NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

****

Bulan demi bulan bergulir melintasi tanah Lemah Wungu. Sejak penyerahan kekuasaan di balai desa, arah angin di perbukitan itu berubah seutuhnya. Di bawah naungan kepemimpinan Bagas, desa yang dulu terbelakang kini bertransformasi menjadi kawasan pertanian yang teramat makmur. Sawah-sawah membentang hijau royo-royo, saluran irigasi mengalirkan air jernih tanpa henti bahkan di musim kemarau, dan para buruh tani menerima upah yang jauh dari kata cukup.

Setiap sudut desa berhembus aura kesejahteraan. Bangunan-bangunan kayu reot milik warga perlahan berganti menjadi rumah bata yang kokoh. Tidak ada lagi penindasan, tidak ada lagi kecemasan. Warga menaruh rasa hormat dan segan yang teramat dalam kepada pemuda tegap yang bertakhta di rumah joglo megah itu. Melalui penglihatan Indra Ular di keningnya, Bagas bisa menyaksikan benang-benang energi keemasan dari Sendang Manten meresap subur ke dalam setiap jengkal tanah desa, dijaga oleh ribuan taksaka ghaib yang tak kasat mata.

Sebaliknya, kontras yang teramat dingin menyelimuti kediaman Pak Kades.

Sekar kini tak pernah lagi melangkahkan kakinya keluar dari gerbang rumah. Gadis yang dulu menjadi primadona desa yang angkuh dan dipuja-puja itu memilih mengurung diri di dalam kamar yang gelap gulita. Selendang tebal selalu membebat leher dan lengannya, menutupi bekas ruam sisik biru kehitaman yang telah menyatu abadi dengan kulitnya. Setiap kali melintas di depan cermin, tangis penyesalan selalu pecah dari bibirnya. Ia menyadari betapa mahalnya harga yang harus dibayar atas keangkuhan dan niat jahatnya mengusik pria milik Penguasa Sendang Manten.

Sementara itu, di selasar rumah joglo milik Bagas, suasana sore terasa begitu sejuk dan menentramkan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan dedaunan jati. Bagas duduk santai menyeduh kopi hitam, memandangi para pekerja yang baru saja pulang menuntun sapi-sapi mereka dari ladang.

Mbok Sumi keluar dari dalam rumah seraya membawa tampah bambu berisi pisang rebus yang masih mengepulkan asap hangat. Wanita tua itu menaruh tampahnya di atas meja kayu jati, lalu duduk pelan di samping anak tunggalnya.

"Minum kopinya disambi pisang rebusnya, Bagas..." tutur Mbok Sumi lembut dengan senyuman tulus.

Bagas menoleh, membalas senyuman ibunya dengan penuh kasih. "Nggih, Bu. Matur nuwun."

Bagas mengambil sepotong pisang rebus, mengunyahnya perlahan seraya menikmati pemandangan desa. Namun, ia menyadari wajah ibunya yang biasanya teduh kini tampak menyimpan guratan kegelisahan yang dalam. Mbok Sumi berkali-kali menghela napas panjang, menatap kosong ke arah pelataran rumah joglo yang begitu luas dan lengang.

Bagas menaruh kembali pisangnya, lalu merangkul jemari tangan ibunya yang mulai diliputi keriput penuaan.

"Ibu sedang memikirkan apa?" tanya Bagas halus, menatap lurus mata ibunya. "Wajah Ibu kelihatan murung sekali sore ini. Apa ada warga yang kurang sopan atau membuat Ibu merasa tidak nyaman?"

Mbok Sumi menggelengkan kepala pelan, mengelus punggung tangan Bagas yang tegap. "Tidak, Le... Warga semuanya sangat baik dan hormat sama Ibu. Sawah melimpah, rumah ini megah, makan tidak pernah kekurangan... Ibu sangat bersyukur punya anak sebaik kamu."

"Lalu kenapa Ibu menghela napas panjang dari tadi?" pancing Bagas lembut.

Mbok Sumi menundukkan pandangannya sejenak, lalu menatap Bagas dengan binar mata yang sarat akan rasa rindu dan penderitaan batin yang telah lama dipendamnya.

"Bagas..." sapa Mbok Sumi dengan suara agak gemetar. "Ukurannya Ibu ini sudah tua, Nak... Rambut Ibu sudah memutih, tenaga Ibu juga sudah tidak seperti dulu lagi. Melihatmu sukses dan dihormati seluruh desa, rasa-rasanya mimpi Ibu sudah terwujud."

"Ibu jangan bicara begitu," potong Bagas pelan. "Ibu harus sehat dan panjang umur untuk mendampingi Bagas."

Mbok Sumi tersenyum tipis, matanya mulai menggenang air mata. "Umur manusia itu rahasia Gusti, Le... Tapi ada satu harapan terakhir yang selalu Ibu selipkan di setiap sujud malam Ibu. Rumah joglo kita ini begitu besar dan megah, tapi rasanya kok sepi sekali kalau cuma kita berdua..."

Dada Bagas seketika berdesir hebat. Ia mulai menerka arah pembicaraan ibunya.

"Maksud Ibu...?" bisik Bagas pelan.

"Ibu ingin melihatmu menikah, Bagas..." tutur Mbok Sumi parau, menatap dalam-dalam ke mata anaknya. "Ibu ingin melihat ada wanita yang mengurusmu di rumah ini. Ibu... Ibu rindu ingin menimang cucu sebelum mata Ibu terpejam selamanya, Le. Ibu ingin mendengar suara tawa anak kecil berlari-lari di pelataran joglo ini."

Kata-kata ibunya bagaikan dentuman keras yang meremukkan dada Bagas. Pemuda tegap itu tertegun kaku di atas kursinya, tenggorokannya mendadak terasa tersumbat batu besar.

"Ibu ingin punya cucu..." ulang Mbok Sumi dengan air mata yang menetes membasahi pipinya. "Bagas, kamu ini tampan, kaya, dan terpandang. Gadis mana yang bakal menolakmu? Ibu tahu Sekar sudah tidak mungkin, tapi masih banyak gadis-gadis desa lain yang baik, berbudi pekerti, dan siap menjadi istrimu. Kenapa kamu selalu menolak setiap kali Ibu menyinggung soal pernikahan?"

Bagas menelan ludah dengan susah payah, menyembunyikan pergolakan batin yang dahsyat di balik wajah tenang dan tegapnya.

Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan kebenaran pahit itu kepada ibunya? Bagaimana bisa ia memberitahu wanita tua yang sangat dicintainya ini bahwa jiwanya, raganya, dan takdirnya telah tersegel utuh oleh sumpah sakral bersama Nyai Ratu Ular di Istana Sendang Manten?

Bahwa benih keturunan yang sangat dirindukan ibunya kini justru sedang meresap dan tumbuh hangat di dalam rahim gaib sesosok Permaisuri Ular di dimensi lain—calon Pangeran Penguasa dua alam yang tak akan pernah bisa menginjakkan kaki secara fana sebagai anak manusia biasa di pelataran rumah joglo ini.

Rajah Pusaka Sisik Emas di dada kiri Bagas seketika berdenyut hangat dan kencang. Dari kedalaman sukmanya, hembusan aroma melati segar membelai kesadaran Bagas, membawa desisan merdu namun posesif dari sang Ratu:

Bagas memejamkan matanya erat-erat, meremas jemari tangan ibunya dengan keteguhan yang getir. Dilema batin teramat dahsyat merobek hatinya: di satu sisi ia sangat menyayangi ibunya dan ingin membahagiakannya, namun di sisi lain, ikatan takdirnya dengan Sang Ratu Ular di alam gaib telah mengunci takdir hidupnya selamanya.

"Ibu..." tutur Bagas dengan suara rendah yang parau dan sarat beban. "Bagas sangat paham dengan apa yang Ibu rasakan. Tapi untuk saat ini... Bagas mohon, beri Bagas waktu."

Mbok Sumi menatap anak tunggalnya dengan pandangan menimbang-nimbang. "Waktu untuk apa, Le? Apa ada wanita lain yang sedang kamu tunggu?"

Bagas menggelengkan kepala pelan, menyunggingkan senyuman tipis untuk menutupi kepedihan di dadanya. "Bagas cuma ingin fokus memastikan kehidupan Ibu terjamin dan tatanan desa ini benar-benar stabil dulu. Soal jodoh dan keturunan... Bagas percaya Gusti sudah menyiapkan takdir yang terbaik pada saat yang tepat."

Mbok Sumi menghela napas panjang, mengusap air matanya lalu mengangguk pasrah. "Ya sudah kalau begitu, Le... Ibu tidak akan memaksamu sekarang. Tapi ingat pesan Ibu ya, Nak... Harta dan pangkat itu tidak akan ada artinya kalau tidak ada penerus yang melanjutkan trah keluargamu di rumah ini."

"Nggih, Bu... Bagas ingat pesan Ibu," bisik Bagas penuh takzim seraya mencium punggung tangan ibunya.

Mbok Sumi berdiri dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Bagas yang terdiam mematung seorang diri di selasar.

Sinar mentari sore perlahan meredup di ufuk barat, membiaskan bayangan-bayangan panjang di pelataran joglo. Bagas menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kayu jati, mengusap dada kirinya yang terus berdenyut lembut. Pandangan matanya menatap jauh ke arah Hutan Keramat Sendang Manten di kaki perbukitan.

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!