NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9_Boneka Anabel. Part2

Bab 2: Rahasia Kematian Anabel dan Rumah yang Menyimpan Kutukan

"Aku sudah lama menunggumu..." bisik suara itu tepat di belakang telinga Alena.

Tubuh Alena membeku. Napasnya tercekat. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. Perlahan ia membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat kaku.

Gelap. Tidak ada siapa-siapa. Hanya suara napas kecil yang terdengar begitu dekat.

"Hhh... hhh..."

"Siapa kamu?!" teriak Alena sambil menangis. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar hebat.

Tiba-tiba....

Blaar!

Petir menyambar langit. Cahaya kilat sesaat menerangi ruang tamu.

Di sudut ruangan...

Boneka Anabel berdiri. Bukan lagi duduk.

Kepalanya miring ke kanan, sementara senyumnya kini terlihat jauh lebih lebar daripada sebelumnya. Kedua matanya yang hitam pekat seolah menelan cahaya di sekitarnya.

"A... aku tidak takut padamu!" ucap Alena, meski seluruh tubuhnya gemetar hebat.

"Hehehe..."

Tawa anak kecil kembali terdengar. Boneka itu perlahan mengangkat tangan kanannya.

Telunjuknya mengarah ke lantai dua. Seolah menyuruh Alena naik.

"Nggak... aku tidak akan ke sana!" seru Alena sambil menggeleng keras. Wajahnya dipenuhi air mata.

Brak!

Tiba-tiba pintu rumah menutup sendiri.

Jendela-jendela berguncang hebat.

Braaak!

Angin dingin berputar di dalam rumah.

"Nek! Tolong!" teriak Alena sekuat tenaga. Wajahnya dipenuhi kepanikan.

Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa sunyi.

Terlalu sunyi. Hanya terdengar suara langkah kaki kecil.

Tok...Tok... Tok....

Langkah itu berasal dari lantai dua. Padahal tidak ada siapa pun di sana.

Alena memberanikan diri berlari menuju kamar Nenek Ratih.

"Nek! Bangun, Nek!" teriaknya sambil mengguncang pintu kamar.

Tidak ada jawaban.

Dengan tangan gemetar, Alena membuka pintu.

Kreeeek...

Kamar itu kosong. Tempat tidur masih rapi. Tidak ada tanda-tanda Nenek Ratih pernah berada di sana malam itu.

"Nenek..." bisik Alena. Wajahnya berubah bingung sekaligus ketakutan.

Saat itulah ia melihat sesuatu di atas meja.

Sebuah foto lama.

Di dalam foto itu terdapat seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun.

Ia memeluk boneka yang sama persis. Di belakang foto tertulis sebuah kalimat dengan tinta yang mulai pudar.

"Anabel. Jangan pernah biarkan ia pulang."

Jantung Alena berdetak semakin cepat.

"Tidak mungkin..." gumamnya sambil menatap foto itu dengan mata membesar.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.

"Itu foto terakhir sebelum semuanya terjadi..." kata Nenek ratih.

Alena menoleh cepat.

"Nenek!" serunya lega, tetapi wajah lega itu seketika berubah menjadi bingung.

Nenek Ratih berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat.

Pakaiannya basah seperti baru kehujanan. Namun yang membuat Alena semakin takut...

Kaki Nenek Ratih tidak menyentuh lantai.

"Nek..." suara Alena melemah. Wajahnya dipenuhi rasa ngeri.

Nenek Ratih perlahan menundukkan kepala.

"Dia sudah bangun..." ucapnya lirih. Air matanya menetes perlahan.

"Maksud Nenek apa?" tanya Alena dengan suara bergetar.

Nenek Ratih menatap foto di tangan Alena.

"Dulu... Anabel bukan meninggal karena kecelakaan."

Alena menahan napas.

"Dia dibunuh." lanjutnya.

Mata Alena membelalak.

"Siapa yang membunuhnya?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran sekaligus takut.

Nenek Ratih tidak langsung menjawab. Ia justru memejamkan mata.

"Lima puluh tahun lalu..." suaranya bergetar, "...rumah ini menjadi tempat ritual terlarang."

Alena menggigit bibirnya.

"Orang-orang desa percaya bahwa tumbal anak kecil bisa mendatangkan kekayaan."lanjutnya

Tubuh Alena langsung lemas.

"Mereka memilih Anabel..." lanjut Nenek Ratih dengan mata berkaca-kaca. "Dia dikurung hidup-hidup di ruang bawah tanah bersama boneka kesayangannya."

Air mata Alena menetes.

"Ya Tuhan..." bisiknya sambil menutup mulut. Wajahnya dipenuhi kesedihan dan kengerian.

"Anabel menangis selama tiga hari..." suara Nenek Ratih semakin lirih. "Dia terus memanggil ibunya..."

Suasana kamar menjadi sangat dingin.

Kemudian... Terdengar suara tangisan anak kecil dari balik dinding.

"Ibu...Ibu... jangan tinggalin Anabel..."

Tangisan itu begitu pilu hingga membuat

dada Alena terasa sesak.

Brak!

Tiba-tiba lemari tua di sudut kamar terbuka sendiri.

Di baliknya tampak sebuah pintu kayu kecil yang selama ini tersembunyi.

Pintu itu dipenuhi bekas cakaran. Seolah seseorang pernah berusaha keluar dari dalamnya.

"Nek... itu pintu apa?" tanya Alena dengan wajah pucat.

Nenek Ratih langsung menangis.

"Itu jalan menuju ruang bawah tanah."

Belum sempat Alena menjawab...

Kreeeek...

Pintu kecil itu perlahan terbuka sendiri. Dari dalamnya mengembus bau anyir yang menyengat.

Gelap pekat memenuhi lorong sempit di balik pintu.

Lalu...

Terdengar suara anak kecil bernyanyi dengan nada pelan.

"La... la... la..."

Suara itu semakin lama semakin dekat. Diiringi bunyi langkah kaki kecil.

Tok... Tok... Tok...

Sesaat kemudian, dua mata hitam perlahan muncul dari balik kegelapan lorong. Disusul senyum kecil yang perlahan melebar.

"Akhirnya..." terdengar suara lirih yang membuat darah Alena serasa membeku.

"Kamu datang menjemputku..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!