Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah

​Langit di atas Kota Daun Musim Gugur bergemuruh hebat. Kilatan petir menyambar-nyambar, merobek tirai awan hitam pekat, seolah-olah langit sendiri sedang menumpahkan murka. Hujan turun menderu, membasahi bumi dengan dingin yang menusuk tulang.

​Di sebuah halaman belakang yang kumuh dan terabaikan di sudut kediaman Keluarga Lin, seorang pemuda terbaring diam bersimbah darah. Pakaiannya compang-camping dipenuhi lumpur, dan napasnya telah sepenuhnya berhenti. Pemuda ini adalah Lin Chen, tuan muda ke-13 dari Keluarga Lin yang terkenal seantero kota sebagai "Sampah Terbesar". Ia terlahir dengan meridian buntu, membuatnya tidak bisa menyerap energi spiritual sedikit pun.

​Namun, tepat ketika guruh meledak di langit, jari tangan pemuda yang sudah mati itu tiba-tiba berkedut.

​Kelopak matanya terbuka perlahan.

​Tidak ada lagi keputusasaan, ketakutan, atau kepengecutan di sorot mata itu. Yang ada hanyalah kedalaman yang menyerupai jurang tak berdasar, dan ketajaman yang bisa membelah lautan serta menghancurkan bintang.

​"Aku... belum mati?"

​Suaranya serak dan parau, tenggelam di tengah suara rintik hujan. Ia memaksakan diri untuk duduk, menahan rasa sakit luar biasa yang menggerogoti sekujur tubuh fana tersebut. Ia menatap telapak tangannya yang rapuh, lalu memindai ingatan asing yang tiba-tiba mengalir deras ke dalam lautan jiwanya seperti ombak pasang.

​"Lin Chen... Namanya juga Lin Chen. Berusia lima belas tahun, meridian cacat, dan baru saja dipukuli sampai mati oleh sepupunya sendiri hanya karena menatap seorang gadis dari keluarga cabang." Pemuda itu tertawa dingin. Tawanya penuh dengan sarkasme yang menusuk. "Sungguh kehidupan yang menyedihkan dan menyedihkan."

​Dia bukanlah Lin Chen yang asli. Atau lebih tepatnya, jiwa di dalam tubuh ini kini adalah entitas yang jauh lebih menakutkan.

​Lima ratus tahun yang lalu, ia adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri tegak di puncak Alam Dewa. Ia adalah penguasa mutlak yang membuat ribuan dewa berlutut hanya dengan satu hunusan pedang. Namun, tepat ketika ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi melalui teknik terlarang, ia dikhianati.

​Lin Chen menutup matanya. Ingatan dari kehidupan masa lalunya kembali membakar dadanya seolah baru terjadi kemarin.

​Ia ingat dengan sangat jelas bagaimana pedang es milik Dewi Teratai Salju—wanita yang paling ia cintai—menusuk jantungnya dari belakang. Ia juga ingat bagaimana saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam, menyegel ruang di sekitarnya dengan formasi kuno agar jiwanya tidak bisa melarikan diri untuk bereinkarnasi.

​"Lin Chen, jangan salahkan kami. Warisan Kehampaan ini terlalu besar untuk kau kuasai sendiri. Serahkan padaku, dan aku akan memastikan namamu dikenang," kata-kata Dewi Teratai Salju masih menggema dengan racun kemunafikan di telinganya.

​"Teratai Salju... Naga Hitam..." Lin Chen mengepalkan tinjunya erat-erat. Kuku-kukunya menusuk daging telapak tangannya, meneteskan darah segar yang bercampur dengan air hujan. "Kalian mengira telah menghancurkan jiwaku, namun langit berkehendak lain! Karena aku, Lin Chen, telah kembali ke dunia ini, aku akan memastikan kalian membayar setiap tetes darahku dengan lautan darah kalian sendiri!"

​Menekan amarah di hatinya, Lin Chen segera memeriksa kondisi tubuh barunya. Ia mencoba mengedarkan energi spiritual, namun seketika alisnya berkerut tajam.

​Meridian di tubuh ini tidak hanya buntu sejak lahir, tapi di kedalaman Dantian-nya, terdapat gumpalan energi dingin yang mematikan. Seseorang telah dengan sengaja menanamkan racun dingin ke dalam tubuhnya sejak ia masih bayi! Ini bukan cacat bawaan, ini adalah sabotase yang kejam.

​Seseorang di keluarga ini benar-benar tidak ingin pemilik tubuh aslinya berlatih kultivasi.

​"Hanya racun dingin tingkat rendah dan meridian yang disumbat secara paksa. Apa kau pikir trik murahan semacam ini bisa menghentikan langkah seorang Kaisar Pedang?"

​Lin Chen tersenyum sinis. Ia duduk bersila di tengah hujan lebat, mengabaikan udara dingin yang menusuk. Ia memanggil ingatan tentang metode kultivasi terlarang yang ia peroleh di kehidupan sebelumnya—sebuah teknik purba yang menjadi alasan utama mengapa ia dikhianati.

​Sutra Pedang Kehampaan.

​"Bentuk tubuh sebagai pedang, jadikan meridian sebagai sarung pedang. Biarkan energi spiritual langit dan bumi menjadi bilahnya yang tak terkalahkan!"

​Seketika, aliran udara di sekitar Lin Chen berubah drastis. Hujan lebat yang turun tepat di atas kepalanya mendadak terbelah menjadi dua, seolah-olah ada pedang tak kasat mata yang melindunginya. Energi spiritual yang sangat tipis di udara malam perlahan-lomba masuk ke dalam pori-porinya.

​Di bawah kendali jiwanya yang setingkat Kaisar, energi itu dikompresi menjadi pedang-pedang Qi sekecil jarum yang langsung menusuk ke dalam meridiannya yang tersumbat.

​KRAK!

​Suara sesuatu yang pecah terdengar samar dari dalam tubuh Lin Chen. Rasa sakitnya jutaan kali lipat lebih mengerikan daripada disayat pisau hidup-hidup. Tubuhnya bergetar hebat, pori-porinya mulai mengeluarkan darah kotor, namun Lin Chen tidak mengeluarkan suara erangan sedikit pun. Ekspresinya setenang air di danau mati, seolah rasa sakit itu bukan miliknya.

​Satu meridian terbuka...

Dua meridian...

Tiga meridian!

​Hanya dalam waktu satu jam, dua belas meridian utamanya yang selama lima belas tahun tersumbat total, kini hancur terbuka. Energi spiritual kotor bercampur cairan hitam berbau busuk merembes keluar dari kulitnya, membawa serta racun dingin yang selama ini mendekam di Dantian-nya.

​Lin Chen perlahan membuka matanya. Ada kilatan cahaya keemasan berbentuk pedang kecil yang melintas di kedalaman pupilnya. Udara di sekitarnya berdesir.

​Ia telah melangkah ke Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1.

​Meski ini adalah tingkatan terendah dalam dunia kultivasi, fondasi yang dibangun oleh Sutra Pedang Kehampaan membuatnya memiliki Qi yang seratus kali lebih murni daripada kultivator pada tingkat yang sama.

​BRAAAK!

​Pintu kayu lapuk di halaman kumuh itu tiba-tiba ditendang hingga hancur berkeping-keping. Tiga orang pemuda mengenakan jubah abu-abu khas murid luar Keluarga Lin masuk sambil tertawa merendahkan.

​"Hahaha! Coba lihat, Kakak Lin Wei, si sampah ini ternyata masih bernapas! Padahal aku yakin tendanganmu tadi sudah menghancurkan organ dalamnya."

​Pemuda yang berjalan di tengah, Lin Wei, bertubuh besar dan berwajah angkuh. Ia meludah ke tanah yang becek. "Ternyata nyawa si cacat ini lebih alot dari anjing jalanan. Hei Sampah! Karena kau masih hidup, merangkak kemari, berlututlah dan jilat lumpur di sepatuku. Jika kau melakukannya dengan baik, mungkin aku akan bermurah hati membiarkanmu hidup hari ini!"

​Dua antek di samping Lin Wei tertawa terbahak-bahak, bersiap untuk menyaksikan hiburan rutin mereka menyiksa tuan muda tak berguna tersebut.

​Lin Chen bangkit berdiri perlahan. Hujan telah sepenuhnya reda, menyisakan hawa dingin sisa badai. Ia menepuk kotoran di pakaiannya, lalu menatap ketiga orang itu. Tatapannya sangat datar, tanpa emosi sama sekali, namun entah mengapa membuat bulu kuduk Lin Wei dan kedua temannya mendadak meremang. Tatapan itu seperti dewa kematian yang sedang melihat tiga bongkah daging mati.

​"Kau... menyuruhku berlutut?"

​Suara Lin Chen terdengar pelan, namun terbawa jelas oleh angin malam. Udara di halaman itu tiba-tiba anjlok ke titik beku.

​"Bahkan langit dan bumi pun tidak berhak menyuruhku berlutut. Kau pikir kau siapa, semut rendahan?"

​Lin Wei tertegun sejenak mendengar nada bicara yang begitu sombong dari si sampah yang biasanya hanya bisa menangis minta ampun. Wajahnya seketika memerah karena marah. Sebagai kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 2, dihina oleh orang cacat adalah penghinaan tak termaafkan.

​"Kau mencari mati, Sampah! Karena kau menolak bersujud, aku akan mematahkan kedua kakimu agar kau berlutut seumur hidupmu!"

​Lin Wei melesat maju seperti serigala buas. Tinjunya dilapisi oleh energi spiritual tipis berwarna putih, diarahkan langsung ke dada Lin Chen dengan niat untuk menghancurkan tulang rusuknya. Ini adalah teknik bela diri dasar Keluarga Lin, Tinju Pemecah Batu.

​Melihat tinju yang mendekat dengan cepat, Lin Chen bahkan tidak berkedip. Di matanya, gerakan Lin Wei penuh dengan celah, lambat seperti siput yang sedang merayap.

​Tepat ketika tinju itu hanya berjarak satu inci dari dadanya, Lin Chen bergerak.

​Ia memiringkan bahunya sedikit, membiarkan tinju Lin Wei meleset menyapu udara kosong. Pada saat yang bersamaan, tangan kanan Lin Chen meluncur keluar bagai kilat. Dua jarinya dirapatkan membentuk pedang, dan dengan presisi yang mengerikan, ia menusukkan jarinya tepat ke persendian bahu kanan Lin Wei.

​CRAT!

​"AARGHHH!"

​Jeritan melengking merobek keheningan malam. Tubuh besar Lin Wei terhempas ke belakang dan jatuh berdebum ke tanah berlumpur. Ia memegangi bahu kanannya yang kini terkulai lemas; urat nadinya telah diputuskan dengan rapi hanya oleh tusukan dua jari.

​Dua antek di belakangnya membeku di tempat, mulut mereka ternganga lebar. Mata mereka melotot seolah baru saja melihat hantu. Lin Wei, seorang kultivator Kondensasi Qi Tingkat 2, dikalahkan hanya dengan satu gerakan oleh Lin Chen yang tidak memiliki kultivasi?

​Lin Chen melangkah maju dengan tenang. Sepatunya menginjak genangan air berdarah. Ia berdiri menjulang di atas tubuh Lin Wei yang sedang meronta kesakitan di tanah, menatapnya dengan tatapan merendahkan dari seorang raja yang memandang serangga.

​"Kembali dan beri tahu tuanmu, anjing yang menggigit tanpa melihat siapa tuannya, hanya akan berakhir sebagai makanan cacing," ucap Lin Chen dengan suara dingin yang menusuk jiwa. "Mulai malam ini, siapapun yang berani merendahkan namaku di Keluarga Lin... akan membayar dengan nyawa."

Terpopuler

Comments

yos helmi

yos helmi

sebenarnya malas baca karya bodatt .. ceritanya ng pernah tamat.. 🤣🤣🤣

2026-06-07

2

Shin

Shin

Narasinya enak👐

2026-06-02

2

Nanik S

Nanik S

Hadir Tor

2026-05-24

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2 Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3 Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4 Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5 Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6 Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7 Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8 Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9 Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11 Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12 Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13 Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14 Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15 Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16 Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17 Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18 Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19 Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20 Bab 20: Gravitasi Kematian
21 Bab 21: Penjaga Jembatan
22 Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23 Bab 23: Paviliun Sutra
24 Bab 24: Surat Tantangan Darah
25 Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26 Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27 Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28 Bab 28: Hutan Pedang Karat
29 Bab 29: Membakar Bayangan
30 Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31 Bab 31: Tungku Darah
32 Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33 Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34 Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35 Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36 Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37 Bab 37: Penundukan Jiwa
38 Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39 Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40 Bab 40: Badai Bilah Hitam
41 Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42 Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43 Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44 Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45 Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46 Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47 Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48 Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49 Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50 Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51 Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52 Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53 Bab 53: Murka Sekte Pedang
54 Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55 Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56 Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57 Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58 Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59 Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60 Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61 Bab 61: Lautan Badai Kematian
62 Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63 Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64 Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65 Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66 Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67 Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68 Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69 Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70 Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71 Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72 Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73 Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74 Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75 Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76 Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77 Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78 Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79 Bab 79: Hujan Logam
80 Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81 Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82 Bab 82: Sekte Gunung Baja
83 Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84 Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85 Bab 85: Benturan Fisik Emas
86 Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87 Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88 Bab 88: Inti Magma Bintang
89 Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90 Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91 Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92 Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93 Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94 Bab 94: Takhta Kosong
95 Bab 95: Lautan Petir Primordial
96 Hujan Darah di Sembilan Langit
97 Berdirinya Istana Kehancuran
98 Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99 Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100 Bab 100: Lautan Api Purba
101 Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102 Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103 Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104 Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105 Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106 Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107 Bab 107: Riak di Istana Teratai
108 Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109 Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2
Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3
Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4
Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5
Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6
Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7
Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8
Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9
Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11
Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12
Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13
Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14
Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15
Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16
Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17
Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18
Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19
Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20
Bab 20: Gravitasi Kematian
21
Bab 21: Penjaga Jembatan
22
Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23
Bab 23: Paviliun Sutra
24
Bab 24: Surat Tantangan Darah
25
Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26
Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27
Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28
Bab 28: Hutan Pedang Karat
29
Bab 29: Membakar Bayangan
30
Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31
Bab 31: Tungku Darah
32
Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33
Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34
Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35
Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36
Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37
Bab 37: Penundukan Jiwa
38
Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39
Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40
Bab 40: Badai Bilah Hitam
41
Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42
Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43
Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44
Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45
Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46
Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47
Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48
Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49
Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50
Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51
Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52
Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53
Bab 53: Murka Sekte Pedang
54
Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55
Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56
Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57
Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58
Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59
Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60
Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61
Bab 61: Lautan Badai Kematian
62
Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63
Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64
Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65
Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66
Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67
Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68
Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69
Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70
Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71
Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72
Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73
Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74
Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75
Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76
Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77
Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78
Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79
Bab 79: Hujan Logam
80
Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81
Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82
Bab 82: Sekte Gunung Baja
83
Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84
Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85
Bab 85: Benturan Fisik Emas
86
Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87
Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88
Bab 88: Inti Magma Bintang
89
Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90
Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91
Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92
Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93
Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94
Bab 94: Takhta Kosong
95
Bab 95: Lautan Petir Primordial
96
Hujan Darah di Sembilan Langit
97
Berdirinya Istana Kehancuran
98
Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99
Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100
Bab 100: Lautan Api Purba
101
Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102
Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103
Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104
Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105
Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106
Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107
Bab 107: Riak di Istana Teratai
108
Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109
Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!