Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Dingin di Ruang IGD
Suara raungan mesin motor gede milik Clara Adelin Dewangga membelah jalanan sore yang cukup padat. Dengan seragam putih-abu-abu yang terlipat sedikit di bagian lengan, gadis itu melaju lincah menyelip di antara deretan mobil. Baginya, jalanan adalah tempat pelarian paling menyenangkan dari segala kepenatan sekolah.
Namun, keberuntungan tidak sedang berpihak padanya hari ini.
Creeekkk!
Sebuah mobil hitam tiba-tiba mengerem mendadak di depannya. Refleks, Clara membanting stang motor ke arah kiri. Motornya berhasil menghindari benturan dengan mobil, tetapi ban depannya menghantam trotoar cukup keras hingga membuat Clara tersungkur ke aspal.
"Aduh... sakit banget! Kaki gue..." ringis Clara sambil memegangi lutut kanannya yang robek dan mengeluarkan darah segar. Helm favoritnya terlepas, menampilkan wajah cantiknya yang kini tertekuk menahan nyeri.
Beberapa warga sekitar langsung membantu Clara berdiri dan membawanya ke Rumah Sakit Medika Utama yang kebetulan berjarak tidak jauh dari lokasi kejadian.
Di dalam ruang Unit Gawat Darurat (UGD) yang beraroma antiseptik menyengat, Clara duduk di atas brankar sambil cemberut. Luka di lutut dan lengannya terasa perih, tapi rasa perih itu kalah besar dibanding ketakutannya jika sang ayah tahu ia jatuh dari motor lagi.
Sret!
Tirai pembatas brankar disingkap. Seorang pria bertubuh tinggi tegap memegang papan rekam medis melangkah masuk. Ia mengenakan jas putih dokter yang bersih tanpa cacat, dipadu dengan kemeja biru tua di dalamnya. Wajahnya sangat tampan dengan garis rahang yang tegas, namun ekspresinya sedingin es di kutub utara.
Nametag di jasnya tertulis singkat: dr. Arka Samudra.
"Clara Adelin Dewangga. Siswi SMA, korban jatuh dari motor balap?" suara pria itu terdengar berat, dalam, dan tanpa nada ramah sedikit pun. Tatapan matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis menatap Clara datar.
Clara mendengus pelan sambil memalingkan wajah. "Iya, Dokter. Nggak usah diperjelas 'motor balap'-nya juga kali."
Arka tidak membalas ketusan Clara. Ia menarik kursi dorong dan duduk di samping brankar, lalu mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan luka di lutut Clara.
"Aww! Pelan-pelan dong, Dok! Sakit tau!" jerit Clara refleks ketika kapas beralkohol itu menyentuh lukanya.
"Kalau takut sakit, jangan naik motor balap," sahut Arka dingin tanpa menghentikan tangannya. Gerakannya sangat sigap dan cekatan, tetapi tutur katanya benar-benar menyebalkan di telinga Clara. "Masih SMA, bukannya belajar yang benar, malah keluyuran bikin bahaya di jalanan."
"Lho, kok malah ceramah? Tugas Dokter itu ngobatin saya, bukan nakut-nakutin atau ngatain saya!" protes Clara dengan mata membelalak tak terima.
"Dih nyebelin banget nih dokter, kalau kaki gue nggak sakit begini, gue juga ogah masuk rumah sakit" lirih Clara dalam hati.
Arka menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Clara dengan jarak yang cukup dekat. Tatapan itu begitu intimidatif hingga membuat Clara bungkam seketika dan jantungnya mendadak berdesir aneh.
"Tugas saya memang mengobati. Dan tugas pasien adalah diam saat diobati," ucap Arka tenang tapi penuh penekanan, sebelum kembali menempelkan kasa steril pada luka Clara.
" Dasar dokter kaku! Dokter dingin! Menyebalkan banget!" batin Clara mengutuk pria di hadapannya itu habis-habisan.
Setelah selesai membersihkan dan membalut luka, Arka berdiri lalu merapikan sarung tangan medisnya.
"Rasa sakitnya akan sedikit menjalar nanti malam. Jangan basahi lukanya dulu. Dan satu lagi..." Arka melirik helm balap Clara yang tergeletak di meja samping brankar. "...motor kamu sebaiknya dikandangkan saja."
"Ihh, terserah saya dong! Motor-motor saya!" sahut Clara bersedekap dada sambil bersungut-sungut.
Arka tidak membalas lagi. Ia hanya mencatat sesuatu di berkas rekam medis, lalu berbalik meninggalkan tirai UGD tanpa mengucapkan apapun lagi.
Clara menatap punggung dokter muda itu dengan kejengkolan luar biasa. "Ganteng sih ganteng, tapi ketusnya minta ampun. Awas aja kalau ketemu lagi, ogah banget disuntik sama dokter kayak begitu! Mending gue cari dokter lain buat ngobatin gue, amit-amit semoga saja gur nggak akan bertemu lagi sama tuh dokter menyebalkan."
Namun, Clara sama sekali tidak menyangka bahwa 'Dokter Dingin dan Menyebalkan' yang baru saja membuatnya naik darah itu adalah pria yang akan dijodohkan dengannya dan duduk di ruang tamu rumahnya malam ini juga.