NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebohongan kecil

Suasana di koridor rumah sakit mendadak terasa begitu pekat dan menegangkan. Sebelum Bi Nisa sempat merangkai tanya atau melontarkan kecurigaan yang mulai bersarang di kepalanya, Aratala bergerak lebih cepat.

Dengan gerakan refleks yang sangat sigap, Aratala melangkah maju, langsung menyambar dan menggenggam erat tangan besar Elio. Cengkeraman tangannya terasa dingin namun begitu kuat, seolah memberikan isyarat mati-matian agar pria itu tidak membuka mulut dan membongkar rahasia mereka.

Elio sedikit tersentak. Ia menunduk, menatap jemari mungil Aratala yang melingkar erat di tangannya. Alis tebal pria itu terangkat sebelah, menunjukkan ekspresi penuh tanya atas kelakuan tiba-tiba sang istri.

Aratala lantas mendongak, memasang senyuman paling manis—meski terlihat sedikit dipaksakan—di hadapan Bi Nisa.

"Ehehe... Sebenarnya gini, Bi," potong Aratala cepat, menyela sebelum Bi Nisa sempat bersuara. Suaranya sedikit bergetar namun ia paksa agar terdengar santai. "Sebenarnya... aku sama Mas Elio sudah merencanakan ini dari kemarin-kemarin. Sengaja nggak ngasih tahu Bibi biar jadi kejutan, tapi aku lupa ngasih tahu mas Elio kalo aku bakal kasihnya sekarang!"

Bi Nisa yang tadinya tertegun, akhirnya tersenyum

"Iya! Mas " Aratala mengangguk-angguk antusias, sementara tangannya semakin mengeratkan genggaman pada tangan Elio, memberikan cubitan kecil penuh ancaman di balik punggung telapak tangan pria itu agar Elio ikut bermain peran. "Uang operasi Riyah itu... itu murni ide dan hasil kerja sama aku sama Mas Elio. Suamiku ini sengaja mendanai semuanya sebagai bentuk amal, tapi dia pemalu, Bi, nggak mau sok pamer kalau lagi berbuat baik."

Mendengar klaim ngawur sekaligus klaim sepihak itu, sudut bibir Elio berkedut menahan senyum. Pria itu melirik sekilas ke arah Aratala yang kini tengah menatapnya dengan pandangan memohon penuh keputusasaan. Alih-alih membongkar kebohongan istrinya, Elio justru merasa terhibur melihat betapa lihainya wanita itu memutar balikkan fakta demi menutupi asal-usul "uang panas" dari tangannya sendiri di hadapan wanita tua tersebut.

Elio akhirnya memutuskan untuk mengikuti permainan Aratala. Ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut, lalu menatap Bi Nisa dengan tenang.

"Benar apa kata Aratala, Bi," ucap Elio dengan suara baritonnya yang meyakinkan, menyesuaikan skenario sang istri dengan mulus. "Sudah kewajiban saya juga untuk membantu meringankan beban panti asuhan, terutama untuk kesehatan Riyah. Bibi tidak perlu merasa sungkan."

Bi Nisa yang mendengarnya langsung menghela napas panjang. Ketegangan dan rasa curiga di wajahnya serta-merta menguap, berganti dengan kelegaan yang teramat sangat. Wanita paruh baya itu menangkupkan kedua tangannya di dada, matanya kembali berkaca-kaca menatap pasangan di hadapannya penuh rasa syukur.

"Ya Allah... Nak Elio... Aratala... Bibi benar-benar nggak tahu harus ngucapin terima kasih pakai apa lagi," ucap Bi Nisa dengan suara bergetar haru. "Kalian berdua benar-benar penyelamat buat Riyah..."

Melihat Bi Nisa yang kembali luluh, Aratala dalam hati menghela napas panjang penuh kelegaan, sementara tangannya yang masih menggenggam tangan Elio perlahan mengendur. Namun, ia tidak menyadari bahwa tatapan tajam dan penuh arti kini tengah dikirimkan oleh Elio tepat ke arahnya.

Begitu ketegangan mereda dan Bi Nisa mengalihkan perhatiannya untuk menyeka air mata haru di sudut matanya, Aratala buru-buru menarik kembali tangannya. Ia melepaskan genggamannya dari tangan Elio, berniat mengambil jarak aman agar akting "istri teladan" yang baru saja ia mainkan bisa segera diakhiri.

Namun, belum sempat Aratala melangkah mundur, sebuah gerakan kilat terjadi.

Tangan besar Elio bergerak dengan sigap ke belakang, merengkuh pinggang ramping istrinya dengan kuat dan menarik tubuh Aratala hingga menempel sempurna di dada bidangnya. Aratala terkesiap hebat, matanya membelalak kaget saat menyadari ia kini terjebak dalam rengkuhan posesif pria itu di hadapan Bi Nisa.

"E-Eh..." Aratala membeku, nyaris melompat karena kaget.

Sebelum Aratala sempat protes atau melepaskan diri, sebuah suara bariton yang lembut namun sarat akan otoritas telak meluncur dari bibir Elio, memotong kepanikan sang istri.

"Kalau begitu, Bi, sepertinya Tala memang harus segera kembali ke rumah bersama saya," ucap Elio dengan nada tenang dan penuh wibawa, sementara salah satu tangannya masih melingkar posesif di pinggang Aratala, mengunci pergerakan wanita itu. "Hari ini dia sudah terlalu banyak beraktivitas di luar, padahal ia harus kuliah. Benar, kan, Sayang? Kamu tadi bilang bolos kuliah, aduh, Aratala..."

Elio sengaja menekankan kalimat terakhirnya dengan intonasi yang terdengar geli, mata tajamnya menunduk menatap manik mata Aratala yang kini membelalak garang. Pria itu menikmati betul ekspresi salah tingkah dan protes tertahan yang terpampang di wajah cantik istrinya.

Bi Nisa, yang tidak menyadari ketegangan tersembunyi di balik pelukan mesra itu, tersenyum maklum. Wanita paruh baya tersebut mengangguk-angguk lembut.

"Ah, benar juga! Kalau soal kuliah jangan sampai ditinggal, Nak. Kasihan orang tua kalau tahu anaknya bolos cuma demi ngurusin panti," nasihat Bi Nisa dengan tulus. Ia menatap Elio dengan pandangan penuh kekaguman. "Untung ada Nak Elio yang bisa ngingetin dan ngajak pulang. Suami siaga ya, Nak."

Aratala mendengus tertahan di dalam dekapan Elio. Di balik punggung suaminya, tangan Aratala mengepal erat, ingin sekali mencubit pinggang pria menyebalkan itu andai saja Bi Nisa tidak sedang berdiri di hadapan mereka. Suami siaga dari Hongkong! Ini mah suami tiran berkedok pawang siluman! rutuk Aratala dalam hati.

🌴🌴🌴

“...Kasihan orang tua kalau tahu anaknya bolos...”

Ingatan Bi Nisa seketika ditarik pada kenyataan pahit tentang latar belakang Aratala. Orang tua gadis itu telah lama tiada, meninggalkan Aratala sebatang kara sebelum akhirnya ia harus berjuang sendiri menjalani hidup hingga akhirnya terikat kontrak pernikahan dengan Elio.

Suasana di koridor rumah sakit itu mendadak menjadi senyap. Bi Nisa tampak menggigit bibirnya, merasa tidak enak hati karena telah salah berucap dan mengungkit luka lama Aratala.

"Ah... Ya Allah, maafkan Bibi, Nak..." suara Bi Nisa melemah, dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. Wanita tua itu menatap Aratala dengan pandangan nanar. "Bibi pikun... Bibi sempat lupa kalau..."

Melihat perubahan ekspresi Bi Nisa dan menyadari kesalahan ucapan wanita paruh baya tersebut, Aratala buru-buru memasang senyuman menenangkannya. Di balik rengkuhan Elio, tubuh Aratala sedikit menegang, namun ia berusaha menguasai diri agar Bi Nisa tidak merasa semakin bersalah.

"Eh? Nggak apa-apa kok, Bi! Nggak usah dipikirin, Tala sama sekali nggak tersinggung, kok," sela Aratala cepat dengan nada riang yang sengaja dilebih-lebihkan, melambaikan tangannya pelan untuk mencairkan suasana.

Sementara itu, Elio yang berdiri mendekap Aratala merasakan perubahan sekecil apa pun pada tubuh istrinya. Pria itu menangkap ketegangan yang sempat melintas di balik senyuman Aratala. Alih-alih membiarkan situasi menjadi semakin canggung atau memicu kesedihan mendalam, tangan besar Elio yang berada di pinggang Aratala memberikan usapan lembut yang menenangkan—sebuah gestur protektif tanpa sadar yang membuat Aratala mendadak salah tingkah.

Elio menatap Bi Nisa dengan sorot mata yang teduh namun tetap berwibawa.

"Tidak apa-apa, Bi. Bibi tidak perlu merasa bersalah," ucap Elio dengan suara baritonnya yang tenang, mengambil alih pembicaraan. "Lagi pula, sekarang Aratala sudah ada di bawah tanggung jawab saya. Saya yang akan memastikan dia tidak kekurangan apapun, termasuk menggantikan peran keluarga untuknya."

Mendengar kalimat tegas nan menenangkan dari Elio, dada Aratala bergemuruh hebat. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena kehangatan asing yang mendadak menyusup ke dalam hatinya mendengar pengakuan mutlak dari sang suami kontrak.

Di balik punggung tegap Elio—yang terlindung sempurna dari pandangan Bi Nisa—jari-jari lentik Aratala langsung melancarkan aksi balas dendam. Tanpa ragu, ia mencubit kencang kulit di pinggang pria itu.

“Aww!”

Elio spontan terpekik tertahan. Pria yang terkenal dingin dan berwibawa itu langsung menegakkan tubuhnya kaku, manik matanya melebar sejenak akibat sengatan rasa perih yang tiba-tiba. Ia menunduk, menatap sang istri dengan sorot mata tak percaya.

Melihat ekspresi kaget Elio yang berusaha ditahan di depan Bi Nisa, Aratala mengerlingkan matanya penuh kemenangan. Bibirnya tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa, sementara tangannya yang masih berada di balik punggung Elio memberikan satu cubitan kecil terakhir sebagai peringatan agar pria itu tidak berbicara sembarangan lagi.

Bi Nisa yang mendengar pekikan kecil Elio langsung menghentikan rasa bersalahnya, lalu menatap suami istri itu dengan kening berkerut cemas.

"Eh? Kenapa, Nak Elio? Ada yang salah?" tanya Bi Nisa khawatir.

Elio menarik napas pelan, meredam rasa perih di pinggangnya sambil melirik tajam ke arah Aratala yang berdiri di sampingnya dengan wajah tanpa dosa. Dengan rahang yang mengeras kaku, Elio menggeleng pelan seraya memasang senyuman kaku di hadapan wanita paruh baya itu.

"Ah... Tidak apa-apa, Bi," jawab Elio dengan suara yang sedikit ditekan, melirik penuh arti ke arah istrinya. "Hanya... sepertinya pinggang saya tiba-tiba dicubit sesuatu yang gemas. Efek kelelahan mungkin."

Mendengar sindiran terselubung itu, Aratala hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia buru-buru melepaskan diri dari rengkuhan Elio, merapikan pakaiannya, lalu menarik tangan Bi Nisa dengan lembut untuk mengalihkan perhatian.

"Udah ya, Bi! Tala sama Mas Elio harus pamit pulang sekarang, takut kesorean di jalan dan keburu macet. Nanti Tala bakal sering-sering jenguk Riyah ke sini kok!" pamit Aratala terburu-buru, tak ingin membiarkan Elio balas menjahilinya lebih lama lagi di tempat umum.

🌴🌴🌴

1
Tio Buki
Like iklan plus komen🙏👍
Nalara amora: makasihhh kaaa😭🙏
total 1 replies
Tio Buki
Semangat ya👍👍
Nalara amora: kaka juga semangat 🙏🤌🏻
total 1 replies
Tio Buki
Lanjut Thor 🙏🙏🙏
Nalara amora: iyaa kaaa😭
total 1 replies
Tio Buki
Iya
Tio Buki
Aku memang gila
Tio Buki
🤣🤣🤣🤣🤣
Tio Buki
Bahasa apa itu
Nalara amora: kaaaa😭😭🙏
total 1 replies
Tio Buki
Iya, sebentar
Tio Buki
Siapa panggil aku
Tio Buki
Nah betul kan
Nalara amora: apa ka yg bentuknya nihh🤣
total 1 replies
Tio Buki
Ngintip ya
Tio Buki
Jangan, iya
Nalara amora: kaaa😭
total 1 replies
Tio Buki
Tekan lah
Lasa Hardianti
Hati-hati loh Aratala ntar di hukum sma Elio cma gara-gara telpon nya ga diangkat /Facepalm/
Lasa Hardianti
Posesif amat sih Mas Elio/Facepalm/
Lasa Hardianti
Elio takut Bastian jadi saingannya/Chuckle/
Nalara amora: hehehe😭😭
total 1 replies
Lasa Hardianti
Cailah sa ae lu Elio bikin Aratala salting brutal🤣
Nalara amora: bisaa donk kaa🤭
total 1 replies
OlivéNoir
HUAAAHH PRIA MATANG
Nalara amora: pria matang 😭
total 1 replies
Lasa Hardianti
Loh berarti orang tua kandung Aratala kemana dong? Kok dia malah dibesarin di panti asuhan, ada backstory sedih kayaknya nih 😢
Nalara amora: hheeheh kaa😄
total 5 replies
Lasa Hardianti
Ku kira bakal jadi pacar ternyata langsung gas jadi istrinya, ibunya gercep juga/Chuckle/
Nalara amora: gecep bgt ka ini mahh 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!