Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mengingat pentingnya posisi Angel dalam misi meruntuhkan Selina, rasa khawatir akhirnya menyelinap di benak Bara. Selepas jam kuliah, Bara memutuskan untuk bergerak cepat. Ia mendatangi apartemen pribadi Angel untuk meluruskan masalah.
Ketika pintu terbuka, Angel tampak terkejut dengan mata yang masih sedikit sembab. Sebelum wanita itu sempat mengusirnya, Bara dengan aura dominannya langsung melangkah masuk dan mengunci pintu. Di dalam ruangan yang sunyi itu, Bara menjelaskan semuanya dengan nada suara yang tenang namun tegas. Ia menegaskan kembali bahwa apa yang ia lakukan pada Andrea murni merupakan bagian dari permainan psikologis untuk menghancurkan Selina, tak lebih dari skenario busuk yang harus ia tuntaskan.
Meskipun Bara sama sekali tidak memiliki perasaan khusus atau cinta pada Angel, ia sadar ia harus menjaga loyalitas wanita itu. Sebagai bentuk taktik manipulasi sekaligus tanda maafnya, Bara mengubah sikapnya menjadi melunak. "Ikut aku malam ini. Aku akan menemanimu jalan-jalan sepuasnya dan kita makan malam bersama," ucap Bara datar, namun terdengar seperti tawaran yang sulit ditolak.
Mendengar penjelasan itu, perlahan ego dan rasa sakit hati Angel mereda. Ia merasa menang karena pada akhirnya Baralah yang datang mencarinya. Sore itu, Bara membawa Angel berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, membiarkan wanita itu berbelanja pakaian dan aksesori mewah sesuka hati menggunakan kartu kreditnya, hingga malam pun menjemput.
Bara kemudian membawa Angel ke sebuah restoran mewah bernuansa fine dining di pusat kota yang terkenal dengan pemandangan kacanya yang indah. Mereka duduk di sudut ruangan yang cukup eksklusif, menikmati hidangan berdua dalam atmosfer yang tampak begitu intim bagi orang luar.
Namun, takdir permainan ini bergulir dengan cara yang tak terduga.
Di saat yang sama, di bagian depan restoran yang sama, Andrea melangkah masuk bersama beberapa teman kuliah dari fakultas seni untuk merayakan keberhasilan pameran kecil mereka. Andrea tampak cantik dengan gaun kasual yang sederhana, wajahnya berseri-seri penuh tawa.
Langkah kaki Andrea mendadak terhenti di tengah ruangan. Pandangan matanya secara tidak sengaja terlempar ke arah sudut restoran yang remang. Di sana, di balik sekat tanaman hias yang elegan, ia melihat siluet tinggi tegap yang sangat ia kenali, Bara. Pria yang semalam baru saja memeluknya dengan penuh kehangatan dan berjanji akan menunggunya dengan manis, kini sedang duduk berdua dengan Angel.
Dari posisinya, Andrea bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Angel tertawa manja sembari menyentuh lengan tegap Bara, dan Bara hanya diam membiarkannya tanpa penolakan dingin yang biasanya pria itu tunjukkan. Seketika itu juga, senyuman di wajah cantik Andrea membeku, digantikan oleh rasa sesak yang menghantam dadanya seperti bongkahan batu yang sangat besar. Dunia indahnya seolah runtuh dalam sekejap mata.
Rasa sesak yang menghantam dada Andrea seolah menghentikan aliran darah di sekujur tubuhnya. Kakinya terpaku di atas lantai restoran, sementara tatapannya terkunci pada pemandangan di sudut ruangan. Teman-teman kuliahnya yang menyadari perubahan drastis itu mulai memanggil namanya, namun suara mereka hanya terdengar seperti dengungan samar di telinga Andrea.
Di saat yang bersamaan, atmosfer di sudut meja tempat Bara berada, mendadak berubah. Entah karena ikatan batin yang aneh atau ketajaman instingnya, Bara perlahan memutar kepalanya. Dari balik temaram lampu restoran, sepasang manik mata gelap dan tajam milik Bara bergeser, langsung bertubrukan dengan sorot mata jernih Andrea yang kini mulai digenangi air mata.
Jantung Andrea berdesir hebat. Ia berharap, setidaknya ada kilat keterkejutan atau rasa bersalah di wajah pria itu. Namun, Bara tetaplah Bara. Wajah pria itu datar sempurna, sedingin es, dan tak tersentuh. Alih-alih bangkit atau melepaskan diri dari Angel, Bara justru tetap berada di posisi yang sama. Ia dengan sengaja memilih untuk tetap duduk tenang di samping Angel, kembali menyesap anggurnya seolah keberadaan Andrea di tempat itu tak lebih dari sekadar angin lalu yang tidak berarti.
Sikap abai yang dipertontonkan Bara secara terang-terangan di depan matanya menjadi hantaman paling telak bagi harga diri Andrea. Malam itu, ia pulang dengan hati yang hancur berkeping-keping.
---
Sejak malam yang menyiksa di restoran itu, atmosfer di dalam rumah megah Adikara berubah drastis. Sikap Andrea yang biasanya manis, penuh perhatian, dan selalu menyambut Bara dengan senyuman hangat, mendadak lenyap tanpa bekas. Ia berubah menjadi sosok yang dingin dan tertutup.
Setiap kali mereka berada di satu ruangan, baik saat sarapan pagi bersama Selina dan Pak Danu, atau ketika berpapasan di koridor rumah, Andrea hanya diam membisu. Ia selalu membuang muka, menjaga jarak sejauh mungkin, dan memperlakukan Bara layaknya orang asing yang tak kasat mata. Sikap abai Andrea yang tiba-tiba ini lambat laun mulai mengusik suasana hati Bara, menciptakan percikan kejengkelan yang kian hari kian membakar kesabarannya.
Hingga pada suatu malam, ketika seluruh isi rumah sudah terlelap dalam keheningan dan jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, Andrea baru saja keluar dari dapur yang ada di lantai bawah setelah mengambil segelas air putih. Saat ia melangkah menaiki tangga dan hendak menuju ke kamarnya, sebuah bayangan tinggi besar mendadak menghadang jalannya di koridor yang remang.
Andrea tersentak, hampir menjatuhkan gelas di tangannya. Aroma maskulin bercampur mint yang sangat familier langsung menyergap indra penciumannya. Itu adalah Bara.
Tanpa berniat menyapa, Andrea melangkah ke samping, mencoba melewati pria itu. Namun, gerakan cepat Bara jauh lebih sigap.
Grep!
Tanpa aba-aba, tangan kokoh Bara mencengkeram pergelangan tangan Andrea dengan cengkeraman yang kuat dan tak terbantahkan.
"Lepas, Kak," desis Andrea dingin, suaranya bergetar menahan emosi yang bergejolak. Ia mencoba menyentakkan tangannya, namun kekuatan Bara bagaikan belenggu yang sangat kuat.
Bara tidak bersuara. Dengan rahang yang mengeras dan sorot mata kelam yang memancarkan aura tak terbantahkan, ia menarik paksa tubuh Andrea menyusuri koridor, membuka pintu kamarnya, dan menyentak gadis itu masuk ke dalam sebelum akhirnya mengunci pintu dengan bunyi dengan suara keras yang menggema.
"Apa-apaan ini, Kak Bara?! Buka pintunya!" pekik Andrea panik, tubuhnya gemetar saat menyadari dirinya kembali terkurung di dalam kamar luas milik pria itu.
Bara melangkah maju, membiarkan langkah tegapnya menyudutkan Andrea hingga punggung gadis itu membentur permukaan kayu pintu yang keras. Kedua tangan kekar Bara langsung mengunci di sisi kepala Andrea, mengurung tubuh gadis itu dalam kehangatan tubuhnya yang kontras dengan dinginnya AC kamar.
"Kenapa sikapmu berubah, hmm?" tanya Bara, suaranya rendah, parau, dan terdengar menuntut. "Di mana Andrea yang selalu membuatkanku bekal? Di mana Andrea yang selalu menatapku? Kenapa sekarang kamu memperlakukanku seperti orang asing?!"
"Bukan urusan Kak Bara! Lepaskan aku!" Andrea berontak, kedua tangannya memukul dada bidang Bara yang terbalut kaus hitam, namun hantaman fisiknya sama sekali tidak menggoyahkan pertahanan pria itu. Air mata yang selama beberapa hari ini ia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya. "Kakak punya Angel! Pergi saja bersamanya! Jangan ganggu aku lagi!"
Bara menatap lekat-lekat wajah Andrea yang memerah karena amarah dan tangis. Kehancuran di mata gadis itu justru memberikan jawaban yang selama ini ia cari. Bara terus mendesak, memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. "Katakan padaku, Andrea. Kamu bersikap seperti ini karena melihatku bersama Angel malam itu, kan? Kamu menjauhiku karena kamu cemburu kan?!"
"Iya! Iya, aku cemburu!" teriak Andrea frustrasi, emosinya pecah seutuhnya di depan dada Bara. "Aku cemburu melihat Kakak bersamanya setelah apa yang kita lakukan di kamar ini! Aku bodoh karena mengira aku berarti untuk Kakak, padahal bagi Kakak aku tidak ada bedanya dengan wanita lain!"
Isak tangis Andrea semakin pecah, tubuhnya melemas hingga ia hampir merosot ke lantai jika saja tangan kokoh Bara tidak bergerak cepat melingkari pinggangnya, menahan tubuh indah itu agar tetap menempel pada tubuh kekarnya.