"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Semangkuk Bubur dan Sorot Mata yang Berubah
Ketegangan yang mengular di dalam kabin mobil sedan mewah itu akhirnya mulai menguras sisa-sisa energi fisik Aruna. Setelah sekian lama beradu argumen dan melempar penolakan, tubuhnya yang belum pulih seratus persen mendadak mengirimkan sinyal protes. Rasa pusing yang hebat perlahan-lahan merayap di pangkal kepalanya, membuat pandangannya sedikit mengabur, beriringan dengan perutnya yang terasa keroncongan karena ia melewatkan sarapan paginya di rumah tadi.
Aruna memegangi keningnya, napasnya berembus berat. "Hentikan mobilnya," ucap Aruna lirih, kali ini tanpa nada membentak. "Aku pusing. Aku lapar dan ingin makan."
Mendengar keluhan itu, Baskara tidak membuang waktu untuk mendebat. Kilat kepanikan sempat menyambar wajahnya sebelum ia dengan sigap memutar kemudi, membelokkan mobilnya membelah lajur jalanan kota Jakarta. Dengan ingatan yang tajam, Baskara membawa kendaraan mereka membelah area kuliner legendaris dan berhenti tepat di depan sebuah warung bubur ayam sederhana pinggir jalan. Tempat itu adalah tempat yang menjual bubur ayam khas dengan kuah kuning pekat jenis makanan yang dulu sangat sering dicari dan dirindukan Aruna saat masa sekolah SMA nya dulu.
Aruna turun dari mobil dengan langkah yang agak lemas. Begitu melangkah masuk ke bawah tenda warung yang tampak bersahaja itu, ia sengaja memilih meja panjang yang terletak di sudut paling ujung, berniat untuk mengisolasi diri dan duduk sendirian agar tidak perlu berinteraksi dengan siapa pun. Namun, harapannya untuk mendapatkan ketenangan seketika buyar.
Baskara yang baru saja selesai memesan dua porsi bubur langsung melangkah mendekat. Alih-alih duduk di kursi kosong yang berada di seberang meja, pria tegap itu justru mendudukkan dirinya tepat di samping Aruna. Jarak di antara mereka teramat dekat, begitu intim hingga helai kain kemeja Baskara dan bahu kokohnya hampir bersentuhan langsung dengan lengan Aruna.
Merasa privasinya terusik, Aruna langsung menggeser posisi duduknya menjauh hingga ke tepi bangku. Namun, tanpa rasa bersalah sedikit pun dan dengan ekspresi wajah yang teramat santai, Baskara ikut menggeser kursinya, memangkas kembali jarak yang baru saja dibuat oleh Aruna hingga mereka kembali menempel. Tindakan yang terkesan tak tahu malu itu sukses membuat Aruna mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan dongkol yang makin naik ke ubun-ubun.
Tak lama kemudian, sang penjual bubur datang membawa dua mangkuk pesanan mereka yang masih mengepulkan uap hangat. Pria paruh baya pemilik warung itu melirik ke arah Aruna yang memasang wajah cemberut, lalu beralih menatap Baskara yang tampak sabar mendampinginya. Sebuah kekehan geli lolos dari bibir sang penjual.
"Walah, Mas... istrinya lagi ngambek ya? Masnya pasti lupa ngasih kabar atau telat jemput ini," canda penjual bubur itu, langsung mengira bahwa mereka adalah sepasang suami istri baru yang sedang dilanda riak pertengkaran kecil.
Uhuk!
Aruna yang baru saja meneguk sedikit air putih langsung tersedak, tenggorokannya terasa perih karena terkejut dengan spekulasi sang penjual. Sebaliknya, Baskara sama sekali tidak menunjukkan niat untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut. Pria itu justru mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat menawan di bibirnya, membiarkan asumsi itu bergulir begitu saja.
Penjual bubur itu geleng-geleng kepala seraya menepuk bahu Baskara pelan. "Istrinya cantik begini jangan dianggurin, Pak. Dimanjain terus ya, biar nggak cemberut lagi."
Baskara melirik Aruna sekilas, lalu menjawab dengan nada santai namun terdengar begitu bersungguh-sungguh. "Iya, Pak. Ini memang sedang saya usahakan setiap hari."
Aruna langsung menoleh dan melotot tajam ke arah Baskara, seolah matanya bisa meluncurkan belati untuk menusuk pria itu hidup-hidup. Namun, Baskara justru terlihat sangat menikmati reaksi emosional Aruna. baginya, kemarahan Aruna jauh lebih baik daripada pengabaian dingin yang mematikan.
Selama proses makan berlangsung, keheningan kembali merayap. Aruna sengaja mengeluarkan ponselnya, memfokuskan seluruh atensinya pada layar benda digital itu agar matanya tidak perlu bersitatap dengan wajah Baskara. Ia menyuap buburnya dengan kikuk menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk menggulir layar.
Baskara sendiri tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Pria itu meletakkan sendoknya, lalu menumpu dagunya dengan satu tangan, memilih untuk diam-diam memperhatikan profil wajah Aruna dari arah samping. Di bawah temaram cahaya warung tenda, ia mengagumi setiap detail wajah wanita yang kini terasa begitu berharga di dalam hidupnya.
Saat Aruna sedang asyik menunduk menatap ponsel, beberapa helai anak rambutnya yang terlepas dari sanggul mendadak jatuh, menjuntai menutupi sebagian pipi dan sudut bibirnya, mengganggu pergerakannya untuk menyuap. Tanpa aba-aba, Baskara mengulurkan tangannya yang hangat. Dengan gerakan yang teramat pelan dan santai, jemari panjang Baskara menyelipkan helai-helai rambut tersebut ke belakang daun telinga Aruna.
Sentuhan fisik yang mendadak itu membuat Aruna langsung membeku di tempatnya selama beberapa detik. Jantungnya berdegup kencang karena rasa terkejut yang luar biasa, ia sama sekali tidak menyangka bahwa mantan dosennya yang dulu terkenal sangat menjaga jarak kini akan memiliki keberanian sebesar itu untuk menyentuhnya di tempat umum.
Setelah berhasil menguasai keterkejutannya, Aruna langsung menepis tangan Baskara dengan kasar, matanya menyalang penuh amarah. "Jangan lancang menyentuhku, Pak baskara yang terhormat!" desisnya tajam.
Baskara menarik kembali tangannya dengan tenang, tidak tampak terkejut dengan reaksi defensif tersebut. Ia hanya menunjuk mangkuk di depan Aruna dengan dagunya, lalu berkata dengan suara pelan yang teramat lembut. "Maaf. Tadi rambutmu hampir masuk ke dalam kuah bubur."
Padahal, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, itu hanyalah sebuah alasan taktis. Baskara sebenarnya hanya rindu, ia hanya teramat ingin merasakan tekstur halus kulit dan rambut Aruna guna meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu kini benar-benar telah kembali berada di jangkauannya.
Namun, bagian yang pada akhirnya membuat Aruna merasa paling tidak nyaman dan disergap rasa kikuk yang luar biasa bukanlah sentuhan fisik pada kepalanya tadi. Melainkan, ketika ia sedang pura-pura fokus pada ponselnya, ekor mata Aruna diam-diam menangkap basah bahwa Baskara sama sekali tidak berhenti menatapnya. Pria itu terus-menerus memandangnya dari samping dengan sepasang netra elang yang kini telah kehilangan seluruh keangkuhannya.
Tatapan mata Baskara saat ini terasa terlalu lembut, terlalu hangat, dan dipenuhi oleh densitas rasa sayang yang teramat pekat. Perubahan drastis inilah yang terasa begitu mengerikan bagi Aruna. Dulu di London, setiap kali Baskara menatapnya, sorot mata itu selalu dipenuhi oleh penghinaan, kepuasan saat melihatnya gagal, dan ketajaman yang menguliti harga dirinya. Sekarang, melihat sepasang mata yang sama justru memancarkan pemujaan dan cinta yang tulus membuat seluruh sistem pertahanan di dalam diri Aruna mengalami malafungsi. Perubahan tatapan itulah yang menciptakan distorsi besar di dalam dadanya, memicu rasa tidak nyaman yang teramat sangat hingga membuat Aruna rasanya ingin bangkit berdiri dan kabur sejauh mungkin dari hadapan pria itu detik ini juga.