Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34: Tugas kelompok
"Lea?"
Seketika itu juga, keriuhan di antara keempat teman Lea mendadak luntur. Maya, Kiki, Nabila, dan Rehan menghentikan tawa mereka. Suasana berubah menjadi sangat canggung dan hening dalam hitungan detik.
Mata keempat anak remaja itu membelalak pelan, menatap sosok wanita muda di hadapan mereka dengan pandangan menilai, bingung, sekaligus terpesona.
Di mata mereka, Ayu tampak sangat muda, berparas lembut, dan memiliki gestur anggun yang sangat keibuan, meski pakaiannya sangat sederhana.
Maya melirik ke arah Lea dengan dahi berkerut, seolah bertanya tanpa suara: Siapa wanita cantik ini? Kakakmu? Atau siapa?
Lea yang berdiri di tengah-tengah mereka membeku seketika. Wajahnya memerah padam oleh rasa canggung dan amarah yang tertahan.
Bukannya menyapa atau mengenalkan ibu tirinya dengan sopan, Lea justru menunjukkan sikap acuh tak acuh yang amat tajam. Ia melipat tangannya di dada, dan melengos tanpa memandang wajah Ayu sedikit pun, lalu menghentakkan kakinya melangkah menerobos masuk melewati gerbang.
"Ayo masuk," cetus Lea ketus pada teman-temannya, tanpa memedulikan keberadaan Ayu yang membukakan pintu.
Keempat teman Lea makin merasa canggung dan serba salah melihat sikap acuh Lea pada wanita anggun tersebut. Rehan meremas tali ranselnya, sementara Maya dan Nabila saling bertukar kerlingan karena bingung.
Namun, sebelum rasa canggung itu makin meluas dan membuat para tamu kecil itu merasa tidak nyaman, Ayu dengan sangat cekatan dan bijaksana langsung mengambil alih situasi.
Ayu melebarkan daun pintu gerbang, lalu mengulas senyum paling hangat, tulus, dan ramah yang terpancar alami dari matanya.
"Selamat siang, anak-anak manis..." sapa Ayu dengan suara yang begitu lembut, merdu, dan menenangkan. "Kalian teman-teman sekolahnya Lea ya?"
Maya yang merupakan ketua kelompok langsung melangkah maju, dan membungkukkan badannya dengan sangat sopan. "I-iya, Tante... Selamat siang. Saya Maya, temannya Lea. Kami mau kerja kelompok di sini..."
"Saya Kiki, Tante..."
"Saya Nabila..."
"Saya Rehan, Tante..." sambung mereka berturut-turut, dan secara refleks langsung mengulurkan tangan untuk menyalami dan mencium tangan Ayu dengan penuh rasa hormat.
Ayu menyambut uluran tangan anak-anak itu satu per satu dengan kehangatan yang tulus, sambil mengusap pelan punggung tangan mereka.
"Selamat datang di rumah ya, Maya, Kiki, Nabila, Rehan," tutur Ayu sangat santun. "Senang sekali Lea bisa membawa teman-temannya yang ramah-ramah main ke rumah. Ayo masuk, Nak, di luar udaranya sedang cukup terik."
Keramahan, kesantunan, dan kehangatan yang dipancarkan Ayu seketika melelehkan seluruh tembok kecanggungan yang sempat membeku tadi. Wajah-wajah tegang keempat anak SMP itu berganti menjadi senyuman lega dan sumringah.
"Terima kasih banyak ya, Tante!" seru Nabila riang.
"Rumahnya adem banget ya, Tante," puji Maya tulus saat mereka melangkah menelusuri pekarangan depan yang dipenuhi tanaman hijau.
Lea yang berjalan beberapa langkah di depan mereka menggertakkan giginya rapat-rapat. Dadanya bergemuruh panas melihat bagaimana teman-temannya dalam sekejap begitu mudah luluh dan menyukai Ayu.
Namun, di saat yang sama, rasa lega yang tak terucap menyusup tipis di hati Lea karena Ayu tidak melakukan hal-hal yang mempermalukannya atau memaksakan status di depan teman-temannya.
Kelima anak SMP itu akhirnya mengambil tempat di gazebo kayu besar yang terletak di taman belakang rumah. Udara di sana sangat sejuk, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan suara gemericik air dari kolam ikan koi di sampingnya.
"Wah, Lea! Gazebo kamu enak banget!" seru Rehan seraya mengeluarkan laptop dari tas ranselnya. "Adem banget, cocok banget buat ngerjain tugas drama!"
"Iya, Le! Tadi yang buka pintu itu... Siapa kamu, Le? Kakak kamu ya? Cantik banget dan ramah banget deh!" puji Nabila antusias seraya mengeluarkan buku-buku catatan.
Wajah Lea mendadak mengeras. Ia meletakkan tasnya agak kasar di atas meja kayu dan berkata, "Bukan. Dia... Ibu tiri aku," sahut Lea singkat, dingin, dan penuh nada tidak suka yang sengaja diperlihatkan.
Maya dan Kiki saling bertukar pandang. Mereka menyadari nada benci dari suara Lea, namun sebagai teman, mereka memilih untuk tidak memperpanjang pertanyaan agar tidak merusak suasana kerja kelompok.
Tak sampai lima belas menit mereka mulai berdiskusi dan membagi peran naskah drama, langkah kaki halus terdengar mendekati gazebo.
Ayu datang membawa nampan kayu besar. Di atas nampan tersebut, tersaji lima gelas besar es sirup markisa dingin dengan biji selasih dan potongan buah segar, dipadukan dengan dua piring besar camilan kentang goreng renyah dan churros hangat tabur gula kayu manis buatan Ayu sendiri.
"Anak-anak... Ini Ibu buatkan camilan hangat dan es segar untuk menemani kalian belajar ya," tutur Ayu selembut angin sore, sambil meletakkan nampan tersebut di tengah meja kayu gazebo dengan sangat hati-hati.
Mata keempat teman Lea seketika berbinar-binar gembira melihat sajian camilan lezat yang tampak seperti hidangan kafe mewah itu.
"Wahhh! Enak banget kelihatannya! Terima kasih banyak ya, Tante!" seru Rehan yang tak sanggup menahan rasa senangnya.
"Iya, Tante... Jadi merepotkan begini," timpal Maya merasa agak sungkan namun matanya tak bisa bohong menatap churros hangat tersebut.
Ayu mengulas senyum manis, lalu mengusap pelan bahu Nabila yang duduk dekat dengannya. "Sama sekali tidak merepotkan, Nak. Dihabiskan ya. Kalau es atau camilannya kurang, nanti panggil Ibu atau Bibi di dalam ya. Selamat belajar..."
"Terima kasih, Tante Ayu!" sahut mereka kompak dengan wajah penuh keceriaan.
Ayu melirik sekilas ke arah Lea yang hanya menunduk dan berpura-pura sibuk menatap layar laptop. Ayu memberikan senyuman teduh pada putri tirinya itu sebelum akhirnya berbalik melangkah kembali ke dalam rumah untuk memberikan ruang pribadi bagi mereka.
Sepeninggal Ayu, suasana di gazebo seketika pecah oleh pujian dan rasa kagum keempat anak SMP tersebut.
"Gila, Le! Ibu tiri kamu baik banget!" celetuk Rehan seraya mengunyah churros yang renyah dan manis. "Udah cantik, baik, masakannya enak banget lagi! Kamu beruntung banget, Le!"
"Iya, Le! Tante Ayu lembut banget suaranya, kayak ibu-ibu di sinetron tapi versi tulusnya," puji Nabila riang seraya menyeruput es markisa dinginnya. "Rumah kamu udah kayak kafe VIP gara-gara disediain camilan enak begini!"
Mendengar pujian demi pujian yang mengalir tulus dari mulut sahabat-sahabat dekatnya untuk Ayu, Lea hanya bisa membisu. Ada gejolak aneh yang mendadak berkecamuk di dalam hatinya.
Ego dan kebencian yang dipupuknya bersama Sintia mendesaknya untuk membantah pujian itu, namun kenyataan di depan matanya, serta tatapan kagum teman-temannya, membuktikan secara brutal bahwa di mata orang lain yang objektif, Ayu adalah sosok wanita dan ibu yang sangat sempurna, tulus, dan penuh kasih sayang.
Bersambung...