Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlomba dengan waktu : 32
Krak.
Krakk.
Tiga sosok manusia yang tadi berpamitan pergi ke kebun, sedang menikmati meremuk tulang rusuk setelah daging menempel pada bagian keras di asap habis dikunyah.
Wujud bu Sasmi, Widi, dan Tejo tetap manusia pada umumnya, tapi yang tidak normal – barisan gigi runcing dan terdapat sepasang taring.
Ketiga sosok itu duduk di atas tanah. Bersantai seraya memandangi kebun teh hijau terbentang luas. Tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka.
“Daging si Mayang mau dimasak apa nanti?” Widi meludahkan sesuatu yang menyangkut di sela gigi, ternyata remukan tulang remaja laki-laki.
Tubuh malang itu sudah dieksekusi, selesai di awetkan, dan mulai dinikmati, sebelumnya juga disantap oleh Abeer.
“Kata Aan, digulai. Dia bilang, orang kota suka makan bersantan dan berlemak,” jawab Tejo, kini beralih menghisap sebatang rokok.
“Biar mereka merasakan daging temannya sendiri. Aku paling suka melihat betapa rakusnya si gendut itu,” yang dimaksud bu Sasmi adalah Abeer.
“Menurutku ada yang aneh dengan sosok gadis berambut pendek itu. Sorot matanya penuh misteri, seakan dia mengetahui tentang kita,” Tejo mencurigai Candra Kanti.
Bu Sasmi menggulung lengan kemeja batik lawas, terlihat memar kebiruan dekat siku. “Hanya si pemilik keistimewaan, tulang wangi darah manis yang dapat meninggalkan luka pada tubuh kita, sulit hilangnya, membutuhkan waktu lama.”
“Jadi, dia gadis istimewa yang diceritakan mbah Munah?” Widi mengibas-ngibaskan tangan berminyak, tulang tidak lagi manis disesap, dibuangnya.
“Kupikir, dia cuma gadis biasa dengan pemikiran kritis, maka dari itu sengaja menahan diri kala dipukul sebuah kayu. Ternyata bukan hanya meninggalkan luka berbekas, badanku juga seperti meriang.” Bu Sasmi mengurut leher terasa pegal-pegal.
Tejo terlihat tertarik, sangat fokus mendengarkan. “Beberapa kali ku dapati dia mengode Ahwaya. Gadis yang biasanya lahap makan daging manusia sudah diolah, dan dicampur bubuk melemahkan sistem kekebalan tubuh, menaikan emosi, tiba-tiba berhenti. Tak lagi mau makan daging dengan alasan masuk akal.”
“Bukan dia bodoh, tapi terlalu pintar memainkan peran, seolah tak tahu apa-apa, ternyata diam-diam melakukan penyelidikan. Candra Kanti harus segera dieksekusi saat malam bulan purnama tiga hari lagi.” Widi berdiri, menaikan celana katun yang dikenakannya.
“Ayo, kita tangkap secara bersamaan saja mereka!” ajaknya berambisi menyudahi menampung para tamu yang sebenarnya calon mangsa.
Bu Sasmi, dan Tejo beranjak, mengikuti langkah Widi menuju ke mobil terparkir di tepi jalan kebun teh.
***
Sedangkan di sisi lain, setelah mendengar titah Nyai, Candra Kanti bergegas mengelap air matanya.
“Kita harus bergegas, sebelum mereka memergoki, wajib melarikan diri!” Dengan berpegangan pada dinding, dia beranjak. Memaksakan diri untuk kuat.
“Kabur kemana?” Aji menarik Aya agar tidak kepanasan terkena suhu api menyala.
“Gak tahu, asal keluar dulu dari sini!” Kanti mengibas-ngibaskan tangan.
“Sambara, Abeer. Lebih baik kalian menggali tanah untuk mengubur jenazah Mayang dan remaja dalam karung. Jadikan satu tempat saja demi menghemat waktu,” ia mulai berpikir keras, mengambil keputusan cepat.
Namun kedua pemuda belum bisa diajak bicara apalagi diberi tugas, sampai suara Kanti terdengar membentak. “Kalian mau mampus disini? Bernasib sama seperti Mayang dan remaja tadi, iya?”
Sambara terhenyak, seakan baru tersadar dari lamunan.
Abeer juga mulai bereaksi, tapi masih bertahan di posisinya.
“Kalau gak mau gali lubang, biar aku yang mencangkul. Tugas kalian menurunkan anggota badan Mayang!” nada Kanti tersirat ancaman.
“Biar aku yang menggali.” Sambara keluar, kakinya dipaksakan berjalan. Di belakangnya, Abeer menyusul. Mereka tidak akan sanggup bersentuhan dengan wanita tinggal raga itu.
“Aji, tolong sandarkan Aya di luar pintu. Kita gak bisa meletakkannya jauh dari jangkauan! Terus carilah sebuah karung,” firasat Kanti mengatakan, akan ada bahaya besar.
“Iya.” Aji membopong Ahwaya, menyandarkan tubuh masih pingsan itu di bawah alat tuas.
“Mayang, aku izin makamin tubuhmu, ya? Maaf, ada bagian telah hilang, tidak lagi utuh,” air matanya kembali merebak.
Aji termangu, berdiri di tengah-tengah batas pintu, memegang karung berbahan plastik, diambil dari dapur kotor. Rasanya sakit sekali melihat seseorang dikenal lumayan dekat, pergi tanpa pamit, tahu-tahu harus menyaksikan bagian dirinya dalam kondisi mengenaskan.
Di luar, berdekatan dengan pohon beringin, Sambara, Abeer bekerja keras menggali tanah. Peluh mereka bercucuran.
Aji mengambil tangga bambu yang disandarkan pada ujung tembok, lalu diberdirikan di samping sepasang kaki tergantung.
“Biar aku aja yang melepaskan dari alat gancu,” tanpa membuka sandal gunungnya, Kanti menjejak anak tangga.
Tidak dapat dipungkiri, dia sebenarnya jijik, tengah menahan mual, harus tetap kuat.
Kanti memeluk kaki kanan bagian betis, langsung saja kulitnya Mayang terkelupas memperlihatkan daging pucat, minyak lemak membasahi kaos panjang yang dikenakan temannya.
Eheggg.
Hampir saja Kanti muntah, tapi masih bisa ditahannya. Mengusir rasa jijik, mengesampingkan ketakutan, dia mengangkat kaki dalam pelukan dengan ditahan tangan kanan. Lengan kirinya memiringkan alat gancu agar melepaskan tusukannya pada daging pangkal paha.
Satu kaki Mayang sudah masuk ke dalam karung yang diangkat tinggi-tinggi oleh Aji.
Kanti kembali berusaha melepaskan kaki satu lagi dan sebuah tangan temannya. Terakhir, kepala tanpa badan.
Tidak sampai hati ia menarik keatas wajah mensiratkan penderitaan detik-detik hembusan napas terakhirnya.
Kanti menghindari menyentuh kuat rambut kusut Mayang, takut kulitnya mengelupas.
“Maaf Mayang,” cicitnya seraya mendekap wajah kehilangan sepasang bola matanya.
Tubuh Mayang sudah dibungkus karung, ujungnya diikat batang padi, lalu dipanggul Aji, dibawa keluar.
“Aya, hei bangunlah! Kita harus lari dari sini!” Kanti menendang kaki Ahwaya, kedua tangannya berminyak lemak badan Mayang, begitu juga dengan pakaiannya.
Mendapatkan guncangan, perlahan kelopak mata Aya terbuka. Kala sudah sadarkan diri, pertama yang diingatnya kaki tergantung. “Ma … yang.”
“Hei, lihat aku!” Kanti berjongkok di depan gadis masih mulai histeris.
“Kan_ti … Mayang dia, hiks hiks. Kenapa mereka sangat kejam? Salah kita apa?” suaranya kala oleh isak tangis.
“Aya, gak ada waktu menangisi Mayang disaat kita dalam bahaya. Ayo makamin dia secara layak. Setelahnya pergi dari sini. Jangan sampai perjuangan jiwanya demi memberitahukan siapa dalang dibalik kematiannya sia-sia,” bujuknya bernada pelan, netra kembali berkaca-kaca.
Ahwaya mulai bisa mengendalikan diri, terlebih melihat bagaimana penampilan Kanti. Rasa empati sekaligus kagumnya mendominasi. “Terima kasih, Kanti. Kamu berusaha keras melindungi aku dan lainnya.”
“Ayo!” Kanti mengangguk, tidak membantu Aya berdiri.
“Lubangnya belum cukup dalam. “Aji masuk lagi, berniat memanggul karung jasad gadis remaja, tapi tidak dapat mengangkatnya dikarenakan batu pemberat.
Dia kesampingkan perasaan mengganjal dalam hati. Karung bagian luar dibuka, plastik penampung ditarik agar terbebas dari beban tidak seharusnya.
Aji berhasil memanggul sang gadis terbungkus plastik transparan, direndam garam kasar.
Kanti dan Aya sama-sama menghela napas panjang, pandangan mereka memburam oleh air mata bercucuran.
‘Mandilah Kanti! Minyak lemak Mayang yang melekat pada pakaianmu, membuat mereka dapat melacak keberadaan kalian! Kurang dari tiga puluh menit, Sasmi dan lainnya sampai disini! Cepatlah!’
“Kenapa, Kanti?” Aya heran melihat Candra Kanti termenung.
“Ayo buruan! Mereka sudah sangat dekat!”
.
.
Bersambung.
ini mah sudah klewatan
wehh aq mah gbsetuju klo sm aksata ini sudah gila lagi rupanya