Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Mida menahan napas.
"Aku nggak curiga, Bi. Aku pikir Gilang cuma mau ngomelin Harapan, seperti yang sering dia lakukan sama anak-anak kampung lainnya. Makanya aku panggil Harapan, terus aku antar sampai ketemu Gilang." Air mata Dapit kembali mengalir. "Begitu Harapan datang... Gilang langsung marah. Dia mukul Harapan... terus Harapan diseret ke arah kebun tebu sama Gilang dan beberapa temannya." Suara bocah itu semakin mengecil. "Aku takut, Bi... Aku benar-benar takut. Aku lari dari sana." Ia menangis sesenggukan sebelum melanjutkan. "Setelah itu... aku nggak tahu lagi apa yang terjadi sama Harapan. Aku nggak lihat lagi. Aku cuma tahu... Harapan dibawa ke kebun tebu."
Mida seakan kehilangan kekuatan pada kedua kakinya. Tubuhnya limbung hingga terduduk di tanah. Selama ini firasatnya ternyata tidak keliru. Harapan tidak pergi sendirian. Ada orang yang sengaja membawanya. Dan untuk pertama kalinya sejak putranya meninggal, Mida akhirnya mendapatkan secercah jawaban yang selama ini ia cari.
Mida menatap Dapit dengan mata yang sembap. Dadanya sesak mendengar setiap pengakuan yang keluar dari mulut bocah itu. Dengan suara bergetar, ia bertanya,"Kalau begitu... kenapa kamu nggak memberitahu Bibi dari dulu?"
Dapit langsung menangis lagi. Tangannya gemetar, napasnya tersengal, seolah ia kembali mengingat peristiwa yang selama ini menghantuinya. "Aku takut, Bu... aku benar-benar takut." Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Waktu aku lari... aku masih dengar suara Harapan nangis. Dia teriak minta tolong... dia menjerit..." Kalimat itu terhenti. Dapit terisak hebat hingga sulit bernapas. Beberapa saat kemudian ia melanjutkan dengan suara yang nyaris tak terdengar."...terus suaranya pelan... lalu diam." Air mata terus mengalir di pipinya."Aku pikir... semuanya sudah berakhir. Aku takut kalau aku cerita, mereka juga bakal nyakitin aku."
Mendengar pengakuan itu, dunia Mida seakan runtuh untuk kedua kalinya. Bayangan Harapan yang menangis, menjerit, dan memanggil pertolongan terus berputar di kepalanya. Tubuh Mida bergetar hebat. Ia menengadah ke langit, sementara air matanya mengalir tanpa henti. "Ya Allah..." Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.
Tak ada lagi kalimat yang sanggup menggambarkan hancurnya hati seorang ibu yang baru mengetahui bahwa anaknya mengembuskan napas terakhir dalam ketakutan, sementara dirinya tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya.
Di hadapan Mida, Dapit ikut menangis tersedu-sedu. Pagi itu, kesunyian kampung dipenuhi oleh tangis dua jiwa yang sama-sama terluka, seorang ibu yang kehilangan anaknya, dan seorang bocah yang harus hidup dengan kenangan yang akan menghantuinya seumur hidup.
***
Jiwa Mida benar-benar hancur. Pengakuan Dapit tadi terus terngiang di kepalanya. Suara Harapan yang menangis. Jeritan minta tolong. Lalu... sunyi. Mida tak sanggup membayangkan apa yang dialami putra semata wayangnya di saat-saat terakhir hidupnya.
Apakah Harapan memanggil namanya? Apakah anak itu berharap ibunya datang menyelamatkannya? Ataukah ia menangis sendirian, tanpa seorang pun yang menolong? Bayangan-bayangan itu menghantam hati Mida tanpa ampun. Kedua lututnya lemas. Tubuhnya jatuh bersimpuh di tanah. Tangannya mengepal tanah hingga jemarinya dipenuhi debu. Air mata mengalir deras, disusul tangis yang tak lagi mampu dibendung. "Harapanku... putraku..." Suaranya pecah. "Ya Allah... apa yang mereka lakukan pada anakku?" Mida menjerit sejadi-jadinya.
Jeritan itu menggema di antara rumah-rumah sederhana kampung, memecah kesunyian pagi. Tangisnya bukan lagi sekadar tangis kehilangan, melainkan ratapan seorang ibu yang baru mengetahui bahwa anaknya mengembuskan napas terakhir dalam ketakutan, sambil memohon pertolongan yang tak pernah datang.
Ia memukul-mukul dadanya sendiri, lalu memeluk wajahnya sambil terus menangis. "Maafkan ibu, Nak... Maafkan Ibu... Ibu nggak ada di sana waktu kamu memanggil... Ibu nggak bisa menyelamatkanmu..."
Tak ada lagi kata-kata yang mampu menghiburnya. Yang tersisa hanyalah seorang ibu yang memanggil nama anaknya berulang-ulang, seakan berharap suara itu dapat menembus langit dan sampai kepada putra yang telah lebih dulu pergi.
Nama Gilang membuat Mida terdiam. Ia mengenal siapa anak itu. Gilang adalah putra seorang bupati. Meski orang tuanya tinggal di kota, Gilang sudah beberapa bulantinggal di kampung bersama kakek dan neneknya. Menurut cerita warga, keputusan itu diambil karena Gilang sering tidak naik kelas dan berulang kali terlibat masalah semasa tinggal di kota. Orang tuanya berharap suasana kampung dan didikan sang kakek dapat mengubah sikapnya.
Kakek Gilang bukanlah orang sembarangan. Selain dikenal sebagai orang paling kaya di kampung itu, ia juga dihormati sebagai seorang ulama. Pondok pesantren yang didirikannya telah melahirkan banyak santri, dan nasihatnya selalu didengar oleh masyarakat. Hampir setiap persoalan kampung, warga akan meminta pendapatnya terlebih dahulu.
Mendengar nama Gilang disebut sebagai orang yang terakhir membawa Harapan ke kebun tebu, dada Mida kembali dipenuhi kegelisahan. Ia sadar, jalan yang harus ditempuh kini akan jauh lebih berat. Yang akan ia hadapi bukan hanya seorang anak, tetapi juga keluarga yang memiliki kekuasaan, harta, dan pengaruh besar di kampungnya. Sementara dirinya hanyalah seorang buruh pabrik tahu yang hidup di sebuah gubuk sederhana, tanpa uang, tanpa jabatan, dan tanpa siapa pun yang bisa melindunginya.
***
Dengan rekaman pengakuan Dapit di ponselnya, Mida kembali mendatangi kantor polisi. Kali ini langkahnya lebih mantap. Ia yakin, akhirnya ada seseorang yang bersedia menceritakan apa yang terjadi pada Harapan.
Di hadapan petugas, Mida menyerahkan ponsel tuanya. Petugas memutar rekaman itu hingga selesai. Ruangan menjadi hening selama beberapa saat. Namun jawaban yang diterima Mida kembali menghancurkan harapannya.
"Bu, kami sudah mendengar rekamannya. Tapi kesaksian ini masih belum cukup kuat sebagai dasar untuk menetapkan adanya tindak pidana. Kami membutuhkan bukti lain yang bisa menguatkan."
Mida terdiam. Dadanya terasa sesak. Dengan suara yang mulai bergetar, ia bertanya, "Kalau kesaksian ini saja belum bisa diproses... lalu bukti seperti apa lagi yang harus saya berikan, Pak?" Air matanya kembali mengalir. "Tolonglah saya... Saya sudah tidak tahu harus mencari ke mana lagi." Ia menatap petugas itu dengan mata yang merah. "Anak saya dibunuh... saya yakin itu." Begitu kalimat itu keluar dari bibirnya, Mida sendiri langsung terdiam. Tubuhnya mendadak gemetar. Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan dengan lantang apa yang selama ini hanya berani ia simpan di dalam hati.
Harapan dibunuh. Bukan sekadar meninggal. Bukan sekadar musibah. Melainkan dibunuh. Kesadaran itu menghantam batinnya begitu keras hingga kedua kakinya nyaris tak mampu menopang tubuhnya. Air mata kembali mengalir tanpa henti, sementara kepalanya dipenuhi bayangan Harapan yang menangis meminta tolong di tengah kebun tebu.
Mida menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ya Allah... ternyata selama ini anakku... dibunuh..." Kalimat itu terdengar lirih, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan dipenuhi kesunyian yang menyayat hati.
Mida tidak beranjak dari kantor polisi. Meski beberapa kali diminta pulang dengan alasan laporannya belum dapat diproses, ia tetap bertahan. Ia duduk di lantai teras, memeluk ponsel tua yang berisi rekaman pengakuan Dapit, seolah itulah satu-satunya harapan yang masih ia miliki.