Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bali
Ini memang bukan kali pertama Kinan pergi ke Bali, karena sebelumnya dia sudah pergi datang ke Bali bersama seseorang yang pernah mengisi hatinya.
Alasan utama Kinan memilih ke ibukota bukan hanya untuk membuktikan pada keluarganya jika dia bisa. Tapi di dorong dengan sebuah rasa sakit yang masih mengganjal di hatinya hingga saat ini.
"Kenapa? Kamu lapar lagi?" tanya Baskara setelah sadar ada yang aneh dengan Kinan.
"Gak apa-apa, Bos. Cuma agak jet lag aja." jawabnya asal.
"Jat lag? Kamu yakin ingin berbohong dengan, saya Kinan?" tatapan Baskara menyelidik membuat Kinan tidak tidak bisa berkata-kata lagi.
"Lupakan! Gadis seperti mu memang memiliki cerita hidup yang tidak masuk akal!" ucap Baskara tidak ingin mendengar penjelasan Kinan, karena kemungkinan besar itu berhubungan dengan teman masa lalunya mungkin.
"Ah, Bos tungguin." Kinan berteriak menyusul Baskara yang sudah berjalan meninggalkannya lebih dulu.
Kamar hotel mereka bersebelahan. Bekerja dengan Baskara memang memiliki banyak keuntungan. Bahkan kamar hotel tempat mereka menginap saja pun VVIP begini.
"Orang kaya memang beda." gumam Kinan setelah masuk ke dalam kamarnya.
Ting...
"Astaga..." gumam Kinan melihat ponselnya.
Baru saja dia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Tapi sudah kembali masuk pesan dari Baskara.
"Hah? Pesta?" Kinan langsung bangkit setelah mendapatkan pesan dari Baskara yang mengatakan jika nanti malam mereka akan pergi ke pesta pernikahan salah satu anak rekan kerjanya.
"Pakai apa dong gue? Masak iya kemeja ini." gumam Kinan cemberut.
Belum selesai sampai disana, belum dia membalas pesan Baskara, pintu kamar hotelnya sudah di ketuk lagi.
"Ya sebentar!!!" teriak Kinan dari dalam kamarnya dengan kesal.
Dia hendak marah, tapi melihat siapa yang berada di depan pintu kamarnya membuat nyalinya langsung menciut saat itu juga.
"Hehehe, ada apa bos? Apa kita meeting sekarang?" tanya Kinan gusar melihat raut wajah dingin Baskara.
"Meeting di batalkan. Besok jam 8 meetingnya. Sekarang ayo pergi. Kita akan ke salon."
"Mau ngapain di salon, Bos?" tanya Kinan penasaran.
"Potong rumput." jawab Baskara asal.
"Hah, motong rumput?" beo Kinan membuat Baskara benar-benar kesal di buatnya.
Kinan ini memang pintar, hanya saja sedikit bodoh dalam bersikap. "Kenapa IQ mu tidak di bagi sedikit ke EQ mu?"
"Ih, maksudnya gimana sih, Bos? Saya beneran gak ngerti." jawab Kinan dengan begitu polosnya membuat Baskara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Ikut saya sekarang KINAN!" Baskara menekan suaranya saat menyebut nama asistennya itu membuat Kinan ketakutan jika Baskara sudah mode siaga begitu.
"Ha, oke. Ayo berangkat, Bos." Kinan menggandeng lengan Baskara tanpa sadar membuat sih pemilik raga cukup tercengang untuk itu.
"Eh?" Kinan tersadar dengan apa yang dilakukannya.
Dia merutuki kebodohannya sendiri karena telah melakukan hal itu. Bagaimana ini? bagaimana jika Kinan di pecat?
"Sudah sadar? Kamu memang suka mencari kesempatan dalam kesempitan ya!"
"Eh gak gitu maksudnya, Bos. Saya cuma-"
"Ssttt...kamu berisik!" sela Baskara masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang disana.
Melihat Baskara mode diam begini membuat Kinan tidak berani berkata-kata lagi. Sungguh, ini benar-benar sebuah peringatan untuk dirinya.
Perjalanan terasa sangat sepi, karena tidak ada Kinan yang berisik, sampai Baskara melihat ternyata gadis itu tertidur dengan begitu pulasnya.
"Bahkan dia bisa tidur tanpa rasa gangguan begitu. Apakah tidur se-menyenangkan itu?" gumam Baskara melihat bagaimana tenang dan damainya Kinan saat tidur.
***