NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:684
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Ruang Dansa Kensington

Kebisuan yang mencengkeram ruang dansa keluarga Giorgiana terasa begitu pekat hingga suara detak jarum jam dinding antik di sudut ruangan seolah terdengar berdengung nyaring. Puluhan pasang mata dari kalangan aristokrasi London menatap tertegun ke arah pintu masuk. Bisik-bisik tajam mulai berdesir di antara para tamu—sebagian mengejek keberanian nekat pemuda asal Jawa itu, sebagian lagi menatap penasaran pada drama keluarga yang tersaji di hadapan mereka.

Lord Alistair Giorgiana berdiri dengan dada membusung, wajahnya memerah padam menahan amarah yang hampir meledak. Urat-urat di pelipis pria paruh baya itu menegang hebat. Di sampingnya, Julian Vance—pewaris muda kekayaan multimiliarder yang tadinya berdiri dengan senyuman angkuh—kini menyipitkan mata, menatap Adnan dengan tatapan merendahkan bercampur kebingungan.

"Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehat, anak muda!" suara Alistair bergetar karena murka, menggema di seluruh ruangan luas berpanel mahoni itu. "Berani-beraninya kau datang ke acara resmi keluarga kami dengan pakaian sirkus murahan seperti itu, lalu melemparkan omong kosong di hadapan para tamu terhormatku! Keamanan! Seret dia keluar sekarang juga!"

Dua orang petugas keamanan bertubuh besar dengan setelan hitam langsung maju serempak, mengapit lengan Adnan dengan kasar. Mereka bersiap mendorong tubuh pria itu keluar dari ruangan.

Namun, Adnan sama sekali tidak meronta. Ia tidak menunjukkan secuil pun rasa gentar. Tatapan mata hitam legamnya tetap tenang, lurus menatap mata Lord Alistair dengan wibawa seorang pria yang memegang kendali penuh atas harga dirinya.

"Tidak perlu menyentuh saya," ucap Adnan dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa, membuat kedua petugas keamanan itu tertegun sesaat oleh ketegasan nadanya. Adnan melangkah maju sendiri, merapikan kerah beskap beludru hitamnya, lalu mengarahkan pandangannya menembus kerumunan.

Pandangan itu akhirnya mendarat tepat pada Martha.

Martha berdiri terpaku di anak tangga utama. Gaun hijau zamrud yang dikenakannya mendadak terasa menyesakkan. Air matanya tumpah tanpa bisa dicegah, membasahi pipinya yang pucat. Melihat Adnan berdiri seorang diri di hadapan kemarahan seluruh keluarga besarnya demi dirinya, membuat pertahanan terakhir Martha hancur berkeping-keping.

"Adnan..." bisik Martha lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Sebelum Lady Eleanor sempat berteriak memanggil pelayan untuk mengusir Adnan lebih jauh, Martha mengangkat gaun panjangnya dan berlari menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Suara sepatu hak tingginya berderak keras di lantai marmer, membelah kerumunan tamu undangan yang langsung membuka jalan karena terkejut.

"Martha! Kembali ke sini! Jangan mempermalukan keluarga kita lebih jauh lagi!" bentak Lady Eleanor histeris, wajahnya pucat pasi menatap putrinya yang nekat menerobos situasi tersebut.

Martha tidak memedulikan teriakan ibunya. Ia berlari sampai ke tengah ruang dansa, lalu berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Adnan. Wanita itu mengabaikan tatapan sinis dari puluhan pasang mata di sekelilingnya. Yang ia lihat saat ini hanya sosok pria berbusana adat Jawa yang berdiri tegak bagai karang di tengah badai.

Julian Vance, yang merasa posisinya sebagai tunangan tersaingi dan harga dirinya diinjak-injak di depan umum, melangkah maju dengan angkuh. Ia menatap Adnan dari atas ke bawah sambil tersenyum sinis.

"Dengar, Tuan... siapa pun namamu," ujar Julian dengan nada suara merendahkan khas pemuda elit Inggris. "Kau mungkin mengira ini adalah kisah romantis dalam novel murahan yang biasa ditulis nona muda di hadapanmu ini. Tapi di dunia nyata, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya orang asing tanpa latar belakang, tanpa status, dan tanpa masa depan di sini. Kembalilah ke tempat asalmu sebelum kau diusir dengan cara yang lebih tidak menyenangkan."

Suasana di ruangan itu semakin menegang. Beberapa tamu menahan napas, menunggu bagaimana pemuda Jawa itu akan merespons penghinaan terang-terangan tersebut.

Adnan tidak langsung menjawab. Ia perlahan menolehkan kepalanya, menatap Julian Vance dengan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya—sebuah senyuman penuh ketenangan yang justru membuat Julian merasa kecil di hadapannya.

"Kehormatan dan harga diri seorang pria tidak diukur dari seberapa mahal jas tuksedo yang ia kenakan, Tuan Vance," jawab Adnan dengan bahasa Inggris beraksen formal yang sangat fasih dan menusuk tajam. "Atau dari seberapa besar kekayaan warisan keluarga yang ia banggakan untuk membeli masa depan orang lain. Seorang pria sejati diuji dari keberaniannya berdiri di atas kejujuran, menghormati pilihan wanita yang dicintainya, dan tidak bersembunyi di balik ketiak status sosial keluarganya."

Wajah Julian berubah merah padam mendengar balasan telak itu. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, menahan malu di hadapan para rekan bisnis dan kerabat elitnya. "Kau...!"

Sebelum Julian sempat melayangkan pukulan atau kata-kata balasan yang lebih kasar, Martha melangkah maju, berdiri tepat di samping Adnan. Wanita itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap tajam ke arah ayah, ibu, dan Julian Vance secara bergantian.

"Cukup, Ayah! Cukup, Julian!" suara Martha menggema di seluruh ruang dansa, penuh kemarahan dan ketegasan yang selama ini dipendamnya rapat-rapat. "Kalian tidak punya hak mengatur hidupku! Kalian tidak punya hak menentukan siapa yang pantas kucintai!"

Lord Alistair maju dua langkah, matanya menyalang penuh ancaman dingin. "Martha Giorgiana! Jika kau melangkah pergi bersama pemuda asing ini keluar dari pintu itu malam ini, ingatlah kata-kata ayahmu: kau bukan lagi bagian dari keluarga Giorgiana. Semua fasilitas, hak waris, dan namamu akan dicabut selamanya! Kau akan menjadi orang miskin di jalanan London!"

Ancaman itu sangat telak. Bagi seorang wanita yang lahir dan dibesarkan di istana kemewahan aristokrasi Inggris, kehilangan segalanya berarti melompat ke dalam jurang ketidakpastian yang gelap gulita.

Martha tertegun sejenak. Napasnya memburu. Ia melirik sekilas ke arah Adnan, seolah meminta kepastian di tengah badai pilihan hidup yang paling menentukan tersebut.

Adnan menoleh. Pria itu menatap Martha dengan sorot mata yang penuh kelembutan, tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan. Ia menggenggam jemari Martha yang gemetar, menyalurkan kehangatan dan kekuatan yang luar biasa.

"Aja wedi, Martha," bisik Adnan lembut dalam bahasa Jawa, suaranya hanya bisa didengar oleh wanita di sampingnya. "Aku ing kene." (Jangan takut, Martha. Aku di sini).

Mendengar kalimat itu, keraguan di dada Martha seketika menguap tanpa sisa. Ia menyadari satu kebenaran mutlak: kemewahan, gelar kebangsawanan, dan harta kekayaan orang tuanya tidak pernah bisa membeli ketenangan jiwa yang ia temukan di dalam pelukan pria Jawa ini.

Martha menarik napas dalam-dalam. Ia mendongak menatap ayahnya dengan tatapan lurus, tanpa ada air mata lagi di pelupuk matanya—hanya ada keteguhan hati yang bulat.

"Kalau menjadi bagian dari keluarga Giorgiana berarti harus menjual kebahagiaan dan hidup di bawah kendali kepalsuan kalian..." ucap Martha lantang, suaranya bergetar namun penuh keyakinan, "...maka malam ini, dengan sukarela, aku melepaskan nama itu."

Martha menggenggam tangan Adnan semakin erat.

"Aku memilih jalanku sendiri, Ayah," sambung Martha tegas. "Dan jalanku ada di sampingnya."

Tanpa menunggu balasan kemarahan atau makian lebih lanjut dari orang tuanya, Martha memutar tubuhnya, menggandeng tangan Adnan, dan melangkah bersama menembus kerumunan tamu undangan yang tertegun bisu. Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama ruang dansa, meninggalkan kemewahan istana Kensington di belakang, dan melangkah keluar menyambut malam musim dingin London—menyongsong masa depan baru yang tidak pasti, namun dipenuhi oleh cinta sejati yang membara di antara dua dunia.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!