NovelToon NovelToon
Anak Genius: Ayahku Seorang Superstar

Anak Genius: Ayahku Seorang Superstar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.

Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.

Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?

subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kita Tidak Punya Papa?

"Mama! Kenapa menangis?"

Semi lari begitu saja ke arah Zahra yang duduk di atas kursi kerjanya, tempat yang di maksud bukan di ruangan khusus melainkan di dalam kamar yang dimodif seperti ruang kerja yang biasa Zahra gunakan untuk menulis.

Semi yang hendak masuk membawa potongan buah untuk ibunya terkejut melihat sang ibu menangis. Sehingga Semi langsung masuk ke dalam sampai lari.

"Mama, siapa yang nakal? Bilang sama Adek Mama. Beraninya buat Mama nangis." Rutukan Semi malah membuat Zahra tertawa.

"Adek ngapain ke kamar Mama? Tidak ketuk pintu lagi."

"Mmmm... Adek ...."

"Adek memang gitu Mah, nggak sopan." Arsyad tiba-tiba masuk. "Sudah Abang bilang, kalau mau masuk kamar orang, ketuk pintu dulu," ceramah Arsyad.

"Ih ... Abang kok malah ceramahin Adek. Adek bawain buah buat Mama, Adek juga loh yang potongin buahnya." Semi bicara dengan bangga.

"Dalam rangka apa ini Dek?" tanya Zahra yang langsung mengambil piring buahnya.

"Dalam rangka menghibur Mama." Semi berkata dengan ceria sambil menekan kedua lesung pipinya oleh jari. Detik itu juga senyum Zahra merekah.

"Benar, apa kata orang. Anak itu penghibur lelah."

"Nah, itu Mama tahu. Sekalian Semi mau hibur Mama biar gak sedih lagi. Jangan nangis lagi, ya Mama."

"Terima kasih sayang."

Zahra tersenyum lalu memeluk putrinya. Entah kenapa, dia merasa bersalah jika mengingat dulu ... Dia begitu membenci Semi dan Arsyad. Padahal mereka tidak melakukan kesalahan apa-apa.

"kok, cuman Adek aja yang dipeluk," protes Arsyad sambil melipatkan kedua tangannya di bawah dada.

Zahra melepas pelukannya dulu, lalu memanggil Arsyad untuk mendekat. Arsyad datang menghampiri yang langsung dipeluk bersama oleh Zahra.

***

Di kamar lain, Haesung duduk melamun di teras balkonnya. Sambil menatap langit yang penuh dengan bintang. Haesung merebahkan tubuhnya di atas sofa santai, kedua kaki yang disilang sambil menjadikan kedua tangan sebagai bantalan.

Haesung masin terbayang wajah Zahra, wanita pertama di Indonesia yang membuatnya terus kepikiran. Entah, kenapa menatap mata itu rasanya pernah bertemu. Haesung sampai terus membayangkannya lagi.

"Sabira," ucap Haesung yang tiba-tiba teringat sesuatu. Haesung bangkit dari sofa, meninggalkan balkon yang berjalan ke dalam kamar.

Haesung mengambil sebuah laptop dari atas meja, membukanya hingga layar kecil itu menyala.

Dibukanya salah satu akun sosmed berlogo kamera. Begitu masuk Haesung mengklik nama 'Sabira' salah satu akun penulis yang selalu menulis puisi dengan indah. Haesung mulai tertarik ketika beberapa potret dan video yang diambil dari satu kota di negaranya.

Haesung pikir penulis itu pernah berkelana di kotanya, berawal dari rasa penasaran ada satu kutipan puisi yang membuat Haesung tersentuh. Dan ... Sudah tiga tahun lamanya Haesung mengikuti akun bernama Sabira itu.

Namun, sampai detik ini Haesung tidak pernah tahu seperti apa wajah sang penulis.

[ Hai, apa kabar? ]

Satu kali selama seumur hidupnya, baru kali ini Haesung mengirimkan satu DM. Sebenarnya sering ... Dan hanya satu akun itu yang berinteraksi dengannya dalam sosmed. Haesung tidak pernah membalas satu komentar atau pesan dari penggemarnya tapi untuk Sabira, hatinya tergerak bagai ditarik magnet.

Jari Haesung mengetuk-ngetuk meja. Sudah 5 menit Sabira belum juga membalasnya.

Demi menunggu kejenuhan Haesung membuka profil Sabira, yang melihat puisi terbarunya yang baru ditulis 1 jam yang lalu, yang artinya pemilik akun aktif dalam waktu 60 menit terakhir.

"Apa dia baru saja bertemu mantan." Pikirnya, sebab puisi itu menggambarkan sebuah luka yang lama tapi kembali dipertemukan.

Sedetik bibir Haesung tertarik. Entah, kenapa rasanya Haesung seperti sedang cemburu. Padahal dia tidak mengenal Sabira.

Haesung menutup laptopnya kasar. Membaca puisi itu membuatnya marah. Tapi kenapa? Haesung pun bingung sendiri.

Di tempat lain, Zahra masih bersama si kembar. Awalnya hanya potongan buah, tapi Semi dan Arsyad meminta makanan lain sehingga Zahra harus memesan via online.

Ada banyak hidangan. Sate, chiken rolls, jus dan ice cream semua itu mereka yang pesan. Zahra hanya membayarnya saja. Padahal Zahra sudah peringatkan untuk tidak makan lebih dari jam 7 malam tapi mereka tak mau dengar, dengan dalih gagal mengajak jalan sore waktu itu.

"Mama tidak makan?" tanya Semi, Zahra hanya menggeleng.

"Mama kalau galau jangan lama-lama," ocehnya. Kening Zahra berkerut mendengar ocehan Semi.

"Siapa yang galau?"

"Mama lah. Tadi kan abis diserang sama Ibu Maryam. Ibu Maryam itu siapa sih, terus Mas Azmi itu siapa?"

Mata Zahra semakin menyipit. Semi, dia terus saja bicara tanpa melihat sang Abang yang berusaha menghentikannya. Namun, Abang hanya pasrah ketika Semi berkata demikian.

"Kalian nguping ya?" todong Zahra. Tapi Semi hanya diam sambil melirik abangnya. Arsyad yang dikirim memutar bola matanya malas.

"Mmm ... Abang yang bilang Mama."

"Jadi Abang yang nguping?" Tatap Zahra pada Arsyad.

"Nggak." Arsyad menggeleng "Cuman kedengeran. Arsyad kan lagi di kamar mandi, nggak salah dong kalau Arsyad dengar. Lagian suaranya kenceng banget, dan Arsyad gak suka saat dia hina Mama."

_deg_

Jantung Zahra, berdegup kencang. Ketakutannya kembali ia rasakan.

"Abang dengar apa saja?"

"Semua. Abang dengar kalau kita nggak punya ayah. Terus, tentang Mama goda Mas Azmi. Tapi Arsyad percaya, Mama nggak ngelakuin itu, apalagi sampai menggoda. Tapi ...."

"Kalian nggak usah dengerin. Itu bahasan orang dewasa. Kalian tidak berhak tahu," potong Zahra.

"Tapi kita berhak tahu kan siapa papa kita? Sebenarnya kita punya Papa nggak? Apa memang dari kecil tidak punya."

Zahra terdiam. Inilah yang Zahra takutkan.

"Mama ...."

Zahra mulai merasa tidak nyaman. "Sebaiknya kalian cepat tidur. Ini sudah malam." Zahra membereskan semua sisa makanan, memaksa mereka keluar dari kamar mengantarkannya ke kamar mereka.

"Mama apa salah Abang? Abang hanya ingin tahu siapa papa Abang. Mama!"

Berbeda dengan Arsyad yang terus bicara. Semi yang biasa cerewet gadis itu kini hanya diam. Semi bukan tidak mau bicara tapi dia takut dibenci ibunya lagi. Sudah senang, Zahra kini meliriknya, makan bersama, mengobrol, dan tertawa.

Dulu ... Jangankan semua itu. Melirik saja tidak pernah.

_Brugh_

Pintu dibanting keras. Ummi Hawa yang kebetulan lewat melongo. Arum, yang berada di kamarnya juga ikut mendengar. Abi Adam yang sedang membaca kitab terdiam sesaat.

Bantingan yang sangat keras itu mengejutkan semua orang.

"Astagfirullah," lirih Ummi Hawa yang berlari ke kamar Arsyad.

Ummi membuka pintu, Arsyad dan Semi yang tengah duduk di lantai langsung menoleh.

"Ninik," panggil mereka bersamaan.

Ummi Hawa langsung berjongkok yang memeluk mereka.

"Ada apa? Kenapa Mama kalian bisa marah?"

Semi dan Arsyad saling pandang. Kemudian mereka menunduk.

"Ninik, Adek takut ... Mama nggak akan benci Adek kan?" Semi begitu khawatir.

"Jika kalian meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Insyaallah Mama Zahra pasti memaafkan." Ucap Ummi Hawa sambil mengusap lembut punggung Semi.

"Memangnya apa yang kalian lakukan? Ninik boleh tahu? Biar nanti Ninik bisa bujuk Mama Zahra," ucap Ummi selanjutnya.

"Abang tadi nggak sengaja dengar obrolan Ninik, Mama sama Bu Maryam. Terus, Abang tanya sama Mama ... Papa kita siapa? Apa kita memang nggak punya papa dari kecil?" Arsyad mendongak—menatap Ummi Hawa.

Sementara Ummi Hawa dia tidak bisa menjawab. Apa yang dia takutkan kini terjadi, anak-anak mulai mempertanyakan ayah mereka.

1
Dini_Ra
Teruntuk kalian yang baca karya ini. Author mau jelaskan jika karya ini sebenarnya sudah pernah publish sebelumnya dengan cover yang berbeda. Mungkin dari kalian ada yang sudah pernah baca, lalu kenapa sih Thor? kok yang ini covernya beda, terus babnya juga udah banyak tapi yang ini kembali dari awal.

Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.

jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!