SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.
Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pagi ketiga di Bali datang dengan kabut tipis yang perlahan hilang tersapu sinar matahari pagi yang hangat. Udara terasa sejuk dan segar sekali, beraroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh melilit pagar-pagar kayu di sekeliling villa. Hari ini jadwal mereka bukan lagi bermain air, tapi menyelami sisi lain Bali yang tak kalah indah: kunjungan ke Desa Budaya dan persawahan hijau yang terkenal seindah lukisan.
Sesuai kebiasaan mereka, semua sudah diatur mewah namun tetap membumi. Mobil-mobil nyaman mengantar mereka ke kawasan Ubud, daerah yang dikenal sebagai jantung seni dan budaya Bali. Begitu turun dari kendaraan, suasana langsung berubah. Jalanan berliku di antara bukit hijau, bangunan-bangunan berukiran rumit, patung-patung kuno, dan suara gamelan yang terdengar samar dari kejauhan menyambut kedatangan mereka.
"Wih... beda banget suasananya sama kemarin ya. Kalau kemarin seru dan berisik, hari ini damai banget ya rasanya," ucap Haechan sambil merentangkan tangan menghirup udara dalam-dalam.
Ningning berjalan di sampingnya, memegang selembar daun hijau yang ia petik di pinggir jalan. "Iya. Tenang, indah, dan kental banget sejarahnya. Gue suka banget gini, rasanya damai banget di hati."
Mereka ditemani pemandu wisata pribadi yang ramah dan berpengetahuan luas. Rombongan berjalan beriringan menyusuri jalan setapak di antara bangunan tradisional. Di sana, mereka diajak melihat proses pembuatan kain tenun ikat yang rumit dan indah, cara mengukir kayu menjadi karya seni mahal, hingga melihat tarian sakral yang ditampilkan khusus untuk mereka.
Karina, yang paling menyukai hal-hal seni dan budaya, tampak sangat antusias. Dia berjalan beriringan dengan Jeno, matanya berbinar kagum melihat setiap detail ukiran dan pola kain.
"Jen, lihat deh. Motifnya indah banget ya, setiap garis dan warnanya punya arti sendiri katanya. Orang dulu pinter banget ya, bisa bikin karya seindah ini cuma pakai tangan," ucap Karina sambil menyentuh lembut kain tenun yang digelar di depannya.
Jeno mengangguk, menatap kagum bukan pada kain itu, tapi pada wajah Karina yang bersinar terang. "Iya, indah banget. Tapi menurut gue, pemandangan terindah hari ini tetep ada di sebelah gue sih. Lo kelihatan cantik banget kalau lagi antusias gini."
Karina langsung tersipu, memukul pelan lengan cowoknya sambil tersenyum malu. "Manis banget sih lo hari ini... tapi makasih ya."
Di sisi lain, Chenle sibuk sekali meniru gerakan penari yang sedang berlatih. Tangan ia gerakkan dengan gaya sok anggun namun malah terlihat lucu dan kaku, membuat Miyeon yang melihatnya tertawa terbahak-bahak sampai menutup mulut.
"Lihat nih Miyeon! Gue kan berbakat seni juga ternyata. Gerakan gue lembut, elegan, dan penuh makna kan? Kalau gue ikut tarian tadi, pasti gue jadi penari utamanya deh," ucap Chenle dengan gaya penuh percaya diri.
Miyeon menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. "Iya iya, penari terhebat sedunia. Udah ah, nanti penari aslinya denger lo malah dikira ngejek hahaha. Tapi lucu deh lo, bikin suasana jadi cerah terus."
Setelah puas berkeliling desa budaya, mereka bergerak ke lokasi selanjutnya: hamparan persawahan terasering yang luas, hijau menyegarkan mata, dan membentang mengikuti lekuk bukit. Di pinggir jalan sudah tersedia sepeda-sepeda gunung yang nyaman, berwarna-warni cerah, lengkap dengan keranjang kecil di depan. Rencananya, mereka akan berkeliling menyusuri jalan setapak di pinggir sawah, menikmati pemandangan alam yang mempesona.
"WOHOOO! NAIK SEPEDA! Ini asik banget nih! Udah lama banget gue nggak naik sepeda bareng-bareng gini!" seru Haechan langsung melompat naik ke atas sepeda berwarna merah cerah, mengayuhnya pelan berputar-putar di tempat.
Mark membantu Gisel menyeimbangkan sepedanya. "Hati-hati ya, jalannya agak berkelok dan turun naik dikit. Gue jalan di sebelah lo terus ya, biar aman."
Gisel tersenyum lebar, semangat sekali. "Siap Ketua! Tenang aja, gue jago lho naik sepeda. Lo jangan ketinggalan ya nanti gue duluan sampe ujung hahaha."
"Enggak bakal! Gue nggak bakal ngebiarin lo jauh dari gue," jawab Mark sambil mulai mengayuh pelan beriringan dengan ceweknya.
Jalanan di pinggir sawah itu indah sekali. Di kanan kiri mereka hamparan padi hijau yang bergoyang kena angin, air irigasi mengalir bening berkilauan kena sinar matahari, dan di kejauhan terlihat gunung dan langit biru bersih tanpa awan. Angin sejuk berhembus menerpa wajah mereka, membawa suara gesekan daun padi dan suara burung berkicau riang.
Jaemin mengayuh pelan di sebelah Winter. Cewek itu tampak sangat menikmati suasana tenang ini, rambutnya terurai diterbangkan angin, senyum damai tak pernah lepas dari bibirnya.
"Enak banget ya Na... rasanya kayak semua beban hilang gini. Tenang banget rasanya," ucap Winter pelan.
Jaemin tersenyum, melirik ceweknya dengan pandangan lembut. "Iya. Makanya gue ajak ke sini. Gue tau lo suka ketenangan. Selama kita di sini, jangan mikirin apa-apa ya. Cuma nikmatin angin, pemandangan, dan ada gue di sebelah lo. Semuanya indah kan?"
Winter mengangguk mantap. "Indah banget. Makasih ya, Na. Lo selalu tau apa yang gue butuhin."
Sedikit di depan, Chenle mengayuh sepedanya dengan kecepatan lumayan, sesekali berteriak kegirangan, sementara Miyeon tertawa melihat tingkah laku cowoknya yang penuh semangat itu.
"GILA INDAH BANGET! UDARA SEGAR, PEMANDANGAN KEREN, PACAR GUE CANTIK! HIDUP LENGKAP SUDAH!" teriak Chenle sekuat tenaga sampai menggema di antara bukit, bikin semua orang ketawa mendengarnya.
Di barisan paling belakang, Jisung dan Shuhua mengayuh sepeda beriringan dengan pelan dan santai. Sejak resmi jadian, sikap Jisung makin dewasa dan penuh perhatian, meski kadang masih canggung dan malu-malu.
"Kak Shuhua... pelan-pelan aja ya, jalannya agak licin dikit di situ. Pegang stangnya yang kuat ya," kata Jisung cemas sekali, matanya tak lepas dari gerakan sepeda Shuhua.
Shuhua tersenyum manis, gemas sekali melihat cowoknya yang terlalu berhati-hati itu. "Iya, Sayang. Tenang aja, aman kok. Lo juga hati-hati ya, jangan kebanyakan liatin gue nanti nabrak pohon hahaha."
"Nggak bakal! Gue kan udah jago, udah jago jagain Kakak juga," jawab Jisung penuh percaya diri, bikin Shuhua makin sayang dan tertawa bahagia.
Mereka berhenti di sebuah gazebo kecil yang terletak di titik tertinggi persawahan, tempat pemandangannya paling indah dan luas. Di sana sudah disiapkan camilan tradisional segar dan minuman dingin. Mereka duduk santai di atas kursi kayu, kaki menjuntai menikmati angin yang makin kencang dan sejuk.
"Gue rasa... hari ini mungkin jadi hari paling damai dan paling indah selama liburan kita ya," ucap Mark sambil menatap hamparan hijau di bawah sana.
Gisel menyandarkan kepalanya ke bahu Mark, memejamkan mata sebentar menikmati kenyamanan itu. "Iya banget. Kemarin seru, hari ini damai. Bali emang lengkap banget keindahannya. Dan rasanya makin indah karena kita bareng-bareng gini."
Saat sedang asyik mengobrol, pemandu wisata datang membawa dua kotak kayu indah berisi kain-kain panjang berwarna cerah dan motif khas Bali.
"Ini ada kejutan kecil buat kalian semua," kata pemandu itu sambil tersenyum ramah. "Kain ini bernama kain selendang, biasanya dipakai untuk pelengkap pakaian adat. Kami siapkan khusus, satu pasang sama motif dan warna senada buat masing-masing pasangan. Simbolnya: agar selalu saling melengkapi, selalu sejalan, dan selalu terikat satu sama lain."
Mereka semua bersorak senang dan kagum. Masing-masing pasangan menerima kotak itu dengan gembira. Warnanya berbeda-beda tiap pasangan, tapi sama indahnya.
Mark dan Gisel dapat warna merah hati dengan motif bunga kamboja.
Haechan dan Ningning dapat warna oranye cerah dengan motif ombak laut.
Jaemin dan Winter dapat warna biru tenang dengan motif awan.
Jeno dan Karina dapat warna hijau segar dengan motif daun padi.
Chenle dan Miyeon dapat warna ungu anggun dengan motif ukiran.
Jisung dan Shuhua dapat warna kuning cerah dengan motif matahari.
"Wihhh bagus banget! Indah banget kainnya! Makasih banyak ya!" seru Ningning senang sekali langsung memakaikan selendang itu ke bahu Haechan. "Cocok banget lho warnanya sama lo, cerah dan berisik hahaha."
"Eh kok berisik sih?! Ini namanya ceria dan bersemangat! Tapi iya sih, emang gue cocok sama apa aja hahaha," jawab Haechan sambil memakaikan selendang itu ke bahu Ningning juga.
Chenle langsung memakaikan selendang milik mereka ke bahu Miyeon dengan gerakan sok anggun dan serius. "Ini pas banget! Ungu itu warna kemewahan dan keanggunan, pas banget sama kita berdua. Gue yang mewah, lo yang anggun. Pasangan paling pas sedunia deh kita!"
Miyeon tersenyum malu tapi senang sekali. "Iya deh, iya. Makasih ya, bagus banget kainnya. Kita simpan baik-baik ya, jadi kenangan indah liburan ini."
Jisung dengan tangan gemetar karena gugup tapi senang, perlahan memakaikan selendang kuning cerah itu ke bahu Shuhua dengan sangat hati-hati dan lembut. Matanya berbinar tulus sekali.
"Kak... warnanya cerah banget, kayak sinar matahari. Gue suka banget. Biar kain ini jadi simbol kalau Kakak itu matahari buat gue, yang selalu nyinarin dan ngehangatin hidup gue," kata Jisung pelan tapi jelas sekali, bikin Shuhua langsung meleleh hatinya dan tersenyum haru.
"Manis banget sih lo, Sayang... makasih ya. Bagi gue juga, lo itu matahari kecil gue yang paling bersinar," jawab Shuhua sambil meremas tangan cowoknya.
Sore itu berakhir dengan kebahagiaan yang tenang dan indah. Mereka kembali ke villa dengan hati penuh kenangan manis: keindahan budaya, sejuknya udara sawah, dan kain selendang indah yang jadi bukti ikatan cinta mereka makin kuat. Besok rencananya adalah petualangan paling seru: menjelajahi hutan monyet, air terjun indah, dan malam pesta bakar-bakar ikan di pantai pribadi mereka.