NovelToon NovelToon
Kelas Tambahan Untuk CEO

Kelas Tambahan Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO

Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.

Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.

Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Jantung dan Pengakuan di Balik Koma

Tiga minggu telah berlalu sejak malam kelam di lereng bukit itu. Musim hujan di kota kecil mulai mereda, menyisakan udara sejuk yang menusuk tulang. Namun, di dalam kamar perawatan nomor 302, waktu seolah berhenti berputar.

Maya tidak pernah meninggalkan sisi Kian. Wanita itu mengambil cuti panjang dari tugasnya sebagai kepala sekolah. Setiap hari, dari terbit matahari hingga malam merayap, Maya setia duduk di samping ranjang Kian. Ia membacakan bab demi bab dari buku-buku Sastra Indonesia favoritnya, menggenggam tangan Kian yang tak bergerak, dan mengusap jemari pria itu dengan kehangatan yang tak pernah padam.

Di sudut ruangan, Dika berdiri menyender di dekat jendela, masih dengan kruk yang menopang jalannya. Pandangannya menatap Maya dengan rasa kagum bercampur kepedihan yang mendalam.

"Bu Maya..." panggil Dika pelan, suaranya parau. "Dokter bilang Bu Maya harus istirahat. Sudah tiga hari Bu Maya hampir tidak tidur dan tidak makan dengan benar."

Maya tersenyum tipis—sebuah senyuman rapuh yang tak lagi memiliki binar kehidupan. Ia menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Kian yang pucat.

"Saya tidak apa-apa, Pak Dika. Kian sudah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan kita semua. Menemaninya seperti ini adalah hal terkecil yang bisa saya lakukan."

Dika menarik napas panjang. Pria lokal yang jujur itu melangkah mendekati ranjang Kian. Ia menatap wajah Kian, lalu menatap Maya dalam-dalam.

"Dulu saya pikir... saya adalah pria yang paling pantas untuk Bu Maya di kota ini," aku Dika dengan nada tulus yang menggetarkan hati. "Saya punya kekuatan, saya punya penerimaan warga, dan saya punya rasa cinta. Tapi setelah melihat Mas Kian melompat ke dalam bahaya tanpa ragu demi saya... saya sadar. Cinta Mas Kian bukan cuma besar, Bu Maya... cintanya adalah seluruh alasannya untuk bernapas."

Dika tersenyum getir, menepuk bahu Maya pelan. "Saya mundur, Bu Maya. Bukan karena saya menyerah, tapi karena cinta Mas Kian sudah memenangkan pertarungan ini bahkan sebelum ia membuka matanya."

Maya mengangguk pelan, air mata menetes hangat di pipinya. "Terima kasih, Pak Dika... terima kasih atas ketulusanmu."

Sore harinya, Hani datang membawa seikat bunga lili putih. Penampilannya kini amat sederhana, tanpa perhiasan mewahnya yang dulu. Proses hukum yang menjerat ayahnya dan penyitaan harta keluarganya telah mengikis habis keangkuhan wanita itu.

Hani meletakkan bunga itu di meja, lalu berdiri di samping Maya. Ia menatap Kian dengan mata berkaca-kaca.

"Tante Rosa... ibunya Kian, sudah sadar dari kritisnya di Jakarta," bisik Hani pelan. "Beliau menangis saat tahu apa yang terjadi pada Kian. Tante Rosa meminta maaf padamu, Maya... Beliau sadar kalau kebanggaannya selama ini justru hampir membunuh putra tunggalnya."

Hani berbalik menatap Maya, lalu tiba-tiba berlutut di samping kursi Maya. Tangannya yang gemetar memegang jemari Maya.

"Maya... jika Kian bangun nanti, dan jika dia sama sekali tidak mengingatku atau membenciku... tolong ingatkan dia, bahwa wanita yang paling pantas dicintainya di dunia ini adalah kamu. Bukan harta, bukan nama besar Pratama... tapi kamu."

Maya menggenggam balik tangan Hani, menghapus sisa kepahitan di antara mereka. "Kita berdoa bersama, Hani. Kian akan bangun."

Malam makin larut. Hani dan Dika telah pamit pulang. Ruang kamar kini hening, hanya diisi oleh suara bip teratur dari monitor detak jantung.

Maya menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, menggenggam erat tangan Kian yang dingin. Air matanya menetes, membasahi jemari pria itu. Dalam keheningan malam yang sunyi, Maya membisikkan pengakuan paling jujur yang selama ini terkunci di balik dada dan harga dirinya.

"Kian..." bisik Maya dengan suara pecah oleh tangis. "Dulu saya bohong... Saya bohong saat bilang kalau semua sesi kita hanya tugas profesional. Saya bohong saat bilang kalau saya tidak punya perasaan padamu..."

Maya mencium punggung tangan Kian yang kaku, merapatkan jemari mereka.

"Saya mencintaimu, Kian. Saya mencintaimu sejak pertama kali kamu belajar tersenyum dengan tulus di depan saya. Saya mencintaimu melebihi ketakutan saya pada perbedaan dunia kita... Tolong bangun, Kian. Jangan biarkan kelas kita berakhir seperti ini..."

Saat air mata Maya menetes tepat di atas telapak tangan Kian...

Bip... Bip... Bip...

Suara monitor detak jantung mendadak berakselerasi cepat.

Maya tersentak dan mendongak kaget. Jemari Kian yang selama tiga minggu tak bergerak... perlahan-lahan mencengkeram jemari Maya!

Jemari itu bergerak halus namun pasti. Kelopak mata Kian yang terpejam rapat bergetar pelan, hingga akhirnya... mata kencang yang penuh kehangatan itu perlahan-lahan terbuka.

Maya menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang bagai dihantam badai. Air matanya bercucuran makin deras. "Kian...? Kian, kamu bisa dengar saya?!"

Kian menatap langit-langit kamar yang putih secara perlahan, lalu pandangannya bergeser miring... menatap wajah Maya yang basah oleh air mata.

Bibir Kian yang kering dan pucat bergerak pelan, mencoba membentuk suara yang sangat halus namun jelas di tengah keheningan malam:

"Satu poin tambahan... untuk kebohonganmu yang akhirnya terungkap... Bu Maya..."

Kian tersenyum tipis—senyuman tulus yang paling dirindukan Maya di seluruh muka bumi.

"Kian!" jerit Maya bahagia, langsung memeluk tubuh pria itu erat-erat diiringi isak tangis lega yang memecah kesunyian malam, menyambut kembalinya sang cinta yang berhasil menembus kegelapan demi sebuah pengakuan tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!