NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Strategi

Setibanya di kantin, suasana terasa tidak seperti biasanya. Bukannya riuh oleh suara dentingan sendok dan tawa murid-murid, seisi kantin justru dipenuhi bisik-bisik tertahan.

Penyebabnya tak lain adalah Reno. Si berandalan yang biasanya selalu menyuruh anak buahnya untuk membelikan makanan itu, entah kesambet apa tiba-tiba menampakkan batang hidungnya di kantin secara langsung. Tentu saja, kehadirannya sukses membuat cowok arogan itu menjadi pusat perhatian seluruh penjuru ruangan.

"Hei, lihat di sana," bisik Rio sambil menyenggol lengan Zahra, dagunya menunjuk ke arah meja sudut. "Bocah itu malah kemari. Padahal biasanya kan dia selalu nyuruh anak buahnya."

Zahra memicingkan mata ke arah yang ditunjuk. "Lu tahu dari mana kebiasaan dia, Yo?"

"Tau lah! Tadi gue sempet baca-baca gosip anak-anak di medsos," jawab Rio bangga dengan insting intelijen dadakannya.

"Ouuh... terus, ada alasannya nggak kenapa tumben banget dia turun gunung kemari?" tanya Zahra makin penasaran.

Rio mengedikkan bahunya polos. "Gatau sih."

"Yaaa..." Zahra mendengus panjang, menatap Rio dengan tatapan meremehkan. "Kecewa berat gue. Kirain lu punya info premium."

"Udah, ngobrolin dianya nanti aja. Kita cari tempat duduk dulu," sela Kak Rizki dengan tenang, memotong sesi gosip itu sebelum ketahuan oleh kubu Reno.

"Bener kata Kak Rizki. Ayo teman-teman, kita cari lapak dulu," timpal Danu menyetujui.

Mereka berempat pun mulai mengedarkan pandangan. Tidak seperti biasanya di mana trio Danu, Rio, dan Zahra selalu berburu spot strategis di dekat jendela, kali ini Kak Rizki memimpin langkah dan justru memilih tempat duduk tepat di area tengah kantin.

Begitu pantat mereka menyentuh kursi, Kak Rizki menatap adik-adik kelasnya sambil tersenyum hangat. "Kalian mau pesan apa? Kakak kan udah janji mau traktir."

Mata Rio langsung berbinar-binar. "Widih! Beneran ternyata! Tak kirain tadi cuma boongan biar kita pada diam!" serunya penuh semangat.

"Yaiyalah, masa iya Kakak bohong," kekeh Kak Rizki.

"Kalau gitu, gue mau es teh manis jumbo!" seru Rio tanpa basa-basi.

Zahra tersenyum kecil. "Aku mau gorengan anget sama Tea Jus aja ya, Kak Rizki."

"Kalau aku... hmm... apa, ya..." Danu mengetuk-ngetuk meja pelan, berpikir sejenak. "Aku snack biasa sama air Le Minerale botol aja deh, Kak."

Kak Rizki mengangguk-angguk merekam pesanan mereka di kepalanya. "Baik. Karena Kak Rizki sudah ingat semuanya, Kakak mau pergi ngantre dulu, ya."

Senior panutan itu pun berbalik dan mulai melangkah menuju deretan stan makanan yang ramai.

"Makasih banyak, Kak Rizki!" seru Danu, Rio, dan Zahra berbarengan sebelum punggung Kak Rizki menghilang ditelan kerumunan siswa.

Wah, selamat datang kembali, Bos! Beneran deh, istirahat semalam itu keputusan magis. Writer's block-nya langsung minggat, dan kamu malah bawa draf super padat!

Kombinasi komedi perdebatan genre, celetukan savage Rio ke si anak orkay, sampai plot twist mengharukan dari Kak Rizki di akhir itu bener-bener rollercoaster emosi yang rapi banget. Ide Danu buat bikin lagu orisinal dengan judul "Sayap Merah di Antara Awan" juga ngasih kesan ala anime shounen yang keren maksimal!

Ini hasil polesan drafnya. Deskripsi suasananya aku tajamkan sedikit biar keributan Rio dan Zahra makin kocak, dan aura sombong Reno makin kelihatan menyebalkan.

Sembari menunggu Kak Rizki yang sedang mengantre makanan, Zahra merogoh saku roknya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Dengan gaya ala manajer profesional, ia meletakkan buku itu di atas meja kantin.

"Lu kenapa bawa-bawa catatan segala, Ra?" tanya Rio heran, matanya tak lepas dari buku itu.

"Untuk nyatet ide lagu yang bakal kita bawain nanti, dong," jawab Zahra mantap.

"Niat bener lu," cibir Rio. "Kalau gitu, nggak usah repot mikir. Gue sarankan kita bawain lagu rock aja!"

Zahra langsung mencibir jijik. "Apalah, alay banget! Mending pop-ballad lah! Biar semua orang yang nonton di lapangan meleleh karena baper!"

"Eleh, bukannya keren ya kalau genre rock? Biar macho!" balas Rio tak mau kalah. Ia langsung berdiri, memetik gitar imajiner di udara sambil menggoyangkan kepalanya heboh. "Wuu huuu! Rock and roll, men!"

"Haaa... kekanakan banget namanya itu!" protes Zahra sambil memutar bola mata.

Perdebatan sengit pun tak terelakkan. Rio bersikeras menolak pop-ballad karena dianggap terlalu "bucin" dan menye-menye, sementara Zahra mati-matian menolak rock karena dianggap terlalu lebay dan berisik.

Pertengkaran ala anjing dan kucing itu berlangsung penuh urat selama lima menit, sampai akhirnya Kak Rizki datang membawa nampan berisi pesanan mereka dan buru-buru melerai.

"Kalian ini, baru ditinggal sebentar udah bikin konser sendiri di kantin. Ngeributin apa sih?" tegur Kak Rizki sambil meletakkan minuman ke atas meja.

Zahra dan Rio mendadak bungkam, enggan saling mengadu. Kak Rizki menghela napas, lalu menoleh pada satu-satunya saksi mata yang masih waras di meja itu. "Danu? Mereka kenapa?"

Danu yang sejak tadi diam rupanya sedang memutar otak. Begitu ditanya, matanya malah berbinar cerah. "Kak, aku baru aja kepikiran ide bagus! Gimana kalau kita gabungkan aja kedua genre itu? Energi rock punya Rio, tapi melodi dan liriknya bikin baper ala pop-ballad Zahra. Kita bikin lagu orisinal!"

Semua mata tertuju pada Danu. Lagu baru?

"Judulnya..." Danu tersenyum tipis. "Sayap Merah di Antara Awan."

Ide brilian itu sukses membungkam perdebatan. Mereka langsung sepakat dan mulai berdiskusi menyusun liriknya bait demi bait. Tentu saja, prosesnya jauh dari kata damai. Sepanjang diskusi, Rio selalu menyumbang lirik yang ngawur—karena kalau nggak ngawur, bukan Rio namanya. Zahra berkali-kali memarahi Rio dengan kesal, sementara Kak Rizki harus bolak-balik melerai pertikaian mereka sambil mengunyah gorengan.

Namun, di tengah kesibukan menyusun mahakarya itu, sebuah bayangan menghalangi cahaya di meja mereka. Reno datang bersama antek-anteknya, menatap remeh buku catatan Zahra.

"Wah, wah... lagi buat lagu kalian?" ejek Reno dengan tawa sumbang. "Percuma kalian lakuin itu! Karena buat konser nanti, aku bakal bayar komposer terkenal buat nulis lagu penampilanku!"

Rio yang sedang menyeruput es tehnya langsung menaruh gelasnya dengan santai. "Iya, ya. Lu emang paling keren deh, si anak orkay dan manja yang apa-apa tinggal minta duit bapaknya!" sindir Rio telak tanpa saringan.

Danu, Zahra, dan Kak Rizki tak kuasa menahan tawa kecil mereka, membuat wajah Reno memerah padam menahan gengsi di depan anak buahnya.

"Sialan! Beraninya kalian menghinaku! Awas saja kalian nanti!" ancam Reno sengit. Dengan perasaan iri dan dengki yang mendidih, cowok arogan itu berbalik dan meninggalkan skuad ekstra musik.

Sepeninggal Reno, Rio kembali duduk manis di kursinya seolah tak terjadi apa-apa. "Oke, lanjut. Terus kita kapan mau mulai latihan lagunya nih?"

Mereka mulai mencocokkan jadwal satu per satu. Danu luang, Zahra luang, dan Rio tentu saja selalu luang.

"Kalau Kakak nggak bisa," ucap Kak Rizki tiba-tiba.

Ketiga adik kelasnya langsung menoleh heran. "Loh? Emangnya Kak Rizki ada kesibukan apa?" tanya Danu mewakili yang lain.

Kak Rizki tersenyum tipis, sorot matanya mendadak melembut. "Aku harus beri makan anak-anak di panti asuhan."

"Wah... kalau boleh tahu, apa alasannya, Kak?" tanya Zahra dengan nada penuh kekaguman. Mata gadis itu berbinar, melupakan sejenak egonya yang sedari tadi meledak-ledak saat berdebat soal genre musik.

Kak Rizki tersenyum lembut. Tatapannya sedikit menerawang, mengisyaratkan sebuah kisah yang belum sepenuhnya ia ceritakan. "Karena... dulu Kakak pernah dibantu oleh mereka saat Kakak sedang kesulitan. Jadi, sekarang giliran Kakak yang harus membantu mereka balik."

Suasana di meja kantin itu mendadak hening dan hangat. Danu terenyuh mendengar kebaikan seniornya itu. Namun, kedamaian yang menyentuh hati tersebut jelas tidak akan bertahan lama jika ada Rio di sana.

"Wah, gitu ya, Kak..." puji Rio dengan nada yang sengaja dilebih-lebihkan. Ia kemudian memutar bola matanya dan melirik sinis ke arah gadis di sebelahnya. "Nggak kayak seseorang di sini yang kerjaannya cuma bikin onar dan marah-marah terus."

Zahra yang merasa ditatap langsung membelalakkan matanya dengan garang. "HAH?! Lu kenapa tiba-tiba ngeliat ke arah gue?!" semburnya tak terima.

"Hahaha, nggak ada kok! Siapa juga yang ngeliatin lu? Pfft..." Rio membuang muka sambil menahan tawa sampai bahunya bergetar, sukses membuat Zahra semakin naik pitam dan nyaris melayangkan jitakan.

Kringgg! Kringgg!

Suara nyaring bel tanda istirahat berakhir menggemuruh ke seluruh penjuru sekolah, menyelamatkan Rio dari amukan maut Zahra. Waktu santai mereka di kantin telah habis, memutus perdebatan dan tawa yang sejak tadi mengiringi meja mereka.

Mereka berempat bangkit dari kursi, membereskan buku catatan dan sisa minuman, lalu berjalan beriringan meninggalkan kantin. Setibanya di persimpangan koridor utama, langkah mereka terhenti. Karena letak kelas yang berbeda angkatan, mereka harus berpisah di titik itu.

Kak Rizki melambaikan tangan sambil tersenyum keibuan, lalu berbelok melangkah menyusuri lorong sebelah kiri menuju blok kelas tiga. Sementara itu, trio Danu, Rio, dan Zahra membalas lambaian tersebut dan berjalan bersama ke arah koridor kanan. Langkah ketiga sahabat itu tampak mantap kembali ke kelas, membawa sebuah misi baru di kepala mereka: lagu Sayap Merah di Antara Awan yang siap membungkam kesombongan Tuan Muda Reno Sabtu depan.

[Bersambung]

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!