NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 TEKAD SANG BULAN UNTUK MENERBITKAN KEMBALI SANG MATAHARI

Sisa hari di bulan itu berlalu layaknya lembaran kalender yang ditiup angin kemarau—kering, monoton, dan meninggalkan jejak debu yang menyesakkan dada.

Bagi Asmara Putri, sejak penolakan halus nan kaku Wira terhadap kue klepon pemberiannya di sore yang kelabu itu, waktu seolah kehilangan ritmenya.

Ruang Budaya dan Perpustakaan Lama yang biasanya menjadi tempat perlindungannya dari hiruk-pikuk dunia luar, kini terasa seperti sebuah monumen raksasa yang menyimpan memori tentang sebuah kesalahan fatal.

Hukuman sosial Wira selama satu bulan penuh akhirnya resmi berakhir.

Tidak ada lagi keharusan bagi pemuda itu untuk tinggal di sekolah dari jam tiga sampai jam lima sore.

Tidak ada lagi suara gesekan sapu ijuk di lantai kayu jati.

Tidak ada lagi aroma pel keringat yang bercampur dengan wangi kapur barus.

Dan yang paling menyiksa bagi Asmara: tidak ada lagi Wira di sana.

Setiap kali bel tanda pulang sekolah berbunyi, Wira akan mengemasi tasnya dengan gerakan teratur, memasukkan buku-bukunya tanpa suara bising, lalu berdiri.

Pemuda itu akan menoleh sekilas ke arah Asmara, memberikan sebuah anggukan kepala yang sangat kaku, mengucapkan, "Saya duluan, Asmara," dengan nada yang tak memiliki ruh, lalu berjalan keluar kelas tanpa menoleh lagi.

Kepergian Wira setiap sore itu meninggalkan lubang kehampaan yang menganga lebar di dalam rutinitas Asmara.

Sang putri abdi dalem yang selalu mengagungkan ketenangan dan kesunyian, kini mendapati dirinya membenci keheningan itu sendiri.

Ia merindukan suara berat Wira yang dulu selalu berusaha memprovokasinya. Ia merindukan langkah kaki Wira yang diseret kasar. Ia merindukan deham frustrasi pemuda itu saat harus mengelap debu berulang kali.

Kini, semua kebisingan yang menandakan bahwa Wira masih hidup dan bernapas itu telah raib.

Wira telah sepenuhnya mengadopsi bahasa yang dulu Asmara gunakan untuk melawannya.

Bahasa kedinginan.

Bahasa jarak.

Bahasa profesionalisme yang mematikan segala bentuk interaksi emosional.

Dan rasanya...

Sungguh...

Seperti ditampar berulang kali menggunakan tangan tak kasat mata.

.....

.....

Pagi itu, udara di dalam kelas XI IPS 2 terasa sedikit lebih tegang dari biasanya.

Masa Ujian Tengah Semester (UTS) sudah di depan mata.

Guru-guru mulai membagikan kisi-kisi soal, dan murid-murid mulai disibukkan dengan tumpukan catatan yang harus dihafalkan.

Namun, ketegangan akademis itu sempat terhenti sejenak ketika Pak Anton, sang guru Bimbingan Konseling (BK) yang bertubuh besar dan berkumis tebal itu, melangkah masuk ke dalam kelas pada jam perwalian.

Suasana kelas yang tadinya berdengung oleh diskusi kelompok seketika hening. Pak Anton berdiri di depan kelas, wajahnya yang biasanya garang kini justru memancarkan raut kepuasan yang luar biasa.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Anton, suaranya menggema memantul di dinding kelas.

"Selamat pagi, Pak," jawab seisi kelas dengan rapi.

Pak Anton mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, sebelum akhirnya matanya tertuju pada satu sosok yang duduk di barisan ketiga, tepat di sebelah Asmara. Sosok yang kini duduk dengan postur tegak, tangan terlipat rapi di atas meja, dan tatapan mata yang fokus ke depan.

"Bapak datang ke sini pagi ini bukan untuk memberikan surat peringatan, melainkan untuk memberikan sebuah apresiasi," ucap Pak Anton, nada suaranya mengayun bangga. Beliau lalu menunjuk ke arah Wira. "Wira Aji Pratama. Silakan berdiri sebentar."

Asmara menahan napasnya.

Di sebelahnya, Wira bangkit berdiri tanpa ragu.

Gerakannya terukur, tidak tergesa-gesa, dan tidak ada lagi kesan malas-malasan yang dulu selalu menjadi ciri khasnya saat dipanggil oleh guru.

"Anak-anak," lanjut Pak Anton, suaranya kini terdengar sedikit emosional.

"Bulan lalu, teman baru kalian ini melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal. Sebuah pelanggaran yang nyaris membuatnya dikeluarkan dari SMA Budi Bangsa. Namun, sekolah memutuskan untuk memberinya kesempatan kedua melalui hukuman sosial edukatif. Dan Bapak berdiri di sini untuk menyatakan bahwa Bapak sangat, sangat bangga melihat hasil dari hukuman tersebut."

Seisi kelas menatap Wira dengan pandangan takjub. Danang, sang ketua kelas yang duduk di bangku depan, bahkan sudah tersenyum lebar.

"Wira telah menyelesaikan masa hukumannya di Ruang Budaya tanpa membolos satu hari pun," Pak Anton menjabarkan dengan suara lantang, memastikan seluruh murid mendengarnya.

"Laporannya sempurna. Tapi bukan hanya itu. Bapak melihat sendiri bagaimana perubahan sikap Wira di lingkungan sekolah selama dua minggu terakhir. Wira berubah menjadi siswa yang disiplin, mematuhi seluruh tata tertib, dan tidak pernah lagi terlibat dalam konflik sekecil apa pun. Wira adalah contoh nyata bahwa kedisiplinan Jogja bisa meruwat dan memperbaiki karakter yang keras. Mari kita berikan tepuk tangan untuk Wira!"

Tepuk tangan riuh seketika pecah di dalam kelas XI IPS 2.

Murid-murid bersorak pelan, memberikan penghormatan kepada sang mantan begajulan yang kini telah "bertobat". Danang mengacungkan dua jempolnya tinggi-tinggi. Nisa dan Dinda yang duduk di barisan lain ikut bertepuk tangan dengan wajah sumringah, sesekali melirik ke arah Asmara dengan pandangan seolah berkata, 'Lihat, kamu berhasil merubahnya, Ra!'.

Namun, pujian yang mengalir deras bagaikan air bah itu sama sekali tidak mendinginkan hati Asmara.

Alih-alih merasa bangga sebagai sang pengawas hukuman, dada Asmara justru terasa semakin sesak. Seperti ada batu besar yang menimpa paru-parunya.

Ia memalingkan wajahnya sedikit, menatap Wira dari samping.

Pemuda itu menerima tepuk tangan dan pujian itu tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.

Mata elang yang dulu selalu memancarkan kilat kebanggaan dan jiwa pemberontak yang menyala-nyala itu kini terlihat begitu buram, mati, dan kosong. Wira menundukkan kepalanya sedikit ke arah Pak Anton—sebuah gestur hormat yang sangat mekanis.

"Terima kasih, Pak Anton," ucap Wira. Suaranya tidak bergetar. Tidak ada kebanggaan. Tidak ada rasa haru. "Saya hanya menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban saya."

"Bagus sekali, Wira. Silakan duduk kembali, dan pertahankan sikap baikmu ini," balas Pak Anton sambil tersenyum puas, sebelum akhirnya berpamitan keluar kelas.

Tepuk tangan perlahan mereda. Wira kembali duduk di kursinya.

Pemuda itu langsung menarik buku paket Sosiologi di hadapannya, membuka halaman yang ditandai, dan mulai membaca seolah tidak ada hal luar biasa yang baru saja terjadi. Ia mengabaikan tatapan kagum teman-temannya.

Dan yang paling menyakitkan, ia mengabaikan keberadaan Asmara di sebelahnya.

Asmara menggigit bibir bawahnya, menahan rasa panas yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Telinganya berdenging.

Pujian dari Pak Anton tadi terasa seperti sebuah pidato pemakaman bagi Asmara. Pemakaman untuk jiwa seorang pemuda bebas yang telah dibunuh perlahan-lahan oleh sistem, oleh kedisiplinan, dan... oleh diri Asmara sendiri.

Kenyataan bahwa Wira merespons semua pujian itu dengan kekosongan adalah bukti paling nyata bahwa sang matahari telah mati.

.....

.....

Saat jam istirahat tiba, Wira adalah orang pertama yang berdiri dari kursinya. Ia membereskan alat tulisnya, lalu melangkah menuju pintu.

"Mas Wira," panggil Asmara tiba-tiba, suaranya meluncur sebelum otaknya sempat mengerem.

Ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan. Ia hanya tidak ingin membiarkan Wira pergi dengan tembok es yang terus menebal di antara mereka.

Langkah Wira terhenti. Pemuda itu memutar tubuhnya setengah. Jarak mereka hanya beberapa langkah, namun rasanya seperti dipisahkan oleh sebuah lautan yang tak bertepi.

"Ada yang bisa saya bantu, Asmara? Kamu butuh bantuan untuk mengangkat buku catatan ke ruang guru?" tanya Wira. Lagi-lagi, kalimatnya diutarakan dengan bahasa Indonesia yang sangat baku, kaku, dan penuh dengan jarak formalitas yang membuat hati Asmara teriris.

"Tidak, bukan itu," jawab Asmara, suaranya sedikit bergetar. Ia berdiri dari kursinya, mendekat satu langkah.

"Saya... saya cuma mau mengucapkan selamat. Atas... atas selesainya masa hukuman Mas. Dan atas pujian dari Pak Anton tadi."

Mata Wira menatap lurus ke wajah Asmara.

Namun tatapan itu tidak menembus, melainkan memantul kembali, layaknya melihat bayangan di atas kaca yang tebal.

"Terima kasih. Tapi seperti yang sudah saya katakan kepada Pak Anton tadi, dan seperti yang pernah saya katakan kepada kamu tempo hari... tidak ada yang perlu diapresiasi dari seseorang yang hanya menuruti aturan," balas Wira datar.

"Aturan dibuat untuk dipatuhi. Dan saya sekarang mematuhinya. Bukankah ini hasil yang kamu dan sekolah inginkan sejak awal saya datang ke mari?"

Skakmat!!!

Pertanyaan retoris itu meluncur tanpa nada sinis, namun memiliki daya hancur yang luar biasa.

Asmara terdiam membeku.

Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun argumen logis yang bisa ia keluarkan untuk membantah pernyataan Wira.

Benar, bukan?

Inilah yang ia inginkan.

Ia ingin Wira tunduk pada aturan.

Ia ingin Wira memahami unggah-ungguh.

Ia ingin Wira berhenti menjadi preman.

Lalu mengapa sekarang, ketika semua keinginannya itu terwujud dengan sempurna, Asmara merasa seperti orang yang paling kalah di seluruh dunia ini?

Melihat Asmara kehabisan kata-kata, Wira menundukkan kepalanya sekilas. "Kalau tidak ada hal lain lagi yang penting, saya permisi ke kantin dulu, Asmara. Saya harus mengantre."

Pemuda itu memutar tubuhnya dan berlalu pergi, meninggalkan Asmara yang berdiri mematung di tengah kelas yang mulai kosong.

Angin dari kipas angin di langit-langit mengibarkan anak rambut Asmara, namun tak mampu mengusir hawa dingin yang kini bersarang permanen di dalam dadanya.

Siksaan batin Asmara tidak berhenti di dalam ruang kelas. Menjelang masa UTS ini, jam pelajaran sering kali dipotong untuk kegiatan kerja bakti ringan dan penataan ruang ujian.

.....

.....

Siang harinya, di area kantin sekolah yang ramai, Asmara yang sedang bertugas mendata inventaris mading sekolah untuk keperluan OSIS, tak sengaja menyaksikan pemandangan yang kembali menohok nuraninya.

Wira sedang berdiri di depan kedai nasi rames milik Bu Tejo. Penampilannya sangat rapi. Ia sedang menata beberapa botol kecap dan sambal di atas meja kedai yang berantakan bekas anak-anak kelas dua belas makan. Tanpa diminta, Wira membantu ibu kantin itu merapikan meja.

"Ya Allah, Mas Wira ini sekarang kok ya sregep men to," puji Bu Tejo dengan logat Jawanya yang kental, wajah keriputnya memancarkan senyum keibuan. Tangannya sibuk membungkus nasi rames pesanan Wira.

"Sopan, anteng, gelem rewang-rewang. Beda banget lho sama pas awal-awal masuk dulu yang suka gebrak-gebrak meja soto Pak Min. Sekarang malah jadi murid kesayangan guru-guru." tambah Bu Tejo.

Wira menerima bungkusan nasi itu, menyerahkan selembar uang pas, lalu sedikit membungkuk. "Mboten napa-napa, Bu. Cuma merapikan botol saja. Uangnya pas ya, Bu. Saya permisi dulu," jawab Wira dengan bahasa campuran yang cukup sopan, meski logat Sundanya masih tersisa samar.

"Nggih, Mas. Sing pinter ya belajarnya buat UTS besok," sahut Bu Tejo.

Asmara, yang berdiri beberapa meter dari sana, menyaksikan interaksi itu dengan pandangan nanar.

Di mata Bu Tejo, Wira adalah anak yang baik.

Di mata Pak Anton, Wira adalah keberhasilan sistem disiplin sekolah.

Di mata teman-teman sekelas, Wira yang sekarang adalah teman yang kalem dan asyik.

Semua orang menyukai versi baru dari Wira Aji Pratama ini.

Semuanya memuji ketiadaan emosinya, menganggap kepatuhannya sebagai sebuah tanda kedewasaan.

Hanya Asmara...

Hanya sang putri abdi dalem ini sajalah yang tahu rahasia kelam di balik perubahan itu.

Hanya Asmara yang tahu bahwa kesopanan Wira adalah sebuah sangkar besi.

Bahwa di balik anggukan kaku dan kepatuhan absolut itu, ada jiwa seorang pemuda yang sedang menjerit kesepian dan perlahan-lahan mati karena tak bisa menemukan ruang untuk bernapas.

Asmara melangkah mendekati area kedai nasi rames, berniat membeli sebotol air mineral untuk melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering kerontang.

Wira yang baru saja berbalik dari kedai Bu Tejo, berpapasan tepat di depan Asmara.

Jalur di antara meja-meja kantin itu cukup sempit.

Satu bulan yang lalu, jika mereka berpapasan dalam jarak sedekat ini, Wira mungkin akan sengaja tidak mau menyingkir, membusungkan dada untuk menggoda Asmara, atau melontarkan kalimat jail untuk melihat gadis itu salah tingkah.

Namun hari ini, refleks Wira bekerja layaknya sebuah robot yang diprogram untuk menghindari kontak sekecil apa pun.

Begitu melihat Asmara, Wira langsung menghentikan langkahnya.

Pemuda itu mundur satu langkah dengan gerakan yang sangat teratur, lalu menggeser tubuhnya menyamping, merapat ke arah meja kosong di sebelahnya, memberikan ruang yang sangat luas agar Asmara bisa lewat tanpa mereka harus bersentuhan sedikit pun.

"Silakan duluan, Asmara," ucap Wira.

Matanya menatap ke bawah, ke arah lantai kantin, sama sekali menolak untuk mempertemukan pandangannya dengan mata gadis itu. Nadanya sedingin ubin yang ia pijak.

Perlakuan itu, penghormatan yang berlebihan dan jarak yang sengaja diciptakan itu, kembali menorehkan luka yang tak berdarah di hati Asmara.

Asmara berdiri di sana selama lima detik, menatap profil Wira yang menunduk, mengharapkan setidaknya pemuda itu mau mendongak dan menatapnya. Mengharapkan kilat mata yang dulu pernah menantangnya di Alun-alun Utara. Mengharapkan suara berisik dari sapu yang sengaja dibanting di Ruang Budaya.

Namun Wira tetap membatu. Diam. Menjaga jarak profesionalnya.

"Terima kasih... Mas," bisik Asmara dengan suara parau.

Gadis itu mempercepat langkahnya melewati Wira, tak sanggup lagi berlama-lama di sana sebelum air matanya benar-benar jatuh dan meruntuhkan wibawanya di depan umum.

.....

.....

Saat Asmara kembali ke kelas, udara kebekuan dan kehampaan itu semakin mengimpitnya.

Meja-meja di kelas XI IPS 2 sedang ditata ulang oleh teman-temannya untuk persiapan UTS yang akan dimulai dua hari lagi. Meja yang tadinya berpasangan, kini harus dipisahkan satu-satu dengan jarak yang cukup renggang.

Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Asmara dan Wira akan duduk bersebelahan.

Mulai besok, dan selama dua minggu ke depan masa ujian, mereka tidak akan lagi berbagi meja yang sama. Jarak fisik di antara mereka akan semakin jauh, mempertegas jarak emosional yang sudah lebih dulu terbentang.

Wira sedang memindahkan mejanya ke arah belakang kelas, mengangkatnya dengan mudah menggunakan tenaga otot lengannya.

Pemuda itu melakukannya dalam diam, menempatkan kursinya, merapikan letaknya agar presisi dengan meja yang lain.

Tidak ada protes.

Tidak ada keluhan betapa menyebalkannya memindahkan barang.

Asmara memandangi mejanya sendiri yang kini terasa sangat luas dan... sangat sepi.

Bekas goresan kecil di sudut meja yang dulu pernah dibuat Wira saat iseng menekan-nekan pulpen mekaniknya, kini terlihat seperti sebuah relik sejarah dari masa lalu yang tak akan pernah kembali.

Danang, yang baru saja selesai mengangkat meja guru, berjalan menghampiri Asmara. "Ra, kelas kita udah beres nih posisinya. Kamu udah selesai rekap absen ujian?"

"Sudah, Nang. Nanti saya serahkan ke ruang TU," jawab Asmara, berusaha mempertahankan senyum profesionalnya sebagai pengurus OSIS.

"Mantap. Eh, si Wira bener-bener membantu banget ya hari ini. Dia yang ngangkat meja-meja berat di barisan belakang sendirian tanpa disuruh. Gila, tenaganya kuat bener tapi orangnya kalem. Asli, dia aset berharga kelas kita sekarang," puji Danang sambil menepuk-nepuk tangannya yang berdebu.

Pujian itu lagi-lagi terdengar. Danang memuji kekuatan Wira, tanpa tahu bahwa tenaga yang digunakan Wira untuk mengangkat meja itu adalah sisa-sisa energi dari seorang pemuda yang sedang mati rasa.

Asmara menatap Danang, lalu pandangannya beralih ke arah barisan belakang, tepat di mana Wira sedang duduk sendirian di meja barunya. Pemuda itu sedang menatap keluar jendela kelas.

Matanya menerawang jauh, melampaui tembok sekolah, melampaui atap-atap rumah warga Jogja, entah mencari apa di hamparan langit biru yang cerah itu.

Wajahnya begitu datar, begitu tenang, hingga menyerupai patung lilin yang kehilangan nyawanya.

Pada detik itulah, di tengah kesibukan persiapan UTS kelas XI IPS 2, sebuah kesadaran paling brutal menghantam batin Asmara Putri dengan kekuatan penuh.

Sang Matahari dari Bogor itu tidak sedang bersembunyi.

Ia tidak sedang menggunakan topeng.

Ia benar-benar telah padam.

Perlakuan Asmara selama ini—kedinginannya, kedisiplinannya, ketegasannya—telah menjadi awan mendung yang sangat tebal, yang berhasil menelan seluruh cahaya dan panas dari pemuda itu.

Dan ketika Asmara akhirnya menyadari bahwa ia merindukan kehangatan dari sinar matahari tersebut, semuanya seperti sudah terlambat.

Asmara meremas ujung rok seragamnya.

Pertahanan batinnya yang selama ini selalu tenang dan rasional, kini hancur berkeping-keping.

Pujian dari guru, sanjungan dari teman, senyum keibuan dari pedagang kantin—semua itu terasa seperti racun yang menyodorkan fakta bahwa dunia lebih menyukai Wira yang palsu daripada Wira yang sebenarnya.

Dan Asmara, gadis yang selalu membanggakan unggah-ungguh dan filosofi air, menyadari bahwa ialah yang telah menenggelamkan Wira ke dasar telaga yang gelap itu.

"Aku harus membawanya kembali," batin Asmara, sebuah tekad yang lahir dari rasa sakit dan kehilangan yang teramat dalam.

"Aku tidak peduli seberapa bising, seberapa liar, atau seberapa panas dia nanti. Aku tidak bisa membiarkan Sang Matahari mati di kotaku."

Ujian Tengah Semester mungkin akan menguji kemampuan akademis murid-murid SMA Budi Bangsa.

Namun bagi Asmara, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Ia harus menemukan cara untuk menghidupkan kembali pemuda itu, menembus dinding profesional kaku yang kini dipasang Wira untuk melindunginya.

Sebelum...

Sang Matahari benar-benar pergi...

dan tak pernah terbit lagi di hidupnya.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!