Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
*****
Malamnya, setelah perdebatan kecil di taman belakang. Calista tidak berselera untuk makan malam bersama di meja makan, ia muak melihat wajah Damar dan belum lagi ia akan bertemu dengan Arkana— suami kedua si pemilik tubuh ini.
Jadi makan malamnya ini, Calista meminta untuk diantarkan saja ke kamarnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Nona Calista, permisi. Saya pelayan Elina yang membawakan makan malam untuk anda. "
Calista yang tengah sibuk mencari berita kecelakaan pesawat, sontak menghentikan kegiatannya. Tangannya tergantung di udara.
Elina....
Nama itu seperti tidak asing. Bukan— bukan ada hubungannya dengan Aruna, tapi dengan si pemilik tubuh, seperti ada getaran aneh di tubuhnya saat mendengar nama Elina.
"Masuk.... " Calista menjawab setelah beberapa lama berpikir keras, namun ia tidak mendapatkan petunjuk apapun.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, dan muncullah seorang pelayan perempuan muda- mungkin umurnya dua tahun di bawah Calista.
Dari atas tempat tidur dengan posisi tubuh setengah berbaring, Calista terus menatap pelayan perempuan bernama Elina itu. Dari ia melangkahkan kakinya dengan gerakan pelan namun dengan penuh percaya diri- Calista bisa lihat itu dari pancaran matanya.
"Nona Calista tumben sekali tidak ikut makan malam di bawah, padahal Tuan Damar dan Tuan Arkana sudah di meja makan. " Elina tiba-tiba angkat bicara sambil meletakkan nampan berisikan makanan di atas meja nakas.
"Saya sakit, kamu tau itu kan? " Calista jawab dengan santai, ia ingin mengulik sesuatu dari pelayan muda ini.
"Sakit? Biasanya juga Nona Calista tetap akan menemui para suami anda, walau dalam kondisi sakit sekalipun—
—dari awal anda datang ke mansion setelah dari rumah sakit, sikap anda jadi berubah sekali, saya sampai tidak mengenali anda. Nama anda juga kenapa di ubah? Dari Nona Sekar jadi Nona Calista, ini bukan salah satu trik anda untuk menarik perhatian Tuan Damar dan Tuan Arkana kan, Nona? "
Calista sedikit terperangah melihat keberanian pelayan bernama Elina ini, dari semua pelayan mansion ini dan orang-orang yang takut pada si pemilik tubuh. Elina ini terlihat lebih berani, itu berarti keduanya bisa dikatakan dekat sekali.
"Kamu terdengar seperti tau banyak tentang kehidupan saya ya, Elina. Saat sadar dari pingsan, ingatan saya agak sedikit terganggu. Bahkan kejadian saat saya jatuh saat itu saya agak sedikit melupakannya, apa kamu tau saya jatuh karena apa dan di mana? " tanya Calista masih dengan nada suara santai dan tidak menghakimi.
Gerakan tangan Elina yang tengah sibuk menyiapkan beberapa pil obat untuk Calista seketika terhenti. Calista bisa melihat bulu mata pelayan itu bergerak dengan tidak santai.
"Tentang itu, saya tidak tau apapun, Nona. Kejadian anda terjatuh tempo hari yang lalu, saya ada izin keluar mansion untuk menemui keluarga saya yang tengah dirawat di rumah sakit. " Elina tersenyum tenang, walau dari pancaran matanya— Calista bisa lihat bahwa perempuan ini tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ohiya, ini adalah beberapa pil obat untuk anda, Nona. Jangan lupa di minum dengan rutin setelah makan, kalau begitu saya pamit keluar, semoga anda lekas sembuh, Nona Calista. "
lalu pelayan Elina berlalu pergi tanpa menunggu Calista menjawab. Dan itu semakin menguat kecurigaan Calista padanya, ia harus menyelidikinya nanti.
Calista mendekati nampan makan malamnya.
Ia menatap makanan itu beberapa detik tanpa menyentuhnya. Aroma sup hangat dan nasi masih mengepul, namun perhatian Calista justru tertuju pada gelas air dan deretan pil obat yang diletakkan rapi di samping piring.
“Elina…” gumamnya pelan.
Getaran aneh di dadanya kembali muncul, seperti ada peringatan tak kasatmata yang berusaha disampaikan oleh tubuh ini. Bukan rasa takut, melainkan semacam kewaspadaan naluriah—sesuatu yang tertanam dalam diri pemilik tubuh asli.
Calista duduk di tepi ranjang, meraih salah satu pil dan memutarnya di antara jemarinya. Ia tidak langsung meminumnya. Pandangannya melirik ke pintu kamar yang kini tertutup rapat, seolah memastikan Elina benar-benar sudah pergi.
“Kalau kalian dekat… kenapa kamu justru terlihat ingin menjaga jarak sekarang?” gumamnya lagi, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia akhirnya menyantap makan malam itu perlahan, namun pikirannya terus berputar. Setiap ucapan Elina terngiang kembali di kepalanya—terlalu lancar, terlalu berani, dan terlalu tahu banyak. Terlebih soal perubahan nama dan sikapnya. Pelayan biasa tidak seharusnya berani mempertanyakan hal seperti itu, kecuali… ia merasa memiliki posisi khusus.
Selesai makan, Calista meminum obat-obatan itu satu per satu, lalu menyimpan sisa pil ke dalam laci nakas. Ia tidak sepenuhnya percaya, tapi tubuh ini memang masih lemah. Untuk saat ini, ia memilih berhati-hati tanpa menunjukkan kecurigaan berlebihan.
Ia kembali ke tempat tidur, bersandar dengan punggung menempel pada sandaran empuk. Tablet di tangannya kembali menyala, menampilkan berita kecelakaan pesawat yang sejak tadi ia cari.
Tidak ada nama yang ia kenal. Tidak ada petunjuk yang bisa mengaitkannya dengan dirinya. “Tubuhku benar-benar sudah hilang entah dimana, apa aku jadi hantu gentayangan hingga memasuki raga orang lain? ” bisiknya lirih.
Tatapannya perlahan beralih ke jendela besar di sisi kamar. Di luar, malam semakin pekat, lampu taman mansion terlihat redup namun tertata rapi— terlalu tenang untuk sebuah tempat yang menyimpan banyak rahasia.
Calista mengepalkan tangannya.
Satu per satu, orang-orang di mansion ini akan ia perhatikan. Damar dengan sikap dinginnya. Arkana yang bahkan belum ia hadapi secara langsung. Dan kini— Elina, pelayan muda dengan senyum tenang dan mata yang pandai berbohong.
“Tenang saja,” gumam Calista sambil menyipitkan mata.
“Aku tidak tertarik merebut perhatian siapa pun. Tapi kalau kalian berniat memainkan aku…”
Ia tersenyum tipis.
“…aku juga tidak akan tinggal diam. "
*****
'Alam bawah sadar'
Calista menatap aneh di sekelilingnya dengan perasaan bingung.
‘Ini di mana? Perasaannya tadi ia di kamar tengah tertidur pulas,’ pikirnya.
Calista hendak berteriak kencang, kali saja ia bisa menemukan seseorang di tempat ini. Namun, saat ia sudah membuka mulutnya, tak ada suara apapun yang keluar.
‘Aku tidak bisa berbicara?!’ gumam Calista dalam hati dengan kaget dan bingung.
Sebenarnya ada apa ini?!
Di tengah kebingungan melandanya. Latar putih seperti dinding yang tadi mengelilingi Calista kini menghilang dan terganti menjadi taman belakang.
‘Ini sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba aku berada di tempat ini?’ Benaknya berpikir keras, suaranya benar-benar tidak bisa ia keluarkan. Jujur, Calista sedikit panik akan hal itu namun ia mencoba untuk tenang.
"Gila, kamu selingkuh dengan perempuan rendahan ini selama bertahun-tahun dan lebih memilihnya daripada aku! Di mana otak kamu?! "
Calista tersentak kaget saat tiba-tiba saja mendengar suara teriakan kencang, ia melangkah menuju ke asal suara.
‘Itu bukannya Sekar?’ Benak Calista bertanya-tanya, melihat sosok Sekar di sana dekat kolam kecil taman yang kemarin ia datangi.
Calista maju mendekat dengan pelan, ia penasaran dengan dua sosok pria yang Sekar marahi tadi dan sosok perempuan yang bersembunyi dibelakang tubuh si pria.
‘Kenapa aku tidak bisa melihat jelas wajah kedua orang di depan Sekar itu?’ Batinnya bertanya kebingungan.
"Dia lebih baik dari kamu, Sekar. Lihat sikap kamu yang temperamen ini, kamu pikir aku betah dengan sikap buruk kamu ini? " sang pria membalas ucapan Sekar dengan tak kalah kesalnya, perempuan di belakangnya ia jaga dari jangkauan Sekar yang bisa saja mengamuk. "Ingat kamu sekarang sudah menikah dan bahkan memiliki dua suami sekaligus, kamu yang lebih gila! Dan berhenti untuk ikut campur urusanku dengan kekasih ku! "
"Dengan pelayan rendahan ini? Kamu gila lebih memilih dia dibandingkan aku yang Nona muda kaya raya ini? Kamu pikir baik baik lagi, dengan kamu memilih dia, emangnya kamu bisa apa, hah?! "
Sekar terlihat ingin mengamuk, ia mendekati pria di depannya untuk menarik paksa perempuan yang disembunyikan.
—namun tepat saat jemarinya hampir menyentuh lengan perempuan itu, pria tersebut mendorong bahu Sekar dengan kasar.
Bukan kuat.
Tidak sampai membuat orang lain langsung menyebutnya kekerasan.
Tapi cukup untuk membuat Sekar kehilangan keseimbangan.
“Sekar—!”
Teriakan itu terdengar samar, seperti datang dari kejauhan. Calista membeku di tempatnya. Matanya membelalak saat tubuh Sekar terhuyung mundur, tumitnya menginjak pinggiran batu kolam yang licin oleh lumut.
Sekar tersandung.
Tubuhnya oleng ke belakang.
Ia refleks meraih sesuatu— apa pun— namun tidak ada yang bisa digenggam. Tangannya hanya menangkap udara kosong.
Dan saat itulah—
Seseorang mendorongnya lagi.
Kali ini dari samping.
Calista melihatnya jelas.
Bukan pria itu.
Melainkan perempuan yang tadi bersembunyi di belakang tubuh sang pria. Tangannya bergerak cepat, menekan punggung Sekar dengan gerakan singkat dan panik— seolah takut Sekar masih bisa berdiri dan melanjutkan amukannya.
Dorongan itu kecil.
Namun cukup.
Sekar terjatuh.
Bukan ke kolam— melainkan ke arah tangga batu yang menghubungkan taman atas dan bawah. Tubuhnya menghantam anak tangga pertama, lalu berguling turun dengan suara benturan tumpul yang membuat Calista menahan napas.
Semua terjadi terlalu cepat.
Sekar tergeletak di bawah tangga, tubuhnya miring, rambutnya terurai menutupi sebagian wajahnya. Darah tipis merembes dari pelipisnya, mengalir pelan menyusuri batu.
Sunyi.
Pria dan perempuan itu terpaku beberapa detik.
Calista melihat siluet mereka saling berpandangan—panik, ragu, dan ketakutan bercampur jadi satu.
“Ini… ini bukan salah kita,” suara pria itu terdengar gemetar.
“Kamu lihat sendiri dia yang maju duluan,” sahut perempuan itu cepat, nada suaranya bergetar.
Mereka mundur.
Satu langkah.
Lalu dua.
Tanpa menoleh lagi, mereka pergi meninggalkan taman, langkah kaki mereka tergesa menghilang di balik bayangan pepohonan.
Calista berlari ke arah Sekar.
Atau mencoba berlari.
Namun kakinya menembus anak tangga batu, tangannya menembus tubuh Sekar saat ia berlutut di sampingnya.
“Sekar…” bisiknya panik, meski ia tahu suaranya tak akan terdengar.
Wajah Sekar pucat. Napasnya tipis, nyaris tak terlihat. Kelopak matanya bergetar pelan, lalu terbuka sedikit—kosong, seolah kesadarannya sudah menjauh.
Namun di detik terakhir itu, bibir Sekar bergerak.
Sangat pelan.
Calista mendekatkan wajahnya, mencoba membaca gerakan bibir itu.
“Jangan… percaya…”
Kalimat itu tidak sempat selesai.
Dunia di sekeliling mereka mendadak retak—seperti kaca yang dipukul dari berbagai arah. Suara dentuman keras menggema, cahaya putih menyilaukan mata Calista.
Ia tersedot mundur.
Tubuhnya terasa berat—lalu jatuh.
*****
Calista tersentak bangun di atas ranjang dengan napas tersengal. Dadanya naik turun cepat, tenggorokannya kering, keringat dingin membasahi leher dan pelipisnya.
Tangannya gemetar saat ia menggenggam seprai.
“Bukan… kecelakaan…” bisiknya parau.
Gambaran itu masih jelas di kepalanya. Dorongan pertama. Dorongan kedua. Dua orang— pria dan perempuan. Salah satunya jelas pelayan. Yang satunya…
Calista memejamkan mata, berusaha mengingat.
Wajah pria itu buram.
Perlahan, tatapannya beralih ke arah jendela kamar. Dari sana, tangga taman belakang terlihat samar di kejauhan, diterangi lampu taman yang temaram.
Wajah Calista mengeras.
“Sekar…” gumamnya pelan.
“Kamu tidak jatuh sendiri.”
Dan kali ini, ia yakin—
Seseorang di mansion ini tahu persis apa yang terjadi malam itu.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭