NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: tamat
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 ​Topeng yang Terkelupas

Udara pagi di area parkir luar Prawijaya Group terasa begitu menyesakkan saat Aruna melangkah turun dari mobilnya. Genggaman tangannya pada tali tas kerja begitu erat, sewarna dengan pucuk-pucuk jarinya yang mendingin. Kabar dari Saniya semalam mengenai keterlibatan Vano dalam eksekusi lahan koridor barat terus menghantam dinding logikanya, menyisakan rasa perih yang teramat pekat di hulu hatinya.

​Vano. Teman pria SMA nya dulu yang selama beberapa bulan terakhir ini selalu hadir sebagai sosok yang manis, penuh perhatian, dan seolah menjadi satu-satunya tempat bersandar yang aman bagi Aruna untuk menyembuhkan trauma fisiknya pasca koma di London. Aruna mengira Vano adalah sahabat sejati yang tulus berada di sisinya tanpa pamrih korporat. Namun, draf laporan yang ia pegang sekarang meruntuhkan seluruh ekspektasi manis tersebut.

​Langkah kaki Aruna membawa dirinya lurus menuju ruang kerja Vano yang berada di lantai hukum komersial. Tanpa mengetuk pintu kayu ek itu lebih dulu, Aruna mendorongnya dengan satu sentakan tegas, menciptakan bunyi debuman pelan yang mengejutkan pria di dalam ruangan.

​Vano, yang sedang memeriksa beberapa berkas di balik meja kerjanya, mendongak. Sinar matanya yang biasa hangat seketika berubah tegang saat melihat paras pias Aruna yang sarat akan kilatan amarah mutlak.

​"Aruna? Ada apa? Kenapa tidak memberi tahu kalau mau ke ruangan.."

​Brak.

​Aruna melemparkan draf surat perintah pengosongan lahan koridor barat tepat di atas keyboard laptop Vano. "Bisa kau jelaskan apa arti tanda tanganmu di bawah nama Prawijaya Group ini, Vano?" suara Aruna mengalun bening namun setajam belati, menuntut jawaban tanpa celah.

​Vano terdiam, menatap lembaran draf tersebut sebelum mengembuskan napas panjang. Garis wajahnya yang semula ramah perlahan melorot, digantikan oleh ekspresi kaku dan dingin sebuah topeng profesional yang belum pernah ia tunjukkan di depan Aruna selama ini. Pria itu bangkit berdiri, merapikan kemeja kerjanya dengan gerakan yang teratur.

​"Ini bisnis, Aruna. Ayahmu yang meminta langsung divisi hukum untuk mengamankan jalur logistik sekunder itu secara mandiri," jawab Vano, intonasi suaranya mendatar, kehilangan seluruh kehangatan yang biasa ia obral. "Setelah proyek bersama Dirgantara Group batal akibat interupsimu kemarin, Prawijaya Group tidak punya pilihan selain mengeksekusi lahan itu dengan cepat demi menjaga stabilitas saham kuartal ini."

​Aruna mundur satu langkah, menatap Vano dengan binar mata yang dipenuhi rasa tidak percaya yang teramat dalam. Pengkhianatan dari orang terdekat ternyata terasa jauh lebih menusuk dibandingkan kejamnya bentakan Baskara di London dulu.

​"Bisnis? Kau menyebut penggusuran paksa pemukiman petani lokal sebagai langkah mengamankan jalur bisnis?" Aruna mencengkeram tepi meja Vano, mengabaikan denyut pening di pelipisnya yang mulai kembali menyerang. "Kau tahu persis bagaimana pandanganku tentang hukum agraria, Vano! Kau tahu aku mendirikan kantor relawan demi membela orang-orang seperti mereka! Tapi kau... kau justru menjadi tameng hukum ayahku untuk menggilas mereka!"

​Vano melangkah memutari mejanya, mencoba meraih pundak Aruna, namun gadis itu dengan cepat menepisnya dengan kasar. Tatapan mata Aruna begitu mendingin, memancarkan jarak yang tak lagi bisa diseberangi.

​"Buka matamu, Aruna!" Vano akhirnya menaikkan nada suaranya, membalas tatapan Aruna dengan kilat ambisi yang selama ini ia sembunyikan dengan rapi. "Kau bukan lagi mahasiswi idealis di London yang bisa hidup hanya dengan teori buku! Ini Jakarta, ini dunia korporasi riil tempat ayahmu berkuasa! Aku melakukan ini juga untuk posisiku, untuk masa depan kita jika nanti aku mendampingimu di perusahaan ini. Deon Prawijaya tidak akan pernah menerima pria yang lambat mengambil peluang!"

​Aruna tertawa hambar, sebuah tawa kering yang sarat akan rasa muak yang tak tertahankan. Topeng manis Vano kini telah terkelupas sempurna di depannya. Pria di hadapannya ini tidak lebih dari sekadar bidak manipulatif yang rela menggadaikan prinsip kemanusiaan demi menjilat kekuasaan Deon Prawijaya.

​"Jangan pernah bawa nama masa depan bersamaku untuk menutupi keserakanmu, Vano," desis Aruna teramat pelan, namun setiap suku katanya membawa penekanan yang mutlak. "Mulai detik ini, hubungan pertemanan kita selesai. Dan jika kau tetap bersikeras melangkah sebagai kuasa hukum ayahku untuk menggusur koridor barat... maka kau akan menghadapi aku sebagai lawanmu di meja sidang mediasi."

​Tanpa menunggu balasan, Aruna berbalik arah dan melangkah lebar meninggalkan ruangan dengan dagu terangkat tegak. Di balik dadanya yang terasa kian menyempit akibat pasokan oksigen yang mendadak menipis, sebuah ketetapan hati yang baru telah mengakar. Ia tidak akan membiarkan Vano ataupun ayahnya menang dalam laga kotor ini.

​Sementara itu, di lantai eksekutif Dirgantara Group, Baskara sedang berdiri menatap laporan intelijen lapangan yang baru saja diletakkan oleh Rian di atas mejanya. Sepasang netra elangnya membaca draf pergerakan sepihak dari Prawijaya Group di koridor barat.

​"Pak Baskara," Rian membuka suara dengan nada cemas. "Deon Prawijaya bergerak sangat agresif. Ia menugaskan Vano dari divisi hukum internal mereka untuk mengeksekusi lahan sekunder tanpa koordinasi dengan kita lagi. Berdasarkan pantauan, Nona Aruna baru saja meninggalkan gedung kantornya dengan kondisi fisik yang tampak sangat tertekan."

​Baskara tidak menjawab, namun jemarinya yang kokoh perlahan meremas pulpen di tangannya hingga buku jarinya memutih samar. Rahang pria itu mengetat sempurna. Ia tahu persis watak keras kepala Aruna, gadis itu pasti akan melemparkan dirinya sendiri ke dalam medan laga untuk membela para petani, tidak peduli seberapa rapuh kondisi organ jantung dan paru-parunya pasca koma.

​Rasa bersalah yang pekat kembali merayap di ulu hati Baskara, berbaur dengan amarah yang tersulut melihat bagaimana Deon dan Vano dengan tega menekan fisik Aruna yang belum pulih sepenuhnya. Baskara mengambil jas hitamnya yang tersampir di kursi, memakainya dengan satu gerakan konstan yang sarat akan otoritas mutlak.

​"Siapkan mobil, Rian. Kita ke koridor barat sekarang," perintah Baskara dingin.

​"Tapi Pak, jadwal pertemuan dengan kementerian agraria dua jam lagi.."

​"Tunda pertemuan itu," potong Baskara tanpa menerima bantahan sedikit pun sembari melangkah lebar menuju pintu keluar. "Aku tidak akan membiarkan singa-singa lapar itu mengoyak tubuhnya yang rapuh sebelum ia sempat bertarung denganku."

​Di balik topeng esnya yang angkuh, Baskara tahu bahwa keputusannya kali ini sama sekali tidak didasarkan pada kalkulasi margin bisnis. Ia bergerak murni karena ketakutan yang teramat sangat ketakutan bahwa jika ia terlambat melangkah satu detik saja, siluet tubuh ringkih Aruna akan kembali lunglai tak bernapas di dalam dekapannya seperti malam wisuda jahanam di London empat tahun lalu. Perang taktik korporasi ini kini telah resmi bergeser menjadi laga penyelamatan yang sarat akan intrik emosional yang berbahaya.

1
Ra H Fadillah
🥰🥰🥰🥰🥰
𝐘𝐖💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Mkch, Ade, utk Karya ny, Sukses Slalu 🙏👍🥳
Ra H Fadillah: Terima kasih 💞 semoga kakak suka dengan cerita lainnya 😉
total 1 replies
Tamirah
Mungkin rasa terhina yg luar biasa ketika berada di London membuat ia kembali Bersikap acuh tak acuh.
Desi Santiani
semogaa aruna ttp bisa bersama baskara n membesarkan anak mereka
brawijaya Viloid
aruna jgn mudah luluh plis 😒
brawijaya Viloid
benci bgt 😡
brawijaya Viloid
cih, sok iya bgt lu baskara
brawijaya Viloid
kekny ada yg slaah thor, kok suaminy?
brawijaya Viloid
ortu nya juga ni keterlaluann, mw sok baik klian? 🙄😡
brawijaya Viloid
gara" lu baskara setann
brawijaya Viloid
cihhh, nyesal kann loo 😡
brawijaya Viloid
jujur, author pintar bgt buat alur yg tdinya emosi jdi mnddk melow dan bahagia, senang bgt bacanya! peremluannya juga ga menye" lgsg to the point 🥰🥰
Ra H Fadillah: Terima kasih 💞 😉
total 1 replies
brawijaya Viloid
sialann lo baskaraaaa 😡
brawijaya Viloid
kasian bgt aruna
brawijaya Viloid
sok bgt lu baskaraaa, liat aja nnti
brawijaya Viloid
cerita baru thorrr 😻
Siska Amelia
lama banget Gk update
Ra H Fadillah: authornya lagi flu 😉 kakak 💞
total 1 replies
Trias Aliza Prasetyaningrum
aku inget pernah baca bagian Bagaskara sengaja panggil Aruna sayang di bab awal. ini, tapi mana ya
brawijaya Viloid: udh direvisi mngkin
total 1 replies
Siska Amelia
lanjutkan dong
Ra H Fadillah: Terima kasih, semoga kamu suka dgn ceritanya 😉
total 1 replies
𝐘𝐖💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!