NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Pukul 10.15 WIB.

Ruang rapat eksekutif Konsorsium Tiga Cincin—aliansi rahasia yang mengendalikan rantai pasok industri berat di Asia Tenggara—terlihat sangat tegang.

Duduk di kursi utama adalah Tuan Besar Reginald Vance, seorang taipan tua berdarah campuran Inggris-Singapura yang merupakan pimpinan tertinggi Aliansi. Di sebelah kanannya, perwakilan dari Keluarga Vandersen duduk dengan ekspresi penuh kemenangan.

"Anak muda bernama Riyan Sadewa itu terlalu sombong," ucap Reginald Vance dengan nada suara dingin sambil menyesap wiski mahalnya.

"Dia pikir dengan uang hasil spekulasi kasarnya, dia bisa berdiri sejajar dengan konsorsium yang sudah berakar selama seabad. Kita sudah membekukan seluruh jalur impor bahan baku bajanya dari Eropa. Dalam waktu 48 jam, proyek-proyek propertinya akan mangkrak dan dia akan berlutut meminta belas kasihan."

Perwakilan Vandersen tersenyum sinis. "Benar, Tuan Reginald. Kekuatan modal saja tidak cukup jika tidak memiliki jaringan logistik global."

Tiba-tiba, pintu kaca ruang rapat diketuk dua kali dengan sopan, lalu dibuka oleh sekretaris pribadi Reginald dengan wajah pucat pasi.

"T-Tuan Reginald! Darurat!" seru sang sekretaris dengan napas terengah-engah.

Reginald mengerutkan kening, merasa terganggu. "Ada apa? Apakah pabrik baja kita di Batam mengalami kenaikan biaya operasional lagi?"

"B-Bukan kenaikan biaya... Tapi... Pabrik-pabrik kita... Seluruh fasilitas manufaktur, tambang bijih besi, dan armada logistik maritim Konsorsium Tiga Cincin di Asia Tenggara... baru saja dibeli secara serentak!"

PRANG!

Gelas wiski di tangan Reginald Vance terlepas dari genggamannya, pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.

"Dibeli?! Apa maksudmu dibeli?! Siapa yang berani membeli aset inti kita?!" raung Reginald, berdiri dari kursinya dengan mata melotot lebar.

Pintu ruang rapat terbuka lebar dengan dorongan tegas.

Dari balik pintu, melangkah masuk sesosok pria berjas kasmir charcoal dengan potongan rambut rapi dan jam tangan Audemars Piguet yang berkilau di pergelangan tangannya. Di belakangnya, 11 pria berjas senada mengekor dengan postur tegap dan tatapan mata yang setajam elang.

Itu adalah Agus, yang kini bertindak sebagai Direktur Utama Sadewa Group, didampingi oleh Ujang dan jajaran direktur proletar lainnya. Mereka tidak lagi membawa sendok semen atau cangkul, melainkan tas briefcase kulit buatan Italia yang berisi dokumen legalitas korporat kelas dunia.

Agus melangkah masuk tanpa diundang, mengambil tempat duduk tepat di seberang Reginald Vance, lalu menyilangkan kakinya dengan tenang.

"Selamat pagi, Tuan Reginald Vance," ucap Agus dengan suara bariton yang dingin, berat, dan penuh wibawa mutlak. "Perkenalkan, saya Agus Sanjaya, mewakili Sadewa Group."

Reginald Vance menatap Agus dengan amarah yang meluap-luap. "Kamu... bajingan dari mana?! Beraninya kalian menyelonong masuk ke rapat rahasia konsorsium?!"

Agus tersenyum tipis—senyum seorang eksekutif berdarah dingin. Ia meletakkan sebuah map dokumen tebal berlambang emas di atas meja dan mendorongnya perlahan ke hadapan Reginald.

"Kami tidak menyelonong, Tuan Reginald. Kami datang sebagai pemilik baru dari seluruh aset korporasi Anda," kata Agus santai.

Ujang di sampingnya membuka tablet pribadinya dan membacakan rincian data dengan lancar tanpa melihat catatan.

"Tepat pukul 10.00 tadi pagi, Sadewa Group menggunakan dana cadangan likuiditas sebesar 5,5 Triliun Rupiah untuk memborong seluruh saham mayoritas dari 40 perusahaan cangkang dan pabrik manufaktur yang berada di bawah kendali Konsorsium Tiga Cincin," papar Ujang dengan nada datar namun mematikan.

"Berdasarkan hukum perdagangan internasional, seluruh fasilitas produksi, jalur impor, dan hak paten Anda sekarang secara sah berada di bawah kendali mutlak Sadewa Group."

Perwakilan Vandersen yang duduk di sebelah Reginald langsung berdiri gemetar.

"I-Itu tidak mungkin! Valuasi konsorsium kami bernilai belasan triliun! Bagaimana bisa kalian mencaploknya dalam hitungan jam?!"

Agus menatap perwakilan Vandersen itu dengan tatapan meremehkan.

"Di mata Sadewa Group, tidak ada benteng korporasi yang terlalu besar untuk dirobohkan... jika Anda membiarkan pintu belakangnya terbuka lebar akibat kesombongan Anda sendiri."

Agus kemudian berdiri, merapikan kancing jas Hugo Boss-nya, dan menatap Reginald Vance yang kini terduduk lemas di kursinya dengan wajah sepucat mayat.

"Mulai detik ini, seluruh pasokan bahan baku untuk proyek kami dipulihkan 100%. Dan untuk Anda, Tuan Reginald... waktu sewa gedung kantor ini sudah habis. Silakan bawa barang-barang Anda keluar dari properti milik Sadewa Group," pungkas Agus dingin.

12 direktur proletar itu berbalik secara serentak, melangkah keluar ruangan dengan langkah kaki tegap yang menggema di seluruh lantai gedung, meninggalkan para taipan global dalam kehancuran total.

Di kantor pusat Sadewa Group, Riyan Sadewa duduk di kursi eksekutifnya sambil menyeruput secangkir kopi hitam saset yang diseduh di atas meja marmer mewah.

Layar transparan Sistem di depannya berkedip terang dengan notifikasi bertuliskan emas:

[Misi Utama Imperium: "Penaklukan Konsorsium Tiga Cincin" — BERHASIL TOTAL!]

[Pengaruh Pasar Sadewa Group melonjak ke peringkat #1 di Asia Tenggara!]

[Sisa Saldo Kas Korporat Aktif: 2,72 Triliun Rupiah.]

[Status Inang: Pendekar Finansial Mutlak / Penguasa Industri Baru.]

Kezia Zevan dan Valerie Vandersen berdiri di samping meja Riyan, menyaksikan laporan kemenangan telak itu dengan mulut ternganga takjub.

Valerie menatap Riyan dengan napas memburu, rasa dendam dan amarahnya kini sepenuhnya luluh oleh rasa kagum yang luar biasa mendalam.

"Riyan... lu... lu baru saja melumpuhkan konsorsium global tertua hanya dalam sekali pukul lewat kuli-kuli yang lu ubah jadi direktur..."

Riyan tersenyum kecil, memutar-mutar cangkir kopinya. Ia tidak lagi merasa stres memikirkan cara agar uangnya habis. Sistem telah memberinya kendali penuh, dan ia kini berdiri di puncak rantai makanan ekonomi dunia.

"Ini baru permulaan, Pirang," ucap Riyan tenang, menatap ke arah jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota di bawah sana.

"Kalau mereka mau main-main dengan modal... kita akan tunjukkan bagaimana cara seorang kuli membangun dinasti."

1
Fajar Fathur rizky
cepat bikin tiga kekuatan besar itu bangkrut
Fajar Fathur rizky
bikin wanita itu jatuh cinta kepada mcnya thor
BaekTae Byun: jatuh cinta mending mikirin nyawa yang tinggal belasan jam
total 1 replies
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!