Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman yang Tak Diketahui
Alya menatap pesan misterius itu berulang kali, jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berdegup kencang. Ia menunjukkan layar ponselnya kepada Raka, yang wajahnya seketika berubah serius membaca kalimat yang penuh ancaman itu.
"Siapa yang kirim ini?" tanya Raka, mengambil ponsel Alya untuk memeriksa nomor pengirimnya.
"Aku nggak tau," jawab Alya, suaranya bergetar. "Nomornya nggak dikenal, nggak ada di kontak aku."
Raka mencoba menghubungi nomor itu, tapi yang terdengar hanya nada sambung yang berakhir dengan pesan bahwa nomor tersebut tidak aktif. "Nomornya udah dimatiin," katanya, menyerahkan kembali ponsel itu ke Alya. "Kemungkinan sengaja pakai nomor sekali pakai biar nggak bisa dilacak."
"Menurut kamu ini dari siapa?" tanya Alya, mencoba menahan kepanikan yang mulai menjalar. "Dimas? Atau mungkin keluarganya, meski gugatan udah dicabut?"
"Bisa jadi," jawab Raka, mengerutkan kening. "Tapi bisa juga orang lain. Kita nggak bisa asal menuduh tanpa bukti."
Malam itu, Alya melaporkan pesan misterius itu ke Pak Bayu, yang menyarankan untuk tetap waspada namun tidak panik berlebihan, mengingat ini bisa saja hanya taktik intimidasi tanpa tindakan lanjutan yang nyata.
"Kita akan pantau situasi ini," kata Pak Bayu melalui telepon. "Tapi untuk sekarang, coba fokus dulu ke pekerjaan Anda. Kalau ada pesan serupa yang masuk lagi, segera laporkan ke saya."
---
Minggu-minggu berikutnya berjalan dengan kewaspadaan ekstra dari Alya, meski tidak ada lagi pesan mencurigakan yang masuk, kekhawatiran itu tetap membayangi setiap harinya. Ia mulai fokus menjalankan tugas barunya sebagai Head of Marketing, mencoba membangun kembali kepercayaan diri yang sempat goyah akibat rentetan masalah yang terjadi belakangan ini.
Raka, di sisi lain, juga mulai beradaptasi dengan posisi barunya sebagai Direktur Marketing, membawa perubahan-perubahan strategis yang membuat divisi mereka semakin solid dan produktif. Hubungan mereka berdua, meski kini setara dalam struktur perusahaan, justru semakin kuat—mereka belajar untuk saling mendukung tanpa mencampuradukkan urusan personal dengan profesionalisme kerja.
Suatu sore, saat Alya sedang menyiapkan presentasi untuk rapat dewan direksi berikutnya, Nadia mendatanginya dengan wajah cemas.
"Alya, aku baru denger sesuatu yang aneh," kata Nadia, duduk di kursi seberang meja Alya. "Katanya ada orang yang nanya-nanya soal kamu ke beberapa karyawan lain, tapi bukan dari divisi HR atau siapa pun yang kita kenal."
Alya mengangkat wajahnya, kekhawatiran lama kembali muncul. "Nanya-nanya soal apa?"
"Soal jadwal kamu, kebiasaan kamu di kantor, bahkan soal hubungan kamu sama Raka," jawab Nadia. "Salah satu temenku di resepsionis bilang, ada pria yang datang minggu lalu, ngaku sebagai wartawan yang lagi riset soal 'kisah sukses di dunia korporat', tapi pertanyaannya kedengaran terlalu personal buat sekadar liputan biasa."
Alya merasakan firasat buruk yang semakin kuat. "Apa dia ninggalin nama atau kartu nama?"
"Kata temenku, dia cuma ngaku namanya 'Bram', tanpa kartu nama atau identitas jelas," jawab Nadia. "Temenku curiga juga sebenarnya, makanya dia cerita ke aku."
---
Alya segera melaporkan informasi ini ke Pak Bayu dan tim keamanan internal perusahaan, yang langsung meningkatkan kewaspadaan dengan memeriksa rekaman CCTV lobi kantor untuk mengidentifikasi pria bernama Bram itu. Hasil pemeriksaan menunjukkan seorang pria berusia sekitar tiga puluhan, mengenakan pakaian kasual, yang tidak terdaftar dalam sistem tamu resmi perusahaan.
"Kita akan tingkatkan keamanan di sekitar area kerja Anda," kata kepala keamanan perusahaan, seorang pria bernama Pak Joko, dalam pertemuan singkat dengan Alya dan Raka. "Untuk sementara, kami sarankan Anda tidak pulang sendirian, dan segera laporkan kalau melihat orang mencurigakan di sekitar Anda."
Raka menggenggam tangan Alya erat sepanjang pertemuan itu, wajahnya penuh kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku akan antar-jemput kamu mulai sekarang," katanya tegas begitu mereka keluar dari ruangan itu. "Sampai situasi ini jelas, aku nggak mau ambil risiko apa pun."
"Aku nggak mau ngerepotin kamu terus," kata Alya, meski dalam hati ia merasa lega dengan tawaran itu.
"Ini bukan ngerepotin," jawab Raka, menatap Alya dengan sungguh-sungguh. "Ini soal keselamatan kamu, Alya. Nggak ada yang lebih penting dari itu buat aku."
---
Beberapa hari kemudian, saat Alya sedang bekerja lembur di kantor bersama timnya untuk menyelesaikan proposal besar, ia menerima telepon dari nomor yang sama seperti pesan misterius sebelumnya. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat telepon itu di hadapan Raka yang segera mendekat, siap mendengarkan.
"Halo?" jawab Alya hati-hati, mengaktifkan pengeras suara agar Raka bisa mendengar juga.
Suara di seberang telepon terdengar terdistorsi, sengaja diubah untuk menyembunyikan identitas aslinya. "Alya Ramadhani. Kamu pasti penasaran siapa aku."
"Siapa kamu, dan apa maumu?" tanya Alya, mencoba menjaga suaranya tetap tegas meski jantungnya berdebar kencang.
"Aku cuma pengingat," jawab suara itu, dingin dan penuh perhitungan. "Bahwa kesuksesan yang kamu banggakan sekarang ini bisa runtuh kapan aja, kalau kamu nggak hati-hati. Kamu pikir masalah sama Dimas udah selesai? Itu baru permulaan dari apa yang bisa terjadi kalau kamu terus melangkah di jalur yang salah."
"Jalur yang salah menurut siapa?" bantah Alya, mencoba tidak menunjukkan ketakutannya. "Kalau ini soal Dimas, dia sendiri yang mengakui kesalahannya. Aku nggak melakukan apa pun yang salah."
Suara di seberang telepon terdiam sejenak, lalu tertawa pelan, tawa yang terdengar mengerikan karena terdistorsi. "Kamu akan segera tau, Alya. Tunggu aja."
Panggilan itu terputus tiba-tiba, meninggalkan Alya dan Raka dalam keheningan yang mencekam, saling bertukar pandang penuh kekhawatiran.
"Kita harus laporin ini ke polisi," kata Raka tegas, mengambil ponsel Alya untuk mendokumentasikan nomor yang baru saja menelepon. "Ini udah bukan sekadar intimidasi biasa, ini ancaman serius."
Alya mengangguk, tangannya masih gemetar memegang gelas air yang tersisa di mejanya. "Raka, aku takut," bisiknya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku nggak tau lagi siapa yang bisa dipercaya, atau apa yang sebenarnya diinginkan orang ini dari aku."
Raka memeluk Alya erat, mencoba menenangkannya meski ia sendiri juga merasakan kekhawatiran yang sama. "Kita akan cari tau siapa di balik ini, Alya. Aku janji, aku nggak akan biarin siapa pun menyakiti kamu."