NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUH BELAS

Yunda mengangguk setuju seraya meratapi jari-jarinya sendiri. "Sama! Aku menulis sampai jam dua malam tahu!"

Sementara kedua sahabatnya asyik mengomeli kekejaman tugas dari sang dosen, pikiran Amara justru melayang jauh. Kata-kata sahabatnya seperti suara latar yang mengabur. Amara menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap kosong ke arah papan tulis di depan kelas.

Sudah dua hari. Sudah dua hari penuh sejak kejadian di kamar mandi itu, ia tidak bisa lagi mendengar suara batin Zain. Keheningan itu mendadak membuatnya merindukan ocehan-ocehan gila di dalam kepala pria kaku itu.

Klak! Klak! Klak!

Suara pantulan sepatu pantofel kulit yang tegas bergema dari luar koridor, kian mendekat ke arah pintu kelas. Seketika, seluruh kebisingan di dalam ruang kuliah menguap tanpa sisa. Para mahasiswa terburu-buru duduk rapi di kursi masing-masing.

Pintu kelas terbuka lebar. Sosok Profesor Kaellan Zain Alfatih melangkah masuk dengan kemeja hitam yang terlipat rapi, membawa map tebal dan laptop di tangannya. Aura dingin, angkuh, dan berwibawa menyelimuti seluruh ruangan dalam hitungan detik.

Zain meletakkan mapnya di atas meja dosen, lalu pandangan matanya yang tajam menyapu seluruh isi kelas, sebelum akhirnya berhenti tepat pada wajah Amara di barisan tengah.

Amara menahan napas, menatap lurus ke dalam manik mata kelam suaminya. Dan di tengah keheningan kelas yang mencekam itu, sebuah bisikan asing yang teramat sangat jernih mendadak meledak kembali di dalam kedalaman benak Amara.

’Istriku cantik sekali hari ini... Ingin rasanya aku membubarkan kelas ini sekarang juga dan membawanya pulang ke rumah.’

Amara membelalak hebat, jantungnya melonjak drastis hingga matanya nyaris keluar. Suara batin itu kembali.

"Suara ini... Benar-benar suara hatinya lagi?"

Amara membeku di kursinya, kedua matanya membelalak menatap lurus ke arah Zain yang berdiri tegap di depan kelas. Jantungnya berdegup kencang. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kemampuan aneh untuk mendengar gema batin suaminya kembali terbuka. Padahal, mereka sama sekali tidak melakukan hubungan suami istri sejak malam itu.

Zain mulai membuka perkuliahan dengan suara baritonnya yang berat, menjelaskan materi Kimia Farmasi Dasar dengan gestur tubuh yang begitu tenang dan berwibawa. Namun, Amara sama sekali tidak bisa fokus menyimak. Pikirannya melayang jauh, sibuk merangkai puzzle dan memikirkan pemicu apa yang membuat koneksi batin itu mendadak terhubung kembali.

Kalau bukan karena hubungan intim... Jangan-jangan gara-gara kejadian tadi pagi? batin Amara membatin panik.

Seketika, bayangan peristiwa tadi pagi di dapur rumah mendadak melintas di ingatan Amara. Saat itu, ia tak sengaja terpeleset akibat genangan air susu yang tumpah di lantai keramik. Tubuhnya yang hilang keseimbangan secara refleks menyambar kemeja Zain, hingga bibirnya secara tidak sengaja mendarat mulus tepat di atas bibir tipis suaminya.

Amara spontan menutupi bibirnya dengan kedua telapak tangan, merenggut napas halus saat rona merah padam mendadak membakar penuh kedua pipinya. Astaga, jadi cuma karena ciuman tidak sengaja itu.

"Amara Putri Sanjaya! Silakan maju ke depan kelas sekarang!"

Suara bariton yang amat lantang itu memecah lamunan Amara bagaikan petir di siang bolong. Suasana di dalam ruang kuliah yang tadinya tenang seketika berubah menjadi tegang luar biasa. Seluruh mata mahasiswa kini tertuju padanya.

Erin yang duduk tepat di samping Amara ikut panik. Ia menyenggol pelan lengan Amara sembari berbisik cemas. "Mara, maju cepat! Muka Profesor Zain galak banget!"

Di depan meja dosen, Zain melipat kedua tangannya di dada, menatap Amara dengan pandangan mata yang sangat dingin dan tajam. Namun, tepat di detik yang sama, gema batin pria itu menyembur menyebalkan di dalam kepala Amara.

’Beraninya dia melamun dan tidak memperhatikanku saat aku sedang mengajar di depan! Biar kuhukum dia tahu rasa sekarang!’

Amara mengepalkan kedua tangannya erat-erat di bawah meja. Bibirnya komat-kamit menggerutu tanpa suara. Dasar pria angkuh! Dia sengaja mencari-cari alasan untuk menghukumku di depan semua orang!

Dengan langkah kaki yang dipaksakan tenang, Amara bangkit dari kursinya lalu berjalan maju ke depan kelas. Ia berdiri tepat di samping layar proyektor yang menayangkan slide presentasi tebal.

"Baca dan jelaskan materi yang ada di slide proyektor itu sekarang," perintah Zain datar, tanpa memberi sedikit pun ruang untuk membantah.

Amara menghela napas panjang, menatap barisan tulisan ilmiah di layar. Untung saja aku sudah membaca dan menyalin materi ini semalam sampai tanganku mau patah!

Dengan suara yang begitu lembut namun mantap, Amara mulai memaparkan inti materi Farmasi tersebut. Penjelasannya mengalir sangat lancar, terstruktur, dan mudah dipahami.

Zain berdiri menyandar di tepi meja, mengamati istrinya yang tengah berbicara. Tatapannya tetap terlihat dingin dan tidak peduli di luar, namun pendengarannya melahap setiap kata yang keluar dari bibir Amara. Suara lembut gadis itu terdengar bagaikan melodi paling merdu yang menenangkan jiwanya.

Begitu Amara mengakhiri penjelasannya, riuh tepuk tangan dari teman-teman sekelasnya mendadak bergema di dalam ruangan. Senyum lega mengembang tipis di wajah Amara. Namun, saat kakinya baru saja mengayun hendak kembali ke kursinya, suara tajam Zain kembali menghentikan langkahnya.

"Saya paling tidak suka jika ada mahasiswa yang melamun dan tidak memperhatikan materi di kelas saya," potong Zain dingin, memutus euforia kelas. "Lebih baik tidak usah mengikuti perkuliahan saya sama sekali jika merasa sudah terlalu pintar."

Amara mengepalkan jemarinya kencang hingga kukunya memutih. Rasanya detik itu juga ia ingin sekali melayangkan pukulan kencang ke wajah suaminya yang bertindak sangat angkuh dan menyebalkan ini.

"Maaf, Profesor," cicit Amara amat pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menjaga formalitas.

Zain berbalik menatap jam dinding, lalu menutup laptopnya dengan gerakan tegas. "Sebagai pengingat untuk semuanya, besok adalah batas akhir pengumpulan sepuluh jurnal Farmasetika. Harus sudah terkumpul rapi di atas meja ini sebelum perkuliahan dimulai. Bagi yang terlambat, silakan keluar dan tidak perlu mengikuti kelas saya lagi."

Jam istirahat pun tiba. Lorong kampus mulai dipadati oleh mahasiswa yang hendak menuju kantin. Rivano, mahasiswa tingkat tiga yang merupakan kekasih Yunda, tampak berjalan menghampiri kelas mereka untuk mengajak Yunda makan siang bersama.

"Wah, Kak Vano!" seru Amara saat keluar dari kelas bersama Erin dan Yunda. "Mana nih traktiran jadian kalian? Jangan mau enaknya saja dong!"

Vano tertawa ramah, mengacak rambut Yunda pelan. "Boleh banget, Mara! Hari ini Kakak yang bayar semuanya, kalian bebas pesan apa saja."

Namun, belum sempat mereka melangkah menuju kantin, seorang mahasiswa pengurus himpunan berlari mendekat. "Amara! Kamu dipanggil sekarang juga untuk menghadap ke ruangan Profesor Zain!"

Erin dan Yunda seketika saling pandang dengan raut wajah sangat cemas. "Aduh, Mara... Jangan-jangan kamu mau dikasih hukuman tambahan gara-gara kejadian tadi?" bisik Erin khawatir.

Amara memaksakan senyum tipis, menyentuh bahu sahabatnya. "Kalian duluan saja ke kantin. Tenang saja, aku tidak akan apa-apa kok."

Amara membalikkan badan, berjalan menuju gedung staf dosen tempat ruangan Zain berada. Begitu sampai di depan pintu kayu tebal bernomor 104, Amara memutar knop pintu dan melangkah masuk.

Pemandangan di dalam ruangan itu membuat Amara tertegun. Di atas meja kerja Zain yang luas, sudah tertata rapi dua kotak makanan siang lengkap dengan porsi lauk yang berlimpah serta buah segar.

"Tutup pintunya dan duduk di sini," ujar Zain tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.

Amara menarik kursi kayu di depan meja Zain lalu duduk perlahan. "Kak Zain tidak takut kalau ada mahasiswa atau dosen lain yang melihat aku makan di ruangan ini?"

Zain menaikkan pandangannya, merapikan letak kacamatanya dengan gerakan tenang. "Ruangan saya tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang tanpa izin."

Amara mencibir pelan dalam hati. Halah, sok keren sekali! Tadi di kelas saja menyindirku habis-habisan di depan umum!

"Kalau kamu punya ganjalan, katakan langsung di depan saya," celetuk Zain mendadak, menatap tajam ke arah mata Amara. "Jangan membatin dan menggerutu sendiri dalam hati."

Amara membelalak kaget. Astaga, dia bisa menebak lagi! Sikap Zain yang tetap terlihat dingin dan cuek itu membuat Amara makin sebal. Ia meraih sendoknya dan bersiap menyantap makan siangnya.

Brak!

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pintu ruangan Zain mendadak terdorong buka dengan kasar. Seorang wanita berpenampilan sangat rapi dengan riasan tebal melangkah masuk tanpa permisi.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!