NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Malam semakin larut, namun kemeriahan di aula utama Hotel Marina Bay Sands belum juga meredup. Musik beralun menjadi irama yang lebih santai, tamu-tamu mulai bergerak berkeliling menikmati hidangan penutup eksklusif dan minuman berkelas dunia. Di tengah ruangan, Adelin Yhosep masih menjadi pusat sorotan ribuan pasang mata. Ia tersenyum, melambaikan tangan, dan menyapa setiap orang yang mendekat dengan keramahan yang terlatih sempurna. Di sampingnya berdiri Gyantara Raharja, yang sesekali merangkul bahunya lembut, seolah tak ingin melepaskan calon istrinya itu walau sedetik pun.

Namun di balik senyum manis yang tak lepas dari wajahnya, hati Adelin sedang dilanda rasa gelisah dan iri yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Saat Gyantara berjalan menjauh sebentar untuk menyapa sekelompok pengusaha asal Eropa, Adelin mundur perlahan ke sudut teras kaca yang agak sepi. Ia menatap pantulannya di kaca jendela besar yang memantulkan cahaya lampu kota Singapura yang berkelap-kelip. Ia cantik, ia terkenal, ia akan segera menjadi istri dari pria paling diidamkan se-Asia Tenggara—apa lagi yang kurang? Mengapa hatinya masih terasa kosong dan gelisah?

Jawabannya terngiang jelas di kepalanya: Adelia.

Selama ini ia berpikir, jika ia mengambil semua perhatian, semua pujian, dan semua kasih sayang orang tua, ia akan merasa bahagia. Tapi semakin ia mendapatkan segalanya, semakin ia sadar bahwa ketakutan terbesarnya bukanlah kemiskinan atau kegagalan—melainkan kemungkinan bahwa suatu hari nanti, orang-orang akan melihat siapa adiknya yang sebenarnya.

Ia teringat saat kecil dulu. Saat mereka baru masuk sekolah dasar, guru mereka pernah memuji kecerdasan Adelia di depan semua orang. Bagaimana Adelia bisa menghafal puisi panjang dalam sekali dengar, bagaimana ia bisa menjawab soal matematika sulit dengan cepat, bagaimana ia selalu mendapat nilai tertinggi tanpa harus terlihat berusaha keras. Orang tua mereka saat itu hanya diam saja, tapi Adelin melihat kilat kebanggaan yang tak sengaja terlintas di mata ibunya—kilat yang tak pernah ia lihat saat dirinya yang dipuji.

Sejak hari itu, Adelin sadar: satu-satunya cara agar ia menjadi yang paling berharga adalah dengan memastikan Adelia tidak pernah punya kesempatan untuk bersinar. Ia menyembunyikan prestasi adiknya, ia memutarbalikkan fakta, ia membuat orang tua mereka percaya bahwa Adelia adalah anak yang nakal dan pembangkang. Dan ia berhasil—sampai hari ini.

Tapi kemenangan itu terasa hambar. Karena ia tahu, semua yang ia miliki hari ini adalah hasil menutup jalan orang lain, bukan karena ia benar-benar lebih baik. Dan yang paling menyakitkan: meski ia sudah mengambil segalanya, ia tetap merasa iri pada Adelia. Iri pada ketulusan hati adiknya yang tak pernah ia miliki, iri pada ketenangan yang kadang terlihat di mata Adelia saat ia sendirian, iri pada fakta bahwa jika Adelia mau, ia bisa dengan mudah menyaingi bahkan melampaui dirinya.

"Kamu sedang memikirkan apa sendirian di sini?"

Suara Gyantara terdengar lembut dari belakang, membuat Adelin tersentak kaget. Ia segera menghapus bayang-bayang keresahan dari wajahnya, lalu berbalik dengan senyum paling manis yang ia punya.

"Ah, tidak ada, Tantara. Aku hanya kagum melihat pemandangan kota dari sini. Indah sekali."

Gyantara melangkah mendekat, berdiri di sampingnya sambil menatap ke luar jendela. Namun matanya tak benar-benar melihat gedung pencakar langit di kejauhan. Ia menatap pantulan Adelin di kaca, lalu bertanya dengan nada santai namun penuh selidik:

"Kamu tidak pernah merasa kesepian, Del? Atau merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupmu?"

Adelin menelan ludah gugup. "Tidak... kenapa kamu bertanya begitu?"

"Entahlah," Gyantara mengangkat bahu pelan. "Kadang aku melihatmu sangat ceria dan percaya diri di depan orang banyak, tapi ada saat-saat matamu terlihat kosong. Seolah kamu sedang berlari mengejar sesuatu yang tak pernah bisa kau gapai. Atau mungkin... kamu sedang lari dari sesuatu yang tak ingin kau hadapi?"

Jantung Adelin berdegup kencang. Apakah Gyantara mulai curiga? Apakah ia tahu ada sesuatu yang ia sembunyikan? Ia segera merangkul lengan pria itu, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Gyantara dengan nada memelas.

"Kamu bicara aneh sekali. Aku hanya ingin kita bahagia saja. Aku tidak ingin ada hal lain yang mengganggu kita. Kamu mencintaiku kan? Hanya aku?"

Gyantara menatap wajahnya lekat-lekat sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku mencintai wanita yang aku kenal selama ini. Tapi aku juga tidak suka ada kebohongan di antara kita, Adelin. Sekecil apa pun itu."

Pria itu berbalik kembali masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Adelin yang berdiri kaku di tempatnya. Rasa iri kini bercampur dengan ketakutan yang nyata. Ia sadar Gyantara bukan orang yang bisa dibodohi selamanya. Semakin lama ia menutupi keberadaan Adelia, semakin besar risiko rahasia itu terbongkar—dan itu berarti kehancuran bagi dirinya.

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, di rumah besar yang sunyi di Indonesia, Adelia duduk di tepi jendela yang gelap. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus melayang pada pesta yang sedang berlangsung, pada kebahagiaan kakaknya, dan pada pesan singkat dari sahabatnya yang baru saja ia baca ulang berkali-kali.

Ia teringat ucapan Julian: "Kamu berhak bahagia, Del. Berhak dikenal atas nama sendiri."

Ia teringat ucapan Tama: "Jangan biarkan rasa takut menguasaimu selamanya."

Dan entah mengapa, ia juga teringat tatapan Gyantara yang dingin namun penuh pertanyaan. Tatapan yang seolah tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Di dalam hatinya yang paling dalam, rasa iri juga sempat muncul sesaat. Bukan iri pada kemewahan atau cincin berlian itu, melainkan iri karena kakaknya dicintai secara terbuka, diakui keberadaannya, dan didukung oleh semua orang. Sedangkan dirinya, harus menyembunyikan wajah, menyembunyikan nama, dan menyembunyikan rasa sakitnya sendirian.

Namun Adelia segera menggeleng pelan. Ia tak ingin menjadi seperti Adelin yang membenci orang lain demi merasa berharga. Ia ingin suatu hari nanti, jika ia berhasil pergi dari sini, ia bisa membuktikan nilainya lewat usahanya sendiri—lewat kecerdasannya, lewat karya-karyanya, dan lewat ketulusan hatinya yang tak pernah luntur meski sering disakiti.

Pagi harinya, saat acara pertunangan resmi berakhir dan tamu mulai pulang ke negara masing-masing, Julian dan Tama sempat berpapasan dengan Rama Febrian di area bandara Singapura. Wajah asisten pribadi Gyantara itu tampak serius.

"Gyantara memintaku menyelidiki lebih dalam soal keluarga Yhosep," bisik Rama saat mereka berdua berbicara di sudut ruang tunggu. "Dia menemukan foto lama di berita koran sepuluh tahun lalu. Foto itu menampilkan dua anak perempuan yang kemiripannya luar biasa. Dan salah satu dari mereka adalah Adelia."

Julian dan Tama saling berpandangan kaget. "Dia sudah tahu?"

"Belum sepenuhnya," jawab Rama. "Tapi dia yakin keluarga Yhosep sengaja menyembunyikan identitas adiknya. Dia juga bertanya-tanya: mengapa orang tua bisa begitu membedakan kasih sayang pada anak kandungnya sendiri? Dan yang paling penting... dia mulai bertanya-tanya, apakah semua sifat lemah lembut yang ia kenal pada Adelin itu benar-benar asli, atau hanya topeng yang dipakai untuk menutupi rasa iri yang mendalam?"

Mendengar itu, dada Julian terasa sesak. "Jadi Gyantara mulai menyadari bahwa rasa iri yang disembunyikan Adelin itulah sumber dari semua penderitaan Adelia?"

"Sepertinya begitu," ujar Rama pelan. "Dan satu hal lagi. Gyantara berpesan: jika ada hal yang disembunyikan, maka ada alasan kuat di baliknya. Dan dia tidak akan berhenti sampai dia menemukan alasan yang sebenarnya."

Di pesawat yang akan membawa mereka pulang ke Indonesia, Julian menatap jendela dengan pandangan jauh ke depan. Ia sadar, rasa iri yang disembunyikan Adelin bukan hanya merusak hati adiknya—ia juga perlahan menghancurkan kepercayaan yang baru saja mulai dibangun antara dirinya dengan Gyantara. Dan tak lama lagi, topeng yang selama ini melindungi Adelin akan mulai retak.

Sementara itu, di rumah Yhosep, Adelin yang baru saja pulang dengan pesawat pribadi langsung berjalan menuju kamar Adelia. Ia membuka pintu yang terkunci itu dengan kunci cadangan. Ia melihat adiknya sedang duduk tenang membaca buku, tanpa menangis, tanpa mengeluh.

Pemandangan itu justru membuat rasa iri Adelin semakin meluap. Ia mendekat perlahan, lalu berbisik dengan suara bergetar karena emosi yang tertahan:

"Kamu senang kan melihatku sukses, Del? Atau kamu diam saja karena sedang menunggu waktumu untuk merebut semuanya dariku? Jangan harap. Selama aku masih bernapas, kamu tidak akan pernah bisa bersinar lebih terang dariku."

Adelia menutup bukunya pelan, lalu menatap kakaknya dengan mata yang jernih dan tenang.

"Aku tidak ingin merebut apa pun milikmu, Kak. Aku hanya ingin punya tempat untuk diriku sendiri. Tempat di mana aku tidak harus menjadi bayang-bayangmu."

Kalimat sederhana itu justru membuat Adelin terdiam. Ia tak sanggup menjawab. Karena di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu Adelia berkata jujur. Dan ketulusan itulah yang paling ia takuti.

1
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!