Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPIRIT'S
Malam itu Hyeana sama sekali tidak bisa tidur. Kamar yang biasanya terasa nyaman kini terasa terlalu sunyi. Cahaya bulan masuk samar lewat celah tirai, membentuk bayangan pucat di lantai kamarnya. Namun semakin malam suasana justru semakin sesak.
“Hah…”
Hyeana memeluk lututnya pelan di atas tempat tidur. Matanya masih terbuka. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata…yang muncul bukan mimpi biasa.
'Melainkan api, Jeritan, Darah, dan suara Harvey.'
“PUTRI ELVARETTA!!”
Deg.
Hyeana langsung membuka mata lagi dengan napas sedikit kacau.
“Kenapa terus muncul.…” bisiknya pelan.
Tangannya perlahan menyentuh dadanya sendiri. Masih terasa sakit, padahal luka itu sudah terjadi tiga ratus tahun lalu, atau mungkin…bukan “dulu”.
Mungkin tubuhnya memang benar-benar pernah ditusuk di sana. Pikiran itu membuat Hyeana langsung menggigit bibirnya sendiri.
“aku ini…....sebenarnya siapa..…” Ia menunduk pelan.
“Hyeana… atau Elvaretta…?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara jam malam yang terus berdetak pelan di kamar sunyi itu.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Dan entah sejak kapan….Tanda hitam di pergelangan tangannya mulai terasa hangat lagi.
Deg.
Hyeana langsung menatap tangannya.
“Hnghhh…”
Bukan panas menyakitkan kali ini, melainkan hangat aneh seperti seseorang sedang menyentuhnya dari jauh. Mata Hyeana perlahan membesar karena entah kenapa…Perasaan itu terasa familiar.
“Harvey?”
Namun tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang bergerak pelan di balik tirai.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Keesokan harinya…Suasana kelas terasa lebih tenang dibanding biasanya. Terlalu tenang, Ara beberapa kali melirik Hyeana dengan khawatir sejak pagi.
“Hyeana…”
“Hm, kenapa ra?”
“Kamu pucet banget.”
“Aku gapapa kok ra.”
Tapi jelas itu bohong, bahkan Hyeana sendiri sadar matanya terlihat lelah. Ia hampir tidak tidur semalaman. Di belakangnya, Haras memperhatikan Hyeana beberapa detik sebelum akhirnya bersandar pelan ke kursi.
“Memorinya muncul lagi semalem ya.”
Hyeana sedikit terdiam.
“iyaa.”
Ara langsung panik kecil.
“MEMORI APALAGI SIH SEBENARNYA?!”
“Pelan dikit napa.” desis Haras.
Namun sebelum percakapan berlanjut…
Deg.
Hyeana langsung berhenti bergerak. Tatapannya perlahan mengarah ke jendela kelas. Tapi ternyata kosong. Seolah sedang merasakan sesuatu.....Olla yang duduk dekat jendela langsung menyadarinya.
“dia datang lagi?”
Hyeana tidak menjawab karena ia sendiri tidak tahu.
Namun untuk sesaat…Ia benar-benar merasa sedang diperhatikan. Dan anehnya….Perasaan itu tidak menakutkan. Melainkan membuat dadanya terasa sedikit tenang. Namun saat Hyeana melihat ke luar jendela…tetap saja tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya pohon yang bergerak pelan tertiup angin.
Padahal…Beberapa meter dari gedung sekolah…Harvey benar-benar berdiri di sana. Tersembunyi di bawah bayangan pohon besar. Tatapan merahnya diam mengarah ke jendela kelas Hyeana. Kabut hitam tipis bergerak pelan di sekitar kakinya.
Namun berbeda dari biasanya…Ia tidak mendekat, tidak masuk, tidak memanggil namanya. Harvey hanya diam memperhatikan Hyeana dari jauh.
Deg.
Tatapan Harvey sedikit berubah saat melihat Hyeana tersenyum kecil karena sesuatu yang Ara katakan. Namun beberapa detik kemudian…Tatapannya kembali kosong.
“Aku terlalu dekat dengannya…” gumamnya pelan.
Angin dingin Netherveil bergerak samar di sekitar tubuhnya.
“Dan sekarang memorinya mulai bangkit.”
Kabut hitam di sekeliling Harvey bergerak pelan.
Harvey benar-benar ragu, kalau semua ingatan Elvaretta kembali… Akankah Hyeana masih melihat dirinya sebagai 'Harvey?' atau…sebagai monster yang membawa kehancuran Moonhaven?. Tatapan Harvey perlahan meredup sedikit. Dan tanpa suara….Sosoknya menghilang bersama kabut hitam.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Malam harinya…Netherveil terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Langit merah gelap menggantung di atas kastil hitam yang berdiri sendirian di tengah dunia kematian itu.
Tok.
Tok.
Langkah Harvey bergema pelan di lorong kastil, Noir mengikuti di belakangnya dengan gelisah.
“Neigh…”
Harvey sedikit menoleh.
“Kau juga merasakannya?”
Noir menggeram pelan. Kabut hitam di sekitar kastil bergerak tidak stabil malam itu. Seperti sesuatu sedang mendekat.
Deg.
Langkah Harvey tiba-tiba berhenti, tatapan merahnya langsung mengarah ke depan, gerbang utama Netherveil.
Craaaackkk—
Suara retakan terdengar pelan di udara, kabut hitam di sekitar gerbang mulai terbelah perlahan. Noir langsung mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya…Kuda hitam itu terlihat waspada. Lalu…
Tap.
Tap.
Tap.
Seseorang melangkah keluar dari retakan itu. Dia seorang perempuan. Armor putihnya retak dan dipenuhi noda hitam seperti abu terbakar. Rambut putih panjangnya bergerak pelan tertiup angin Netherveil. Dan matanya….Kosong.
Deg.
Tubuh Harvey langsung membeku.
“mustahil.”
Suara itu keluar sangat pelan. Karena ia mengenali sosok itu. Sangat mengenalinya, perempuan itu perlahan mengangkat wajahnya. Lalu…Untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun…Bibirnya bergerak pelan.
“Sudah lama sekali ya…”
Tatapan kosong itu langsung mengarah ke Harvey.
“Harvey.”
Kabut hitam di seluruh Netherveil langsung bergetar hebat. Angin dingin langsung berputar di sekitar gerbang kastil sampai lantai batu retak perlahan. Noir mundur beberapa langkah sambil menggeram rendah.
“Grrrhhh…”
Namun Harvey sama sekali tidak bergerak. Tatapan merahnya terkunci penuh pada sosok perempuan di depan gerbang itu. Wajah yang seharusnya sudah lenyap tiga ratus tahun lalu.
“Aileen.” gumam Harvey pelan.
Perempuan itu memiringkan kepala sedikit, Gerakannya aneh. Terlalu kaku. Seperti seseorang yang baru belajar bergerak lagi setelah waktu yang sangat lama.
“Sudah lama…” suaranya lirih.
Kabut hitam di sekitar Harvey langsung bergerak liar.
Deg.
Untuk pertama kalinya sejak kematian Elvaretta…..Ekspresi Harvey benar-benar berubah.
Bukan marah. Bukan dingin. Melainkan tidak percaya.
“Aku sendiri yang membunuhmu.”
Perempuan itu perlahan tersenyum tipis, senyum itu terasa kosong.
“Benarkah begitu… Harvey?”
Srettt—
Dalam sekejap Harvey sudah berdiri tepat di depannya. Kabut hitam langsung mencekik leher perempuan itu tanpa ragu.
BRAKKK!!
Tanah di sekitar gerbang hancur. Noir langsung menundukkan tubuhnya karena tekanan besar yang muncul tiba-tiba. Mata merah Harvey menyala terang dalam gelap Netherveil.
“Kau siapa.”
Tidak ada emosi di suaranya sekarang. Justru itu yang membuat suasana jauh lebih mengerikan. Perempuan itu tidak melawan. Meski tubuhnya terangkat sedikit dari tanah oleh kabut Harvey… ekspresinya tetap tenang. Lalu perlahan…Matanya yang kosong bergerak menatap Harvey.
“Aku jadi ingat…”
“api Moonhaven.”
Deg.
Kabut Harvey langsung mengetat.
“aku ingat jeritan mereka.”
“aku ingat darah Elvaretta.”
BRAKK!!
Kabut hitam meledak lebih liar namun perempuan itu tetap melanjutkan dengan suara pelan:
“Dan aku juga ingat..…”
Tatapannya perlahan berubah. Untuk sepersekian detik…mata kosong itu terlihat hidup.
“wajahmu saat membunuhku.”
Deg.
Netherveil langsung sunyi total. Harvey membeku sepersekian detik. Dan itu cukup membuat perempuan itu tersenyum kecil. Senyum yang sangat familiar, Senyum milik Aileen Rasymita. Namun…di detik berikutnya....
Srettt.
Kabut hitam Harvey langsung menembus tubuh perempuan itu tanpa ampun. Tubuhnya terpental keras menghantam gerbang Netherveil.
DUAAARRR!!
Retakan besar langsung muncul di dinding kastil. Noir membelalak, Harvey berjalan pelan mendekat.
Langkahnya berat, matanya gelap.
“Kau bukan Aileen.”
Kabut hitam mulai memenuhi seluruh area gerbang.
“Karena Aileen sudah mati.”
Perempuan itu batuk pelan, Darah hitam mengalir dari sudut bibirnya. Namun anehnya…dia tertawa kecil.
“Kalau begitu…”
“kenapa kau terlihat takut, Harvey?”
Deg.
Langkah Harvey berhenti,untuk pertama kalinya…
ia sadar sesuatu. Aura perempuan ini memang berbeda, tapi…jiwanya. Sebagian dari jiwa itu benar-benar milik Aileen. Dan itu mustahil. Kabut hitam di sekitar Netherveil mulai bergerak tidak stabil. Sesuatu terasa salah, sangat salah. Lalu…
Craaaackkk—
Suara retakan lain terdengar di langit Netherveil, Harvey langsung menoleh tajam ke atas. Mata merahnya menyipit.
“jadi begitu.”
Ekspresinya langsung berubah lebih dingin. Karena sekarang ia mengerti, Seseorang…sedang membuka “pintu lama” Netherveil.
Pintu yang seharusnya tersegel sejak tragedi Moonhaven 300 tahun lalu.
Kabut hitam Netherveil masih bergetar tidak stabil. Retakan di langit itu semakin melebar, seperti sesuatu dari masa lalu sedang dipaksa kembali masuk ke dunia yang seharusnya sudah melupakannya. Harvey berdiri diam namun matanya kini tidak lagi hanya dingin. Ada sesuatu yang lebih tajam di dalamnya.
“kau bukan hanya boneka.” gumamnya pelan.
Perempuan berarmor putih di depan gerbang itu perlahan bangkit. Tubuhnya masih retak, seperti tubuh yang dipaksa “menyatu ulang” oleh sesuatu yang tidak alami. Kabut hitam dari serangan Harvey tadi tidak benar-benar menghapusnya… hanya menembus dan meninggalkan jejak cahaya redup di dalam dirinya.
Dan saat ia berdiri…matanya kembali menatap Harvey. Kali ini lebih dalam. Lebih “hidup”.
“Aku… Aileen Rasymita.” Suara itu tidak sepenuhnya stabil, Seperti dua suara yang saling tumpang tindih.
Satu dingin dan kosong. Satu… penuh emosi yang tertahan terlalu lama.
“Tidak.” jawabnya datar.
“kau sudah mati.”
Angin Netherveil berhenti sesaat. Lalu....Aileen tertawa kecil.
“Tentu saja aku sudah mati.”
Senyumnya perlahan berubah, bukan lagi kosong, tapi… menyakitkan.
“Aku mati di hari itu, Harvey.”
Deg.
Kabut di sekitar Harvey langsung menegang, perempuan itu melangkah satu langkah ke depan.
“Di hari kau memilih dia.”
Suasana langsung berubah, Noir mundur lagi, kali ini benar-benar gelisah. Aileen menatap Harvey seperti seseorang yang sudah menyimpan sesuatu terlalu lama.
“Aku melihat semuanya.”
“Moonhaven terbakar.”
“Para prajurit Rimegate menjerit karna tebasan pedangmu.”
Matanya sedikit menyipit.
“Dan kau…”
“berlutut di depannya.”
Nama itu tidak disebut, Tapi Harvey tahu siapa yang dimaksud. 'Elvaretta kekasihnya'. Kabut hitam di sekitar Harvey sedikit bergetar. Namun bukan karena marah, lebih ke… tertahan. Aileen tersenyum kecil, tapi kali ini senyum itu lebih rapuh.
“Aku pikir kalau aku menghancurkan Moonhaven…”
“kau akan melihatku, kau akan mencintaiku.”
Srett~
Tiba-tiba Harvey sudah berdiri di depannya lagi, tangan kabutnya langsung menekan dada Aileen.
BRAKKK!!
Tanah Netherveil retak dalam.
“Jangan lanjutkan.” suara Harvey rendah.
“Jangan bawa nama itu lagi.”
Aileen tidak melawan. Justru ia menatap Harvey dari dekat dan untuk pertama kalinya…ada sesuatu yang mirip luka di matanya.
“Kau masih sama.”
“Masih melindunginya.”
Tangannya perlahan menyentuh kabut hitam di dada Harvey.
“…Elvaretta.”
Deg.
Seluruh Netherveil seperti berhenti. Bukan karena nama itu diucapkan. Tapi karena sesuatu di dalam Harvey langsung “pecah”, Kabut hitamnya meledak.
BUUUUAAARRR!!!
Langit Netherveil retak lebih besar, Noir sampai terdorong jauh ke belakang. Harvey tidak lagi menahan kekuatannya. Matanya benar-benar merah gelap.
“Aku bilang jangan sebut dia dengan suara kotormu.”
Aileen tersenyum kecil… tapi tubuhnya mulai retak lebih parah, namun ia tidak terlihat takut, Justru tenang.
“Kalau begitu ayo bunuh aku lagi.”
“Seperti dulu.”
Harvey membeku sepersekian detik dan di detik berikutnya itu…ingatan lama sempat menyelinap. Aileen yang berdiri di medan perang Moonhaven, menatap bahagia Elvaretta yang sudah jatuh. Tangannya berlumur darah dan di belakangnya....Harvey dengan tatapan mata yang sama seperti sekarang. Tapi saat itu…ia tidak langsung membunuh Aileen. Karena Aileen sempat berkata satu hal terakhir.
“aku melakukan ini karena kau tidak akan pernah memilihku.”
Mata Harvey menyipit, Kabutnya semakin padat.
“kau yang menghancurkan Moonhaven.”
“kau yang membunuh Elvaretta kekasihku.”
Suara Harvey berubah semakin berat.
“Aku tidak punya alasan untuk membiarkanmu hidup.”
Aileen menatapnya lama, lalu tersenyum kecil.
“benar.”
“tapi kau juga tidak pernah benar-benar membunuhku sepenuhnya.”
Retakan di langit Netherveil kembali terbuka dan dari dalamnya…sesuatu mulai turun, bukan satu tapi banyak. Bayangan-bayangan hitam yang membawa bentuk samar prajurit dan di tengah semua itu.....Aileen perlahan mundur satu langkah ke arah retakan.
“Aku tidak datang untuk menang hari ini.”
tatapannya masih ke Harvey.
“Aku hanya ingin memastikan satu hal.” Senyumnya kembali muncul.
“Apakah dia benar-benar sudah kembali.”
Harvey langsung bergerak.
Srett!!
Namun retakan itu menutup lebih cepat dan Aileen menghilang di dalamnya bersama bayangan-bayangan itu. Sisanya lenyap seperti tidak pernah ada. Suasana kembali hening, Netherveil kembali sunyi tapi tidak tenang. Kabut hitam Harvey masih mengamuk, belum reda sepenuhnya. Noir berdiri jauh, tidak berani mendekat dan Harvey…hanya berdiri diam. Matanya menatap retakan yang sudah hilang.
“Aileen.” Suara itu pelan dan lebih rendah dari sebelumnya.
Namun kali ini…bukan kebencian yang terdengar paling jelas. Tapi sesuatu yang lebih berbahaya, Ketidakpastian. Karena sekarang Harvey tahu satu hal, Aileen bukan sekadar 'hidup kembali'. Dia sedang 'dibangkitkan kembali' untuk tujuan tertentu.
Dan target utamanya bukan kekuasaan Netherveil, bukan Harvey, tapi....reinkarnasi dari Elvaretta Ileana Anastasia