“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: JANJI SUCI DI ATAS KEBOHONGAN
Hening.
Gereja yang mampu menampung ribuan orang itu mendadak terasa sesak oleh keheningan yang mencekam.
Suara detak jam besar di sudut ruangan seolah berdentum sekeras palu hakim yang siap menjatuhkan vonis.
Alesha berdiri kaku di samping kursi roda Matteo, merasakan ribuan pasang mata tamu undangan kaum elit Roma yang haus akan skandal, menusuk punggungnya seperti jarum-jarum es.
Matteo Al-Ricci tidak sedikit pun menggerakkan kepalanya.
Ia duduk tegak, bahunya yang lebar terbungkus jas custom berwarna arang yang terlihat sangat mahal, namun auranya memancarkan kedinginan yang mampu membekukan udara di sekitarnya.
Pendeta tua yang memimpin upacara itu berdeham, suaranya gemetar saat memulai ucapan janji suci.
"Matteo Al-Ricci," suara pendeta bergema di langit-langit katedral yang tinggi.
"Apakah engkau bersedia menerima wanita ini sebagai istrimu, untuk saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan?"
Suasana semakin sunyi.
Alesha menahan napas. Ia bisa mendengar gesekan halus kain jas Matteo saat pria itu menarik napas panjang.
"Saya bersedia."
Dua kata itu diucapkan dengan suara bariton yang berat, namun tanpa satu ons pun emosi di dalamnya.
Tidak ada nada kasih sayang, tidak ada harapan, bahkan tidak ada ketulusan.
Suara itu terdengar seperti seorang eksekutif yang baru saja menandatangani kontrak akuisisi perusahaan yang tidak ia inginkan.
Dingin, datar, dan mematikan.
Kini, giliran Alesha. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa cadar tipis yang menutupi wajahnya ikut bergetar.
"Dan engkau, Kiara Alesha..." pendeta itu menjeda,
"Apakah engkau bersedia menerima pria ini sebagai suamimu, untuk saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan?"
Alesha terdiam.
Detik demi detik berlalu. Ia bisa merasakan ayahnya, Bramasta, yang duduk di barisan depan, mulai gelisah.
Suara gesekan kaki para tamu yang mulai tidak sabar mulai terdengar.
Bisik-bisik kecil mulai menjalar di antara barisan kursi seperti api di atas rumput kering.
Kenapa dia diam?
Apakah dia menyesal?
Lihatlah, dia pasti malu menikahi pria cacat itu.
Hinaan-hinaan tak kasat mata itu merayap masuk ke telinga Alesha.
Kemarahan mulai menggantikan rasa takutnya. Ia menatap siluet kepala Matteo dari samping.
Pria ini, dengan segala kekuasaannya, telah membeli hidupnya melalui utang ayahnya.
Pria ini adalah alasan mengapa ia harus berdiri di sini, membohongi Tuhan dan dunia.
Alesha mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.
Jika ia mengatakan 'tidak', keluarganya hancur. Jika ia mengatakan 'ya', ia masuk ke dalam penjara emas ini.
"Saya..." Alesha sengaja menjeda, membuat suasana semakin tegang.
Ia menarik napas dalam, membiarkan suaranya terdengar jernih dan berani, jauh lebih berani daripada suara Kiara yang biasanya manja. "Saya bersedia."
Ada helaan napas lega dari arah ayahnya, namun Alesha hanya merasakan kepahitan di lidahnya.
Janji itu barusan adalah kebohongan terbesar dalam hidupnya.
"Dengan ini, di hadapan Tuhan dan para saksi, saya nyatakan kalian sah sebagai suami istri," ucap pendeta dengan nada lega yang dipaksakan.
"Silakan mempelai pria mencium mempelai wanita."
Inilah momen yang paling ditakuti Alesha. Mencium pria asing. Mencium pria yang menganggapnya sebagai Kiara.
Matteo perlahan menggerakkan kursi rodanya sedikit ke samping agar bisa berhadapan dengan Alesha.
Namun, ia tidak menyentuh cadar Alesha. Ia tidak bangun dari kursinya. Dengan gerakan yang sangat sombong dan meremehkan, Matteo hanya memiringkan kepalanya sedikit, menyodorkan pipi kirinya ke arah Alesha.
Itu adalah sebuah penghinaan terang-terangan. Matteo seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa wanita yang baru saja dinikahinya bahkan tidak pantas mendapatkan ciuman di bibir, bahwa pernikahan ini hanyalah transaksi formalitas yang menjijikkan baginya.
Tamu-tamu mulai berbisik lagi, kali ini dengan nada mengejek yang ditujukan pada sang pengantin wanita.
Darah bar-bar Alesha yang sedari tadi ia tekan, tiba-tiba meledak.
Ia bukan wanita yang bisa dipermalukan di depan umum seperti ini. Jika pria ini ingin bermain kasar, Alesha akan menunjukkan bahwa dia adalah lawan yang sepadan.
Alih-alih mencium pipi Matteo dengan patuh, Alesha justru maju selangkah.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan tidak terduga, ia menyambar kerah jas mahal Matteo dengan kedua tangannya, menarik pria itu hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter di balik cadar.
Matteo tersentak.
Untuk pertama kalinya, posisi duduknya yang tegak dan angkuh goyah.
Ia bisa merasakan napas hangat Alesha yang memburu melalui kain cadar.
Alesha mendekatkan bibirnya ke telinga Matteo, mengabaikan tatapan kaget sang pendeta dan gumaman histeris para tamu.
"Dengarkan aku baik-baik, Tuan Al-Ricci yang sombong," bisik Alesha, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu.
"Jangan harap aku akan mencuci kaus kakimu, apalagi melayanimu seperti pelayan yang kau beli. Pernikahan ini mungkin sah di atas kertas, tapi di mataku, kau hanyalah pria yang terlalu pengecut untuk menghadapi dunianya sendiri tanpa kursi roda ini."
Alesha kemudian melepaskan kerah jas Matteo dengan sentakan kasar, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Ia berdiri tegak kembali, membusungkan dadanya dengan angkuh.
Matteo terpaku. Tangannya mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya dengan kuat.
Pupil matanya melebar di balik bayang-bayang katedral. Ia adalah Matteo Al-Ricci, tidak ada yang berani menyentuhnya seperti itu, apalagi membentaknya tepat di depan altar Tuhan.
Namun, ada sesuatu yang lebih mengganggu pikirannya daripada serangan fisik itu.
Suara itu.
Suara wanita ini tidak terdengar seperti Kiara. Kiara memiliki suara yang melengking, manja, dan selalu berusaha terdengar menggoda.
Wanita di hadapannya ini memiliki suara yang serak namun berwibawa, penuh dengan api dan kebencian yang murni. Dan keberaniannya...
Kiara tidak akan pernah berani merusak jas mahalnya demi sebuah bisikan ancaman.
Matteo menatap sosok di balik cadar tebal itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ada rasa ingin tahu yang tiba-tiba muncul di balik kedinginan matanya.
"Jalan," perintah Matteo singkat pada pengawalnya yang berdiri di belakang kursi roda.
Tanpa menunggu Alesha, Matteo memutar kursi rodanya dan meluncur menuju pintu keluar gereja.
Alesha terpaksa berjalan di sampingnya, menjaga kecepatan agar tidak terlihat memalukan, meskipun ia ingin sekali menendang kursi roda itu hingga terguling.
Saat mereka melewati kerumunan tamu, Alesha bisa merasakan tatapan ayahnya yang pucat pasi.
Bramasta tahu bahwa ada sesuatu yang salah, tapi ia tidak berani bicara.
Begitu mereka keluar dari gereja, angin musim panas Roma yang hangat menyambut mereka, namun suasana di antara keduanya tetap sedingin kutub.
Sebuah limosin hitam panjang sudah menunggu di depan tangga gereja.
Matteo diangkat oleh dua pengawalnya masuk ke dalam mobil dengan gerakan yang sangat efisien, seolah-olah itu adalah rutinitas yang membosankan.
Alesha masuk dari pintu sebelah, duduk di pojok terjauh dari suaminya.
Di dalam mobil yang kedap suara itu, Matteo akhirnya menoleh ke arah Alesha.
Ia masih belum meminta Alesha membuka cadarnya.
"Kau punya nyali besar untuk seorang pengantin pengganti," ucap Matteo tiba-tiba, suaranya kini terdengar jauh lebih berbahaya daripada di altar tadi.
Alesha membeku. Apakah dia tahu?
"Apa maksudmu?" tanya Alesha, mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil.
Matteo tersenyum miring, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya.
"Kiara adalah wanita yang lemah. Dia akan menangis jika aku memperlakukannya seperti tadi. Tapi kau... kau justru hampir mencekikku."
Matteo mendekatkan wajahnya ke arah Alesha, mengamati helai-helai kain cadar itu seolah ingin menembusnya dengan tatapan matanya.
"Siapa kau sebenarnya?"
Alesha menelan ludah.
Ia tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Kebohongan ini telah dimulai, dan janji suci yang baru saja diucapkannya hanyalah awal dari sebuah kisah panjang.
"Aku adalah istrimu, Matteo," jawab Alesha dengan nada menantang.
"Bukankah itu yang kau inginkan?"
Limosin itu melaju membelah jalanan Roma, membawa mereka menuju Villa Al-Ricci yang megah dan bagi Alesha, itu adalah perjalanan menuju kandang singa yang sesungguhnya.