Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Kepolosan Seorang Anak
Pagi datang tanpa permisi.
Nala terbangun lebih dulu ketika cahaya lembut mulai menyusup dari sela-sela tirai, membentuk garis keemasan tipis di lantai kamar. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangan dengan cahaya pagi yang perlahan memenuhi ruangan.
Namun, ketika mencoba bergerak, Nala justru meringis pelan tubuhnya terasa pegal dengan cara yang... tidak asing. Rambut panjangnya kusut berantakan di atas bantal. Pakaian tidur yang dikenakannya semalam sudah bergeser tidak beraturan, sementara selimut yang entah bagaimana bisa sampai di sana kini hanya menutupi sebagian tubuhnya. Ujung lainnya bahkan sudah setengah jatuh ke lantai.
Nala menghela napas panjang lalu kemudian, ia menoleh ke sisi ranjang. Pelaku utamanya masih tertidur nyenyak—Junho berbaring telentang dengan wajah yang begitu tenang.
Salah satu lengannya terulur ke sisi tempat Nala sebelumnya berbaring, seolah semalam pria itu masih berusaha memastikan seseorang tetap berada di dekatnya. Wajahnya terlalu damai untuk seseorang yang jelas-jelas tidak terlihat merasa bersalah pagi ini.
Nala menatapnya selama beberapa detik ada rasa kesal yang masih tersisa, tetapi melihat wajah Junho yang tertidur pulas membuat sudut bibirnya justru terangkat tipis. Ia menggeleng kecil, antara ingin mengomel dan tidak tega membangunkannya.
“Benar-benar tidak tahu diri... sakit sekali,” gumamnya lirih.
Nala kemudian berusaha bangkit perlahan namun begitu kedua kakinya menyentuh lantai, ia menahan dengusan kecil. Tubuhnya terasa kaku, membuatnya harus berhenti sejenak sebelum melangkah.
Satu langkah lalu kemudian satu langkah lagi, namun, baru beberapa langkah meninggalkan ranjang, Nala berhenti ia menoleh kembali tatapannya yang semula penuh kekesalan perlahan berubah lebih lembut.
Junho masih tertidur pulas, seperti seseorang yang benar-benar kelelahan setelah hari yang panjang. Napasnya teratur, wajahnya tenang, dan untuk sesaat Nala hanya berdiri memperhatikannya dalam diam.
Akhirnya, rasa kesalnya kalah.
Nala kembali mendekati ranjang, menarik selimut yang terjatuh, lalu menutupkannya kembali ke tubuh pria itu. Gerakan tersebut terasa begitu otomatis, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang meskipun kehidupan mereka telah berubah berkali-kali.
Ia kemudian membungkuk sedikit dan mengecup pelipis Junho singkat.
“Bangun nanti saja... terima kasih,” bisiknya.
Junho tidak bergerak namun justru hal itu membuat Nala tersenyum kecil, lalu berbalik menuju kamar mandi dengan langkah yang masih sedikit hati-hati. Ia meninggalkan pagi yang tenang, seorang suami yang masih tertidur lelap, serta konsekuensi dari keputusan mereka semalam yang untuk sementara belum perlu dibicarakan.
Setidaknya, sampai pria itu bangun.
⊹ ──༺𝐁𝐘𝐍𝐊༻── ⊹
Setelah selesai mandi, Nala turun ke dapur dengan langkah yang menurutnya sudah diatur sebaik mungkin agar terlihat normal. Rambutnya masih setengah basah dan diikat asal di belakang kepala. Ia mengenakan kaus rumah longgar milik Junho yang sedikit kebesaran di tubuhnya, membuat penampilannya terlihat sederhana dan nyaman.
Nala berdiri di depan meja dapur, menyiapkan bahan-bahan sarapan dengan konsentrasi yang dibuat-buat. Pisau di tangannya bergerak perlahan memotong sayuran dengan gerakan telaten. Sesekali ia berhenti sebentar ketika rasa pegal kembali terasa di tubuhnya.
Nala memejamkan mata sejenak.
“Ya ampun...” gumamnya sangat pelan.
Ia mengembuskan napas, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mulai memecahkan telur, memanaskan wajan, lalu menuangkan minyak dengan hati-hati.
Semuanya berjalan baik... sampai langkahnya sedikit melambat ketika ia berpindah arah. Nala menarik napas kecil, berusaha menahan diri agar tidak meringis.
“Tenang, Nala,” gumamnya pelan, lebih seperti pengingat untuk dirinya sendiri. Namun, sebelum ia sempat kembali berkonsentrasi pada sarapan, suara langkah kaki kecil terdengar dari arah tangga.
“Mommy...”
Nala menoleh refleks.
Jun-seok berdiri di ujung anak tangga dengan rambut acak-acakan, matanya masih setengah terpejam, sementara kedua tangannya sibuk memeluk ujung kaus tidurnya. Wajahnya tampak seperti seseorang yang baru saja terbangun dan belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.
“Iya, sayang?” jawab Nala cepat, berusaha terdengar ceria.
Jun-seok turun perlahan. Setelah sampai di lantai, ia tidak langsung menghampiri ibunya, anak itu justru berhenti beberapa langkah dari dapur matanya perlahan menyipit dia memperhatikan Nala dengan saksama—terlalu saksama untuk seseorang yang baru bangun tidur.
“Mommy, jalan kenapa?” tanyanya polos namun berhasil membuat Nala tertegun jantungnya seolah hampir melompat keluar dari dada.
“Hah?” Nala refleks menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk telur. “Normal, kok.”
Jun-seok menggeleng kecil dia melangkah lebih dekat, kemudian memperhatikan cara Nala berpindah posisi ketika hendak mengambil spatula. Tatapannya semakin serius, seolah sedang memecahkan sebuah persoalan penting.
“Mommy jalannya pelan... seperti waktu Mommy sakit perut dulu,” simpulnya lugas.
Nala tercekat selama sepersekian detik.
“Oh—itu...” Ia segera mencari jawaban yang terdengar masuk akal. “Mommy cuma... pegal.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat membuat Jun-seok langsung mengerutkan kening.
“Pegalnya di mana?” kejar Jun-seok.
Nala menelan ludah.
“Di... kaki.”
Jun-seok mengangguk pelan namun, alih-alih menerima jawaban itu begitu saja, ia justru memasang wajah berpikir. Kepalanya sedikit miring, matanya masih mengamati ibunya seolah sedang mencocokkan jawaban tersebut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Beberapa detik kemudian, pertanyaan berikutnya keluar begitu saja.
“Mommy jatuh?” tanyanya.
Nala kembali terdiam spatula di tangannya menggantung di udara, tanpa sadar dalam hati, ia hanya bisa menghela napas panjang.
“Tidak,” balas Nala lembut.
“Lari?” tanya Jun-seok lagi.
“Tidak... Sayang.” Nala kembali mengembuskan napas pelan.
Jun-seok menatapnya beberapa saat.
“Mommy bohong?”
Nala menghela napas kecil kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi kesal, seolah mulai lelah dengan rentetan pertanyaan putranya.
“Tidak,” jawab Nala cepat.
Jun-seok langsung menyipitkan mata.
“Coba Mommy menunduk,” pintanya sambil meraih tangan Nala.
Nala terdiam sejenak namun melihat keseriusan putranya, ia akhirnya menuruti permintaan itu. Nala mencondongkan tubuhnya agar wajah mereka sejajar. Jun-seok menatapnya beberapa detik matanya bergerak dari wajah Nala hingga ke bahunya, seolah sedang memastikan tidak ada sesuatu yang terlewat.
Setelah merasa cukup yakin, ekspresi tegang di wajahnya perlahan mengendur.
“Mommy baik-baik saja?” tanyanya dengan nada suara yang terdengar protektif, jelas masih menyimpan kekhawatiran. Nala tersenyum kecil dia kemudian mengangguk dan menarik putranya ke dalam pelukan.
“Iya, Mommy baik-baik saja, sayang.” Nala memeluk putra semata wayangnya itu sedikit lebih erat. Ia memahami kekhawatiran Jun-seok anak itu hanya sedang memastikan ibunya baik-baik saja.
Namun, apa yang sebenarnya ia rasakan pagi ini jelas bukan sesuatu yang bisa ia jelaskan kepada orang lain, terlebih lagi kepada putranya sendiri.
“Mommy baik, sayang. Hanya pegal sedikit Seok tidak perlu khawatir,” jawab Nala lembut.
Jun-seok kembali menatap wajah ibunya sekali lagi seolah masih memastikan sekali lagi bahwa jawaban tersebut benar, ia akhirnya mengangguk.
“Aku mau susu,” katanya kemudian.
Nala langsung mengembuskan napas lega.
“Iya, duduk dulu,” jawabnya cepat. Ia segera mengambil gelas, sementara Jun-seok berjalan menuju kursi meja makan tanpa lagi melontarkan pertanyaan.
Nala memperhatikannya sebentar kemudian kembali menghadap meja dapur, berusaha menahan senyum sekaligus rasa malu yang tiba-tiba kembali muncul ketika ingatannya sekilas melayang pada malam sebelumnya.
“Ya ampun...” gumamnya lagi, kali ini hampir tidak terdengar.
Saat ia menuangkan susu hangat ke dalam gelas, langkah kaki lain terdengar dari arah kamar utama.
Junho.
Pria itu muncul dari balik tangga dengan ekspresi yang masih menyisakan ketegangan. Setelah tidak menemukan Nala di kamar, matanya langsung menyapu seluruh ruangan, seolah memastikan istrinya benar-benar ada di penthouse. Tatapannya kemudian berhenti di dapur.
“Nala?” panggilnya.
“Di sini,” jawab Nala tanpa menoleh.
Junho segera mendekat wajahnya yang semula tegang perlahan melunak begitu melihat Nala berdiri di dapur. Namun, hanya dalam beberapa detik, tatapannya kembali berubah.
Ia memperhatikan cara Nala berdiri; bahu perempuan itu tampak sedikit kaku. Setiap kali berpindah posisi, gerakannya lebih hati-hati daripada biasanya, seolah tubuhnya masih menuntutnya untuk bergerak perlahan dan hal itu cukup untuk membuat alis Junho langsung terangkat.
“Kamu kenapa?” tanyanya spontan.
“Tidak apa-apa,” jawab Nala cepat, hampir refleks.
Jun-seok yang sejak tadi duduk di meja makan langsung menoleh ke arah ayahnya. Junho baru menyadari keberadaan putranya di sana. Ia menghampiri Jun-seok, lalu membungkuk sedikit dan mengecup puncak kepala anak itu dengan lembut.
“Pagi, adeul,” sapanya.
Jun-seok mengangguk kecil namun, sebelum Junho sempat kembali memperhatikan Nala, anak itu tiba-tiba menunjuk ke arah ibunya.
“Daddy... Mommy jalannya aneh,” ucap nya yang langsung membuat Nala langsung membeku.
Tangannya yang sedang memegang gelas berhenti di tempat, sementara Junho perlahan menoleh kepada Nala. Tatapan mereka bertemu meskipun ada jeda singkat hingga akhirnya sudut bibir Junho mulai terangkat perlahan.
“Iya? Kenapa?” tanyanya, seolah benar-benar ingin tahu, meskipun kilatan geli di matanya membuat Nala langsung tahu bahwa pria itu memahami persis apa yang dimaksud putranya.
“Hanya pegal sedikit,” jawab Nala pelan.
Junho mendekat dan berhenti di sisi Nala lalu kemudian mencondongkan tubuh sedikit, menurunkan suaranya agar hanya terdengar jelas oleh istrinya.
“Sungguh?” tanyanya pelan.
Tatapannya turun sejenak, memperhatikan cara Nala berdiri, lalu kembali menatap wajahnya. Nala hanya melirik sekilas tatapan itu sudah cukup menjadi peringatan : Jangan macam-macam.
Namun, Junho justru semakin sulit menyembunyikan senyumnya.
“Tuh, kan, benar,” sahut Jun-seok polos dari meja makan.
Anak itu kembali menggigit roti yang tadi disiapkan Nala, sama sekali tidak menyadari bahwa kedua orang tuanya baru saja saling bertukar tatapan yang memiliki arti jauh lebih banyak daripada yang mampu ia pahami.
“Itu wajar karena Mommy baru selesai menemani Daddy olahraga,” ucapnya ringan, seolah itu merupakan penjelasan paling masuk akal di dunia.
Nala langsung membeku lantas perlahan menoleh dan menatap tajam Junho, sementara pria itu justru tampak santai. Bahkan, ada sedikit geli di matanya saat melihat reaksi putra mereka yang langsung membulatkan mata.
“Olahraga?” ulang Jun-seok.
Junho mengangguk mantap.
“Iya. Daddy olahraga bersama Mommy,” jawabnya tanpa sedikit pun keraguan. Nala langsung menyenggol lengan Junho pelan namun, pria itu sama sekali tidak bergeming.
“Jam berapa?” tanya Jun-seok serius.
“Jam... malam,” jawab Junho tanpa ragu.
Jawaban itu membuat Jun-seok terdiam dia melirik jam yang tergantung di dinding, kemudian kembali menatap ayahnya dengan ekspresi penuh pertimbangan.
“Malam juga bisa olahraga?” tanyanya.
Junho kembali mengangguk.
“Bisa. Daddy kadang olahraga kalau susah tidur,” jawabnya tenang.
Jun-seok mengangguk pelan, seolah menerima penjelasan tersebut sebagai sebuah fakta penting.
“Oh...” gumamnya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah semakin serius.
“Jadi, semalam Daddy tidak bisa tidur, lalu ajak Mommy olahraga sampai pegal?” Jun-seok mengucapkannya dengan wajah sungguh-sungguh, seolah baru saja berhasil menyimpulkan seluruh materi yang diberikan gurunya setelah melalui proses berpikir yang panjang.
Nala langsung menutup mulutnya wajah nya seketika memanas, berbeda dengan Junho yang justru tidak mampu menahan tawanya.
“That’s right, son. You’re as smart as Daddy. (Tepat sekali, Nak. Kamu memang pintar seperti Daddy.)” ucapnya diiringi tawa puas yang keluar dari bibirnya, membuat Nala langsung melirik tajam.
Wajahnya semakin merah tipis.
“Oppa! Kamu bicara apa, sih?” protes Nala sambil kembali menyenggol lengan Junho.
Junho menoleh kepadanya dengan ekspresi polos yang terlalu dibuat-buat.
“Apa?” tanyanya santai, bahkan disertai senyum kecil yang berhasil membuat Nala gelagapan.
“Kopi... maksudku, susu anakmu,” jawabnya cepat.
Junho tersenyum kecil—bukan senyum nakal seperti yang mungkin Nala khawatirkan, melainkan senyum puas khas seseorang yang tahu dirinya baru saja berhasil lolos dari situasi yang nyaris membuatnya ketahuan.
Jun-seok menerima gelas susunya dari Nala, lalu duduk kembali di kursinya. Ia menyeruput susu itu perlahan namun beberapa detik kemudian, tatapannya kembali beralih kepada ibunya.
“Kalau olahraga, besok Mommy jangan ikut. Soalnya kalau Mommy ikut, jadi capek,” katanya serius.
Nala terdiam sejenak kemudian, tanpa sadar, senyum lembut terbit di wajahnya.
“Iya, sayang,” jawab Nala lembut.
Di sampingnya, Junho meletakkan satu tangannya di sandaran kursi Nala, lalu menundukkan tubuh sedikit. Senyum tipis mulai terlihat di sudut bibirnya.
“Besok Daddy olahraga sendiri. Seok tahu, olahraga sendiri itu tidak enak. Tapi karena Mommy sedang lelah, ya sudah... Besok Daddy olahraga sendiri,” katanya pelan namun cukup untuk didengar Nala, sekaligus cukup untuk membuat perempuan itu ingin menendang kakinya di bawah meja.
Nala melirik Junho dari sudut mata seolah berkata: benar-benar tidak tahu diri. Sementara itu, Jun-seok sama sekali tidak mencurigai apa pun karena baginya, dunia masih sesederhana itu: ayahnya berolahraga, ibunya kelelahan, dan segelas susu hangat adalah solusi untuk hampir semua masalah.
Meja makan dipenuhi aroma sarapan hangat, telur dadar masih mengepulkan uap tipis, roti panggang tersusun rapi di atas piring, sementara semangkuk sup ringan diletakkan di hadapan Jun-seok.
Anak itu makan dengan fokus penuh, sesekali mengayunkan kedua kakinya di bawah kursi tanpa menyadari bahwa dua orang dewasa di hadapannya sedang berusaha keras menjaga wajah tetap tenang.
Nala duduk berhadapan dengan Jun-seok. Ia berusaha mempertahankan postur setenang mungkin, meskipun punggungnya masih terasa kaku. Ia mengambil sendok, kemudian menyesap sup perlahan.
Terlalu perlahan hingga setiap gerakan kecil seolah mengingatkannya kembali pada malam sebelumnya—malam yang bahkan sampai sekarang belum sepenuhnya berhasil ia cerna tanpa merasa wajahnya kembali memanas.
Sementara itu, Junho duduk di sampingnya yang mana terlalu dekat hingga Nala bahkan bisa merasakan kehadiran pria itu tanpa perlu menoleh. Jun-seok mengunyah makanannya beberapa kali, lalu tiba-tiba menghentikan gerakannya.
Matanya beralih kepada Nala.
“Mommy, kok makannya pelan?” tanyanya polos.
“Supnya panas,” jawab Nala cepat.
Junho yang duduk di sampingnya langsung mengangguk setuju.
“Iya. Mommy memang harus hati-hati kalau habis... aktivitas,” katanya santai.
Gerakan tangan Nala yang sedang membawa sendok langsung terhenti di tengah jalan, ia menoleh perlahan kepada Junho dari sudut mata tatapannya tajam. Namun, pria itu tampak begitu polos bahkan terlalu polos seolah tidak baru saja melempar sebuah kalimat yang memiliki arti lain bagi istrinya.
Junho justru menyendok supnya sendiri dengan tenang, wajahnya datar dan sikapnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah.
Jun-seok menoleh kepada ayahnya.
“Aktivitas apa?” tanyanya serius.
Junho terdiam sejenak dia meletakkan sendoknya, lalu memasang ekspresi berpikir seolah pertanyaan putranya membutuhkan pertimbangan yang cukup serius.
“Olahraga,” jawabnya mantap membuat Jun-seok mengernyit.
“Lagi?” tanyanya khawatir.
“Iya. Olahraga kalau kebanyakan memang selalu seperti itu,” jawab Junho sambil mengangguk kecil.
Nala hampir memejamkan mata karena tidak percaya, kaki Nala bergerak ke samping dan menyentuh kaki Junho di bawah meja. Sebuah tendangan kecil, tetapi sarat akan peringatan. Namun, Junho sama sekali tidak bereaksi, pria itu bahkan tetap menyendok supnya dengan tenang. Hanya sudut bibirnya yang sedikit terangkat, seolah tendangan kecil itu justru berhasil menghiburnya.
“Makanya, kalau sudah capek, harus istirahat cukup,” lanjut Junho santai.
Mendengar itu, Jun-seok langsung mengangguk serius wajahnya bahkan terlihat seperti seseorang yang baru saja menerima nasihat penting dari orang dewasa.
“Mommy harus tidur siang,” ucapnya membuat Nala mengangguk cepat tanpa menoleh kepada Junho.
“Iya. Mommy akan tidur siang,” jawabnya segera.
“Sendiri?” tanya Junho sambil menoleh kepadanya.
Nala yang sedang menyesap sup langsung hampir tersedak. Ia menurunkan sendoknya perlahan, lalu melirik pria di sebelahnya dengan tatapan yang seolah berkata bahwa kesabarannya sudah mulai habis.
“Oppa,” desisnya pelan, nyaris tanpa suara.
Junho hanya mengangkat satu alis, memasang wajah pura-pura tidak mengerti.
“Kenapa?” tanyanya polos.
Nala menatapnya beberapa detik, seolah tidak percaya jika Junho setidak malu itu. Namun, sebelum ia sempat membalas, Jun-seok sudah kembali berbicara.
“Daddy juga harus tidur siang kalau olahraga terus,” katanya dengan nada penuh perhatian. “Tidur saja dengan Mommy... tapi...”
Anak itu tiba-tiba berhenti makan, tangannya masih memegang sendok, sementara matanya berpindah dari Nala kepada Junho, lalu kembali lagi kepada ibunya ekspresi wajahnya perlahan berubah sedikit sedih.
“Tapi... Seok hari ini tidak ikut,” lanjut nya membuat Nala yang semula hendak mengambil gelas langsung memperhatikan putranya.
“Karena Seok harus pergi dengan Sian...” lanjut Jun-seok pelan. Ia kemudian menatap kedua orang tuanya secara bergantian. “Kalian tidak apa-apa kalau Seok pergi?”
Pertanyaan sederhana itu membuat wajah Junho seketika melunak. Pria itu meletakkan sendoknya, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap lembut rambut putranya yang masih sedikit berantakan.
“Tentu saja tidak apa-apa,” jawab Junho dengan senyum lembut. “Seok boleh pergi dan bersenang-senang dengan Sian.”
Jun-seok menatap ayahnya beberapa saat, seolah memastikan tidak ada keberatan dalam jawaban tersebut.
“Benar?” tanyanya sembari melirik pada ibunya.
“Benar,” balas Junho tenang, membuat anak itu kembali menoleh kepada Nala. Nala tersenyum kecil dan mengangguk.
“Mommy juga tidak apa-apa... Seok pergi saja tapi tetap hati-hati, ya,” ucapnya membuat wajah Jun-seok akhirnya kembali cerah.
“Iya!” Ia kembali mengambil sendoknya dan melanjutkan makan dengan tenang, sementara itu, Nala mengembuskan napas lega setidaknya satu masalah selesai.
Namun, ketika ia hendak kembali menyantap supnya, sebuah suara rendah terdengar dari samping.
“Berarti siang ini kita benar-benar sendirian,” ucap Junho sembari menoleh kepada Nala.
Seketika itu juga, gerakan Nala terhenti. Tangannya kembali menggenggam sendok sedikit lebih erat. Ia bahkan belum sempat menjawab ketika Jun-seok kembali bersuara.
“Apa Seok tidak jadi pergi saja? Kasihan kalian hanya berdua,” ucapnya lagi sambil menatap kedua orang tuanya bergantian.
Nala langsung menoleh namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, Junho sudah lebih dahulu menjawab.
“Kalau kamu mau pergi... ya, kami tidak masalah. Kalau tidak pun, tidak masalah. Tapi, Seok...” Junho berhenti sejenak, lalu menatap putranya dengan ekspresi serius. “Laki-laki harus berani menyelesaikan apa yang dia mulai. Janji laki-laki adalah harga diri. Jadi, saran Daddy, Seok tetap pergi. Daddy tidak apa-apa kalau harus menemani Mommy tidur.”
Junho mengatakannya dengan begitu tenang, bahkan disertai senyum tipis yang tampak meyakinkan hal itu membuat Nala hanya bisa memijat pelipisnya.
“Tuhan, tolong.”
Kalau bukan karena Jun-seok masih duduk di sana, mungkin sudah sejak tadi ia menyuruh suaminya diam. Sementara itu, Jun-seok justru mengangguk-angguk serius, seolah baru saja menerima nasihat penting mengenai tanggung jawab seorang laki-laki.
Nala menarik napas panjang sebelum akhirnya berdiri sedikit untuk mengambil air minum. Namun, baru saja tubuhnya terangkat dari kursi, ia langsung menyadari kesalahannya gerakannya terlalu lambat dan hati-hati, karena rasa pegal yang masih tersisa membuatnya tanpa sadar menahan napas.
Melihat itu, Junho refleks mengulurkan tangan dan menopang sikunya.
“Pelan-pelan,” katanya lembut, nada suaranya terdengar seperti seorang suami yang benar-benar khawatir.
Nala meliriknya sekilas hingga tatapan mereka bertemu, ada sesuatu dalam sorot mata Junho yang membuat Nala semakin ingin menginjak kakinya. Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun, Jun-seok justru berseru dengan wajah cerah.
“Daddy perhatian sekali!” Tawanya menggema ringan di ruang makan membuat Junho hanya mengangguk tanpa ragu.
“Tentu. Daddy harus jaga Mommy,” balasnya santai.
Nala menatap suaminya dengan tatapan yang seolah berkata: Aku ingin membunuhmu, tetapi ada anak. Namun Junho justru terlihat semakin tenang seolah sama sekali tidak merasa terancam.
Setelah mendapatkan air minumnya, Nala kembali duduk. Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya mencengkeram sendok sedikit lebih kuat, Jun-seok kembali melanjutkan makannya. Namun, rasa penasarannya rupanya belum selesai.
“Daddy...” panggilnya.
“Hm?”
“Kalau olahraga membuat Mommy pegal, kenapa Mommy ikut?” Jun-seok menelan makanannya terlebih dahulu, kemudian menatap ayahnya dengan ekspresi serius.
Junho bersandar santai di kursinya sudut bibirnya kembali terangkat tipis.
“Karena Mommy baik,” jawabnya. “Mommy selalu menemani Daddy karena dia tidak mau Daddy lelah sendirian.”
Nala yang sedang hendak menyendok sup langsung berhenti namun belum sempat bicara Junho kembali melanjutkan dengan nada tenang.
“Padahal Daddy tidak pernah memaksa Mommy...” Ia sengaja berhenti sebentar kemudian, pria itu menoleh kepada Nala dengan senyum kecil yang nyaris tidak terlihat. “Kan, Mommy?”
Nala perlahan mengangkat wajah tatapannya bertemu dengan mata Junho, untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara Junho masih menahan senyum.
Nala tahu persis apa yang sedang dilakukan pria itu dia sedang menikmati setiap detik ketika Nala tidak bisa membalasnya dengan bebas. Akhirnya, Nala menarik napas panjang dan mengangguk kecil.
“Iya,” jawabnya singkat membuat Jun-seok langsung tersenyum puas.
“Nah, berarti Mommy memang baik,” ucapnya bangga.
“Memang,” jawab Junho mantap.
Nala kembali menunduk menatap mangkuk supnya. Dalam hati, ia hanya bisa berkata:
“Aku tidak tahu siapa yang lebih baik—aku yang masih mau meladeni suami seperti ini, atau anakku yang masih percaya penuh pada semua perkataan Daddy-nya.”
Namun, di luar, Nala hanya diam. Ia sudah terlalu lelah menghadapi keisengan suaminya yang tiada habisnya. Sementara itu, Jun-seok justru tersenyum puas, sama sekali tidak menyadari percakapan yang baru saja terjadi di antara kedua orang tuanya.
“Mommy hebat. Kalau besar nanti, Seok ingin jadi seperti Mommy saja. Tidak perlu sekuat Daddy, tetapi selalu sayang kepada semuanya seperti Mommy,” ucapnya lembut membuat Nala tersenyum kecil mendengar ucapan putranya.
Ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya, sederhana tetapi begitu berarti. Ia kemudian kembali melirik Junho. Kali ini, dengan senyum tipis yang jelas-jelas berbahaya namun Junho hanya mengangkat alis, seolah tidak merasa melakukan kesalahan apa pun.
Nala segera mengalihkan pandangannya kepada Jun-seok.
“Seok, cepat habiskan makanannya. Setelah itu, cepat bersiap. Tadi Imo Eunchae bilang akan menjemput sebentar lagi,” kata Nala.
Jun-seok langsung mengangguk.
“Mommy, semalam Harabeoji membelikan Seok robot-robot yang sempat Seok mau, tetapi belum sempat dibeli. Seok mau membawa itu nanti. Seok mau pamerkan kepada Sian. Dia pasti belum punya,” katanya antusias.
Nala mengangguk sambil tersenyum.
“Boleh. Nanti Mommy siapkan,” jawabnya lembut, mendengar itu, Jun-seok langsung berjingkrak kecil di tempat duduknya. Wajahnya seketika dipenuhi kegembiraan.
“Makasih, Mommy. Daddy,” katanya lembut.
Junho mengulurkan tangan dan mengusap rambut putranya dengan penuh kasih.
“Sama-sama, adeul.”
Pagi itu akhirnya berakhir dalam kehangatan sederhana yang hanya dapat mereka rasakan ketika hari libur tiba. Tidak ada jadwal kantor yang harus dikejar, tidak ada rapat yang menunggu, tidak ada kesibukan yang memaksa mereka segera beranjak dari meja makan.
Hanya ada mereka bertiga, sarapan yang perlahan mulai dingin, percakapan kecil, tawa Jun-seok, serta keisengan Junho yang entah sampai kapan akan berhenti.
Sebab, di luar hari-hari seperti ini, waktu hampir tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk sekadar duduk bersama tanpa terburu-buru.
Waktu tidak pernah benar-benar ikut mendukung mereka. Maka, selama kesempatan itu masih ada, mereka menikmatinya sesederhana apa pun bentuknya karena pada akhirnya, kehangatan sebuah keluarga tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar.
Terkadang, ia hanya hadir dari satu meja makan, tiga orang yang saling menyayangi, dan sebuah pagi yang kebetulan memberi mereka sedikit lebih banyak waktu untuk bersama.