di halaman belakang.

Di ambang pintu, Rezvan masih berdiri, memperhatikan punggung Zahira yang perlahan menghilang di balik keremangan taman, meninggalkan rasa penasaran dan getaran aneh yang baru saja menyusup di hatinya malam itu.

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!