NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^20

Tetapi, niat lain dalam benak terus membisikan diri untuk tetap seperti ini. Karena masa depan kehidupannya jauh lebih penting dari apapun. Walau, mengungkit hal yang menyadarkan diri semakin membuat jiwa merasakan sesak. Jika, berada di pihak sang ayahnya saja itu hal yang tidak baik. Bukan berarti itu hal yang buruk.

Seharusnya pemuda itu juga berada di pihak sang ibu, walau membela tidak pernah pemuda itu tunjukkan secaran langsung. Akan tetapi, pemuda itu benar-benar tidak ingin keluarganya terlihat sangat kacau di depan matanya sendiri. Karena itu sangat pedih sekali.

Tapi, pemuda itu juga tidak bisa menahan keputusan akhir dari sang ayah yang harus mengakhiri hubungannya sebagai suami istri dengan wanita yang telah melahirkan pemuda itu.

Tersenyum masam, kepala menunduk sebentar tanpa menghentikan langkah kakinya di atas trotoar pejalan kaki.

"Jika aku bisa mendapatkannya, apa aku bisa membawa ibu kembali?" Gumam sang pemuda.

Tahu, jika mengorbankan diri akan mendatangkan kebahagiaan pada orang tuanya. Tapi, tidak untuk orang lain.

Terus melangkah hingga tiba di halte penyebrangan jalan yang mengarah di mana sekolahnya berada. Melihat sekelilingnya yang mendapati beberapa murid dengan seragam sama sepertinya, juga tengah menunggu lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau.

Hingga kedua matanya tidak sengaja mendapati sosok familiar yang kini mulai melangkah melewati zebra cross itu. Membuat sudut bibir itu sedikit tersungging dengan kaki jenjang berjalan untuk mengajarkan langkahnya.

"Bukankah ini tidak seperti biasanya? Kau berangkat jalan kaki." Cetus sang pemuda yang telah berasa di sisi kanan sosok familiar itu.

Refleks menoleh ke samping, sebelum berdecih kecil. Dan kembali meluruskan pandangannya. "Itu bukan urusanmu." Ketus sang gadis. Yuna.

"Ah, benar. Itu bukan urusanku." Rendah Aldi dengan senyum kecilnya.

Diam, melenyapkan lengkungan tidak sempurna yang tercetak pada mimik wajahnya. Akan satu hal yang membuat lidah merasa keluh untuk bersuara. Tetapi, rasa penasaran Aldi jauh lebih besar melebihi ego dalam jiwanya.

"Saat kau tiba di rumah," menoleh ke samping sembari menelan ludahnya. Berusaha untuk tidak ragu saat melanjutkan perkataannya. "Apa kau langsung melihat ibumu?"

"Kau bertemu dengannya semalam?" Cetus Yuna begitu saja, tanpa adanya keraguan sedikit saja pada benaknya. Dan itu ampuh membuat Aldi memilin sebentar bibirnya.

"Itu_" rendah Aldi.

Kepala Yuna mengangguk kecil. "Benar, dia tidak langsung menyambutku seperti biasanya. Aku tiba di rumah terlebih dahulu sebelum dia pulang. Dan itu membuat ayahku murka. Karena aku sebagai alasan ibu keluar rumah malam hari." Perlahan menghentikan langkah kakinya saat berada di lingkungan sekolah.

Membalas tatapan Aldi, sebelum melanjutkan perkataannya. " Jika kau bertemu dengannya lagi, kau tidak perlu menyapanya. Karena itu akan membuang waktu mu."

"Bagaimana bisa aku tidak menyapa orang yang aku kenal?" Heran Aldi, dengan kening mengerut samar.

"Berpura-puralah tidak mengenalnya, itu jauh lebih baik. Jika kau bersikap seperti itu, kau tidak akan penasaran apa yang dia lakukan." Balas Yuna yang tidak begitu cepat. Kini kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.

"Bagaimana dengan mu? Apa kau tidak pernah penasaran sekali saja dengan ibumu sendiri?" Tana Aldi sembari menjajarkan langkah kakinya kembali. Tahu, jika ia telah melebihi batasan.

"Untuk apa aku menyimpan rasa ingin tahu jika hal itu akan membuat nilai ku hancur?" Sangat tenang, Yuna memberi tanggapan berupa pertanyaan. Yang entah kenapa semakin membuat Aldi yakin. Jika, gadis di sampingnya saat ini tengah menyusun rencana untuk menghentikan tingkah konyol dari seorang Diandra

"Nilai itu tidak akan hancur, jika kita bermain dengan sehat." Akhir Aldi yang tidak melupakan senyum tulusnya.

Dan hal itu ternyata tidak luput dari pandangan Anrey. Tersenyum masam melihat dia insan yang berjalan beriringan tidak jauh dari Anrey berdiri.

"Apa ini salah satu alasan mu?" Seru Anrey, membuat dua insan itu kembali menghentikan langkah mereka.

Melihat satu objek yang perlahan mendekat.

Tersenyum masam saat tiba di hadapan Yuna maupun Aldi. Anrey mulai membuka suaranya kembali. "Kau mengakhiri hubungan dengan alasan yang tidak jelas. Dan sekarang, kau malah berjalan dengan laki-laki lain. Bukankah itu sangat konyol?"

"Kenapa kau memusingkan hal itu?" Entah kenapa Yuna selalu tenang tidak terusik sedikit saja saat beradu argumen dengan siapapun.

"Ini bukan kali pertamanya kau melihat ku bersama Aldi. Dan kau mempermasalahkannya saat ini? Bukankah, kekonyolan itu ada pada dirimu?" Sambung Yuna sembari menaikan sekilas alisnya. Bukan berarti Yuna ingin menantang Anrey.

"Jika perkataan mu menyimpan makna untuk menyuruhku intropeksi. Seharusnya kau sadar diri, siapa yang lebih dulu membatalkan janji."

"Yuna__" rendah Anrey yang tidak di pedulikan Yuna.

"Kau ingin menungguku setelah sesi belajar itu selesai. Tapi nyatanya, kau merasa tidak enak dengan Tessa jika harus membatalkan tawaran mu. Jadi, apa itu juga salahku jika mengakhiri hubungan dengan mu?" Cepat Yuna.

"Jika benar aku tujuanmu, seharusnya kau memilih ku lebih dulu ketimbang orang lain. Karena kesempatan itu tidak akan pernah datang kedua kalinya." Sambung Yuna penuh peringatan. Agar Anrey tidak lagi mengusik kehidupannya.

Diam sejenak melihat Anrey, sebelum melangkah pergi dari hadapan pemuda itu dengan tampang yang benar-benar sulit untuk diartikan.

Dan saat Aldi ingin mengikuti Yuna, sebuah tangan kekar menahan pundaknya untuk tetap berdiri di tempat. Spontan membuat alis Aldi naik ke atas, walau sesaat.

"Kau mulai menyukainya?" Tanya Anrey penuh harap jika jawaban yang di berikan Aldi adalah, 'tidak'

"Dia sangat manis, jika aku melewatkannya itu akan sangat rugi." Balas Aldi yang memang terdengar ambigu.

"Bagaimana dengan Tessa? Bukankah kau menyukainya?" Kening Anrey mulai mengernyit.

Paham akan perkataan dari Anrey, membuat kepala Aldi mengangguk kecil. Kini mulai memberi sahutan. "Aku memang menyukainya, tapi aku juga harus mengakhirinya. Karena aku tidak ingin menahan perasaan yang sulit untuk di wujudkan."

"Dan, bukan berarti aku ingin merebut Yuna darimu. Aku hanya ingin berteman dengannya." Sambung Aldi.

"Jika kau bisa membatalkan janji itu, seharusnya kau juga bisa memperbaikinya." Mengakhiri percakapan bukan berarti Aldi begitu bosan saat beradu argumen dengan Anrey. Hanya saja, ekor mata Aldi tidak sengaja melirik kehadiran Anna.

Tersenyum singkat, sebelum melangkah pergi setelah menepuk pelan pundak Anrey, berdiam sendiri dengan pikirannya. Apalagi kalimat yang keluar dari mulut Aldi benar-benar membuat Anrey semakin sadar, jika kesalahan itu ada pada dirinya.

Apa Anrey mampu memperbaiki hubungannya bersama Yuna? Atau malah sebaliknya.

Permusuhan yang tidak terduga akan datang bertamu menghantui kehidupan mereka.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!