TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control --- *BAB 21: AMBANG BATAS POROS* _
Toxic and Control
---
*BAB 21: AMBANG BATAS POROS*
_
Cengkeraman tangan kekar Rian Pradifta pada jemari kecilnya terasa begitu erat dan posesif. Kalimat larangan untuk menjauh yang meluncur parau dari bibir sang tuan muda mengirimkan gelombang debar yang menyakitkan di dalam dada Kinara Jose.
Air mata gadis itu kian luruh bebas, membasahi pipinya yang pucat. Rasa lelah, tertekan, dan ketakutan yang menumpuk selama berhari-hari kini pecah sepenuhnya di atas ranjang basecamp yang temaram.
Kinara menyentak perlahan tangannya, mencoba melepaskan diri dari pautan jemari Rian, namun genggaman cowok itu justru semakin mengunci mati pergerakannya. Dengan napas yang sesak karena isak tangis yang tertahan, Kinara akhirnya mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Rian yang meredup sayu dipenuhi obsesi gelap.
"Sebenernya apa yang kak Rian mau dari aku?" jerit Kinara lirih, suaranya bergetar hebat sarat akan keputusasaan yang mendalam. "Aku cuma siswi beasiswa, Kak. Kalau aku pernah menyinggung kak Rian... aku minta maaf. Aku cuma mau fokus belajar dengan tenang."
Kinara menjeda kalimatnya, menghirup pasokan udara dengan dada yang naik-turun hebat. Sorot matanya berkilat menantang, menatap lurus ke dalam manik mata elang di depannya tanpa rasa takut lagi.
"Apa kak Rian tertarik padaku? Atau Nara si pelayan Aston Club? Atau kak Rian cuma penasaran dan mau tidur denganku?" tuntut Kinara dengan untaian kalimat yang begitu vulgar namun jujur, menusuk langsung ke pusat kesadaran Rian.
Air mata Kinara menetes semakin deras, merembes di sela-sela jemari Rian yang masih menempel di dagunya. "Kak... walaupun aku bekerja di tempat seperti itu, aku tetap menjaga batasanku. Aku bukan wanita murahan! Jadi aku mohon... lepaskan aku, Kak."
Rian terdiam mendengar setiap kata yang keluar dari bibir ranum gadisnya. Tuduhan Kinara tidak seratus persen salah. Di dalam benak otaknya yang paling dalam, Rian mengakui bahwa awalnya dia memang hanya penasaran dan ingin main-main dengan siswi beasiswa yang cupu ini.
Namun, penolakan yang terus-menerus dia terima justru melukai harga diri dan egonya sebagai pewaris tunggal Pradifta. Selama hidupnya, dia selalu bisa mendapatkan apa pun yang dia mau tanpa terkecuali, termasuk mengendalikan Kinara.
Alih-alih menjawab pertanyaan tajam Kinara yang menusuk batinnya, Rian memilih mengalihkan pembicaraan. Kilat amarah cemburu yang masif kembali membakar sepasang mata elangnya saat ingatan tentang Randy melintas di kepalanya.
"Apa kamu sangat menyukai Bajingan basket itu?" desis Rian dengan suara baritonnya yang merendah berbahaya, mencengkeram rahangnya sendiri menahan gejolak emosi. "Apa bagusnya dia, Kinara? Kenapa kamu tidak memilihku yang jelas-jelas sempurna dan memiliki segalanya?"
Kinara menatap Rian dengan tatapan lelah bercampur sesak. Pertanyaan bernada arogansi mutlak itu terdengar begitu konyol di telinganya. Kinara menarik napas dalam-dalam, mencoba meluruskan kesalahpahaman gila yang ada di kepala cowok gila kontrol itu.
"Kak Randy baik. Aku hanya menganggapnya sebagai kakak kelas sama seperti perasaanku ke Kak Rian," ucap Kinara dengan suara parau namun tegas, menatap langsung ke dalam manik mata elang Rian. "Jadi aku mohon jangan persulit Kak Randy... dia hanya kasihan padaku."
Mendengar penuturan jujur Kinara, binar mata elang Rian seketika menggelap pekat kembali, memancarkan kepemilikan yang mutlak. Kedongkolannya sedikit mengendur karena tahu Kinara tidak menyukai Randy, namun ego tirani di dalam batinnya langsung mengambil alih kendali dengan kejam.
"Bagus kalau kamu tidak memiliki perasaan lebih pada bajingan basket itu," lanjut Rian dingin, sebaris luka di bibirnya mengencang seiring senyuman miringnya yang penuh dominasi kembali terukir. "Tapi mulai detik ini, aku mau kamu fokuskan perasaanmu hanya padaku. Dan jangan pernah berpikir untuk membaginya, karena aku tidak suka berbagi."
Kinara langsung memutar bola matanya jengah, lalu menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan dengan gerakan kasar. Ternyata memang tidak ada gunanya bicara baik-baik dan membuang air mata di depan monster arogan ini. Watak gila kontrol Rian sudah mendarah daging dan tidak akan pernah bisa diubah dengan untaian kata.
"Minggir..." usir Kinara ketus sembari menyentak tangan Rian agar menjauh dari tubuhnya. Dia menegakkan punggung, menatap Rian dengan rahang mengeras penuh kejengkelan. "Aku mau lanjut bersih-bersih."
Sementara itu, di luar pintu ganda basecamp lantai tiga, atmosfer keputusasaan yang berbeda sedang meremukkan pertahanan seorang pahlawan.
Randy masih berdiri mematung di koridor yang sepi. Kedua lengannya yang semula meronta liar kini telah terkulai lemas di sisi tubuhnya. Kuncian tangan Rama dan Rangga perlahan mengendur seiring dengan hilangnya sisa-sisa keberanian yang dibawa oleh cowok basket tersebut.
Kalimat Rama beberapa saat lalu masih terngiang hebat di dalam kepalanya, berputar bagai kaset rusak yang menyiksa batinnya.
“Satu-satunya alasan kenapa beasiswamu dipulihkan pagi ini adalah karena Kinara menyerahkan dirinya menjadi pelayan pribadi Rian demi kamu!”
Dada Randy bergemuruh hebat oleh rasa bersalah dan ketidakberdayaan yang luar biasa pekat. Dia adalah kapten tim basket, pahlawan yang selalu dipuji di lapangan, namun di hadapan kekuasaan finansial mutlak milik keluarga Pradifta, dia tidak lebih dari sekadar kerikil bodoh yang mudah diinjak sampai hancur. Firasat dan ketakutannya siang ini terbukti; Kinara mengorbankan kebebasannya murni demi melindunginya.
"Jadi... Kinara menjauhiku pagi ini... murni untuk melindungiku?" bisik Randy dengan suara yang teramat serak dan parau.
Rangga melepaskan cengkeramannya sepenuhnya dari bahu Randy, lalu mengembuskan napas panjang sembari bersandar pada dinding koridor. "Ya. Jadi kalau kamu masih punya otak, menjauhlah dari Kinara. Semakin kamu nekat mendekatinya, semakin gila Rian mengontrol dan menghancurkan hidupmu serta hidup gadis itu. Rian tidak pernah main-main dengan miliknya."
Randy mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Rasa cemburu, patah hati, dan fakta bahwa dirinya menjadi beban bagi kebebasan Kinara membuat hatinya terasa seperti diremas hingga hancur.
Dengan langkah yang gontai dan kepala yang tertunduk dalam-dalam, Randy akhirnya membalikkan badannya. Dia berjalan lunglai menyusuri koridor lantai tiga yang sunyi, meninggalkan area basecamp dengan menyeret seluruh puing-puing harga dirinya yang telah rata dengan tanah.
Mulai sore ini, Randy terpaksa menelan bulat-bulat kekalahannya, membiarkan gadis yang dia sayangi berputar sendirian di dalam poros jerat kendali sang monster gila kontrol bernama Rian Pradifta.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk