NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25.Berunding.

Di ruang rias yang hangat dan diterangi cahaya lembut dari lampu minyak yang dipasang berderet di sepanjang dinding, suasana begitu hidup dan penuh kegembiraan. Para penari sibuk menata pakaian, menyisir rambut panjang mereka, dan mengoleskan riasan halus di wajah masing-masing. Di tengah-tengah mereka, Li Hua berdiri sambil membantu mengikatkan pita hiasan pada gaun salah satu gadis, wajahnya tersenyum tenang namun penuh kepuasan.

Belum lama berselang, suara langkah kaki cepat terdengar mendekat, diikuti suara panggilan yang lantang dan penuh semangat.

"Li Hua! Di mana kau, nona Zhang!"

Nyonya Li berlari masuk ke ruangan itu, napasnya sedikit terengah namun wajahnya berseri-seri begitu melihat gadis yang dicarinya berdiri di antara para penari. Ia langsung menghampiri Li Hua, menggenggam kedua tangan gadis itu erat-erat, matanya berbinar tak bisa menyembunyikan kekaguman sekaligus rasa syukur yang mendalam.

Para penari saling bertukar pandang sambil tersenyum melihat pemandangan itu.

"Lihat saja..." bisik salah satu gadis pelan kepada temannya, "Wajah Nyonya Li sejak tadi tidak pernah berhenti tersenyum. Sejak tempat ini penuh sesak, senyum itu tak pernah hilang sedikit pun."

Temannya mengangguk setuju, menatap ke arah mereka berdua. "Siapa yang tidak akan tersenyum? Lihat betapa ramainya pengunjung malam ini. Semua itu berkat Nona Li Hua."

Nyonya Li tidak mendengar bisikan itu, namun senyumnya justru semakin melebar. Ia menepuk punggung tangan Li Hua dengan penuh kasih sayang.

"Kau tidak tahu betapa hebatnya apa yang telah kau lakukan, Li Hua!" ucapnya dengan suara bergetar karena gembira. "Tempat ini sejak sore sudah penuh sesak! Pengunjung datang terus-menerus hingga kursi tambahan pun tidak cukup lagi! Dapur sampai kewalahan menerima pesanan makanan — semua orang memuji masakan kami, mengatakan rasanya lebih nikmat daripada di tempat mana pun di kota ini! Mereka bilang suasana di sini begitu menenangkan, begitu indah, hingga mereka merasa seakan berada di tempat yang berbeda!"

Li Hua tertawa pelan, merapikan kerutan kecil pada lengan gaun gadis di sebelahnya. "Sudah kubilang, Nyonya... tempat ini hanya butuh sentuhan yang tepat. Bukan perubahan besar, melainkan perhatian pada hal-hal kecil yang sering dilupakan orang."

"Tepat sekali! Sentuhan ajaibmu itu!" Nyonya Li menatapnya seakan melihat bidadari yang turun ke bumi. "Kau benar-benar dewi keberuntungan yang dikirimkan kepada kami, Li Hua. Seandainya kau tidak ada di sini, mungkin tempat ini sudah tutup dan kami semua kehilangan mata pencaharian."

"Jangan berlebihan begitu, Nyonya," jawab Li Hua lembut, namun matanya berbinar jenaka. "Ini baru permulaan. Malam ini puncaknya, dan nanti akan semakin baik. Tapi ingat ya... jangan sampai Nyonya Li tidak bisa tidur malam ini karena terlalu sibuk menghitung uang keuntungan yang masuk!"

Nyonya Li tertawa lebar, menepuk pelan lengan Li Hua. "Ah, mungkin benar kau bilang begitu! Malam ini aku mungkin benar-benar tidak akan tidur! Hahaha! Siapa yang bisa tidur melihat rezeki datang begitu derasnya?"

Suasana di ruang rias itu kembali riuh dengan tawa dan percakapan hangat, penuh harapan dan kebahagiaan yang tulus.

Sementara itu, di lorong-lorong yang berderet di sepanjang sayap bangunan, Li Yun berjalan perlahan, matanya menyapu setiap pintu, setiap sudut, setiap wajah yang lewat. Ia berusaha bergerak tenang, tidak menarik perhatian, namun jantungnya berdegup kencang sekali — berharap sekaligus takut jika harapannya ternyata benar.

"Periksa ruangan di sisi timur," bisiknya kepada salah satu prajurit di sampingnya. "Jangan menimbulkan keributan. Cukup perhatikan dan tanya dengan sopan."

"Siap, Pangeran."

Mereka bergerak satu per satu, menyusuri lorong yang berbau harum bunga melati dan kayu cendana. Musik yang indah mengalun lembut dari arah aula utama, namun Li Yun tidak berhenti di sana. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka, dari dalamnya terdengar suara percakapan perempuan yang akrab — terlalu akrab hingga membuat napasnya tertahan.

Suara itu... batinnya bergetar. Tidak mungkin salah dengar.

Ia mendekatkan telinganya sedikit, dan kalimat berikutnya yang terdengar dari dalam membuatnya seakan terpaku di tempat.

"Jika aku bisa menyelamatkan dan mengembalikan kemegahan tempat yang hampir bangkrut ini, maka aku yakin aku bisa membangun sesuatu yang jauh lebih besar lagi di sini..."

Itu suaranya. Tidak ada keraguan sedikit pun. Itu suara Li Hua.

Tanpa berpikir panjang, Li Yun mendorong pintu itu terbuka.

"Li Hua!"

Namun begitu pintu terbuka, pemandangan di dalamnya membuatnya langsung memalingkan wajah seketika. Para gadis penari sedang berganti pakaian, sebagian belum sempat menutup diri sepenuhnya. Teriakan kaget terdengar serentak.

"Maaf! Salah kamar!" seru Li Yun cepat, wajahnya memerah, ia segera membalikkan badan berdiri membelakangi ruangan itu.

Di antara keributan itu, satu suara terdengar jelas, penuh keterkejutan yang tak bisa disembunyikan.

"Li Yun?"

Li Hua berdiri di balik deretan gaun yang digantung, tangannya masih memegang pita hiasan. Ia menatap punggung pria yang berdiri di ambang pintu itu, mengenali postur tubuhnya, cara berdiri yang tegap meski sedikit kaku, dan suara yang baru saja memanggil namanya.

Li Yun ada di sini? pikirnya cemas sekaligus bingung. Tapi bagaimana?bisa dia keluar dan berkeliaran di tempat semacam...

Ia menahan diri untuk tidak melangkah maju.Tidak... jika aku keluar sekarang, tugasku belum selesai.

Suara hati Li hua yang tidak terdengar oleh Li yun, karena Li yun mulai menjauh dari tempat Li hua berada.

Li Yun berdiri sejenak, berusaha menenangkan diri, namun tidak ada suara itu tidak terdengar lagi. Hanya suara gadis-gadis yang berbisik-bisik di belakangnya. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah pergi dari sana, namun tidak pergi menjauh — ia tetap berada di tempat itu, berjalan perlahan menyusuri lorong, matanya tak lelah menyapu setiap wajah yang lewat.

Sesampainya di aula utama, ia berhenti lagi. Di tengah ruangan, para penari mulai tampil — gerakan mereka luwes, indah, musik yang mengiringi mereka berbeda dari yang biasa didengar di kota ini, namun begitu merdu dan menenangkan, menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya. Pengaturan panggung, warna pakaian, harmoni antara gerakan dan nada... semuanya teratur begitu rapi, begitu unik.

Li Yun tersenyum tipis, namun matanya berkaca-kaca. Hanya dia yang bisa menciptakan keindahan seperti ini. Tidak ada orang lain. Dia pasti ada di sini.

Ia menoleh kepada prajurit di sampingnya, suaranya tegas namun rendah.

"Cepat cari pemilik tempat ini. Aku ingin bertemu dengan pemilik tempat ini. Katakan ada urusan penting."

"Baik, Pangeran."

Tak berapa lama kemudian, Nyonya Li berjalan masuk ke ruangan yang tenang itu. Ia menatap sosok bertopeng yang berdiri di dekat jendela, lalu tersenyum ramah meski sedikit waspada.

"Selamat malam, Tuan..." ucapnya sopan. "Ada keperluan apa Tuan mencariku? Apakah ada sesuatu yang kurang memuaskan selama kunjungan Tuan?"

Li Yun berbalik perlahan, menatapnya tajam namun tenang.

"Kembalikan Nona Zhang yang kalian beli kemarin."

Senyum di wajah Nyonya Li seketika lenyap. Ia menegakkan tubuh, berusaha tetap tenang.

"Maaf, Tuan... saya kurang mengerti maksud perkataan Tuan. Nona Zhang siapa?"

"Jangan berpura-pura tidak tahu," jawab Li Yun, suaranya rendah namun memancarkan kekuasaan yang tak terbantahkan. "Kemarin ada gadis yang dibawa ke sini — Li Hua, Nona Kedua Keluarga Zhang. Aku adalah kakaknya. Kembalikan dia kepadaku sekarang juga."

Nyonya Li terdiam, menatapnya ragu. "Kakaknya..."

"Benar. Dan jika kalian tidak mengembalikannya dengan baik, aku akan melaporkan penculikan. Bisnis tempat ini akan terganggu, nama baik kalian akan hancur, dan tidak ada yang bisa melindungi kalian."

Ancaman itu diucapkan dengan tenang, namun Nyonya Li tahu itu bukan sekadar gertakan. Ia terdiam, menunduk sejenak, pikirannya berputar cepat. Di satu sisi, Li Hua adalah penyelamat tempat ini — kehadirannya membawa kebahagiaan, keuntungan, dan harapan bagi semua orang yang bekerja di sini. Jika dikembalikan, apa yang akan terjadi? Apakah kemegahan ini akan sirna secepat datangnya?

Namun di sisi lain, jika menolak, pria di hadapannya ini tampak bukan orang biasa. Kekuasaannya terlihat jelas dari cara bicaranya, dari aura yang menyelimuti dirinya. Jika dibiarkan terus-menerus, bisa-bisa malapetaka yang jauh lebih besar menimpa tempat ini.

Li Hua sendiri... apakah dia benar-benar ingin kembali? Atau dia merasa lebih tenang di sini, jauh dari keluarganya yang tidak menyayanginya?

Nyonya Li mengangkat wajahnya perlahan, menatap Li Yun dengan pandangan yang bercampur kecemasan dan permohonan.

"Tuan... izinkan saya bertanya satu hal saja..." ucapnya pelan. "Apakah Nona Li Hua sendiri ingin kembali?"

Li Yun terdiam sejenak, lalu menjawab tegas, "Dia harus kembali. Keluarganya mencarinya."

"Tapi apakah keluarganya menyayanginya?" potong Nyonya Li lembut namun tegas. "Atau hanya menganggapnya sebagai barang yang bisa diambil kapan saja? Di sini, Li Hua dihormati, dihargai, dan dibutuhkan. Di sini dia bahagia. Jika dikembalikan, apakah dia akan tetap bahagia?"

Pertanyaan itu membungkam Li Yun. Ia terdiam, tak bisa langsung menjawab.

"Kamu tahu dia adalah putri perdana menteri dan dia adalah pengantin politik, jika dia tidak kembali secara baik-baik. Apa kamu mau menanggung hukuman jauh lebih besar dari Kaisar. " ucap Li yun tegas.

Seketika itu juga keringat dingin membasahi dahi nyonya Li, dia mulai ketakutan.

"Baik, akan aku kembalikan saudaramu tapi kembalikan uang yang aku keluarkan untuk membelinya. "

Li yun memberikan isyarat pada prajuritnya, agar memberikan sekantong emas batangan pada nyonya Li.

Wajahnya tersenyum bahagia, karena uang yang dia dapat lebih banyak dari yang dirinya keluarkan untuk Li hua.

 ​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!