aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - Terjangan Arus
Penjaga bertubuh besar itu melompat turun dari kudanya. Sepatu kulitnya menghantam lantai kayu jembatan dengan dentuman keras. Tatapannya menembus jeruji kayu kereta, terkunci lurus pada telapak tangan kanan Sun Chen yang masih merapat di atas jerami.
"Buka tanganmu, Bocah!" bentaknya seraya mencengkeram jeruji kereta.
Sun Chen menimbang situasi dalam hitungan detik. Di tubuh usia empat tahun ini, ia tidak memiliki Qi, tidak memiliki kekuatan fisik, dan jangankan membunuh, menangkis pukulan pria ini saja sudah dipastikan akan mematahkan lengannya. Jika ia kedapatan membawa batu tajam, penjaga ini akan langsung memukulnya hingga pingsan dan mengikat tangannya lebih kencang. Rencana kaburnya akan hancur total.
Seketika, mata Sun Chen yang tadi sedingin es mendadak berubah meredup. Otot-otot fisiknya yang mungil ia lemaskan. Batu kecil di telapak tangannya ia jatuhkan secara halus di celah-celah jerami bawah kakinya.
Sun Chen menyusutkan bahunya, menjatuhkan tubuhnya ke depan, dan mulai menangis sesenggukan. Bahunya berguncang hebat, memperlihatkan kepanikan dan ketakutan murni layaknya anak balita yang terpojok.
"A-aku takut... Ibu..." cicit Sun Chen dengan suara serak, sengaja menyembunyikan telapak tangannya yang kini sudah kosong di bawah lututnya yang gemetar.
Penjaga itu menyipitkan mata, mendengus kasar melihat reaksi Sun Chen. Ketegangan di wajahnya sempat mereda saat melihat tangisan anak mungil itu. Namun sebelum penjaga itu melangkah mundur, penjaga kedua yang berkuda di sisi sebelah kanan berteriak nyaring.
"Tunggu, Brother! Lihat bagian bawah kereta di dekat kakinya!"
Penjaga kedua menunjuk ke arah sudut bawah kereta. "Papan kayu di sudut itu terpisah dari pasaknya. Anak itu dari tadi bergerak-gerak di sana!"
Mata penjaga bertubuh besar kembali menyala marah. Ia mengangkat kaki kanannya yang terbalut sepatu kulit tebal, lalu menendang keras bagian bawah kereta tepat di mana pasak kayu yang diserut Sun Chen berada.
Brak!
Hantaman keras itu menjadi pemicu terakhir bagi kayu yang sudah lapuk. Bukannya sekadar memeriksa, benturan kuat dari sepatu tebal sang penjaga justru membuat pasak yang telah longgar itu patah total. Papan dasar kereta berderak hebat, lalu jebol dihantam beban jerami dan tubuh anak-anak di atasnya.
Lantai kereta rubuh seketika tepat di pertengahan jembatan.
Jeritan histeris melengking memecah gemuruh air sungai saat bagian bawah kereta terbuka lebar. Jerami, pecahan kayu lapuk, dan lima anak kecil—termasuk Sun Chen—langsung meluncur jatuh bebas dari atas jembatan.
"Sialan! Kereta jebol!" teriakan para penjaga di atas jembatan terdengar kacau, diikuti ringkikan kuda-kuda yang panik.
Bruk!
Tubuh mungil Sun Chen menghantam permukaan air sungai yang dingin membekukan. Air masuk membanjiri hidung dan tenggorokannya seketika. Arus deras menghantamnya tanpa ampun, memutarbalikkan tubuhnya yang tak berbobot seperti selembar daun kering di tengah badai.
Dalam kepanikan bawah air, insting alami anak kecil akan memaksa mereka mengepakkan tangan dan melawan arus, yang hanya akan menguras napas dan membuat mereka tenggelam lebih cepat. Namun Sun Chen adalah seorang veteran perang yang telah melewati ratusan pertempuran mematikan.
Ia menahan napasnya rapat-rapat. Ia sengaja melemaskan seluruh persendian tubuhnya, membiarkan arus membawanya mengikuti aliran sungai alih-alih melawan dorongan air yang mahadahsyat. Kedua tangan mungilnya ia silangkan di atas kepala, melingkungi tengkorak dan lehernya dari ancaman benturan cadas sungai.
Di sekitarnya, samar-samar ia melihat pecahan papan kayu dan bayangan anak-anak lain yang tersapu arus deras. Sun Chen memanfaatkan dorongan gelombang untuk menyiku pecahan papan kayu di dekatnya, menggunakannya sebagai penahan benturan samping.
Meskipun pengalaman tempurnya puluhan tahun membimbing setiap pergerakannya di dalam air, fisik anak empat tahun memiliki keterbatasan mutlak. Paru-parunya yang kecil mulai terasa membakar hebat karena kehabisan oksigen. Kesadarannya perlahan buram saat tubuhnya terus diseret ke hilir.
Gelombang besar mendadak memutar tubuh Sun Chen, melemparnya ke arah belokan sungai yang dipenuhi bebatuan hitam tajam.
Brak!
Punggung dan kepala belakang Sun Chen menghantam keras sebuah batu kali yang mencuat di dalam kegelapan air. Rasa sakit menjalar hebat di dadanya sebelum pandangannya sepenuhnya menguap menjadi hitam.
Sun Chen terbatuk-batuk hebat. Air sungai yang tertelan menyembur keluar dari mulutnya saat dadanya naik turun menghirup udara secara kram.
Rasa dingin yang menusuk tulang melingkupi seluruh tubuhnya. Sun Chen membuka mata secara perlahan, mendapati dirinya telentang di atas pasir basah di tepi sungai. Cahaya matahari yang samar menembus celah-celah pepohonan di sekitarnya.
Di sampingnya, seorang pria tua duduk bersila di atas batu datar. Pria itu mengenakan jubah abu-abu lusuh yang dipenuhi tambalan kain kasar. Rambutnya yang memutih diikat asal-asalan ke belakang.
Sebelum Sun Chen sempat menggerakkan fisiknya, pria tua itu merapatkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, lalu menekan lembut bagian ulu hati Sun Chen.
Srrrt.
Sebutir gelombang hangat yang kasar namun sangat terkontrol menjalar masuk ke dalam pembuluh darah Sun Chen. Tenaga dalam itu mengalir cepat, mendorong sisa-sisa air di dalam paru-paru Sun Chen keluar melalui mulutnya, sekaligus menghangatkan aliran darahnya yang membeku.
Sun Chen menahan napasnya, tidak bergerak sedikit pun.
Dengan mata seorang ahli strategi yang terlatih puluhan tahun, Sun Chen membedah aliran Qi yang baru saja menyentuh organ dalamnya. Tenaga dalam pria tua ini terasa sangat padat, memiliki karakter berat dan bergetar seolah sanggup meremukkan batu hanya dengan satu sentuhan telapak tangan.
Ini adalah ciri khas ilmu tinju destruktif.
Sun Chen menatap pria tua di hadapannya dengan cermat. Tenaga dalam murni yang dimiliki pria lusuh ini jauh melampaui para penjaga kereta budak, bahkan mungkin setara dengan ahli tingkat menengah dari sekte-sekte persilatan ternama.
"Kau sudah sadar, Bocah?" tanya pria tua itu dengan suara serak namun bernada santai. Ia menarik kembali tangannya dan menyandarkan tubuhnya ke batu. "Napasmu cukup tangguh untuk ukuran anak sekecil ini. Bagaimana bisa kau terapung di sungai deras sendirian?"
Sun Chen perlahan mendudukkan tubuhnya yang masih gemetar. Otaknya berputar cepat. Ia harus menyusun cerita yang masuk akal. Jika ia mengaku sebagai korban selamat dari pembantaian desa, pria ini mungkin akan mengantarkannya ke pejabat lokal—hal yang justru akan mempermudah Kultus Demonic melacak keberadaannya kembali.
Ia butuh pria ini membawanya pergi jauh dari wilayah perbatasan ini.
"Aku..." Sun Chen merendahkan suaranya, memancarkan kepolosan dan kerapuhan anak kecil yang trauma melalui matanya, namun tetap mempertahankan sedikit keteguhan. "Kereta kami... jatuh dari jembatan."
Pria tua itu menyipitkan mata. "Kereta? Kereta apa yang melintas di jembatan atas dalam cuaca seperti ini?"
Sun Chen menggigit bibir bawahnya, meremas jemari kakinya di atas pasir basah seolah mengingat kejadian mengerikan. "Orang-orang berkuda... mereka mengikatku dan anak-anak lain di dalam gerobak kayu. Mereka membawa cambuk..."
Raut wajah pria tua itu berubah pelan. Kerutan di dahinya makin dalam. "Kereta budak..." gumamnya dingin.
Sun Chen mengatur helaan napasnya. Ia hendak melanjutkan kebohongannya untuk memancing iba pria tua tersebut agar bersedia membawanya sebagai murid atau pengikut.
Namun sebelum kata berikutnya keluar dari mulut mungil Sun Chen, telinganya yang tajam menangkap getaran samar dari permukaan tanah di bawah sandaran tangannya.
Pria tua itu ikut menegakkan kepalanya. Tangan kanannya dengan refleks mengepal erat, memancarkan getaran Qi tipis yang tak terlihat oleh mata telanjang.
Di kejauhan, dari balik rimbunnya hutan di sepanjang tepi sungai, suara derap kaki kuda yang dipacu cepat terdengar semakin mendekat. Suara teriakan para penjaga budak yang menyisir area hilir bergema keras, memecah kesunyian tepi sungai.