Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kenzo melangkah kembali ke ruang praktiknya dengan napas yang masih memburu.
Aura dingin dan berbahaya yang biasanya ia sembunyikan di balik jas putih kini menguar kuat, membuat perawat yang berjaga di dalam ruangan langsung menunduk takut.
Pria itu langsung menyambar tetikus komputer di mejanya, membuka sistem data pasien Rumah Sakit Husada dengan gerakan cepat.
Netranya menatap tajam layar monitor yang menampilkan profil lengkap pasien yang baru saja diperiksanya.
Nama: Liana
Nomor Telepon: 0812-xxxx-xxxx
Alamat: Jalan Anggrek, Kost No. 14
Sebuah senyum miring yang sarat akan obsesi gelap terukir di bibir tegas Kenzo.
Rahangnya mengeras saat jemarinya menyentuh layar digital itu, seolah sedang menyentuh mangsanya secara langsung.
"Aku menemukanmu, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi," gumam Kenzo berbisik rendah, dipenuhi intrik tirani yang mutlak.
Sementara itu, di kamar mandi lantai dasar, Liana baru saja keluar setelah menumpahkan seluruh isi perutnya hingga lemas.
Wajahnya yang pucat disekanya dengan tisu seadanya.
Sambil mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan mencengkeram tas kanvasnya erat-erat, ia berjalan tertatih menuju loket apotek.
Ia tahu ia harus kuat demi janin yang baru saja dinyatakan tumbuh di rahimnya.
Liana menyerahkan kertas resep itu kepada petugas apotek.
Petugas apotek menerima kertas tersebut dan langsung memindai kode pasien pada sistem.
Detik itu juga, sebuah notifikasi khusus berkedip di layarnya—sebuah tanda peringatan yang sengaja dipasang oleh Kenzo untuk melacak nama Liana.
Mengikuti prosedur darurat yang diminta sang dokter spesialis, apoteker itu segera meraih telepon kabel dan menghubungi ekstensi ruang praktik Dokter Kenzo.
Drttt... Drttt...
Kenzo yang baru saja berniat mengganti jas putihnya dengan jaket kulit Black Cobra tersentak saat telepon di mejanya berdering. Ia mengangkatnya dengan cepat.
"Halo, Dokter Kenzo. Ini dari bagian apotek lantai dasar. Pasien atas nama Nona Liana saat ini sedang mengantre untuk menebus obatnya," lapor petugas apotek di seberang sana.
Mata Kenzo melebar. Ia mengira wanita itu sudah kabur jauh meninggalkan rumah sakit, ternyata Liana masih berada di dalam teritorinya!
"Tahan dia. Lambatkan proses pembuatan obatnya," perintah Kenzo mutlak sebelum memutus sambungan telepon.
Tanpa membuang waktu, Kenzo langsung menekan nomor internal pos keamanan rumah sakit.
"Hubungi satpam di lobi utama dan area apotek sekarang. Cegat dia setelah menerima obat, katakan ada administrasi yang belum selesai. Jangan biarkan dia keluar dari gedung!"
Kenzo berbalik menatap perawat pribadinya yang masih gemetar di sudut ruangan.
Transformasi dirinya kini telah sempurna kembali menjadi pemimpin Black Cobra yang tak kenal ampun.
"Alihkan seluruh sisa pasienku hari ini ke Dokter Ibra. Katakan aku ada urusan darurat yang tidak bisa ditunda," ucap Kenzo dengan suara bariton yang dingin dan penuh penekanan.
"Dan aku tunggu di parkiran. Pastikan satpam membawa wanita itu ke area parkir VIP."
Tanpa menunggu jawaban perawatnya, Kenzo menyambar kunci mobil dan melangkah lebar meninggalkan ruangan dengan aura intimidasi yang pekat.
Perburuan yang ia tunggu-tunggu akhirnya mencapai puncaknya di tempat ini.
Liana masih berdiri dengan tubuh lemas di depan loket apotek, meremas ujung sweater-nya yang beraroma minyak kayu putih.
Di dalam hatinya, ia hanya ingin segera mendapatkan obat mual dan vitamin itu, lalu pulang ke kostnya untuk mengunci diri dari dunia.
Namun, lamunannya buyar ketika seorang petugas satpam berbadan tegap tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Nona Liana?" tanya satpam itu dengan nada tegas namun sopan.
Liana tersentak sedikit, lalu mengangguk pelan dari balik maskernya.
"Iya, saya. Ada apa, ya, Pak?"
"Mari ikut saya sebentar, Nona. Ada beberapa hal dari bagian administrasi medis yang perlu ditanyakan dan dikonfirmasi ulang," ucap satpam tersebut sambil memberi isyarat tangan agar Liana mengikutinya.
Liana yang polos dan tidak menaruh curiga akhirnya menganggukkan kepala.
"Oh, baik, Pak."
Ia melangkah mengikuti satpam tersebut melewati koridor demi koridor.
Namun, dahi Liana mengernyit ketika mereka justru keluar dari gedung utama dan berjalan menuju ke arah area parkir khusus dokter yang tampak sepi dan tertutup.
"Maaf, Pak. Ada apa ya, Pak? Kenapa kita ke parkiran?" tanya Liana mulai merasa tidak tenang. Langkah kakinya melambat.
Sebelum satpam itu menjawab, keheningan area parkir itu dipecah oleh suara langkah kaki yang mantap.
Liana mendongak dan seketika terkejut melihat sosok Dokter Kenzo—tanpa jas putihnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku—berjalan mendekat dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Kenzo menatap satpam itu sekilas. "Kalian boleh pergi," ucap Kenzo dingin.
"Baik, Dok," jawab satpam itu patuh, lalu segera berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.
Liana semakin kebingungan dan merasa terancam.
Ia memeluk tas kanvasnya erat-erat di dada. "Ada apa ya, Dok? Kenapa saya dibawa ke sini?"
Kenzo tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu kursi penumpang depan dari mobil SUV hitam mewahnya yang terparkir di sana.
"Masuklah ke mobil."
"Ada apa, Dok? Obat saya belum—"
"Masuklah dulu, Liana," potong Kenzo. Nada suaranya tidak lagi selembut saat di ruang periksa. Itu adalah suara perintah yang mutlak, dingin, dan berkuasa.
Takut membuat keributan di rumah sakit, Liana akhirnya melangkah masuk dan duduk di kursi penumpang.
Kenzo segera memutar ke arah kemudi, masuk, dan menutup pintu mobil dengan bantingan pelan yang terasa begitu mengurung.
Sebelum Liana sempat bertanya lagi, Kenzo berbalik menatapnya dengan netra gelap yang menembus langsung ke manik mata Liana.
"Mana bandana-ku?"
Deg!
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Kenzo, seketika membuat jantung Liana berhenti berdetak.
Seluruh pasokan oksigen di dalam mobil mewah itu seolah lenyap. Liana mematung, darahnya berdesir luar biasa dingin.
"M-maksud Anda...?" bisik Liana, berusaha berpura-pura tidak mengerti meski suaranya sudah bergetar hebat penuh ketakutan.
"Kain hitam itu... yang berlogo Kz. Yang kamu sembunyikan di dalam tasmu," cecar Kenzo dengan tatapan yang mengunci pergerakan Liana.
Kesadaran Liana menghantamnya bagai petir di siang bolong.
Suara bariton ini... getaran berbahaya ini... dan nama "Kz" di bandana itu.
"Kamu...?" Liana menatap Kenzo dengan mata membelalak horor.
Air mata kepanikan langsung menggenang di pelupuk matanya.
Dokter kandungan yang dihormati ini, adalah iblis dari malam tragis di semak-semak itu!
Kenzo memajukan tubuhnya sedikit, mencengkeram kemudi dengan satu tangan.
"Iya, aku lelaki malam itu. Dan aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Dia anakku juga, Liana."
"Jangan mimpi!!" teriak Liana histeris.
Rasa jijik, takut, dan trauma bercampur menjadi satu kemarahan yang meluap.
Liana dengan panik langsung meraih tuas pintu mobil, mencoba membukanya dengan kasar.
Namun, sebelum pintu itu terbuka, terdengar suara klek yang nyaring.
Kenzo telah mengunci seluruh pintu mobilnya secara otomatis dari panel kemudi.
"Buka! Buka pintunya!" Liana memukul-mukul kaca jendela mobil dengan histeris.
"Tolong! Tolong aku!"
"Tidak akan ada yang mendengarmu di sini, Liana. Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu lagi," ucap Kenzo, mencoba meraih pundak Liana.
"Biadab kamu! Jangan sentuh aku!" jerit Liana sekencang-kencangnya.
Dalam kepanikan yang memuncak, mata Liana menangkap sebuah benda hitam—laras senjata api—yang terselip di balik jaket kulit Kenzo yang diletakkan di konsol tengah.
Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting bertahan hidup yang luar biasa, Liana mengangkat kakinya dan menendang senjata itu dengan keras hingga terjatuh ke bawah kursi, sekaligus menghantam tangan Kenzo yang mencoba menggapainya.
Agh!
Kenzo mengaduh pelan saat tangannya terhentak.
Memanfaatkan kelengahan Kenzo yang sepersekian detik itu, jemari Liana yang gemetar dengan cepat menekan tombol pembuka kunci otomatis di panel pintu dekat lengannya.
Ceklek!
Pintu mobil terbuka. Liana langsung menghambur keluar dari mobil mewah itu tanpa menoleh lagi.
Ia berlari sekencang-kencangnya dengan sisa tenaga yang ia miliki, air matanya luruh membasahi pipi.
Begitu sampai di lobi luar rumah sakit, Liana melihat sebuah taksi kosong yang baru saja menurunkan penumpang.
Tanpa membuang waktu, Liana langsung membuka pintu belakang taksi tersebut dan masuk ke dalam.
"Pak, jalan! Tolong cepat jalan sekarang juga!" seru Liana histeris kepada sopir taksi.
Sopir taksi yang terkejut melihat kondisi penumpangnya yang kacau dan menangis langsung menginjak gas, meninggalkan area Rumah Sakit Husada dengan cepat.
Dari kaca belakang taksi, Liana bisa melihat sosok Kenzo yang baru saja keluar ke lobi, berdiri menatap kepergian taksinya dengan sorot mata gelap yang dipenuhi obsesi dingin.
Liana merapatkan tubuhnya ke kursi, menangis tergugu, menyadari bahwa monster itu kini telah mengetahui siapa dirinya dan di mana ia berada.
Bukannya merintih kesakitan akibat tendangan brutal Liana pada tangannya, Kenzo justru perlahan menegakkan tubuhnya.
Pria itu menyandarkan punggung ke kursi kemudi, lalu mengusap punggung tangannya yang memar dengan ibu jari.
Sebuah senyuman manis—namun teramat picik dan mengerikan—terukir di bibirnya yang tegas. Tatapan matanya yang gelap mengunci siluet taksi yang perlahan menghilang di balik gerbang rumah sakit.
"Cantik juga kamu saat ketakutan," bisik Kenzo rendah, suaranya bergetar oleh gairah obsesi yang kian membakar dada.
Pembangkangan Liana justru menjadi bahan bakar baru bagi jiwa sosiopatnya.
Wanita itu tidak memohon atau menyerah, dan itu membuat insting berburunya menggila.
Kenzo meraih ponselnya yang tergeletak di dasbor, lalu menekan tombol panggilan cepat.
Hanya butuh satu nada sambung sebelum suara di seberang sana menjawab dengan sigap.
"Ya, Bos?" suara Willy terdengar di pelantang telepon.
Kenzo terkekeh pelan, sebuah suara yang sanggup membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ngeri.
"Nanti, ikut aku ke alamat yang akan kukirimkan."
Di seberang telepon, Willy mengerutkan kening, menangkap nada suara tak biasa dari sang pemimpin tertinggi Black Cobra.
"Alamat? Siapa yang kita incar malam ini, Kenzo? Geng saingan lagi?"
Kenzo mengusap kemudi mobilnya dengan gerakan sensual, seolah sedang membelai kulit wanita yang baru saja melarikan diri darinya.
"Aku sudah menemukan ratuku, Willy. Dia sangat cantik sekali," ucap Kenzo dengan penekanan yang mutlak pada kata 'ratuku'.
Kilatan matanya menggelap, dipenuhi kepemilikan yang tirani.
"Dan, dia sedang hamil anakku."
Keheningan sempat merayap di seberang telepon saat Willy mencoba mencerna kalimat barusan, sebelum akhirnya terdengar helaan napas berat penuh antisipasi.
Kenzo memutus sambungan telepon sepihak. Ia menghidupkan mesin mobil SUV hitamnya yang meraung kuat, bersiap untuk mempersiapkan jebakan malam ini.
Liana boleh saja berlari ke ujung dunia menggunakan taksi, tetapi bagi Kenzo, mangsanya sudah resmi masuk ke dalam sangkar besi miliknya.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak