“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Menuju Takdir yang Diremehkan
Udara di jalan yang diapit persawahan itu seolah membeku, angin berhenti bertiup.
“Hah?!” mulut Ryu terbuka. Ekspresinya jelas syok.
Ia seorang CEO, tapi dijodohkan dengan gadis desa yang entah profesinya dukun beranak atau... pawang ular?
Tiba-tiba bayangan itu datang tanpa bisa dicegah. Calon istrinya mengalungkan ular sanca di leher, atau memegang kepala kobra. Sambil mendekat padanya berkata,
"Kakak ganteng, lihat ularnya. Kira-kira ganas mana sama ular Kakak?"
Ryuhan bergidik, tanpa sadar mengibaskan tangannya cepat. Memaksa bayangan absurd itu menyingkir.
Jordi menelan ludah pelan. Tatapannya berpindah dari pria paruh baya itu ke Ryu.
“Bos…” katanya hati-hati. “Yakin mau cari salah satu dari dua perempuan itu?"
Pria paruh baya itu malah mengernyit bingung. “Lho, tadi 'kan bilang mau nyari yang namanya Seroja.”
“Iya, tapi…” Jordi tertawa kering. “Maksud saya… masa iya Bos saya nyari perempuan yang profesinya... begitu?” Ia menggoyang lengan Ryuhan. "Bos, apa kita gak salah desa? Mungkin bukan Seroja yang di desa ini."
Ryuhan menepis tangan Jordi. Ia sendiri masih belum bisa menerima kenyataan ini.
“Memangnya kenapa?” tanya pria paruh baya itu polos.
Jordi membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dan di sampingnya, wajah Ryu sudah mengeras.
“Dukun beranak?” Jordi masih belum menyerah mencerna. “Bos saya ini CEO perusahaan, Pak. Tiap hari kerjanya meeting sama investor.”
Ia menunjuk Ryu cepat.
“Kalau pawang ular…” lanjutnya makin pelan. “Ya… kami kerja di gedung, bukan di hutan. Kalau dukun..." Ia menyengir canggung. "Di kota banyak dokter, Pak."
Tapi sesaat kemudian ia mengangkat tangannya, menggoyangkannya cepat. "Saya gak bermaksud, ah itu..." Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "...dukun beranak 'kan biasanya di desa, Pak. Karena gak ada tenaga medis."
Ryu mengembuskan napas kasar sambil memijat pelipisnya. "Nenek benar-benar sudah kehilangan akal," gerutunya lirih.
Pria paruh baya itu malah terkekeh kecil. “Lha memang kenapa kalau dukun? Istri Bapak setahun lalu hamil. Bayinya sungsang."
Tatapannya menerawang, seolah mengingat peristiwa dulu. "Bidan desa bilang suruh operasi caesar, karena peralatan medisnya di puskesmas desa tidak lengkap."
Ia tersenyum pahit. "Tapi saya hanya punya sedikit uang. Jadi saya minta tolong Seroja supaya posisi bayinya kembali normal."
Kali ini senyumnya mengisyaratkan kelegaan dan rasa syukur. "Hasilnya, istri saya bisa melahirkan normal tanpa operasi. Ditolong Seroja."
Ia menepuk lengan Jordi. "Jadi... jangan menyepelekan dukun kampung."
Ryuhan akhirnya menghembuskan napas panjang. "Pak, apa dua Seroja ini masih gadis semua?"
"Tidak," jawab pria bertopi itu. "Yang pawang ular sudah menikah dan punya anak. Kalau yang dukun beranak masih gadis."
Ryuhan mengusap wajahnya kasar. "*Astaga...aku dijodohkan dengan dukun beranak*?" batinnya miris.
"Bos," Jordi menatapnya tak percaya. "Beneran nyari salah satu dari dua Seroja ini?"
Ryuhan mengabaikan Jordi. Ia menatap pria di depannya. "Jadi... Seroja yang dukun beranak tinggal di kampung mana, Pak?"
"Di kampung Asri," jawab pria itu sambil mengengkol motornya. "Kebetulan Bapak tetangganya. Kalian boleh ikuti Bapak kalau mau ke rumahnya."
Tanpa menunggu respon dari kedua pemuda itu, ia memasukkan gigi motornya, lalu menarik gasnya.
"Bos.." panggil Jordi. "Kita--"
“Ikuti,” potong Ryu. Pemuda itu membuka pintu mobil dan duduk dengan wajah kusut seperti baru saja mendengar proyek triliunannya bermasalah.
"Ini beneran?" Jordi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bos mau nyari dukun beranak?"
"Jordi!" seru Ryuhan dengan suara rendah nyaris dingin. "Sepertinya pekerjaanmu terlalu santai dan gajimu terlalu besar."
"Ah iya, Bos," sahut Jordi tergagap. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil. Tapi saat tubuhnya menyentuh jok-- "Eh bukan, Bos. Gajiku sudah sesuai sama kerjaanku. Please, jangan dipot--"
"Jalan!" Ryuhan melotot, jelas tak sabar.
"Iya..iya..jalan," sahut Jordi buru-buru menyalakan mesin.
Mobil itu akhirnya melaju menyusul motor bebek milik pria bertopi. Semakin masuk ke dalam desa, jalannya semakin membuat Ryu memijat pelipisnya.
"Sepertinya kita salah bawa mobil, Bos," gumam Jordi, matanya tetap fokus pada jalan.
"Bukan seperti," sahut Ryu ketus. "Memang."
"Hah..." desah Jordi. "Sebenarnya bos mau ngapain sih, nyari gadis itu? Sampai ke kampung kayak gini. Apalagi profesinya--"
"Bisa diem, gak?" hardik Ryu.
"Iya..iya, Bos," kata Jordi cepat. "Jangan marah-marah mulu. Kalau darting 'kan repot." selorohnya tanpa dosa. "Soalnya sekarang kita bukan lagi cari dokter, tapi dukun beranak. Bukan spesialis penyakit dalam."
"Sepertinya gajimu memang harus dipotong," kata Ryu datar.
“Jangan, Bos.” Jordi langsung panik. “Aku diem.”
Ia buru-buru menyatukan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu menggesernya di depan bibir seolah sedang menarik resleting hingga mulutnya tertutup rapat.
Mobil itu akhirnya memasuki perkampungan. Rumah-rumah penduduk mulai terlihat. Mayoritas bangunan di desa itu sederhana. Dinding dari papan atau ayaman bambu. Hanya beberapa rumah saja yang berdinding bata, dan bisa dibilang cukup bagus.
Beberapa warga, terutama ibu-ibu nampak duduk di teras. Ada yang sedang mencari kutu anaknya, ada yang asyik ngerumpi. Mobil Ryu yang melintas langsung jadi pusat perhatian.
Kendaraan itu makin melambat. Bukan hanya karena jalanan yang dana perbaikannya kena pangkas sana sini, tapi juga karena anak-anak yang sedang bermain lari-larian.
"Anak-anak di desa lebih aktif dibandingkan anak kota," seloroh Jordi. "Gak kayak anak kota yang hobinya main hape sambil rebahan."
Ryu tak menanggapi. Dalam benaknya dipenuhi pertanyaan, seperti apa gadis yang dijodohkan dengannya? Berapa usianya sampai profesinya dukun beranak?
"*Jangan-jangan perawan tuan*," batinnya, membuat pundaknya merosot.
Motor bebek di depan mereka akhirnya berhenti. Pria paruh baya itu turun dari motornya. Jordi menepikan mobilnya, lalu berhenti. Ia dan Ryu akhirnya keluar dari mobil.
Semua mata di sekitar tempat itu langsung tertuju pada mereka. Bukan hanya karena mobil mewah yang mereka kendarai, tapi juga penampilan mereka. Pakaian rapi dan sepatu kulit mengilap.
Terutama Ryu. Postur tubuh dan wajahnya membuat para wanita, terutama gadis-gadis tak bisa mengalihkan pandangan. Mereka mulai berbisik-bisik.
"Ya ampun... ganteng banget," gumam seorang gadis dengan mata berbinar.
"Kayak artis," timpal yang lain.
“Itu rumah Seroja,” ujar pria paruh baya itu sambil menunjuk sebuah rumah joglo sederhana di ujung jalan tanah.
"Terima kasih, Pak," ucap Ryu sopan.
"Sama-sama," sahut pria paruh baya itu santai, lalu menuntun motornya masuk pekarangan rumah sederhana.
Ryu dan Jordi mengalihkan pandangan ke rumah yang ditunjuk pria tadi.
Bangunan joglo itu tidak besar, namun tampak teduh dan terawat. Dinding kayunya mulai menggelap dimakan usia, tetapi tiang-tiang cokelat tua di teras masih berdiri kokoh menopang atap limasan.
Halamannya cukup luas dengan pagar alami dari bunga asoka berwarna merah dan kuning yang dipangkas rapi. Pohon mangga tumbuh rindang di samping rumah, sementara jemuran kain batik dan kain panjang nampak bergoyang ditiup angin.
Di teras rumah, beberapa pria, anak-anak dan ibu-ibu yang memangku bayinya nampak duduk di kursi kayu, seolah rumah itu tak pernah benar-benar sepi dari orang yang datang mencari pertolongan.
"Tidak tahu bagaimana wajahnya," gumam Ryu nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
Ryuhan berpikir ia hanya menjemput calon istri. Ia tidak pernah tahu, kalau ia sedang melangkah menuju seseorang yang kelak menghancurkan kesombongannya.
...🔸🔸🔸...
..."Ryuhan menertawakan profesi gadis itu sebelum mengenalnya. Ia belum tahu bahwa kesombongan sering kali runtuh oleh tangan yang paling sederhana.”...
..."Tak semua orang hebat lahir dari gedung tinggi dan jas mahal. Beberapa tumbuh di rumah kayu, di tengah desa yang bahkan tak dianggap penting."...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂