Leonel Stevano_ CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat.
Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah merasa tertarik dengan lawan jenis. Tentu saja dia bukan Homo! tolong di garis bawahi. Karena menurutnya, wanita itu ribet! Segala apa yang Mereka lakukan nampak membingungkan. Itu sebabnya ia tidak begitu tertarik menjalin hubungan serius dengan perempuan. Leon tidak suka hal yang berbau ribet dan merepotkan.
Di dunia ini. Hanya ada satu orang yang mampu membuat nya mau di repotkan. Karna baginya justru itu adalah suatu kebahagiaan nya, membuatnya merasa Menjadi bagian penting dalam kehidupan wanita itu.
Shevana maurer_ Gadis biasa yang hidup seorang diri. Gadis manis yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya. Ceroboh, keras kepala dan terkenal dengan sifat bodo amatan nya.
Bekerja menjadi salah satu pegawai di Perusahaan ternama. Selama hidup.. Dia belum benar-benar tahu apa yang menjadi tujuanya.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan lelaki dingin yang arogan dalam suatu insiden karena kecerobohan nya. Bahkan tidak berhenti sampai di situ, karena faktanya pria itu terus saja mengusik hidup tenang Shevana.
He is the Devil Teaser!
Tetapi siapa sangka, kemunculan pria itu di hidupnya justru membuat dia sedikit demi sedikit mengerti tujuan hidup nya. Kehidupan nya yang biasa saja berubah menjadi penuh kejutan. Karena di balik sifat dinginya, pria itu begitu senantiasa menjaga dan melindunginya.
Bagai duri bagi yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_Quella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Sembilan belas Negosiasi
STEVANO INTERNASIONAL | AT 08:11 AM
Limousin yang Leon tumpangi berhenti di depan gedung pencakar langit dengan name tag Stevano international di atas gedung berwarna abu dengan kilatan emas di garis pembatas membuat cahaya matahari semakin memantul membuat gedung itu terlihat silau.
Shevana mengalihkan pandangan ketika menyadari tepat di depan lobby terdapat banyak wartawan dan awak media berdiri berdesakan membuat Shevana menoleh kearah Leon dengan kernyitan di dahi.
"Untuk apa para media berada di sana?"
Leon mengendik—terlihat santai.
Oh, Ayolah.. Shevana butuh jawaban. Apalagi ketika para wartawan itu menyadari mobil mereka berhenti lalu dengan cepat mengerubungi mobil yang membawa mereka dan mengetuknya — memaksa untuk mereka menurunkan kaca.
Shevana berkedip beberapa kali. "Kau masih tidak tahu apa yang mereka cari, Stevano?!" Shevana mengeram sembari menatap tajam Leon yang hanya tergelak santai.
"Mencari jawaban. Mungkin.." Leon menjawab acuh tak peduli dan mulai mengandeng Shevana ketika para pengawal membentangkan tangan memberi jalan untuk mereka memasuki gedung Stevano.
Tepat setelah mereka menginjakkan kaki keluar mobil kilatan blitz lalu menyerang mereka bertubi di barengi dengan beberapa pertanyaan yang tumpang tindih. Shevana tidak memedulikannya dan hanya berjalan sambil menunduk. Dalam hati Shevana tidak berhenti mendumel dan menyalahkan Leon. Kejadian hari ini pasti mengenai pria itu dan nahasnya Shevana datang bersamaan dengan pria itu yang langsung mendapat perhatian awak media.
Sungguh.. Shevana membenci situasi semacam ini. Dia benci menjadi pusat perhatian.
Sampai di pintu lobby Leon berhenti kemudian membalikkan tubuh, masih dengan sebelah tangan yang setia merengkuh pinggang ramping Shevana posesif. Shevana mendelik namun hanya Leon tanggapi dengan senyum hangatnya. Jordan terlihat memberi instruksi untuk tetap tertib sementara dari para reporter mulai melontarkan pertanyaan; mulai sejak kapan Leon mengenal gadis di sebelahnya, sejak kapan mereka berhubungan hingga apa rencana Leon setelah acara liburan minggu lalu. Pertanyaan itu tumpang tindih.
Well, bukan perkara sulit untuk mengetahui masalah ini, sudah pasti hubungan asmara seorang pewaris Stevano internasional telah tercium media dan sudah menjadi simpang siur di dunia entertainment.
Leonel Stevano memang bukan seorang bintang papan atas, namun kesan sebagai billionaire muda sekaligus pewaris tunggal Stevano internasional membuat namanya melambung dan dikenal masyarakat. Sejumlah majalah ternamapun sering menampilkan sosok Leonel Stevano mengenai sepak terjangnya di dunia bisnis sekaligus banyaknya prestasi yang sudah pria itu capai membuatnya menjadi salah satu kandidat pria muda yang di gandrungi para wanita.
Leon memberi kecupan singkat di pelipis Shevana hingga menimbulkan kericuhan. Shevana sendiri sudah ingin sekali menendang Leon ke Antarktika jika saja tidak ada media diantara mereka.
Ya, Tuhan.. Shevana yakin hidupnya akan jauh dari kata tenang setelah ini.
"Namanya Shevana Maurer. Calon istriku." ucapan Leon sontak membuat Shevana ingin mencakar pria gila di sampingnya.
"Leon.." desis Shevana dibalas kerlingan mata pria itu kemudian kembali mengabaikan tatapan protes yang Shevana tunjukkan.
"Mengenai peresmian hubungan kami, saya akan segera memberi kabar bahagia kepada kalian semua dalam waktu dekat." Tegas dan tanpa keraguan. setelah mengatakan hal itu Leon masuk kedalama kantor.
Gila! Shevana masih terpaku dengan apa yang dia dengar. Jika dulu pria gila itu mengatakannya di depan Crystal, Shevana masih bisa memaklumi. Tetapi ini.. Shit! Leon mengatakan pada awak media jika dirinya adalah calon istri si arogan ini! Perlu digaris bawah. Di depan awak media!
Hell.. Shevana yakin pria di sampingnya ini sudah tidak waras. Setelah mengklaim Shevana sesuka hati dan dengan tidak tahu malunya mendeklarasikan dirinya sebagai calon istri pria gila itu turut menegaskan kabar baik versinya? memberi kabar bahagia mengenai peresmian hubungan mereka? Astaga! Shevana tidak percaya ini. Bolehkah ia mengumpat sekarang?!
Shevana semakin mengeram ketika menyadari para keryawan mencuri pandang ke arah mereka dengan beragam tatapan yang pasti Shevana tidak menyukainya. Setelah masuk dalam lift khusus Shevana menghentakkan tangan Leon kasar.
"********! Brengsek! Cabul! Gila!"
Shevana terengah setelah memukul Leon dengan tanpa aba-aba. Manik hijaunya berkilat marah—tentu saja.. Siapa yang tidak akan marah ketika dirinya di deklarasikan sebagai calon istri sedangkan hubungan mereka bahkan tidak bisa di katakan sebagai teman ataupun musuh.
Cukup satu kata untuknya. Gila.
Leon kembali meraih pinggang Shevana, memeluknya posesif. "Simpan tenagamu, Ana. Kau bahkan belum sarapan." ucapnya memberi kecupan ringan di puncak kepala Shevana.
Shevana merapatkan bibir, "Bisa kau jelaskan apa maksudnya semua ini, Leon?!" desisnya marah.
Leon mengendik tidak peduli. "Hanya memberi tahu mereka hal baik. Memang apa yang salah?"
Pria ini..
"Kenapa kau selalu bertindak sesuka hati, Leon! Tidak bisakah membicarakan Ini denganku terlebih dahulu? demi Tuhan.. Disini aku yang menjadi pemerannya!" Shevana terengah. Dia tidak habis pikir dengan semua tindakan Leon.
Leon membuang napas kemudian mengukung Shevana di lift —mempertipis jarak mereka. Tatapan mereka bertemu.
"Sudah ku katakan kau hanya milikku, Ana. Dengan begitu, acara peresmian hubungan kita aku rasa memang sudah seharusnya." suara rendah itu melembut berbarengan tatapan matanya yang menatap Shevana dalam dan.. Hangat.
Shevana merasakannya—tentu saja. Shevana masih wanita normal yang akan tetap tersipu jika di tatap sedalam itu dan juga.. Ah sudahlah, cukup. Shevana memilih memejam kan mata guna menutupi kegugupannya. Ketika Pintu lift berdenting Shevana dengan kesal menepis lengan Leon kemudian berjalan keluar meninggalkan Leon dibelakang.
Shevana duduk di sofa panjang dengan kedua tangan bersedekap. Ketika Leon hendak menghampirinya Shevana memberi instruksi untuk tidak mendekat. Alhasil Leon mengambil duduk di kursi kebesarannya sembari menatap Shevana yang enggan menatap ke arahnya.
Bunyi ketukan membuat mereka mengalihkan atensi ketika Jordan muncul dari balik pintu sambil membawa nampan berisikan makanan dan meletakkan di atas meja tepat di depan Shevana. Yeah .. Shevana sudah menduganya. Apalagi setelah itu Leon kembali mendekatinya.
"Makanlah. Aku tahu kau lapar."
Shevana memalingkan wajah. "Tidak." tegasnya.
"Ayolah, kau tahu aku tidak akan pergi sebelum kau makan." rayu Leon membuat Shevana mengerucutkan bibir.
"Sudah ku katakan aku tidak lapar—"
Leon terkekeh pelan ketika suara perut Shevana memotong ucapannya sendiri. Leon menepuk puncak kepala Shevana dua kali, "Perutmu tidak bisa berbohong, Ana. Makanlah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku."
Shevana menahan tangan Leon ketika pria itu hendak berdiri, "Kau juga makanlah sesuatu. Aku tahu kau belum sarapan." Shevana yakin wajahnya sudah pasti memerah. Entah mengapa melihat Leon yang memang peduli padanya membuatnya tidak bisa berlama-lama mendiamkan pria gila itu.
"As you wish, Honey."
Leon menurut dan kembali duduk sembari memerhatikan Shevana yang sudah meraih salmon wrap miliknya. Leon kemudian mengambil roti panggang dan segelas kopi. Mereka makan dalam diam.
Sebenarnya Shevana masih kesal. Dia tidak suka di paksa dan merasa tidak pantas mendapat perlakuan hangat Leon ini. Menurut Shevana pria itu hanya terobsesi dengannya dan bukan mencintainya apalagi berpikir untuk menikah. Yang benar saja!
Ugh.. memikirkan kemungkinan itu membuat Shevana sakit kepala.
Leon menyesap kopinya nikmat sembari menatap Shevana lekat. "Kau marah?"
Apa dia bodoh? pertanyaan apa ini! Pekik Shevana dalam hati.
Shevana mengabaikan Leon tanpa sedikit pun meliriknya. Hening. Leon menghela napas. Kali ini ia meraih wajah Shevana lalu membingkainya dengan kedua tangan. Shevana tidak bisa menggelak. "Tatap aku.." perintah Leon yang tentu saja Shevana menolaknya, terbukti ia memilih membuang arah pandangan nya.
Geram. Leon memanggut bibir Shevana pelan, bergerak lembut —tanpa gairah, hanya emosi yang meluap-luap. Leon menyalurkan kekesalannya. Shevana memejam kan mata. Kali ini dia tidak menolak. Dia juga butuh pelampiasan atas kekesalan yang Leon perbuat. Dengan ragu-ragu Shevana menggerakkan bibirnya mengikuti permainan Leon. Leon tersenyum dalam ciuman mereka. Lidah mereka saling menaut dan entah mengapa mereka merasa memang membutuhkan ini.
Leon melepaskan pagutan mereka dengan napas terengah. Shevana dapat dengan jelas melihat binar mata Leon memancarkan ketegasan, "Sudah ku katakan kau hanya milikku, Ana. Your eyes, your nose, your lips and everything in you is mine." Leon kembali mencium Shevana, hanya kecupan ringan "Sekarang atau nanti, cepat atau lambat.. Semua akan jelas. Jangan meragukanku." Leon membelai bibir bawah Shevana yang sedikit membengkak akibat ulahnya.
Shevana menunduk. Arogan dan menyebalkan. Entah Shevana harus merasa senang atau sedih mendengar pengakuan Leon. Tetapi Shevana seorang wanita dan jika boleh jujur, benak Shevana mengangkat mendengar itu.
"Aku mengizinkanmu untuk terharu. Menangislah jika ingin, tapi ingat hanya dua tetes, tidak lebih. Setelah itu cium aku."
Shevana melotot.
Terharu katanya?
"Dasar bodoh! Cabul! Menyebalkan!" rutuk Shevana menyerang Leon buas. Alih-alih menahan Shevana, Leon malah membiarkan wanita bar-bar itu mengamuk untuk menyalurkan kegelisahannya. Ia meledakkan tawa ketika Shevana tidak henti memberinya kalimat mutiara yang malah terlihat lucu di mata Leon.
Suara ketukan membuat Shevana langsung diam. Pintu terbuka saat Leon mempersilakan masuk masih dengan kekehan yang terdengar menggelikan. Jordan menunduk hormat dan memberi instruksi pada Leon menggunakan isyarat mata.
Leon berdehem lalu menoleh kearah Shevana, "Aku ada urusan. Tunggu disini dan jangan kemana-mana."
Shevana mencebik kesal. "Pergilah yang lama. Jika perlu tidak usah kembali. Syuh.." usir Shevana dengan mengibaskan sebelah tangan. Leon meraih tangan Shevana lalu menciumnya lembut. Sebelum bangkit ia mengedipkan sebelah matanya menggoda saat Shevana menatapnya tajam.
Shevana memalingkan muka. Wajahnya memerah melihat itu. Well, mengapa pria gila itu suka sekali bertindak berlebihan?
Apa dia sengaja ingin mempermalukanku, ya?
Derap langkahnya terhenti saat sampai di tempat yang mereka yakini Shevana tidak akan mendengar. Jordan menyerahkan sebuah dokumen yang langsung Leon baca. Kernyitan di keningnya semakin terlihat setiap membaca halaman demi halaman yang tertera di dalam dokumen itu.
"Kau tahu apa salahmu?"
Jordan mengangguk dengan menunduk. "Kelengkapan data masih belum akurat." jawab Jordan lugas.
Leon menatapnya datar. "Tidak lengkap lebih tepatnya. Jadi, dengan alasan apa beraninya menyerahkan sesuatu yang masih abu-abu untukku?" ucap Leon rendah. Mata elangnya menatap Jordan penuh arti.
Jordan mengangkat wajah, "Nona Maurer bukan dari kalangan orang biasa, Tuan. Ada kemungkinan data-data yang anda minta sepertinya di bekukan."
Leon mengangkat satu alis, "Bagaimana bisa? Bukankah dia hidup seorang diri?"
"Benar jika dilihat dari data yang Nona Maurer gunakan selama ini. Sepertinya anda belum membacanya sampai tuntas, Tuan." Jordan memberi intruksi agar Leon melanjutkan bacaanya.
Leon kembali membuka lembaran demi lembaran. Membacanya dan menelitinya lebih dalam. "Misha Parker?" Leon semakin mengernyit melihat di akhir halaman terdapat data statistik yang mencurigakan.
Jelas saja. Data itu hanya memperlihatkan selama kurang lebih lima tahun belakangan ini dan ya, sertifikat baru. Terlihat sekali identitasnya di palsukan. Dan oh, apa ini..
Jordan menghembuskan napas. "Seperti yang anda baca, Tuan. Misha Parker adalah nama asli nona Maurer." Jordan berdehem, "Mohon maaf, saya harus mengatakan ini. Nona Maurer merupakan anak haram dari keluarga Parker. Pasangan—"
Leon memberi intruksi untuk Jordan berhenti. Ia melihat Shevana dari kaca penghubung. Leon tidak mengira wanitanya yang bar-bar ternyata memiliki masa lalu yang cukup rumit. Leon memerhatikan expresi Shevana.. Sesekali ia tersenyum dan tiba-tiba cemberut hanya karena sibuk dengan ponselnya.
Bukankah sekilas Shevana hanya terlihat seperti wanita biasa? Marah dan tersenyum sewajarnya?
Leon megepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Aku tidak mau tahu dengan apa kau bisa mendapatkan informasi yang di bekukan. Yang pasti segeralah mencari cara dan berikan padaku." ucap Leon rendah.
"Baik, Tuan. Saya permisi. " Jordan menunduk hormat kemudian berlalu pergi meninggalkan Leon yang masih terpaku ditempatnya.
Anak haram keluarga Parker?
Keturunan si pengusaha minyak itu?
Leon terkekeh bodoh. Sudah sejauh ini dan Leon baru mengetahui fakta itu? Benar-benar bodoh!
Leon beralih menuju balkon diruangannya—merogoh rokok di saku jasnya lalu membakarnya. Kepulan asap beracun itu keluar dari celah bibir sexy Leon kemudian menguap dan hilang terbawa angin. Leon bukanlah perokok aktif, hanya saja sesekali ia menikmati nikotin beracun itu untuk melampiaskan emosinya.
Seiringnya Kepulan asap itu keluar dari celah bibirnya, helaan nafas pun terdengar.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Setelah menghabiskan tiga batang rokok, akhirnya Leon kembali menuju Shevana yang sudah tertidur dengan posisi tengkurap dengan ponsel yang mash setia berada di tangannya. Leon menekuk sebelah kakinya menyamakan tingginya dengan posisi wajah Shevana. Ia masih diam dengan memperhatikan nya dalam diam.
Leon menghela napas lalu bergerak menganggkat Shevana menuju kamar pribadinya. Merasa teranggkat Shevana mengerjapkan mata. Sayup-sayup dia dapat melihat wajah Leon dari bawah. Rahang kokoh dan wangi maskulin yang bercampur dengan asap rokok.
Tunggu..
"Sejak kapan kau merokok, Leon?" kali ini Shevana benar-benar membuka matanya—menatap Leon tajam.
"Berpura-pura, heh?" kekeh Leon menyeringai.
Shevana berdecih, "Jangan mengalihkan pembicaraan, Mr. Stevano."
Leon menurunkan Shevana tanpa melepaskan tatapan mereka. "Hanya saat penat. Selebihnya tidak pernah." jawab Leon jujur. Saat Leon hendak meraih jemari tangannya, Shevana mengelak.
"Jangan dekat denganku. Menjauhlah!" ucap Shevana memundurkan langkah.
"Hey!"
"Aku tidak suka bau rokok. Jadi, jangan pernah mendekatiku di saat dirimu bau rokok. Benar-benar memuakkan!" jawab Shevana cepat dengan berjalan menuju pintu hendak keluar. Leon menahannya.
"Kenapa harus berlebihan seperti ini?" Leon bertanya tidak mengerti.
Shevana itu moodyan. Mudah marah dan mudah pula membaik. Sungguh merepotkan.
Shevana berbalik dan balas menatap Leon bengis. "Berlebihan, katamu? Listen.. Ini bukan tentang melepaskan penat, tapi apa yang menjadi pelampiasanmu itu dapat membunuhmu perlahan. Tidakkah kau tahu jika itu berbahaya, Leonel Stevano?!" pekik Shevana marah. Leon terdiam. Ini kali pertama Shevana menyebutkan nama lengkapnya. Namun bukan itu yang menjadi masalahnya.
Pertanyaannya.. Mengapa Shevana harus semarah ini mengetahui jika dirinya menggunakan barang beracun itu?
Shevana hendak meraih handle pintu namun lagi-lagi Leon menahannya lalu meraih tubuh Shevana dan mendekapnya erat. Seolah takut kehilangan. Shevana memberontak. Namun dengan erat Leon menahannya. Shevana tetap berontak tidak peduli—seolah murka.
"Jangan seperti ini.." bisik Leon pelan.
Shevana memejam kan mata. Ia sendiri tidak tahu mengapa bisa semurka ini saat tahu jika Leon menggunakan barang beracun itu. Shevana hanya khawatir.. Tapi mengapa ia juga tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri?
"Jangan menggunakan barang itu lagi." pinta Shevana pelan. Ia menoleh—melihat ke arah Leon yang menenggelamkan wajah di ceruk lehernya.
Leon mendonggak. "Aku tidak berjanji." gumamnya.
Shevana mendengkus, "Jika begitu lepaskan aku. Menjauh sejauh-jauhnya dariku. Enyah sana!" kesal Shevana.
Diam-diam Leon mengulas senyum kecil. Mengecup sekilas pundak Shevana lalu berkata, "Aku akan berhenti. Tapi.. "
Shevana membelalak saat dengan tiba-tiba Leon memanggut bibirnya. Kakinya lemas. Shevana mengalungkan tangannya pada leher Leon. Ciuman Pelan dan lembut seolah menyalurkan segala perasaan gelisahnya. Ini yang Leon butuhkan. Jika Shevana menyuruhnya untuk berhenti. Maka ia akan berhenti. Bukan tanpa alasan. Leon hanya merasa akan hancur jika Shevana meninggalkannya. Pergi jauh dari jangkauan matanya.
Tidak. Leon tidak akan membiarkannya.
"Sebagai gantinya aku mau ini setiap aku membutuhkan nya.. Bagaimana?" tanya Leon saat ciuman mereka terlepas.
Shevana mendonggak. Iris mata mereka saling menumbuk. Ia mendengkus. "Tidak mau." ucapnya menolak.
Leon mengendik. "Tidak masalah. Setelah ini jangan pernah memprotes ku lagi jika lain kali kau menemukanku menghirup asap beracun itu." balas Leon santai.
Shevana mendelik kesal. "Tidak boleh!" tegas Shevana menatap Leon tajam.
Leon terkekeh. "Singkatnya kau mau menggantikan pelampiasanku atau tidak? Aku hitung sampai tiga."
"Satu.."
Shevana masih diam.
"Dua.."
Shevana gelagapan.
"Ti—"
"Baiklah.."
"Apa?"
"Aku setuju. Puas kau?!"
Leon tersenyum puas. Ia berhasil mendapat bonus dari negosiasi mereka.
"Tapi hanya saat kau sedang penat. Tidak dengan yang lainnya." ucap Shevana menatapnya tajam.
Leon tersenyum miring, "Aku tidak berjanji.."
Shevana yang kesal langsung menendang tulang kering Leon —membuat sang empunya terpekik dengan mengelusi kakinya lalu kemudian terbahak.
Shevana menatapnya jengkel. "Dasar gila!"
"Because you, My dear."
***
Ps ; jangan lupa Vote, coment and share ya! Jangan pelit, buat autornya moodnya bagus jadi bisa cepet Update 😋😋
More info; IG @r_quella99
semoga segerah menikha 😃💪
semangat nulis terus ya thor!!!