NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TOPENG YANG KIAN RETAK

Suasana pagi di mansion mewah keluarga Dirgantara selalu terasa mencekam sejak kebenaran pahit itu terungkap. Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari cangkir porselen di atas meja makan panjang, namun kehangatan itu sama sekali tidak mampu mencairkan kebekuan di antara sepasang suami istri yang duduk berseberangan.

Arga Dirgantara duduk dengan tegak, masih mengenakan kemeja kasual rapi yang siap ia balut dengan jas kerjanya. Jemari kokohnya memegang koran bisnis pagi, namun fokus matanya sama sekali tidak berada di sana. Pikirannya masih tertinggal di kamar rahasia kantornya kemarin siang—memikirkan bagaimana hangatnya dekapan Queen, tawa ceria gadis itu, dan getaran cinta tulus yang bener-bener ia butuhkan. Sisa-sisa wangi vanila dari tubuh Queen seolah masih menempel di benaknya, menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah neraka rumah tangganya.

Klek.

Suara denting sendok yang sengaja diletakkan dengan keras memecah keheningan. Keysha, yang duduk di seberang meja sambil mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit, menatap Arga dengan tatapan menuntut yang teramat familier.

"Mas," panggil Keysha, suaranya dibuat selembut mungkin, mencoba memancing perhatian suaminya yang belakangan ini berubah menjadi sedingin gunung es. "Hari ini jadwal aku cek kandungan ke dokter. Kamu anterin aku ke rumah sakit ya? Jam sepuluh pagi ini."

Arga menurunkan korannya perlahan. Sepasang netra elangnya menatap Keysha datar, kosong, dan tanpa riak emosi sedikit pun. Kilat kemarahan berapi-api yang biasanya ia rasakan kini telah berganti menjadi rasa muak yang teramat dalam.

"Saya ada jadwal rapat penting di kampus jam sepuluh," jawab Arga pendek, suaranya baritonnya terdengar sangat dingin dan kaku.

"Rapat lagi, rapat lagi! Kamu sengaja kan, Mas, mau menghindar dari aku?!" Keysha langsung menyalak, emosinya yang labil karena kehamilan atau mungkin karena rasa bersalah yang menjelma menjadi kemarahan mulai tersulut. "Ini anak kamu juga, Mas! Dia butuh kehadiran ayahnya saat diperiksa dokter! Kamu tega membiarkan istri kamu yang lagi hamil besar begini pergi ke rumah sakit sendirian tanpa didampingi suaminya?!"

Mendengar kata 'anak kamu', sudut bibir tegas Arga berkedut sinis. Ada tawa pahit yang tertahan di dalam tenggorokannya. Rahangnya mengetat rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Rasa malas dan muak bergolak hebat di dalam dadanya.

Anakku? batin Arga berteriak dengan penuh sarkasme. Seharusnya yang mendampingi kamu berdiri di samping ranjang periksa itu adalah ayah biologis dari janin itu, Keysha. Bukan saya.

Fakta bahwa janin di dalam rahim Keysha adalah hasil perselingkuhan istrinya dengan pria lain bener-bener menjadi duri yang terus menusuk harga diri Arga sebagai seorang pria. Rasanya teramat ironis dan menjijikkan saat ia harus berpura-pura menjadi sosok ayah dan suami yang bertanggung jawab di depan publik, sementara hatinya tahu persis bahwa ia sedang merawat benih pengkhianatan.

Namun, Arga memilih untuk menahan diri. Ia tidak ingin memicu keributan besar di pagi hari yang hanya akan membuang tenaganya. Lagipula, ia butuh menjaga situasi tetap terkendali sampai semua bukti hukum yang ia kumpulkan untuk gugatan cerai mereka bener-bener matang dan tak terbantahkan.

"Saya akan atur ulang jadwal saya," ucap Arga akhirnya, berdiri dari kursinya seraya merapikan jas hitamnya yang tersampir di sandaran kursi. "Siap-siap sekarang. Saya tunggu di mobil. Jangan membuat saya menunggu lama."

Keysha yang melihat kerelaan Arga meski dengan keterpaksaan yang kentara langsung tersenyum puas. Ia merasa taktik melankolisnya masih berhasil melunakkan hati suaminya, tanpa menyadari bahwa Arga melakukan ini semua murni demi menjaga nama baik keluarga besar Dirgantara sebelum badai perceraian yang sesungguhnya ia ledakkan.

Perjalanan menuju Rumah Sakit Medika Utama dilewati dengan keheningan yang mencekam di dalam mobil sedan mewah milik Arga. Keysha sibuk memainkan ponselnya, sesekali melirik Arga yang fokus menyetir dengan wajah sekaku patung semen.

Arga sama sekali tidak berniat membuka obrolan. Di dalam benaknya, ia justru teringat dengan nomor kontak baru yang ia namai 'Bambang (Kontraktor Proyek)' di WhatsApp-nya. Jemarinya mendadak gatal ingin mengirim pesan pada Queen, menanyakan apakah gadis cegil-nya itu sudah sarapan atau apakah rasa sakit akibat aktivitas panas mereka kemarin siang sudah mereda. Memikirkan Queen bener-bener menjadi satu-satunya cara bagi Arga untuk mempertahankan kewarasannya saat berada di dekat Keysha.

Begitu sampai di rumah sakit, Arga berjalan dengan langkah tegap di samping Keysha menuju ruang praktik dokter spesialis kandungan. Sepanjang koridor, beberapa perawat dan pasien lain melirik mereka dengan tatapan kagum melihat sepasang suami istri yang tampak begitu serasi, mapan, dan harmonis. Sebuah ironi yang teramat lucu di mata Arga.

"Silakan masuk, Ibu Keysha dan Bapak Arga," sapa Dokter Maya, dokter kandungan langganan Keysha, dengan senyuman ramah yang merekah.

Keysha langsung naik ke atas ranjang pemeriksaan dengan dibantu oleh perawat, sementara Arga berdiri di sudut ruangan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahan mahalnya. Posisinya sengaja agak menjauh, membatasi jarak fisik dari ranjang tersebut.

Dokter Maya mulai mengoleskan gel dingin di perut Keysha, lalu menempelkan alat pemindai USG. Seketika, layar monitor besar di samping ranjang menampilkan gambar hitam-putih samar dari sebuah janin kecil yang bergerak sangat lambat.

"Wah, detak jantung bayinya sangat kuat dan normal ya, Pak, Bu," jelas Dokter Maya dengan nada ceria. "Perkembangan ukurannya juga sangat bagus untuk usia kehamilan saat ini. Bapak Arga bisa lihat di sini, ini bagian kepalanya dan ini detak jantungnya yang berkedip."

Keysha menatap layar dengan mata berkaca-kaca, tampak terharu. Ia menoleh ke arah Arga, berharap melihat binar kebahagiaan atau setidaknya senyuman haru dari wajah suaminya. "Mas... lihat deh, anak kita sehat banget..."

Arga melangkah mendekat dua langkah secara formal. Mata elangnya menatap lurus ke arah layar monitor. Namun, alih-alih merasakan getaran emosional seorang ayah yang akan menyambut kelahiran buah hatinya, hati Arga bener-bener terasa kosong, hambar, dan dingin bak es batu.

Setiap denyut jantung yang terdengar dari mesin USG itu seolah menjadi alarm yang memperingatkan Arga akan pengkhianatan Keysha yang teramat busuk. Ada rasa jijik yang bergejolak di ulu hatinya saat menyadari bahwa janin yang sehat itu membawa darah dari pria lain yang telah merusak kehormatan rumah tangganya.

"Ya, baguslah kalau sehat," jawab Arga dengan suara bariton yang teramat datar, tanpa ada nada kebahagiaan sedikit pun di dalamnya.

Dokter Maya sempat menangkap keanehan dari respons kaku Arga, namun ia memilih bersikap profesional dan melanjutkan pemeriksaannya hingga selesai.

Setelah Keysha merapikan kembali pakaiannya, mereka berdua duduk di depan meja kerja Dokter Maya untuk mendengarkan penjelasan akhir dan menerima resep vitamin.

"Secara keseluruhan kandungan Ibu Keysha sangat sehat. Hanya saja, tolong dijaga tingkat stresnya ya, Bu. Dan untuk Bapak Arga, mohon lebih sering memberikan perhatian dan kasih sayang ekstra untuk istrinya. Ibu hamil di trimester ini sangat butuh support system utama dari suaminya agar emosinya tetap stabil," pesan Dokter Maya ramah seraya menyerahkan secarik kertas resep.

"Baik, Dok. Terima kasih. Saya pasti akan selalu memberikan perhatian terbaik untuk istri saya," sahut Keysha cepat dengan senyum manisnya yang dibuat-buat, sengaja menyindir Arga yang belakangan ini mengabaikannya.

Arga hanya mengangguk formal tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Di dalam benaknya, kalimat dokter tentang 'perhatian dan kasih sayang ekstra' justru memicu senyuman miring di hatinya. Perhatian dan kasih sayang ekstra miliknya kini sudah memiliki pelabuhan baru seorang mahasiswi bar-bar bernama Queen yang kemarin siang baru saja menerima limpahan gairah dan kasih sayang terbesarnya di atas ranjang kamar rahasianya.

Begitu keluar dari ruang praktik dokter dan berjalan menuju apotek rumah sakit untuk menebus obat, ponsel di saku celana Arga bergetar halus. Arga merogohnya dengan cepat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nama kontak 'Bambang' membuat sudut bibirnya yang kaku seketika berkedut membentuk lengkungan tipis yang teramat lembut.

"Bambang (Kontraktor Proyek): Pak Dosen sayang! Lagi apa? Hari ini gak ada kelas siang kan? Aku kangen nih... leher aku masih ada tanda merah baru dari kamu tahu, tadi pas di kelas digodain terus sama Alya dan Karin gara-gara syal aku melorot. Tanggung jawab gak lu! 😜❤️"

Membaca pesan genit nan bar-bar dari Queen di tengah koridor rumah sakit, rasa muak dan kelelahan mental Arga seketika menguap begitu saja. Pria berusia 30 tahun itu dengan cepat mengetik balasan singkat dengan satu tangannya sambil terus berjalan di samping Keysha yang sama sekali tidak menaruh curiga.

"Arga: Saya sedang mengurus urusan luar sebentar. Jaga dirimu baik-baik di kampus. Pulang kuliah langsung ke apartemen, saya akan kesana sore ini untuk 'bertanggung jawab'."

Arga menyimpan kembali ponselnya dengan hati yang mendadak dipenuhi oleh letupan gairah dan kehangatan yang menggelitik. Persetan dengan Keysha, persetan dengan janin yang dikandung istrinya, dan persetan dengan segala kepalsuan rumah tangga ini. Bagai seorang pria yang haus di tengah gurun pasir, Arga tahu bahwa langkah kakinya kini akan selalu menuntunnya kembali ke pelukan Queen satu-satunya tempat penenang sejati yang mampu meruntuhkan benteng es di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!