Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Setelah berjam-jam menunggu, Arvin terpaksa menghadiri pertemuan mendadak di luar kantor sehingga rencana pulang bersama batal. Nadia menolak diantar dan memilih pulang sendiri naik taksi online.
Malam harinya di rumah utama, Nadia ikut bergabung di dapur memasak makan malam bersama para pelayan. Aroma tumisan memenuhi ruangan.
"Bunda masak apa?"
Suara remaja laki-laki memecah kesibukan dapur. Jovan melangkah masuk dengan rambut basah usai mandi. Belakangan ini, ia makin terbuka dan menerima keberadaan Nadia.
Nadia menoleh dan tersenyum. "Bunda masak buat makan malam kita. Tuh, di meja makan udah siap semua."
Jovan mendekat ke arah kompor. "Bunda itu lagi masak apa?"
"Ohh, ini Bunda pengen buat telur mata sapi aja," sahut Nadia lembut seraya membalik telur di wajan. "Buat Kenzo tadi, dia minta."
Jovan melihat telur goreng itu, lalu menatap Nadia dengan raut sedikit malu-malu.
"Masak satu buat aku juga ya, Bunda."
Setelah makan malam selesai disiapkan, Nadia kembali ke kamarnya untuk menunaikan ibadah. Nadia baru saja selesai melipat mukena usai shalat magrib ketika suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar.
Nadia melangkah membukakan pintu. Tampak Damian berdiri di ambang pintu.
"Ada apa, Bang?" tanya Nadia.
"HP Bunda nggak aktif ya?" tanya Damian langsung.
"Ohh, Bunda buat mode silent tadi," jawab Nadia seraya mengambil ponselnya di atas meja rias. "Kenapa, Bang?"
"Pantas saja," sahut Damian. "Papa tadi telepon Bunda tapi nggak diangkat-angkat, jadi Papa telepon ke HP-ku."
Damian lalu melanjutkan kalimatnya, "Papa pesan kalau Papa pulangnya agak malam karena masih ada urusan pekerjaan, jadi Bunda dan kita semua diminta makan malam duluan, nggak usah menunggu Papa."
Nadia mengangguk mengerti mendengar kabar dari suaminya lewat Damian. "Oh, begitu...Ya sudah, kamu panggil adik-adikmu ya, Bang. Kita makan malam sekarang, mumpung makanannya masih hangat."
"Siap, Bunda," jawab Damian penurut, lalu berbalik untuk memanggil Jovan dan Kenzo ke meja makan.
Nadia menyusul Damian ke ruang makan. Di meja, hidangan hangat sudah tersaji. Jovan dan Kenzo sudah duduk di kursi masing-masing.
"Bunda, Papa kok belum pulang?"
Nadia tersenyum lembut seraya mengusap kepala Kenzo. "Papa masih ada urusan di luar, Sayang. Jadi kita diminta makan duluan."
Usai makan malam, anak-anak sibuk dengan urusan masing-masing hingga masuk jam tidur. Namun, Arvin belum juga pulang.
Nadia melangkah masuk ke kamar utama. Ia menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Saat membuka pintu kamar mandi, langkah Nadia terhenti.
Arvin sudah berdiri di hadapannya sambil memegang sebuket mawar merah segar.
Nadia terpaku menatap suaminya.
Arvin tersenyum hangat seraya menyodorkan buket bunga itu. "Selamat ulang tahun. Meski hari ulang tahun kamu sudah lewat... maaf saya baru beri kamu hadiah sekarang."
Nadia memeluk buket mawar itu di dadanya, lalu menatap Arvin dengan senyum lembut.
"Makasih ya, Mas. Nggak apa-apa, yang penting Mas Arvin ingat," tutur Nadia tulus. Ia menghirup wangi bunga itu sejenak, lalu mendongak. "Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya aku lebih suka bunga tulip."
Arvin terkekeh pelan seraya mengusap kepala Nadia. "Catatan diterima. Lain kali saya belikan tulip untuk kamu."
"Bukan cuma bunga ini saja hadiahnya," tambah Arvin.
Nadia mengernyit heran. Arvin merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak beludru hitam. Ia membukanya, memamerkan kalung permata yang berkilau indah.
"Mas... ini apa lagi?" bisik Nadia kaget. "Bunga aja udah cukup...."
"Sini, balik badan," potong Arvin lembut.
Arvin mengambil kalung itu. Nadia membalikkan badan dan menyingsingkan sedikit rambutnya .Jemari Arvin dengan cermat mengaitkan pengunci kalung di leher Nadia.
Setelah terpasang, Arvin membalikkan tubuh Nadia kembali menghadapnya. Permata itu menggantung indah di lehernya.
"Cantik," bisik Arvin rendah, menatap lurus mata Nadia.
Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Nadia, menghirup wangi lembut dari rambut hitam panjang Nadia yang terurai bebas.
"Nadia..." bisik Arvin.
"Terima kasih banyak ya... Terima kasih sudah datang ke kehidupan kami. Terima kasih sudah sudi menjadi istri saya, dan menjadi ibu yang luar biasa untuk anak-anak."
Arvin mengeratkan pelukannya pelan di atas jemari Nadia. "Saya tahu, sampai detik ini saya belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Saya masih sering ceroboh, ambil keputusan sendiri, dan bikin kamu pusing."
Nadia terpaku di dalam dekapan hangat itu. Dada dan punggung mereka yang saling menempel erat membuat Nadia bisa merasakan detak jantung Arvin yang stabil namun cepat.
Nadia menyandarkan kepalanya pelan ke bahu Arvin, jemarinya mengusap lembut punggung tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya. "Mas Arvin udah jadi suami dan papa yang sangat baik kok... Jangan omong gitu lagi, ya?"
Arvin tersenyum tipis. Ia membenamkan wajahnya di antara helai rambut Nadia, mendaratkan kecupan lembut di samping leher istrinya yang tak terhalang, membuat napas Nadia tertahan seketika.
"Kalau begitu..." Arvin berbisik rendah tepat di telinga Nadia.
"Malam ini..." lanjut Arvin pelan, kuncian tangannya di pinggang Nadia kian erat dan protektif, "saya mau minta hak saya sebagai suami kamu sepenuhnya."
Nadia terkejut setengah mati. mata Arvin yang serius membuat lututnya melemas hingga hampir limbung. Beruntung, Arvin bergerak cepat menahan tubuhnya, lalu membawanya duduk di tepi ranjang.
Nadia menunduk, menatap jemarinya yang bertaut erat di atas pangkuan. Ia memberanikan diri mendongak.
"M-mas... yang Mas Arvin katakan barusan... apa maksudnya?" tanya Nadia gugup.
Arvin berlutut di hadapan Nadia, menggenggam tangan istrinya.
"Apa kurang jelas, Nadia? Saya ingin meminta hak saya sebagai suami kamu sepenuhnya malam ini. Apa kamu keberatan?"
Nadia menggeleng pelan. "Bukan... bukan keberatan, Mas..."
"Tapi apa, Sayang?" bisik Arvin lembut.
Nadia menatap Arvin dengan sorot mata penuh ketakutan yang jujur. "Aku takut kalau Mas Arvin cuma lagi merayu aku... Aku takut setelah Mas mendapatkan apa yang Mas mau, Mas bakal bosan lalu mencampakkan aku."
Raut wajah Arvin seketika melunak. Pria itu tersenyum lembut, lalu merengkuh kedua pipi hangat istrinya.
"Nadia, dengarkan saya baik-baik. Saya tidak pernah bermain-main dengan perasaan kamu. Kalau saya cuma ingin menuntaskan hasrat, saya tidak akan menunggu berminggu-minggu untuk berusaha memenangkan hati kamu. Kamu istri saya, dan saya ingin kamu ada di hidup saya selamanya."
Nadia menatap binar mata Arvin yang mantap. Rasa cemas di dadanya perlahan mencair.
"Kalau begitu... aku punya satu syarat," ucap Nadia tegas.
Arvin mengangguk tanpa ragu. "Apa? Katakan saja, saya pasti turuti."
"Aku mau Mas Arvin lebih rajin beribadah. Jangan sering menunda shalat lagi kalau sibuk kerja... Jadilah suami saleh yang bisa membimbing aku dan anak-anak ke surga."
Arvin tertegun sejenak, lalu tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Nadia.
"Janji," bisik Arvin tulus. "Saya akan berusaha jadi suami yang kamu impikan."
Arvin bangkit, lalu naik ke tempat tidur dan mengukung Nadia di bawah bayang-bayangnya. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Jadi... boleh?" bisik Arvin lembut.
Nadia menunduk malu, mengangguk pelan. Namun, ia mendadak menahan dada Arvin. "Tapi... Mas Arvin nggak mau makan sama mandi dulu?"
Arvin terkekeh rendah, kedua tangannya bertumpu di sisi kepala Nadia. "Saya sudah mandi di kantor tadi sore. Lagipula... nanti mandi lagi, kan? Sekarang saya mau makan kamu dulu."
Pipi Nadia seketika memerah panas. "M-mas Arvin ih! Jangan lupa baca doa dulu!"
Arvin tersenyum dalam, makin mengikis jarak hingga napas hangatnya menyapu pipi Nadia.
"Saya sudah menghafalnya dari jauh hari, Sayang," bisik Arvin rendah, lalu mendaratkan kecupan hangat di bibir istrinya.
Arvin memimpin doa dengan khusyuk di dekat telinga Nadia. Usai berdoa, ia mendaratkan kecupan hangat di bibir istrinya, memulai aksinya dengan begitu lembut dan penuh kehati-hatian. Namun, rasa sakit dan perih yang teramat sangat mendadak menyengat tubuh Nadia hingga pertahanannya runtuh, membuat air mata menetes membasahi pipinya.
Arvin yang menyadari tubuh Nadia menegang dan mendengar rintihan halusnya seketika terhenti. Ia mendongak, menatap wajah Nadia yang terpejam dengan jejak air mata.
"Nadia... sakit?" bisik Arvin panik, raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah. "Maaf... maafkan saya, Sayang."
Arvin menyapu air mata Nadia dengan ibu jarinya, lalu mengecup kening dan pipi istrinya lembut untuk meredakan rasa sakit. Ia melanjutkan aksinya dengan jauh lebih pelan.
Arvin mencapai puncaknya untuk kesekian kalinya. Napasnya terengah berat saat ia menyudahi penyatuan mereka setelah tiga puluh menit yang penuh kelembutan.
Arvin merebahkan tubuhnya di samping Nadia, merengkuh istrinya ke dalam dekapan erat.
Nadia menghela napas panjang, merilekskan tubuhnya. Sisa rasa sakit perlahan memudar, tersapu oleh kelembutan Arvin. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Arvin mendaratkan kecupan hangat di dahi Nadia cukup lama, lalu berbisik dengan suara rendah dan serak di samping telinganya.
"Terima kasih untuk malam ini, Sayang..."
lanjut up kak
sudahlah Ajeng mengalah saja demi si princess Hanna🤭
lanjut up kak
lucu adek hana tahu saja cowok ganteng lagi vc🤣
lanjut up kak