Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengurangi Kegelisahan
Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter melepas stetoskop yang menggantung di lehernya. "Untuk sementara, kondisi Pak Pradipta cukup stabil."
Danendra yang berdiri di samping ranjang, akhirnya menghembuskan napas lega. "Syukurlah."
Namun ternyata dokter belum selesai, "tapi saya masih tetap ingin memastikan penyebab sesak yang Pak Pradipta alami kemarin. Karena ada keluhan nyeri dada, kita tidak boleh menganggapnya hanya sekedar kelelahan biasa."
"Jadi harus pemeriksaan apa lagi, Dok?" tanya Danendra dengan serius.
"Saya minta dilanjutkan rekam jantung terlebih dahulu, setelah itu pemeriksaan darah. Kalau hasilnya menunjukkan sesuatu yang perlu ditindaklanjuti, mungkin kita lanjutkan dengan pemeriksaan lain."
Pradipta langsung mengangguk setuju. "Baik."
"Yah, kita ikuti saja semua pemeriksaannya." Kata Danendra sambil membantu ayahnya turun dari ranjang pemeriksaan.
"Iya."
Beberapa saat setelah itu, mereka pun keluar dari ruang pemeriksaan yang langsung disambut oleh Ratih setelah lama menunggu di sana.
"Bagaimana Ayahmu, Danen?"
"Masih harus diperiksa lagi, Bu." Jawab Danendra, "tapi untuk sekarang kondisi Ayah stabil."
Ratih mengangguk lega. "Alhamdulillah," ucapnya meski wajahnya masih dipenuhi kecemasan.
"Jangan pasang wajah seperti mau menghadiri pemakaman, Ratih." Kata Pradipta mencoba mencairkan suasana yang membuat Ratih langsung menatap tajam kepadanya.
"Mas! Jangan bercanda begitu, aku sedang cemas."
Pradipta tertawa kecil. "Baik, baik."
Danendra ikut tersenyum meski hatinya masih belum sepenuhnya tenang.
Tak lama kemudian seorang perawat memanggil Pradipta untuk melakukan pemeriksaan rekam jantung. "Pak Pradipta?"
"Iya?"
"Silahkan ikut saya, Pak."
Danendra kembali menatap ibunya. "Bu, Ibu tunggu di sini saja ya, Bu. Kalau sudah selesai, kita lanjut pemeriksaan darah."
"Iya," jawab Ratih menurut pada putranya.
* *
Sementara itu, di TK Tunas Arunika, Niken sedang duduk di lantai bersama beberapa anak didiknya. Ia sedang mengajari mereka membuat bentuk bunga menggunakan kertas warna-warni.
"Ayo, siapa yang bisa membuat kelopak paling banyak?"
"Saya, Bu!"
"Saya juga!"
Suara riang anak-anak memenuhi ruang kelas yang membuat Niken tak bisa berhenti tersenyum. Namun di sela-sela kesibukannya, pikirannya beberapa kali sempat melayang kepada Ayah mertuanya. Kemudian tangannya diam-diam meraih ponsel yang tersimpan di dalam tas, ternyata tak ada pesan masuk setelah dilihatnya, ia lalu kembali memasukkannya ke dalam tas.
"Bu Niken...." Seorang murid menarik ujung bajunya.
"Iya?"
"Kenapa Bu Niken diam?" tanyanya yang dibalas senyuman oleh Niken.
"Tidak apa-apa. Ayo, kita lanjut membuat bunganya."
Anak itu mengangguk, kemudian Niken kembali melanjutkan mengajari murid-muridnya, meski di dalam hatinya ada kegelisahan yang belum juga hilang. Ia hanya berharap ketika ponselnya berdering nanti, yang datang adalah kabar dari Danendra bahwa semuanya baik-baik saja.
* *
Hampir satu jam lamanya pemeriksaan rekam jantung dan pengambilan sampel darah selesai dilakukan.
"Apa Ayah capek?" tanya Danendra sambil membantunya duduk di kursi tunggu.
"Iya, sedikit."
"Kalau begitu jangan banyak bergerak."
Pradipta terkekeh, "kalau anak sendiri sudah mulai mengatur begini, berarti Ayah memang sudah waktunya harus menurut."
Ratih yang duduk di samping mereka ikut tersenyum tanpa menambahkan.
Tak lama kemudian, dokter keluar membawa beberapa lembar hasil pemeriksaan awal. "Pak Pradipta?"
"Iya, Dok."
"Mari kita masuk sebentar."
Danendra dan Ratih saling berpandangan sebelum mengikuti dokter ke dalam ruang konsultasi. Pradipta duduk di hadapan dokter, sementara Danendra dan Ratih mengambil tempat di sisi kanan kirinya.
Kemudian dokter membuka hasil rekam jantung dan membaca beberapa catatan. "Untuk hasil rekam jantung, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan."
Ratih langsung menegakkan tubuh. "Apa itu, Dok?"
"Belum bisa dikatakan sesuatu yang serius, tapi ada sedikit perubahan yang membuat saya menyarankan pemeriksaan lanjutan." Kata dokter dengan suara tenang, namun membuat Danendra mengerutkan dahi.
"Pemeriksaan apa, Dok?"
"Untuk melihat bagaimana kondisi dan fungsi jantung secara lebih jelas, saya ingin Pak Pradipta melakukan ekokardiografi."
"Kalau memang perlu, saya mau jalani." Jawab Pradipta cepat yang membuat dokter tersenyum.
"Bagus. Untuk sementara, saya tidak ingin Bapak terlalu banyak aktivitas, jangan mengangkat beban berat, jangan terlalu lama berada di bawah sinar matahari, dan usahakan tidur cukup. Untuk pekerjaan di luar rumah, sebaiknya dikurangi dulu." Kata Dokter yang membuat Pradipta menghela napas.
"Kalau begitu tanaman saya bagaimana?"
"Tanaman Ayah akan baik-baik saja." Jawab Danendra cepat, "Ayah tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Danen bisa menyuruh orang mengurusnya," timpal Ratih yang akhirnya membuat Pradipta tertawa kecil.
"Baiklah."
Dokter pun ikut tersenyum, "kalau hasil ekokardiografi nanti baik, kita bisa lebih tenang. Kalau memang ada sesuatu yang perlu ditangani, kita bisa mengetahuinya lebih awal."
Danendra mengangguk mantap, "kapan pemeriksaannya bisa dilakukan, Dok?"
"Kalau tidak ada kendala, hari ini juga."
Danendra segera menjawab. "Lakukan saja, Dok."
Ratih menatap putranya. "Danen..."
"Tidak perlu menunggu lama, Ibu. Kalau bisa sekarang, kenapa tidak?"
Pradipta tidak membantah, ia justru menepuk pelan bahu putranya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan Ayah."
"Memang sudah seharusnya begitu, Ayah." Kata Danendra sambil tersenyum.
* *
Di saat yang sama, bel istirahat berbunyi di TK Tunas Arunika yang membuat sebagian anak-anak langsung berhamburan keluar. Niken baru saja selesai membantu merapikan meja ketika ponselnya bergetar di dalam tas.
Ia segera mengambilnya, sebuah pesan masuk dari Danendra muncul di layar.
"Pemeriksaan awal sudah selesai, tapi Ayah masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan."
Niken membaca pesan itu dua kali, kemudian mengetik balasan. "Bagaimana kondisi Ayah?"
Tidak lama kemudian balasan masuk kembali muncul di layar. "Untuk sekarang stabil. Jangan khawatir, aku akan kabari lagi setelah pemeriksaan selesai."
Niken mengembuskan napas panjang, setidaknya satu kekhawatiran sedikit mereda. Ia lalu kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Semoga benar-benar baik-baik saja," gumamnya pelan.
Niken berdiri di depan pintu kelas sambil memastikan semua anak berada dalam pengawasan guru. "Jangan berlari terlalu kencang ya, anak-anak..."
"Iya, Bu Niken." Jawab mereka serempak.
Niken tersenyum, kemudian berjalan menuju meja guru, mengambil minum, lalu duduk. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuka catatan kegiatan belajar di hari itu. Namun tetap sulit mengabaikannya, ia kembali merogoh ponsel dalam tasnya, kemudian kembali mengetik pesan kepada suaminya.
"Mas jangan lupa makan."
Tak lama kemudian, balasan masuk muncul di layar. "Iya, Bu Guru."
Kalimat itu membuat senyum kecil muncul di wajah Niken, setidaknya pesan itu membuat kegelisahan di dadanya sedikit berkurang.
Ia kemudian kembali menikmati waktu istirahat bersama guru-guru yang lainnya. Obrolan ringan dan sesekali tawa kecil membuat suasana ruang guru terasa hangat. Lalu mereka makan siang dan minum bersama sebelum kembali melanjutkan kegiatan belajar mengajarnya.
...****************...