Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Bertahan Hidup
Suri menatap malas pada Nandikara yang saat ini sedang berbaring santai di tempat tidur miliknya.
"Kenapa kau sering datang ke kamarku, Kara?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku harus sering mengunjungi kakakku tersayang," jawab Nandikara asal. Matanya tak lepas dari buku yang sedang ia baca.
Elisa cukup terkejut. Ternyata di zaman itu sudah ada buku yang mirip novel, meski pilihan genrenya masih sangat terbatas. Namun, baginya itu sudah lebih dari cukup untuk mengusir kebosanan. Selama beberapa hari terakhir, ia menghabiskan hampir seluruh waktunya membaca buku-buku yang dia dapatkan dari Cani, ketika dia mengatakan ingin membaca sebuah cerita, pelayan setianya itu langsung membawa banyak novel. Ceritanya memang sederhana dan mudah ditebak, tetapi tetap jauh lebih menarik dibanding harus menghadiri pesta teh para Lady yang dipenuhi senyum palsu.
Suri berdecak sebal."Ibumu terus saja mengoceh padaku. Dia mengatakan, apa yang telah kau lakukan pada putriku sehingga dia jadi penghuni kamar sepanjang hari, tidak lagi keluar untuk bertemu dengan teman-teman sosialitanya. Dia bilang aku memberikan pengaruh buruk padamu."
Elisa menutup bukunya perlahan. Sebelah tangannya menyelipkan penanda halaman sebelum akhirnya ia menatap Suri yang duduk di sofa dekat jendela.
"Aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan para Lady itu, Suri. Mereka bermuka dua."
Suri mendengus pelan."Apa bedanya denganmu? Kalian kan sama saja."
Elisa terkekeh pelan, mendengar ucapan sarkas dari Suri.
Tawa kecil itu membuat Suri mengernyit."Apa yang lucu?"
"Suri, aku kan sudah minta maaf. Apa kau masih dendam padaku?"
"Aku tidak akan pernah melupakan perbuatanmu yang seperti nenek sihir, Kara. Tidak akan pernah."
Elisa mengembuskan napas panjang, lalu memeluk bantal di sampingnya."Dasar pendendam."
"Kau baru sadar?"
"Kalau tujuanmu untuk mengusirku, itu tidak akan berhasil. Aku sudah memutuskan untuk bertahan di kamarmu ini sampai aku bosan."
"Kau yakin akan bosan? Bukankah setiap hari kau hanya membaca buku, makan, lalu tidur siang?"
"Itu namanya menikmati hidup."
"Itu namanya menjadi pemalas."
"Bedalah Suri."
"Tidak ada."
Elisa kembali tertawa. Anehnya, mengobrol seperti ini terasa menyenangkan. Suri memang tajam mulutnya, tetapi ia tidak pernah menusuk dari belakang. Berbeda dengan para Lady bangsawan yang selalu tersenyum manis di depan, lalu bergosip begitu seseorang membalikkan badan.
Sementara Suri... jika ingin menghina, ia akan melakukannya tepat di depan wajah orang itu. Entah mengapa Elisa justru lebih menyukai tipe orang seperti itu.
Suri menghela napas panjang. Bukan berarti ia tidak suka pada kehadiran Nandikara. Hanya saja, setiap kali gadis itu menghabiskan waktu di kamarnya, ibunya pasti datang mengomel panjang lebar.
"Suri, apa yang kau lakukan pada adikmu?"
"Suri, kenapa Kara berubah?"
"Suri, jangan ajari Kara hal-hal aneh."
Seolah semua perubahan Nandikara adalah ulahnya. Padahal ia sendiri sama sekali tidak mengerti mengapa gadis yang dulu begitu menyebalkan itu tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang meski tetap cerewet, setidaknya jauh lebih manusiawi.
"Nona Kara." Suara lembut Cani memecah keheningan. Sejak tadi pelayan itu berdiri beberapa langkah dari pintu sambil memperhatikan pertengkaran kecil kedua majikannya dengan senyum tipis.
"Bagaimana kalau Anda pergi ke carnaval untuk menghilangkan rasa bosan? Malam ini di alun-alun kota sedang ada carnaval yang digelar."
Kedua pasang mata langsung beralih kepadanya."Carnaval?" ulang Elisa, matanya langsung berbinar.
Selama tinggal di tubuh Nandikara, ia hampir tidak pernah keluar. Mendengar kata carnaval saja sudah membuat rasa penasarannya muncul."Ada apa saja di sana, Cani?"
Cani mengangguk sopan."Selain pertunjukan teater, ada pemain musik jalanan, permainan ketangkasan, juga banyak pedagang makanan ringan. Akhir-akhir ini nona juga suka sekali mencoba makanan baru, jadi saya pikir nona akan menyukainya."
Wajah Elisa langsung berubah cerah."Benarkah?"
"Iya, Nona."
"Kalau begitu kita harus pergi!"
Semangatnya begitu menggebu hingga ia langsung menutup buku dan duduk tegak di atas ranjang."Kau memang yang terbaik, Cani."
Pelayan itu hanya tersenyum kecil sambil menundukkan kepala.
"Ayo kita pergi ke sana."
Belum sempat Cani menjawab, suara Suri terdengar datar dari belakang.
"Kau lupa sesuatu."
Elisa menoleh."Apa?"
"Kau baru saja bilang akan bertahan di kamarku sampai bosan."
Elisa berkedip beberapa kali, lalu tersenyum tanpa rasa bersalah."Aku sudah bosan."
"Cih" Meski bibirnya terus mengomel, sudut bibir Suri nyaris terangkat membentuk senyum tipis yang bahkan tidak ia sadari.
***
"Nona, pakaian ini terlalu lusuh untukmu, sungguh tidak pantas."
Cani sudah mengomel sejak mereka keluar dari kediaman Winter. Pandangannya berkali-kali menyapu gaun sederhana yang dikenakan Nandikara. Gaun itu dibuat dari kain polos berwarna krem, tanpa renda, tanpa bordir, bahkan tanpa satu pun perhiasan yang biasanya selalu menghiasi tubuh putri keluarga bangsawan.
Rambut hitam panjang Elisa pun hanya disanggul sederhana menggunakan pita kain. Tidak ada jepit berlian, tidak ada hiasan mutiara. Siapa pun yang melihat mereka sekarang pasti mengira mereka hanyalah dua pelayan yang sedang mendapat hari libur.
"Justru dengan dandanan begini aku jadi lebih bebas, Cani." Elisa merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum puas."Tidak ada yang mengenaliku. Bukankah ini jauh lebih nyaman?"
"Tapi, Nona..."
"Coba lihat." Elisa menunjuk keramaian di depan mereka."Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang membungkuk memberi hormat, tidak ada yang memanggilku Lady Nandikara. Rasanya sungguh menyenangkan."
Cani mengembuskan napas panjang. Nonanya memang berubah. Dulu Lady Nandikara bahkan tidak mau mengenakan gaun yang harganya di bawah puluhan keping emas. Sekarang justru memilih pakaian paling sederhana. Benar-benar sulit dipahami.
"Kalau sampai Tuan Winter tahu..."
"Beliau tidak akan tahu."
"Tapi kalau..."
Bruk!
"Ah!"
Karena terlalu fokus memperhatikan Elisa, Cani tidak sadar seseorang berjalan dari arah berlawanan. Tubuhnya menghantam dada pria bertubuh besar itu. Gelas berisi jus stroberi yang sedari tadi dibawanya pun terlepas dari tangan.
Byur!
Cairan merah segar langsung membasahi bagian depan pakaian pria tersebut. Beberapa orang di sekitar refleks menoleh.
Cani membelalak panik. Wajahnya langsung memucat.
"Ma-maafkan saya, Tuan!" katanya terburu-buru sambil membungkuk berkali-kali."Saya benar-benar tidak sengaja."
Pria yang bajunya terkena jus itu hanya diam. Namun orang yang berdiri di sampingnya justru melangkah maju dengan wajah merah padam.
"Di mana matamu, hah?" bentaknya keras.
Cani tersentak, begitupun Elisa.
"Kau harus menggunakan matamu ketika berjalan! Apa kau tahu pakaian siapa yang baru saja kau kotori?" Suara keras itu membuat beberapa orang mulai memperhatikan.
Cani semakin menundukkan kepala."Maaf, saya sungguh..." Matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat itu, dada Elisa langsung dipenuhi rasa kesal. Dia menarik pelan lengan Cani hingga gadis itu berpindah ke belakang tubuhnya.
"Tidak perlu berteriak seperti itu." Suara Elisa terdengar tenang, tetapi jelas mengandung ketegasan."Cani sudah meminta maaf. Dia juga tidak sengaja."
"N,nona..."
"Diam, Cani." Elisa tetap menatap pria yang marah tadi."Ini jalan umum. Orang saling bersenggolan itu hal biasa. Tidak perlu membentak seseorang hanya karena kecelakaan kecil."
Pria itu semakin melotot."Kau berani sekali bicara seperti itu padaku!" Tangannya bahkan sudah mengepal. Suasana di sekitar mereka mulai berubah tegang.
Beberapa pengunjung festival memilih berhenti berjalan hanya untuk melihat keributan itu.
Namun...
"Sudah. Tidak perlu diperpanjang."
Satu kalimat saja.
Pendek.
Datar.
Tetapi entah bagaimana langsung membuat pria pemarah itu membisu.
Pria bertubuh besar yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Tatapan matanya tetap tenang. Seketika pria pemarah itu mundur satu langkah.
Elisa sampai sedikit mengernyit.
'Dia langsung diam?'
Berarti, pria ini pasti memiliki kedudukan jauh lebih tinggi. Baru saat itulah Elisa benar-benar memperhatikan sosok di depannya.
Tinggi, tubuhnya tegap seperti seseorang yang telah ditempa di medan perang selama bertahun-tahun. Bahunya lebar, lengannya kokoh, sementara wajahnya, terlalu tampan untuk diabaikan. Rahang tegas. Hidung mancung. Rambut hitam pekat yang sedikit berantakan justru membuatnya terlihat semakin gagah. Ekspresinya datar, nyaris tanpa emosi. Namun justru sorot matanya...
Tatapan itu. Entah mengapa terasa begitu tajam. Seolah sedang mengamati Elisa seorang diri, sementara keramaian di sekitar mereka lenyap begitu saja. Elisa spontan mengalihkan pandangan beberapa detik.
Kalau dipikir-pikir, pria itu juga tampak seperti seorang ksatria. Mungkin pengawal keluarga Duke Snow? Lihat saja pembawaannya yang angkuh.
"Aku akan mengganti kerugiannya." Elisa kembali memasang wajah serius."Katakan saja berapa harga pakaian itu."
Belum sempat pria yang diam itu menjawab.
"Kau benar-benar tidak sopan pada.."
"Cholin." Suara rendah itu kembali terdengar.
Dan lagi-lagi, pria pemarah tadi langsung menutup mulutnya.
Pria tampan itu lalu melangkah perlahan mendekati Elisa.
Satu langkah.
Dua langkah.
Jarak mereka kini hanya tinggal beberapa langkah saja. Tatapan matanya masih belum berpindah sedikit pun dari wajah Elisa. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum bibirnya sempat terbuka..
"Yang Mulia, apa ada masalah?"
Suara lain terdengar dari belakang. Elisa refleks menoleh. Matanya langsung membesar.
"Leon?"
Pemuda itu tampak sama terkejutnya."Nandikara?" Leon berkedip beberapa kali."Kau di sini?"
Elisa hanya mampu tersenyum kaku. Otaknya justru sibuk mengulang dua kata yang baru saja didengarnya.
Yang Mulia.
Leon tadi Memanggil pria tampan ini dengan sebutan itu.
Leon kemudian menoleh hormat kepada pria yang berdiri di hadapan Elisa."Pangeran Erlan," ucapnya tenang."Apa ada masalah?"
Duaar!
Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepala Elisa. Seluruh tubuhnya membeku.
Pangeran Erlan?
Nama itu menggema berkali-kali di dalam kepalanya. Perlahan, Elisa kembali mengangkat wajahnya dan menatap pria yang sedari tadi tak melepaskan pandangan darinya.
Jadi, Pria tampan dengan tatapan setajam itu adalah Pangeran Erlan. Tokoh utama pria dalam novel.