NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suami pelit

Malam harinya, sekitar pukul sembilan malam. Maya duduk termenung di samping jendela kamar. Ia membuka sedikit daun jendela kayu itu, membiarkan hembusan angin malam yang sejuk menerpa wajahnya yang pucat, memberikan sedikit rasa lega di tengah rasa mual yang masih sesekali datang.

​Arya belum juga pulang. Sepertinya suaminya itu sedang lembur. Sayangnya, Maya tak pernah bisa tahu kabar pasti karena ia tidak memiliki akses untuk menghubungi Arya.

​Dulu, setiap kali Arya terlambat pulang, Maya selalu memohon bantuan pada Bu Rika atau Rara untuk menanyakan keberadaan suaminya. Namun, usahanya selalu berbuah makian. 'Jadi istri jangan cemburuan! Nanti juga pulang!' begitu kilah mereka malas. Sejak beberapa bulan lalu, Maya berhenti bertanya. Toh, setiap kali pulang terlambat, Arya selalu beralasan hal yang sama yaitu lembur pekerjaan.

​Baru saja Maya menutup jendela dan berniat untuk merebahkan tubuhnya, pintu kamar mendadak terbuka. Sosok Arya muncul dengan wajah lelah dan jas kerja yang sedikit kusut.

​"Kamu menunggu Mas pulang?" tanya Arya percaya diri, mengulas senyum tipis.

​Maya menatap suaminya sejenak. Ia lalu mengubah raut wajahnya, memasang mimik khawatir yang hangat. "Iya, Mas... Soalnya Maya tidak bisa menghubungi Mas. Maya takut Mas kenapa-kenapa kalau pulangnya sampai selarut ini," ucap Maya dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat.

​Pipi Arya seketika bersemu halus. Meski Maya hanya mengenakan daster kain yang sangat sederhana, kecantikan alaminya tak bisa disembunyikan. Bagaimanapun juga, Maya adalah mantan kembang desa di kampungnya dulu.

​"Kan kamu bisa minta tolong Ibu atau Rara buat menelepon Mas," kata Arya seraya meletakkan tas kerjanya di atas meja.

​Maya melangkah mendekat. Dengan gerakan cekatan dan lembut, ia membantu melepaskan dasi serta jas hitam Arya.

​"Aku tidak enak kalau harus merepotkan Ibu terus, Mas. Kalau Rara... kasihan dia sibuk belajar di kamar, aku tidak mau mengganggu," sahut Maya tenang seraya membawa kain kotor itu ke dalam keranjang.

​Maya kembali berjalan menghampiri Arya yang kini duduk di tepi ranjang. Ia menatap lurus ke dalam mata suaminya dengan ekspresi semanis dan sepolos mungkin.

​"Mas... Boleh tidak belikan Maya ponsel? Supaya Maya bisa menghubungi Mas kalau lagi kangen... atau kalau ada apa-apa di rumah," bujuk Maya pelan.

​Arya terdiam sejenak. Ia menatap wajah istrinya, tampak berpikir menimbang-nimbang pengeluaran uangnya. Namun, melihat tatapan penuh harap dan sikap manja Maya yang sudah lama tidak ia rasakan, pertahanan Arya melunak.

​"Ya sudah... Besok siang kita pergi beli ponsel," ucap Arya akhirnya, tersenyum mengusap pipi Maya.

​"Terima kasih ya, Mas!" sahut Maya dengan senyuman paling manis yang bisa ia ukir malam itu.

​"Iya, Sayang," balas Arya lembut sebelum bangkit dan berlalu menuju kamar mandi.

​Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan gemercik air terdengar dari dalam, senyum manis di wajah Maya seketika sirna tanpa bekas. Wajahnya berubah menjadi sangat datar dan dingin.

​Ponsel ini bukan untuk memanjakan rasa kangen, melainkan alat untuk menghubungi orangtuanya dikampung. Rasa cinta di hati Maya untuk pria di dalam sana benar-benar sudah habis, berada di ujung tanduk tanpa ada yang tersisa.

Keberuntungan sedang memihak Maya. Siang itu, Mertua nya pergi ke kampung orang tua Pak Hendra. Berhubung akses jalan menuju ke sana terjal dan hanya bisa dilewati sepeda motor, Arya tidak disuruh untuk mengantar.

Momen ini dimanfaatkan betul oleh Maya. Tanpa sepengetahuan Santi maupun Rara yang sibuk di kamar masing-masing, Maya dan Arya pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli ponsel.

Di toko ponsel, Arya langsung menghampiri karyawan toko dan bertanya tanpa malu-malu. "Mbak, ponsel yang harganya paling murah yang mana ya?"

"Ini ponsel paling murah yang tersedia di toko kami, Pak," ucap karyawan itu seraya memperlihatkan bentuk fisik ponsel pintar tersebut, lalu menjelaskan beberapa spesifikasinya secara singkat.

"Harganya berapa?" potong Arya cepat.

"Empat juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah, Pak. Nanti saya kasih diskon khusus pelanggan pertama jadi empat juta seratus ribu," jawab karyawan itu ramah.

Arya sedikit ternganga mendengar harganya. Padahal, ponsel yang melingkar di tangannya sendiri seharga puluhan juta.

"Yang harga dua jutaan tidak ada?" tanya Arya lagi dengan raut keberatan.

"Belum ada, Pak... Stok yang harga segitu saat ini sedang kosong," sahut karyawan itu sopan.

Arya terdiam cukup lama, mempertimbangkan angka empat juta yang terasa sangat berat untuk dikeluarkan demi sang istri.

"Mas... Maya mau ponsel yang itu," bisik Maya dengan nada manja yang mengayun, memicu rasa gengsi Arya di depan umum.

"Bagaimana, Pak? Ponsel ini sangat cocok untuk istri Bapak, warnanya juga sangat elegan," tambah karyawan toko membujuk.

Arya menelan ludah kasar, dadanya terasa sesak. "Tolong bungkus yang ini," ucapnya akhirnya.

"Baik, Pak. Silakan tunggu di sofa sebelah sana, nanti saya bawakan unitnya sekalian untuk pembayaran," ucap karyawan itu gembira.

Arya dan Maya kini duduk di sofa tunggu. Arya sibuk mengetik di ponsel mewahnya dengan wajah agak ditekuk, sementara Maya hanya berdiam diri mengamati gerakan suaminya.

Tenang saja, Mas... Setelah ini aku akan rutin mengambil nafkahku sendiri dari dompetmu, meskipun cuma recehan, batin Maya dingin.

Tak lama kemudian, karyawan toko datang membawa kantong belanjaan berisi ponsel baru dan nota transaksi. "Mau bayar cash atau debit, Pak?"

"Debit," jawab Arya singkat. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya dan menyerahkannya dengan raut wajah yang sangat berat.

Saat Arya memasukkan enam digit angka PIN di mesin EDC, Maya menajamkan ingatannya. Angka-angka itu terekam sempurna di kepalanya. Maya tahu betul PIN ATM suaminya.

Bip!

Transaksi berhasil. Arya menghembuskan napas kasar, merasa uangnya baru saja dirampok.

"Terima kasih Bapak, Ibu... Hati-hati di jalan ya," puji karyawan toko dengan senyum sumringah setelah Maya dan Arya keluar dari toko.

Maya menenteng paper bag itu dengan hati senang, karena sebentar lagi ia akan bisa menghilangkan kerinduannya pada kedua orangtuanya. Namun, begitu melangkah keluar menuju area parkiran yang menyengat panas, pandangannya mendadak mengabur. Kepalanya terasa berputar hebat.

"Mas Arya..." panggil Maya lirih seraya memegangi pinggiran tiang parkir.

Arya yang sudah membuka pintu mobil menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanyanya dengan nada yang mulai tidak mood, penyesalan mendalam karena membuang uang empat juta masih membakar pikirannya.

"Kepala Maya pusing sekali... Antarkan Maya ke rumah sakit, Mas," pinta Maya lemah.

Arya menghembuskan napas kasar, menutup kembali pintu mobilnya dengan kencang lalu berjalan menghampiri Maya.

"Maya! Hari ini kamu sudah menghabiskan banyak sekali uang! Ke rumah sakit itu butuh biaya besar! Mas sudah tidak ada uang lagi. Nanti pas pulang kita beli obat saja!" cegat Arya sedikit ketus.

"Tapi Mas... kepala Maya sering sekali sakit. Perut Maya juga mual terus dari kemarin..." ratap Maya menahan nyeri.

"Palingan juga cuma masuk angin! Kamu kan suka buka jendela kalau malam! Sudah, ayo pulang!" potong Arya egois, langsung meninggalkan Maya dan masuk duluan ke dalam mobil.

Maya berjalan perlahan dengan sisa tenaganya, lalu ikut masuk ke kursi samping. Sepanjang jalan, ia menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang dingin, mencoba menahan rasa berdenyut hebat yang seolah ingin memecahkan tempurung kepalanya.

Namun, saat mobil melintasi beberapa deretan apotek besar di pinggir jalan utama, kendaraan itu sama sekali tidak melambat.

"Mas... kok tidak berhenti? Katanya mau belikan Maya obat?" tanya Maya dengan suara makin memelan.

"Beli di warung saja. Di apotek mahal, lagipula kegunaannya juga sama," cetus Arya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Maya tak berniat memprotes lagi. Tenaganya sudah benar-benar terkuras habis. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai dan berbaring di atas kasur.

Sampai di depan sebuah warung kelontong, Arya menghentikan mobilnya dan turun sejenak. Tak lama, ia kembali masuk dan memberikan satu strip obat masuk angin murah ke pangkuan Maya, sebelum akhirnya kembali menancap gas menuju rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!