~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
****
Langkah kaki yang tergesa-gesa membelah pelataran Rumah Adat menuju Puskesmas Pembantu. Di bawah naungan langit sore yang mulai memerah, Melani dan Rangga Wira melangkah berdampingan, diikuti oleh belasan pasang mata warga yang masih menyimpan ragu.
Begitu pintu panggung Pustu dibuka, rintihan dan tangisan kecil anak-anak desa langsung menyambut indra pendengaran mereka. Belasan tubuh mungil itu terbaring lemas dengan bibir pecah-pecah dan peluh dingin yang membasahi dahi.
Melani berlutut di samping dipan periksa, memeriksa kotak perbekalan medisnya yang sudah melompong. Botol cairan rehidrasi oral telah habis. Obat mual tak bersisa. Bidan muda itu memegang dadanya yang berdegup kencang, berusaha menahan panik yang menumpuk di kepala.
"Bagaimana, Melani? Apakah persediaan obatmu cukup untuk bertahan sampai esok?" tanya Rangga Wira pelan. Suara baritonnya berada tepat di samping telinga Melani.
Melani mendongak, menatap mata hitam Rangga yang teduh namun dipenuhi kekhawatiran. "Obat-obatan medis saya sudah habis total, Pak Rangga. Dalam kondisi darurat seperti ini... kita harus menggunakan bahan alami untuk menetralkan racun di pencernaan mereka."
Rangga mengernyitkan dahi. "Bahan alami? Maksudmu ramuan herbal?"
"Bukan ramuan mantra, Pak Rangga. Saya butuh arang aktif dan air kelapa muda secepatnya!" tegas Melani, suaranya mantap tanpa keraguan. "Karbon aktif dari arang kayu yang dibakar bersih bisa mengikat zat beracun di dalam lambung sebelum terserap ke pembuluh darah. Dan air kelapa murni akan mengembalikan elektrolit tubuh mereka yang hilang akibat muntah hebat."
Rangga Wira menatap Melani selama dua detik, menilai kesungguhan di mata gadis berparas manis itu, sebelum akhirnya berbalik ke arah beberapa pemuda desa yang berdiri menjaga di luar pintu.
"Seno! Bawa lima pemuda ke kebun kelapa di hulu sungai sekarang! Petik kelapa hijau sebanyak yang kalian bisa bawa!" perintah Rangga tegas. "Lalu cari kayu bakar keras, buat api dan ambil arang murninya!"
"Baik, Ki Rangga!" seru Seno cepat, lalu berlari membelah kegelapan malam yang mulai turun.
Hanya dalam waktu setengah jam, kelapa muda dan arang bersih sudah berada di atas meja Pustu. Tanpa membuang waktu, Melani menumbuk arang hingga menjadi serbuk halus, mencampurkannya dengan takaran air kelapa murni yang terukur, lalu meminumkannya perlahan ke bibir anak-anak yang terbaring lemas.
Seharian penuh, tanpa mengeluh sedikit pun, Melani bergerak cepat dari satu dipan ke dipan lain. Wajah ayunya yang berbalut kemeja tenun biru kini ternoda jelaga hitam arang dan peluh. Ia menyeka dahi anak-anak dengan kain basah, membisikkan kata-kata menenangkan, dan memastikan tidak ada satu pun pasien mungilnya yang tersedak.
Rangga Wira berdiri tak jauh di sudut ruangan, menyandarkan tubuh tegapnya pada tiang kayu Pustu. Manik matanya tak pernah lepas dari sosok Melani. Ada ketagihan asing dalam dada pria tegap itu saat menyaksikan kelembutan sekaligus ketangguhan Melani yang tak pernah padam, meski nyawanya sendiri sedang dipertaruhkan dalam batas waktu dua puluh empat jam.
Memasuki pertengahan malam, keajaiban kecil terjadi. Satu per satu anak yang sebelumnya kejang perut mulai bernapas teratur. Demam tinggi mereka merosot turun, dan warna kemerahan segar kembali menyirami pipi-pipi pucat tersebut.
"Bu Bidan... perutku tidak sakit lagi," bisik seorang bocah laki-laki kecil seraya membuka matanya perlahan.
Tangis haru pecah di ruang tunggu Pustu. Para orang tua yang semalam memaki Melani kini menundukkan kepala penuh rasa bersalah dan terima kasih yang teramat sangat. Satu per satu keluarga membopong anak-anak mereka yang mulai membaik untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan Pustu yang perlahan kembali hening.
Malam kian melarut. Angin dingin khas lereng pegunungan menyusup melalui celah-celah panggung Pustu. Warga desa telah lelap tertidur di rumah panggung mereka, menyisakan derik serangga malam dan gemericik air sungai di kejauhan.
Melani duduk tersandar di bangku kayu Pustu, meluruskan kakinya yang pegal luar biasa. Wajah cantiknya tampak sangat lelah, namun sorot matanya menyimpan tekat yang membara. Ia meraih sebuah senter kecil dari tas medisnya.
"Gagal ginjal kalau aku cuma diam di sini..." gumam Melani seraya bangkit berdiri pelan-pelan agar tak menimbulkan suara berderit pada lantai kayu.
Gadis berpikiran positif dan pantang menyerah itu menggelengkan kepalanya. "Kutukan leluhur? Sumpah adat? Mana ada racun masuk sendiri ke perut anak-anak secara mendadak kalau tidak ada yang memasukkannya! Ini pasti ada sabotase di sumber air."
Melani menyusup keluar dari pintu belakang Pustu, melangkah berjingkat menembus kegelapan malam yang hanya diterangi pendar rembulan tipis. Ia berjalan menyusuri semak belukar menuju area sumur utama desa dan sumur penampungan Pustu di dekat lereng jurang.
Sambil merapatkan kain tenun di pundaknya untuk menghalau dingin yang menusuk tulang, Melani mendumel pelan di balik napasnya yang berembun.
"Aduh Melani, Melani... sial banget sih hidup kamu," bisik Melani pada dirinya sendiri, menyapu helai rambut hitam yang menghalangi pandangannya. "Baru saja lulus ujian kompetensi bidan, bercita-cita punya klinik sendiri... eh, malah mau dinikahi siri sama pejabat tua bangkai yang nafasnya bau rokok kretek semerbak. Begitu ditolak, malah dibuang ke desa pelosok yang di peta saja tidak kelihatan!"
Melani menghentikan langkahnya sejenak di bawah naungan pohon beringin tua, menahan tawa mirisnya sendiri.
"Sampai di sini bukannya disambut pakai karpet merah, malah mau dibakar warga gara-gara dituduh ngutuk anak orang pakai vitamin. Kalau mamaku tahu anaknya di sini grilya tengah malam cari racun di jurang, bisa pingsan tujuh hari tujuh malam!" gumamnya optimis, mencoba menyemangati hatinya sendiri di tengah kesunyian malam yang mencekam.
Melani melanjutkan langkahnya menuju tebing jurang di dekat sumur tua. Tiba-tiba, pendengarannya menagkap suara gersik dedaunan kering yang terinjak sepatu di balik semak tebal, tak jauh di depan sana.
Melani dengan cepat mematikan senter kecilnya, bersembunyi di balik batang pohon besar. Dari celah dedaunan, ia mengintip takut-takut.
Di tepi tebing jurang yang gelap, tampak sosok pria berbadan tegap sedang berlutut. Itu Sutan! Pria kepercayaan Bi Naya itu tampak celingukan dengan raut wajah panik luar biasa. Di tangan kanan Sutan, tergenggam sebuah wadah bumbung bambu kecil yang berlepotan getah hitam pekat—sisa zat racun yang dipakai untuk meracuni sumur Pustu. Sutan mengangkat tangannya, siap melemparkan bumbung bambu bukti kejahatan itu ke dalam dasar jurang yang dalam.
Mata Melani membelalak sempurna. Itu buktinya! Itu racunnya! batin Melani berteriak. Ia menahan napas, memajukan tubuhnya sedikit demi mendapatkan pandangan yang lebih jelas.
Namun, tepat saat Melani sedang fokus menatap gerakan tangan Sutan, dari balik batangan pohon tepat di belakang punggung Melani, sebuah hembusan napas hangat dan aroma kayu cendana yang sangat pekat mendadak menyergap indra penciumannya.
Sebuah suara bariton berat yang sangat tidak asing berbisik tepat di samping cuping telinga Melani, begitu dekat hingga bibir pria itu hampir menyentuh rambutnya.
"Sudah jelas kan... ini bukan gara-gara leluhur saya?"
"KYAAA—!"
Melani terperanjat bukan main! Suara Rangga Wira yang tiba-tiba muncul bagaikan hantu di belakangnya membuat jantung bidan muda itu serasa melompat keluar dari dada. Karena terkejut luar biasa, kaki Melani tersandung akar pohon yang melintang.
Krak!
Suara dahan patah yang keras membelah keheningan malam. Tubuh Melani kehilangan keseimbangan dan limbung jatuh ke samping, memicu suara gaduh yang nyaring di tengah malam yang sunyi.
Di tepi jurang, Sutan tersentak kaget. Ia memutar tubuhnya cepat ke arah semak-semak tempat Melani dan Rangga bersembunyi.
"Siapa di sana?!" teriak Sutan panik, menggenggam bumbung bambu racun itu erat-erat dengan wajah pucat pasi.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭