NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ammar dan Amara

Sejak kejadian saat itu, Amira sering bertemu dengan Farhan. Lama-kelamaan, Farhan pun mulai mengenal Amira dengan lebih dekat. Bahkan, Farhan sering meminta dibuatkan kopi oleh Amira. Menurut Farhan, kopi buatan Amira sangat enak, tidak kalah nikmatnya dibandingkan kopi yang biasa ia pesan dari kedai kopi langganannya.

“Kamu berbakat meracik kopi. Kopi buatanmu rasanya sangat enak. Apa kamu tidak berminat membuka kafe atau warung kopi sendiri? Pasti akan laris manis,” ucap Farhan sesaat setelah menerima cangkir kopi dari tangan Amira.

Gadis itu hanya tersenyum, lalu menanggapi ucapan Farhan dengan apa adanya.

“Mungkin suatu hari nanti, kalau saya sudah memiliki tabungan yang cukup. Saat ini, fokus utama saya adalah membiayai pendidikan kedua adik kembar saya,” jawab Amira.

Sementara itu, Farhan yang sedang menyesap kopinya menatap ke arah Amira dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Usiamu masih sangat muda. Kenapa orang tuamu harus membebankan biaya pendidikan adik-adikmu sama kamu? Bahkan kamu tidak melanjutkan pendidikan. Rasanya hal itu tidak adil buat kamu,” sahut Farhan.

Sekali lagi, Amira hanya membalasnya dengan senyuman. Wajar jika Farhan berbicara seperti itu, sebab ia sama sekali tidak mengetahui situasi sebenarnya yang sedang dihadapi Amira.

“Kami sudah yatim piatu sejak lama. Sekarang saya jadi pengganti orang tua buat adik-adik saya, jadi kehidupan mereka adalah tanggung jawab saya sepenuhnya saat ini.”

Ucapan itu seketika membuat perasaan Farhan menjadi tidak enak dan merasa bersalah karena telah bertanya sembarangan. Ia pun segera meminta maaf kepada Amira.

“Maafkan saya, saya sama sekali tidak tahu hal itu,” ucapnya dengan nada menyesal.

Amira hanya menggeleng pelan sambil tetap tersenyum, seolah beban berat yang ia pikul hidupnya hanyalah sebuah hal yang ringan untuk diceritakan.

“Tidak apa-apa, Bapak tidak perlu minta maaf. Bapak memang belum mengetahui keadaan saya, jadi wajar saja jika berpikiran begitu. Jika tidak ada hal lain yang Bapak butuhkan, saya izin kembali ke tempat kebawah. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini.”

"Pergilah, dan terima kasih untuk kopinya." Amira hanya menganguk dan meninggalkan ruangan itu untuk melanjutkan pekerjaannya.

Farhan hanya terdiam di tempatnya, menatap punggung Amira yang perlahan menjauh hingga hilang di balik pintu. Rasa bersalah masih menyelimuti hatinya, bercampur dengan rasa kagum yang mulai tumbuh. Di usia yang masih sangat muda, gadis itu sudah memikul tanggung jawab yang begitu berat, namun ia tetap tampak tabah, tenang, dan selalu menyunggingkan senyum. Sejak saat itu, pandangan Farhan terhadap Amira perlahan berubah. Ia tidak lagi memandang gadis itu sekadar sebagai karyawan yang membantunya, melainkan sebagai sosok yang luar biasa kuat dan berharga.

Hari-hari berikutnya, sikap Farhan menjadi jauh lebih lembut dan perhatian terhadap Amira. Ia tidak lagi memerintah seolah-olah sebagai atasan, melainkan berbicara dengan nada yang lebih santun dan ramah. Kadang, ia sengaja memberi Amira uang lebih saat membayar jasa yang dilakukan, atau membawakan makanan dengan alasan sisaan yang tidak mungkin ia habiskan sendiri. Awalnya Amira menolak dengan sopan, namun Farhan selalu memaksa dengan alasan yang sulit ditolak, hingga akhirnya ia menerimanya dengan rasa terima kasih.

Sore itu, saat hujan turun sangat deras dan angin bertiup kencang, Amira akan pulang setelah selesai bekerja. Ia berdiri di depan kantor, memandang langit yang hampir gelap sambil mengerutkan kening. Ia khawatir, jika menunggu hujan reda, ia akan pulang terlalu larut dan membuat kedua adiknya khawatir, namun menerobos hujan juga berisiko membuatnya jatuh sakit.

Belum sempat ia memutuskan apa yang harus dilakukan, suara klakson mobil terdengar. Ternyata Farhan yang melakukannya.

"Kamu mau pulang ? ," ucap Farhan memecah keheningan.

"Iya Pak," jawab Amira.

Farhan mengangguk pelan, lalu segera berbicara dengan tegas namun lembut.

"Bareng saya saja, nanti saya antar sampai depan rumah kamu."

Amira terkejut mendengar tawaran itu.

"Tidak perlu Pak! Saya bisa pulang menggunakan ojol, rumah kita juga mungkin tidak searah ," tolaknya cepat.

"Sudah jangan banyak menolak, hujan seperti ini ojol pun pasti cancel, masalah beda arah bisa putar balik, bisa pulang malam kamu kalau nunggu hujan reda, adik-adikmu pasti khawatir. Ayo berangkat sekarang," potong Farhan, membuat Amira tidak bisa menolak lagi, terlebih saat farhan bilang tentang adik-adiknya yang khawatir.

Amira akhirnya tidak berani menolak lagi. Ia pun masuk ke dalam mobil farhan, merasa canggung namun juga ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Selama perjalanan, suasana di dalam mobil sempat hening sejenak, hingga akhirnya Farhan kembali membuka pembicaraan.

"Bagaimana sekolah adik-adikmu? Apakah mereka berprestasi?" tanyanya pelan, berusaha mencairkan suasana.

Wajah Amira seketika berubah cerah, matanya bersinar saat membicarakan kedua adik kembarnya.

"Sangat berprestasi, Pak! Keduanya selalu menduduki peringkat tiga besar di kelas, dan sering membawa pulang piala dari berbagai lomba. Mereka yang menjadi semangat saya untuk bekerja keras setiap hari," jawabnya dengan nada yang penuh kebanggaan.

Mendengar itu, senyum tulus terukir di bibir Farhan. Ia merasa senang mendengarnya, dan rasa kagumnya terhadap gadis di sampingnya semakin bertambah besar. Ia menyadari, di balik kesederhanaan dan kehidupan yang sulit, ada keindahan dan ketulusan yang sangat langka yang dimiliki oleh Amira.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah kecil sederhana tempat tinggal Amira. Rumah itu tampak sederhana namun sangat rapi dan bersih.

"Terima kasih banyak, Pak. sudah memberikan tumpangan buat saya," ucapnya Amira

Farhan hanya mengangguk sambil tersenyum hangat.

"Sama-sama, salam buat adik-adikmu. " Amira hanya tersenyum dan mengangguk.

Amira pun turun dari mobil, berdiri sejenak di tepi jalan sambil melambaikan tangan hingga mobil milik Farhan hilang dari pandangan.

**

Selang beberapa saat pintu rumah pun terbuka kedua adik kembar Amira keluar menyambut kakaknya.

"Kakak sudah pulang?" tanya Farisa Amara, Amira hanya menganguk.

"Kalian sudah makan?" tanya Amira.

"Kami nunggu kakak pulang. Bang Amar masak nasi goreng bakso kak, rasanya enak banget." Amara begitu antusias menceritakan masakan saudara kembarnya Farras Ammar .

Setelah membersihkan diri dan menjalankan kewajiban, mereka bertiga pun memulai makan malam dengan penuh ketenangan. Tidak ada pembicaraan apapun saat makan, karena itu aturan yang dibuat oleh mendiang ayahnya. Suapan demi suapan nasi goreng masuk ke mulut dengan mulus tanpa hambatan, kunyahan yang tenang mendefinisikan kalau makanan buatan Ammar layak untuk dinikmati. Sebagai koki di rumah masakan Ammar tidak pernah mengecewakan.

Setelah selesai makan malam bagian bebenah adalah Amara, gadis itu tampak bahagia dengan tugasnya. Hubungan Amira dan kedua adiknya sangat harmonis dan penuh kasih sayang, mereka adalah kekuatan untuk satu sama lain.

1
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
rasahaz
dpt notif da cerita baru karya kak pipit,, langsung mlncur,🔥🔥🔥💪😄
Penikmat Sunyi: terima kasih, dukung terus ya kak biar semangat nulisnya😄😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!