1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 buku ketiga belas
Jam pasir itu terus mengalir Butiran pasir hitam jatuh satu per satu, seolah menghitung mundur waktu yang tersisa 13 hari Tidak lebih,Tidak kurang.
Alea mengambil jam pasir itu dengan hati-hati.
Saat jarinya menyentuh kaca...
Brak!
Sebuah kilasan muncul di kepalanya Ia melihat sebuah ruangan bundar yang sangat luas.
Di tengah ruangan berdiri meja batu dengan tiga belas kursi.
Dua belas kursi telah terisi oleh orang-orang berjubah hitam.
Satu kursi terakhir...
Masih kosong.
Di sandarannya terukir satu nama.
NAURA AZZAHRA
Alea tersentak dan menjatuhkan jam pasir.
"Alea!" seru Raka.
"Aku nggak apa-apa..."
"Tapi aku baru lihat sesuatu."
Ia menceritakan penglihatannya.
Wajah Elang langsung berubah serius.
"Itu Ruang Dewan."
"Tempat para pemimpin Organisasi XIII berkumpul."
Naura menatap Elang.
"Kamu pernah ke sana?"
Elang mengangguk pelan.
"Sekali."
"Itu juga sebelum aku kabur."
"Dan tidak semua anggota tahu letaknya."
Keanu menghela napas.
"Berarti kita harus menemukannya sebelum mereka menemukan kita."
Malam harinya...
Mereka berkumpul di rumah Alea.
Naya, Liora, Dimas, Keanu, Raka, Naura, dan Elang duduk mengelilingi meja.
Di tengah meja tergeletak semua petunjuk yang mereka miliki.
Foto-foto.
Peta.
Simbol XIII.
Dan jam pasir.
Tiba-tiba...
Kalung angka 13 milik Alea kembali bersinar.
Cahayanya membentuk sebuah lingkaran di atas meja.
Di tengah lingkaran itu muncul bayangan seorang gadis.
Rambut panjang.
Seragam sekolah.
Senyum yang sangat mereka kenal.
"Maya..."
bisik Alea.
Semua membeku.
Maya tersenyum kecil.
"Aku tidak punya banyak waktu."
"Sebelum kutukan runtuh..."
"...aku meninggalkan satu bagian dari kekuatanku di dalam kalung itu."
"Aku tahu..."
"...suatu hari mereka akan kembali."
Air mata Alea mulai mengalir.
"Kak Maya..."
Maya menggeleng pelan.
"Dengarkan baik-baik."
"Buku Hitam yang dihancurkan dulu..."
"...hanyalah salinan."
"Buku aslinya..."
"...masih ada."
Naura menelan ludah.
"Di mana?"
Maya mengangkat tangannya.
Bayangan sebuah perpustakaan tua muncul di udara.
Rak-rak tinggi.
Dinding batu.
Dan sebuah pintu besi besar.
Di atas pintu itu tertulis:
PERPUSTAKAAN XIII
"Di sanalah..."
"...Buku Ketiga Belas disimpan."
"Kalau organisasi itu berhasil mendapatkannya..."
"...semua kutukan yang pernah disegel akan bangkit kembali."
Ruangan langsung hening.
Alea mengepalkan tangannya.
"Berarti kita harus menemukannya lebih dulu."
Maya mengangguk.
"Benar."
"Tapi ingat..."
Tatapan Maya berubah sedih.
"Di antara kalian..."
"...ada seseorang yang tanpa sadar telah ditandai oleh Buku Ketiga Belas."
Semua saling memandang.
Naura.
Elang.
Raka.
Atau...
Yang lain?
Sebelum Maya sempat mengatakan siapa orang itu...
Bayangannya mulai memudar.
"Aku harus pergi."
"Alea..."
"Tolong..."
"...jangan ulangi kesalahan kami."
Cahaya putih menghilang.
Kalung Alea kembali redup.
Namun tepat saat itu...
Ponsel Elang berbunyi.
Ia membuka pesannya.
Wajahnya langsung pucat.
"Kenapa?" tanya Raka.
Elang memperlihatkan layar ponselnya.
Hanya ada satu foto.
Foto yang baru saja diambil beberapa detik lalu.
Foto seluruh kelompok mereka...
Yang diambil dari dalam rumah Alea.
Padahal...
Tidak ada seorang pun selain mereka di dalam rumah.
Di bagian bawah foto tertulis:
«"Kami sudah berada di antara kalian."»
Keheningan memenuhi ruang tamu Semua menatap foto di ponsel Elang Foto itu jelas baru saja diambil.
Sudut pengambilannya berasal dari arah tangga menuju lantai dua.
Padahal...
Sejak mereka berkumpul, tidak ada seorang pun yang naik ke atas.
"Siapa yang ada di sana?" bisik Naura.
Raka langsung berdiri.
"Aku cek."
"Aku ikut," kata Elang.
Mereka berdua menaiki tangga dengan langkah pelan.
Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi berderit.
Krek...
Krek...
Suasana terasa semakin mencekam.
Sementara di bawah, Alea, Naya, Keanu, Dimas, dan Liora tetap berjaga.
Raka membuka pintu kamar pertama.
Kosong.
Kamar kedua.
Kosong.
Gudang.
Kosong.
Hanya tersisa satu pintu di ujung lorong.
Pintu loteng.
Elang menghela napas.
"Kalau ada orang..."
"...pasti di sana."
Raka perlahan memutar gagang pintu.
Klik...
Pintu terbuka.
Gelap.
Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela kecil.
Tak ada siapa pun.
Namun di lantai loteng...
Terlihat jejak sepatu yang masih basah.
Jejak itu berakhir tepat di depan jendela.
Saat Raka membuka jendela...
Angin malam langsung menerpa wajahnya.
Di bawah sana...
Tidak ada siapa pun.
Mustahil seseorang melompat dari lantai dua tanpa meninggalkan jejak.
"Dia hilang..." gumam Raka.
Elang justru memperhatikan sesuatu di lantai.
Sebuah kartu hitam.
Dengan lambang XIII.
Di balik kartu itu tertulis:
«"Ujian ke 2 dimulai."»
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bawah.
"ALEA!"
Raka dan Elang langsung berlari turun.
Saat tiba di ruang tamu...
Semua lampu telah padam.
Hanya cahaya bulan yang menerangi ruangan.
Naura berdiri mematung.
Wajahnya pucat.
Di hadapannya...
Berdiri seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun.
Ia mengenakan gaun putih lusuh.
Rambutnya panjang menutupi sebagian wajah.
Namun yang membuat semua merinding...
Gadis itu memegang boneka kelinci berwarna merah muda.
Persis seperti boneka yang dulu sering dibawa Mira.
"A... siapa kamu?" tanya Naura.
Gadis kecil itu perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya normal.
Tidak hitam.
Tidak merah.
Ia tampak seperti anak biasa.
Dengan suara pelan ia berkata,
«"Aku bukan musuh."»
"Aku datang..."
"...untuk mengembalikan sesuatu."
Ia menyerahkan sebuah buku kecil kepada Alea.
Buku harian.
Di sampulnya tertulis nama yang membuat Alea membeku.
MIRA
"Ini..." bisik Alea.
"Buku harian Mira."
Gadis itu mengangguk.
"Sebelum Mira menghilang..."
"...dia menitipkan ini kepadaku."
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Liora.
Gadis itu tersenyum tipis.
"Namaku..."
Aira.
"Aku adik Mira."
Semua langsung terdiam.
Mira...
Ternyata memiliki seorang adik yang selama ini tidak pernah mereka ketahui.
Namun sebelum mereka sempat bertanya lebih banyak...
Aira menatap Alea dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan percaya semua kenangan."
"Karena..."
"...tidak semua masa lalu yang kalian ingat adalah kenyataan."
Sesaat kemudian...
Tubuh Aira perlahan berubah menjadi cahaya putih.
Dan menghilang.
Meninggalkan Buku Harian Mira di tangan Alea.
Saat Alea membuka halaman pertamanya...
Hanya ada satu kalimat.
«"Jika kamu membaca buku ini, berarti seseorang telah mengubah sejarah."»