Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 bertemu kembali
Pukul sepuluh malam,
Motor sport milik Biel terlihat memasuki area parkir bawah sebuah club malam.
Area parkir yang khusus di peruntukkan bagi para pekerja club itu.
Setelah mematikan motornya dan melepas helm ful face-nya,
Gadis cantik berwajah dingin itu mulai melangkah memasuki area club melalui pintu belakang.
" hai brow...." sapanya sambil menepuk pundak belakang pada seseorang ketika ia telah sampai di ruang ganti.
Seseorang itu telah berada lebih dulu di sana dan sepertinya juga baru sampai, terlihat ia yang baru memasang celemek di dadanya.
" Hai Be.....kau datang ?! Kupikir kau menolak permintaan Scarlet mengingat kau tidak mengambil libur sama sekali selama dua bulan ini " ucap seseorang itu yang adalah Samy,
Salah satu rekan kerja Biel di club malam itu.
Mendengar ucapan sang teman, Biel hanya tersenyum.
Ia meletakkan tasnya dan juga jaketnya.
" aku butuh banyak uang Sam...." jawab Biel
" ckk....
uang terus yang kau pikirkan, memangnya kau mau mati di kubur dengan uang ?!
Pagi kau bekerja di kafe dan malam hari kau datang kemari.
Mau kau apakan uang uangmu itu he....?! " cecar Samy lagi dan lagi lagi Biel hanya mencebik sambil mengedikkan bahunya cuek.
Benar yang di katakan oleh Samy itu, ia memang memforsir tenaganya habis habisan selama ini. Pagi hingga sore ia bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe yang cukup ramai di kota ini.
Dan ketika malam,
Ia datang ke club ini juga untuk bekerja.
Samy tidak tahu untuk apa ia bekerja sekeras itu,
Samy juga tidak tahu pekerjaan sampingan yang ia jalani sejak hampir dua tahun lalu. sebuah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa dan masa depannya.
Jika laki laki itu tahu ...
entah komentar apa lagi yang akan laki laki itu berikan kepadanya.
Samy cukup perhatian kepadanya. Dia adalah teman yang ia temui pertama kali saat ia mulai menginjak kehidupan jalanan yang keras ini tiga tahun lalu.
Dan Samy juga yang kemudian membawanya dan memperkenalkan ia pada Jokey dan club malam ini.
Biel masih asyik memasukkan jaketnya kedalam loker ketika seseorang berpakaian rapi datang kepadanya.
Ia adalah Jokey, pemilik club ini.
" Be...kau datang menggantikan Scarlet ?! " tanyanya
" yups...."
" kalau begitu isi racikan ok...."
" Ok siap boss.....
tapi jangan lupa bayaranku, dua kali lipat karena kau tahu,
seharusnya itu bukan bagianku " jawab Biel meminta bayaran lebih atas tugas sebagai bartender saat ini karena seharusnya bagian itu bukan bagiannya hari ini.
" it's ok...don't worry babby...." jawab Joky sambil menepuk pundak Biel.
" bos... perbaiki panggilanmu padaku itu, aku tak suka mendengarnya " Biel protes.
sungguh panggilan Jokey kepadanya membuat ia merasa seperti wanita manja yang menjijikkan.
" ha ha ha.....!!! " Jokey tertawa lebar,
" sepertinya Tuhan salah melahirkan kau dalam bentuk perempuan Bee .....
Seharusnya kau berada di dalam tubuh laki laki saja jika seperti itu.
Perempuan tapi tak suka di perlakukan sebagai perempuan....
Lucu sekali kau ini Bee...." celoteh Jokey dan Biel hanya mencebik dan menatapnya tak suka.
" Bee....dengar nasehatku....kau cantik, kau itu sebenarnya cantik luar biasa....
kau hanya butuh sedikit sentuhan agar kau terlihat semakin cantik bak putri yang siap di jemput pangeran berkuda putih.
So.....
Saranku, persiapkan dirimu untuk pangeran yang siap menjemputmu " lanjut Jokey lagi.
" cuih....." Biel meludah kecil,
" sorry bos....kali ini saranmu tidak cocok untukku,
aku tidak butuh pangeran berkuda putih atau apalah itu.... " jawab Biel sambil berlalu dari tempat itu meninggalkan dua orang yang terpingkal melihat reaksinya barusan.
" dia benar wanita jadi jadian Sam....aku jadi kepo,
Bagaimana sosok yang akan mampu menaklukan hatinya nanti " ucap Jokey sambil mengusap bulir air mata yang keluar dari sudut matanya karena ia yang terlalu keras tertawa barusan.
" entahlah bos...
tapi jujur, sama sepertimu ....aku juga penasaran,
sosok seperti apa pasangannya nanti ?! " jawab Samy jujur.
" yang jelas....
itu bukan sosok dari salah satu di antara kita " lanjut Samy
" iya...kau benar....." jawab Jokey membenarkan ucapan salah satu pekerjanya itu.
Netra kedua laki laki dewasa itu masih mengikuti punggung Biel yang kian menjauh dan akhirnya hilang di telan tikungan koridor tempat itu.
🍀
Di tempat lain,
Tepatnya di dalam ruangan sebuah kantor polisi.
" bagaimana Ndan....?? jadi kita refres otak kita hari ini ?! " tanya Aris pada sang komandan.
Pekerjaan beberapa hari ini yang mereka jalani terasa begitu padat dan menguras tenaga.
Itu sebabnya ia merasa mereka butuh sedikit waktu untuk sekedar melemaskan otot.
" ok....ayo...." jawab Erick,
Pria tampan berwajah campuran Jawa yang ia peroleh dari sang ayah dan garis wajah Tionghoa yang ia peroleh dari sang ibu itu bangkit dari duduknya dan meraih jaketnya lalu memakainya.
Ia sudah berjanji kepada sang assistan sejak sore tadi memang.
Mendengar jawaban sang atasan, wajah Aris seketika berbinar.
Sudah beberapa bulan pindah bertugas di kota ini.
Baru kali ini ia akan sedikit bersantai.
Aris melakukan mobil menyusuri jalan raya beraspal dengan bersiul riang,
Di sisinya Erick duduk dengan tenang. perhatiannya tertuju pada ponsel di tangannya.
Beberapa panggilan dan pesan dari sang mama yang masuk sejak kemaren belum sempat ia buka sama sekali.
Erick keluar dari aplikasi yang baru saja ia buka tanpa berniat membuka pesan dari sang mama apalagi menelpon ulang sang mama.
Sudah beberapa tahun belakangan sejak ia memutuskan menjadi abdi negara yang itu artinya ia menentang keinginan sang mama.
Ia tak lagi sering bertemu dengan wanita yang melahirkannya itu.
Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya mobil yang di tumpangi Erick sampai di tempat yang mereka tuju.
Sebuah club yang menyajikan hiburan dunia malam yang konon katanya cukup terkenal di kalangan pebisnis dan anak anak remaja kota ini.
Letaknya memang cukup jauh dari pusat keramaian kota,
Tapi....
Melihat banyaknya kendaraan yang memenuhi area parkir tempat itu, Sepertinya yang di dengar Erick dan Aris tentang club itu tidaklah salah.
" kau ingin pesan wanita boss ?! " bisik Aris di telinga Erick ketika mereka telah masuk ke dalam ruangan dengan senyum smirk.
Erick tak menjawab pertanyaan Aris.
Aroma alkohol dan dentuman suara musik segera tercium oleh indera penciuman dan indera pendengaran kedua orang itu.
" boss ...." panggil Aris lagi.
Erick masih diam dan tak berniat menjawab pertanyaan rekan kerjanya itu.
Netranya mengedar ke penjuru ruangan untuk mencari tempat strategis untuknya duduk.
Namun ketika ia menyapu ruangan yang penuh dengan anak manusia dengan segala kesibukannya mencari kesenangan di tempat ini.
Tatapan matanya tertuju pada sesosok tubuh yang nampak sibuk dengan pekerjaannya meracik minuman di meja bartender sana.
Mata Erick terus tertuju kepada sosok itu dan seolah terkunci begitu saja.
" bos...ayo kita duduk " ajak Aris sambil menggeret lengan sang atasan menuju meja yang ia tuju.
Meja di pojokan namun bisa melihat semua sisi ruangan ini.
Erick menurut tanpa membantah, ia mengikuti langkah kaki Aris tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok bartender perempuan di depan sana.
Saat ini sosok itu terlihat tengah tertawa setelah memberikan segelas minuman yang baru saja ia buat kepada seseorang yang duduk di hadapannya.