Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Manis
Sinar matahari sore yang temaram mulai tenggelam di balik cakrawala kota Jakarta, memancarkan semburat warna jingga keemasan yang menembus jendela kaca besar dapur mansion Mahendra. Di dalam ruangan bernuansa putih modern itu, suasana tampak begitu sibuk namun hangat.
Naura berdiri di depan meja dapur yang luas dengan celemek bermotif bunga melingkar di pinggang rampingnya. Rambut hitam panjangnya diikat asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai leher putihnya yang halus. Jemari lentiknya dengan telaten memotong sayuran wortel dan kentang menjadi bagian-bagian kecil. Sore ini, dia memutuskan untuk turun langsung ke dapur untuk memasak sup iga sapi kesukaan Adrian, sebagai bentuk perayaan atas kemenangan suaminya di kantor pusat.
Bik Sumi berdiri di sampingnya, sesekali membantu menyiapkan bumbu herbal sembari tersenyum menggoda melihat antusiasme Nyonya mudanya. "Nyonya Naura, biar saya saja yang menghaluskan bumbunya. Tangan Anda nanti bisa perih," ujar Bik Sumi ramah.
Naura menoleh sambil memberikan senyuman termanisnya. "Tidak apa-apa, Bik. Aku ingin membuat sup ini murni dengan tanganku sendiri dari awal. Adrian sudah bekerja sangat keras di kantor hari ini untuk melindungi keluarga ini, jadi setidaknya aku ingin menyambut kepulangannya dengan makanan buatan istrinya sendiri."
Mendengar penuturan Naura, Bik Sumi hanya bisa terkekeh pelan penuh rasa haru. Dia tidak pernah menyangka mansion yang dulunya begitu dingin dan sunyi bagai kuburan mewah ini, kini bisa berubah menjadi sebuah rumah yang penuh dengan cinta sejak kedatangan Naura.
Tepat pukul lima sore, deru mesin mobil sedan mewah hitam terdengar berhenti di halaman depan. Langkah kaki yang tegap khas pantofel Adrian bergema memasuki lobi utama. Pria itu menepati janjinya dalam pesan singkat tadi siang; dia pulang tepat waktu, melompati beberapa jam kerja tambahannya demi segera menemui sang istri tercinta.
"Tuan Muda Adrian sudah pulang," ucap Dimas yang berjalan di belakangnya sambil membawakan tas kerja, namun Adrian langsung memberi isyarat tangan agar Dimas meletakkan berkas itu di ruang kerja pribadi lantai bawah.
Adrian menanggalkan jas hitam mahalnya, menyampirkannya di lengan sofa lobi, lalu melonggarkan ikatan dasi hitamnya dengan satu tangan. Matanya yang tajam langsung menyapu ruangan, mencari sosok yang menjadi alasannya bergegas pulang. Ketika indra penciumannya menangkap aroma harum kuah sup gurih yang menguar dari arah dapur, sudut bibir tampannya perlahan terangkat membentuk seringai tipis yang lembut.
Pria itu melangkah perlahan menuju area dapur. Langkah kakinya sengaja dibuat tanpa suara di atas lantai marmer, tidak ingin merusak kesibukan kecil yang sedang terjadi di sana.
Begitu sampai di ambang pintu dapur, Adrian terpaku sejenak. Pemandangan Naura yang sedang mencicipi kuah sup dengan sendok kecil, dengan wajah yang berkerut serius memikirkan takaran rasa, terlihat ratusan kali lebih indah dan memikat di matanya dibandingkan dengan seluruh model papan atas yang sering mendekatinya di luar sana.
Bik Sumi yang menyadari kehadiran Adrian langsung membungkuk hormat secara diam-diam dan melangkah mundur keluar lewat pintu belakang dapur, memberikan privasi penuh bagi kedua majikannya.
Naura yang masih terfokus pada panci supnya mendadak merasakan sebuah aura kehangatan yang besar mendekatinya dari arah belakang. Sebelum dia sempat berbalik, sepasang lengan kekar yang kokoh tiba-tiba melingkar dengan sangat erat dan posesif di pinggang rampingnya.
"Ah!" Naura tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan sendok di tangannya.
Adrian menarik punggung Naura agar menempel tanpa jarak di dada bidangnya yang hangat. Pria itu menyandarkan dagunya yang tegas di bahu ramping Naura, menghirup dalam-dalam aroma harum tubuh istrinya yang bercampur dengan wangi bumbu masakan yang entah mengapa menjadi candu baru yang menenangkan bagi pikirannya yang lelah setelah bertempur di kantor pusat.
"Kau memasak apa, Sayang? Aromanya sampai ke lobi depan," bisik Adrian, suaranya terdengar begitu berat, serak, dan sarat akan gairah cinta yang mendalam di dekat telinga Naura, membuat bulu kuduk gadis itu meremang halus.
Naura menghela napas lega, memegang kedua tangan kekar Adrian yang bertumpu erat di perutnya. Debaran di dadanya kembali berdegup liar. "Adrian... kamu mengejutkanku. Kapan kamu sampai? Kenapa langkah kakimu tidak terdengar?"
"Baru saja. Dan aku sengaja melakukannya agar bisa menangkap basah istriku yang sedang memasak," jawab Adrian dengan kekehan baritonnya yang rendah dan sangat seksi. Dia memutar tubuh Naura secara perlahan dalam kungkungan lengannya hingga mereka kini berdiri berhadapan, terkurung di antara meja dapur dan tubuh besar sang CEO.
Naura mendongak, menatap mata elang Adrian yang kini sepenuhnya dipenuhi oleh binar cinta untuknya. Dia mengulurkan kedua tangannya untuk merapikan kerah kemeja hitam Adrian yang sedikit berantakan. "Bagaimana rapat di kantor tadi? Dimas bilang kamu membersihkan beberapa tikus pengganggu. Apakah semuanya berjalan lancar?"
Adrian menangkap sepasang tangan lembut Naura, membawanya ke atas dada bidangnya tempat jantungnya berdetak dengan ritme yang kuat. "Semuanya berjalan sangat sempurna, Naura. Direktur Hermawan sudah kupecat secara tidak terhormat dan buktinya sudah kuserahkan ke pihak kepolisian. Faksi pendukung Gavin di dalam perusahaan sudah hancur total hari ini. Tidak akan ada lagi yang berani menggoyang posisiku... atau mengusik ketenanganmu."
Naura tersenyum sangat manis dengan air mata kebahagiaan yang menggenang di sudut mata bulatnya yang jernih. "Aku tahu kamu pasti bisa melaluinya, Adrian. Kamu adalah orang yang kuat."
Adrian menaikkan satu alisnya, tatapan matanya perlahan turun dan terkunci pada bibir ranum Naura yang sedikit terbuka, memancarkan kilat obsesi posesifnya. "Aku mungkin orang yang kejam di luar sana, Naura. Tapi di depanmu... aku hanyalah pria yang tidak berdaya yang sepenuhnya berada di bawah kendalimu."
Pria itu merundukkan wajahnya perlahan, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Dan sekarang... sebagai upah atas kemenanganku di kantor dan sup iga sapi yang kau buat ini, kurasa aku berhak mendapatkan kompensasiku, Nyonya Mahendra," bisik Adrian serak.
Sebelum Naura sempat membalas dengan kata-kata, Adrian sudah menutup celah di antara mereka, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan penuh dengan tarikan emosi yang mendalam. Tangan posesif Adrian merambat naik ke tengkuk Naura, memperdalam ciuman itu dan mengunci gadis itu seutuhnya dalam dekapannya. Di bawah temaram cahaya sore dapur mansion yang hangat, ikatan cinta mereka kembali menegaskan posisinya—sebuah ikatan yang telah melompat jauh melampaui selembar kertas kontrak palsu masa lalu.