NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

***

Burung-burung cerocokan mulai bersahutan di dahan pohon sawo luar jendela saat tirai malam benar-benar tersingkap. Sinar matahari pagi yang tipis perlahan menembus kisi-kisi jati, membentuk garis-garis cahaya keemasan yang memotong keheningan kamar utama.

Di atas ranjang, kelopak mata Larasati bergerak perlahan. Beban berat yang semalam menghimpit kepalanya kini perlahan menyusut, meninggalkan rasa ringan yang aneh, meski seluruh tubuhnya masih terasa seperti diloloskan dari persendian. Kesadarannya kembali secara bertahap. Hal pertama yang tertangkap oleh indranya adalah rasa hangat yang kokoh menyelimuti tangan kanannya.

Larasati menggerakkan jemarinya sedikit, lalu menoleh lemah.

Jantungnya berdesir kecil. Di pinggir ranjang, Raden Mas Baskoro terduduk dengan kepala tertunduk lesu. Pria empat puluh tahun yang biasanya berdiri tegak tanpa cela itu kini tampak begitu lelah. Pakaian beskap resminya sudah diganti dengan kemeja katun putih longgar yang tampak kusut di bagian lengan. Kedua telapak tangannya yang besar dan kasar masih menggenggam erat tangan kecil Larasati, menjaganya tetap hangat sepanjang malam. Gurat kaku di wajahnya sedikit mengendur karena lelap, menyisakan kerutan-kerutan samar di sudut mata yang menceritakan beban pikirannya.

Merasa ada gerakan dari jemari yang digenggamnya, kelopak mata Baskoro langsung terbuka. Sorot mata tajamnya seketika kembali fokus. Selama beberapa detik, tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang murni—tanpa amarah, tanpa ketakutan. Hanya ada sepasang mata sayu seorang gadis belia dan tatapan penuh kelegaan tersembunyi dari sang juragan.

Namun, kedekatan itu tidak berlangsung lama. Begitu kesadaran Baskoro pulih sepenuhnya, egonya sebagai penguasa rumah joglo langsung tersentak. Ia menyadari kerapuhan yang baru saja ia perlihatkan.

Dengan gerakan cepat yang terkesan buru-buru, Baskoro melepaskan genggaman tangannya dari Larasati. Ia menegakkan punggungnya, berdeham pelan, dan dalam sekejap mata, topeng besi yang kaku dan dingin itu telah kembali terpasang kokoh di wajahnya.

"Sudah bangun?" tanya Baskoro. Suaranya kembali berat, datar, dan sedingin es, seolah-olah kelembutan dan bisikan parau yang ia ucapkan semalam hanyalah bagian dari mimpi buruk demam Larasati.

Larasati mencoba menarik napas, tenggorokannya terasa sekering padang gersang. "R-Raden Mas..." bisiknya lirik, suaranya masih parau dan pecah. Ia mencoba bangkit untuk duduk, tetapi kepalanya langsung berdenyut nyeri, membuatnya kembali terkulai di atas bantal kapuk.

"Jangan banyak bertingkah kalau tubuhmu masih selemah itu," potong Baskoro tegas, berdiri dari duduknya dan merapikan kemejanya yang kusut. Ia berjalan menuju pintu kamar, membukanya sedikit, lalu memanggil pelayan yang berjaga di luar dengan nada perintah. "Mbok Sum! Bawa buburnya kemari sekarang. Istriku sudah sadar."

"Inggih, Raden Mas! Sendika dawuh," sahut suara Mbok Sum dari kejauhan yang terdengar sangat lega.

Baskoro kembali melangkah mendekati ranjang, berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Matanya menatap lurus ke arah Larasati yang kini memandangnya dengan tatapan bingung dan canggung.

"Demammu sudah turun," ucap Baskoro tanpa ekspresi. "Tapi itu bukan alasan bagimu untuk bermalas-malasan lebih lama. Di rumah ini, seorang Nyai tidak boleh terlihat lemah di depan para abdi dalem."

Larasati menundukkan wajahnya, meremas ujung selimut jarik tebal dengan tangan yang masih gemetar. "Kulo... kulo nyuwun pangapunten, Raden Mas. Kulo sudah menyusahkan Anda dan membatalkan urusan di balai desa."

Baskoro terdiam sesaat, rahangnya sedikit mengeras mendengar kata 'menyusahkan'. Sebelum ia sempat membalas, ketukan pelan di pintu memecah suasana. Mbok Sum masuk dengan kepala menunduk, membawa nampan kuningan berisi semangkuk bubur beras putih halus yang diberi tetesan kecap dan secangkir wedang sereh yang mengepulkan uap hangat.

"Letakkan di atas meja," perintah Baskoro pendek.

"Inggih, Raden Mas. Apakah ada hal lain yang perlu hamba siapkan untuk Gusti Nyai?" Mbok Sum bertanya dengan sangat hati-hati.

"Tidak ada. Keluar dan tutup pintunya."

Setelah Mbok Sum mundur dan pintu kembali merapat, Baskoro meraih mangkuk bubur yang masih panas itu. Ia duduk kembali di kursi kayu jati di pinggir ranjang, meletakkan mangkuk di pangkuannya. Ia menatap Larasati yang masih bergeming.

"Bangunlah sedikit. Bagaimana kamu bisa mengisi perutmu jika terus bertingkah seperti orang sekarat?" kata Baskoro, nadanya ketus namun tangannya bergerak membantu menyusun bantal di belakang punggung Larasati agar gadis itu bisa bersandar.

Larasati bergerak canggung, menahan rasa pening di kepalanya. Ketika posisinya sudah mapan, ia mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih sendok kuningan dari tangan Baskoro. "Biar... biar kulo makan sendiri, Raden Mas."

Namun, tangan Larasati begitu lemas hingga jemarinya tidak kuat mencengkeram gagang sendok dengan benar. Sendok itu bergetar hebat dan nyaris jatuh jika saja Baskoro tidak dengan sigap menangkapnya.

Baskoro menghela napas pendek, suara napasnya terdengar seperti dengusan kesal yang dipaksakan untuk menutupi rasa cemasnya. "Sudah kubilang, jangan keras kepala. Tanganmu bahkan tidak lebih kuat dari ranting kering."

Pria empat pukul tahun itu menyendok sedikit bubur halus, meniupnya dengan kaku beberapa kali hingga uap panasnya berkurang, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Larasati.

Larasati tertegun. Matanya membelalak kecil menatap sendok di depan wajahnya, lalu beralih menatap wajah kaku Baskoro. Sungguh pemandangan yang tidak masuk akal; seorang Raden Mas Baskoro, juragan terkaya yang ditakuti seluruh desa, kini sedang menyuapi seorang gadis desa dengan tangannya sendiri.

"Kenapa diam? Buka mulutmu, Larasati. Buburnya bisa dingin," perintah Baskoro, matanya menatap tajam namun tidak ada kilat amarah di sana.

Dengan rasa canggung yang luar biasa tebal, Larasati perlahan membuka bibirnya yang pecah-pecah dan menerima suapan pertama. Bubur hangat yang lembut itu mengalir melewati kerongkongannya, perlahan membawa sedikit energi ke dalam tubuhnya.

"Pintar," gumam Baskoro lirih, hampir tak terdengar, sebelum ia kembali menyendok bubur berikutnya.

Keheningan kembali merayap di antara mereka, hanya diselingi suara denting halus sendok yang beradu dengan mangkuk kuningan. Larasati menerima setiap suapan dengan mata yang terus mencuri pandang ke arah suaminya. Ada sesuatu yang berbeda. Pria di depannya ini semalam telah membakar satu-satunya kenangan berharganya, meneriakinya dengan amarah yang mengerikan, namun di pagi hari, pria yang sama pula yang menunggunya semalaman dan menyuapinya dengan penuh ketelatenan yang kaku.

"Raden Mas..." Larasati akhirnya memberanikan diri membuka suara setelah suapan kelima tertelan.

Baskoro menghentikan gerakan tangannya yang hendak meniup bubur. "Apa? Buburnya kurang garam?"

"Mboten..." Larasati menggeleng lemah. "Kulo... kulo ingin bertanya."

"Katakan."

"Semalam... saat kulo setengah sadar karena demam... apakah Raden Mas mengatakan sesuatu kepada kulo?" Larasati menatap lurus ke dalam manik mata Baskoro, mencoba mencari sisa-sisa kelembutan pria itu yang ia dengar samar dalam racikan igauannya semalam. "Tentang... tentang kain yang terbakar... dan tentang... rasa takut?"

Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Baskoro mendadak membeku di udara. Sorot matanya berkejaran dengan rasa terkejut yang buru-buru ia padamkan. Rahangnya mengeras seketika, dan ia meletakkan mangkuk bubur itu ke atas meja di samping ranjang dengan hentakan yang agak keras.

"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, Larasati. Orang yang sedang diserang demam tinggi sering kali mengigau dan mendengar suara-suara yang tidak nyata," jawab Baskoro dengan suara yang mendadak kembali dingin dan berwibawa, memutus semua harapan Larasati akan kelembutan semalam. "Aku tidak mengatakan apa-apa selain menyuruhmu diam."

Larasati mengecap bibirnya, rasa kecewa sedikit terbersit di hatinya, namun ia memilih untuk menunduk dan tidak membantah. Tentu saja, pikir Larasati, seorang juragan besar tidak akan mungkin memohon atau mengaku takut di depan gadis kecil sepertiku.

Baskoro berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela jati yang besar lalu membukanya lebar-lebar, membiarkan angin pagi pegunungan menyapu sisa-sisa bau gosong semalam dari dalam kamar. Pria itu berdiri memunggungi Larasati, memandangi halaman luas rumah joglo miliknya.

"Dengarkan aku baik-baik, Larasati," ucap Baskoro, suaranya terdengar menggema rendah di dalam ruangan. "Kejadian di sungai dan pertengkaran kita semalam... aku menganggapnya sudah selesai bersama abu di lantai itu. Mulai hari ini, aku tidak ingin melihatmu bertingkah kekanak-kanakan lagi."

Larasati meremas kain selimutnya. "Inggih, Raden Mas."

Baskoro membalikkan badannya perlahan, menatap istrinya dengan kewibawaan mutlak seorang kepala keluarga. "Aku menikahimu bukan untuk menyiksamu, dan aku juga tidak berniat membuatmu merasa terpenjara di sini. Tapi kamu harus paham satu hal. Mulai hari ini, kamu harus belajar patuh kepadaku. Bukan karena kamu takut akan amarahku, bukan pula karena surat perjanjian utang antara aku dan ayahmu."

Larasati mendongak, menatap punggung tegap suaminya. "Lalu... karena apa, Raden Mas?"

"Demi menjaga ketenangan di rumah ini. Demi kehormatanmu sendiri sebagai istri dari Raden Mas Baskoro," jawab Baskoro dengan penekanan di setiap kata. "Hukum di rumah joglo ini adalah melindungimu dari dunia luar, tetapi hukum itu juga menuntut kesetiaan dan kepatuhanmu yang mutlak. Jika kamu bisa menghormati batas suci dinding jati ini, maka aku berjanji tidak akan pernah ada satu pun hal buruk yang akan menyentuhmu atau keluargamu di desa."

Larasati tertegun. Kalimat Baskoro tidak terdengar seperti rayuan cinta, melainkan sebuah maklumat perkawinan feodal yang mengikat. Namun, di balik kata-kata kaku dan tegas itu, Larasati mulai menyadari bahwa suaminya sedang menawarkan sebuah perlindungan mutlak—sebuah jaminan keamanan yang dibayar dengan kepatuhannya.

Baskoro melangkah menuju pintu. Sebelum ia memutar gagang pintu kuningan, ia menoleh sedikit tanpa sepenuhnya berbalik. "Habiskan buburmu. Wedang serehnya harus diminum sampai habis. Nanti sore aku akan meminta Mbok Sum membawakan kain-kain baru untukmu. Belajarlah menjahit dan menata rumah. Mulai hari ini, jadilah Nyai yang sesungguhnya."

Pintu jati itu tertutup dengan suara ketukan yang berwibawa, meninggalkan Larasati sendirian di dalam kamar yang kini terasa sedikit lebih hangat oleh sinar matahari. Gadis tujuh belas tahun itu menatap cangkir wedang sereh yang masih mengepul, menyadari bahwa meski hatinya belum sepenuhnya menerima, sebuah lembaran baru yang penuh kepatuhan telah resmi dimulai di bawah atap joglo megah ini.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!