Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Skandal Salah Paham di Meja Pimpinan
Setelah menyelesaikan orasi puitisnya yang menggelegar, Arvand dengan sangat santai dan tanpa rasa bersalah sedikit pun kembali mendudukkan dirinya di atas kursi kayu di hadapan meja kepala sekolah. Ia melipat kedua kakinya, menopang dagunya dengan satu tangan, lalu menatap Drs. Hadi Wicaksana dan Wakil Kepala Sekolah, Pak Rizwan Maulana, yang kebetulan baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan karena mendengar suara gaduh dari luar.
"Jadi, kapan saya bisa mulai bertugas dan masuk ke kelas mereka, Pak Kepsek? Hari ini juga saya siap memberikan sentuhan kasih sayang sosiologis kepada mereka," tanya Arvand dengan senyuman lebar yang sangat cerah tanpa beban.
****Pak Rizwan Maulana, sang Wakil Kepala Sekolah yang terkenal berwajah serius dan selalu membawa penggaris kayu panjang ke mana-mana, menatap Arvand dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa sangsi dan kebingungan mendalam. Ia berjalan mendekati meja Drs. Hadi, lalu berbisik pelan namun masih bisa terdengar oleh Arvand.
"Pak Hadi... ini si Arvand kenapa? Kenapa dia mendadak berbicara seperti orang habis memenangkan lotre sekaligus kehilangan kewarasan? Apakah dia tahu risiko apa yang sedang dia ambil?" tanya Pak Rizwan dengan dahi berkerut.
Namun, demi menjaga agar posisi wali kelas 12 F tidak kosong lagi dan sekolah tidak ditegur oleh dinas pendidikan, Pak Rizwan akhirnya berdeham dan menatap Arvand dengan ekspresi penuh simpati yang dipaksakan.
"Begini, Pak Arvand... Kelas 12 F itu memang sudah terkenal di seluruh penjuru sekolah sebagai kelas yang sangat susah diatur, liar, dan tidak mempan dengan metode pengajaran biasa. Tapi... melihat semangat Anda yang menggebu-gebu sampai melompat-lompat tadi, saya dan kita semua jajaran guru di sini tentu akan mendukung penuh Pak Arvand dari belakang. Setidaknya, jika terjadi sesuatu yang memerlukan penanganan fisik, kami akan segera bertindak," ujar Pak Rizwan berusaha memberikan jaminan moral yang sebenarnya terdengar seperti ucapan bela sungkawa sebelum perang.
Drs. Hadi Wicaksana yang masih shock melihat tingkah aneh, lompatan kangguru, dan retorika puitis bin ajaib dari Arvand sejak tadi, buru-buru merapikan kembali posisi kacamata minusnya yang melorot. Di dalam pikiran terdalam sang kepala sekolah, Arvand saat ini sedang mengalami tekanan mental pranikah atau stres kerja stadium awal akibat ancaman kelas 12 F, sehingga otaknya menciptakan mekanisme pertahanan diri berupa kegembiraan palsu yang meledak-ledak.
A-Aduh... begini saja, Pak Arvand," kata Drs. Hadi Wicaksana dengan suara yang sengaja dilembutkan, seolah-olah sedang berbicara dengan seorang anak kecil yang sedang memegang benda tajam.
"Hari ini... kamu tidak usah masuk kelas dulu, ya? Lebih baik kamu pulang saja ke rumah sekarang. Pulang, mandi, istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, dan tenangkan dulu pikiranmu. Saya khawatir... yah, saya khawatir kamu terlalu bersemangat hari ini sampai lupa menjaga kondisi kesehatan jiwamu. Urusan kelas 12 F baru kita mulai besok pagi saja secara resmi. Bagaimana?"
Sang Kepala Sekolah benar-benar berpikir bahwa jika ia membiarkan Arvand masuk ke kelas 12 F dengan kondisi mental yang tidak stabil dan suka melompat-lompat seperti tadi, anak-anak berandalan di kelas itu bukannya menjadi patuh, melainkan akan menjadikan Arvand sebagai bahan lelucon baru atau bahkan memicu baku hantam massal yang merugikan akreditasi sekolah.
Arvand mengernyitkan dahinya sekilas mendengar perintah untuk pulang, namun ia segera menyadari bahwa kepala sekolah dan wakil kepala sekolah saat ini sedang mengalami salah paham tingkat internasional mengenai kondisi mentalnya. Mereka mengira dirinya sudah tidak waras atau mengalami gangguan jiwa ringan karena ditunjuk menjadi wali kelas 12 F.
'Baguslah kalau mereka salah paham,' batin Arvand sambil tersenyum licik. 'Dengan begitu, mereka tidak akan curiga dari mana asalnya uang seratus lima puluh juta di rekeningku atau kenapa aku bisa mendadak berubah menjadi guru yang serba bisa.'
"Baiklah kalau begitu, Pak Kepsek yang terhormat! Jika itu adalah perintah dari sang kapten kapal birokrasi, maka saya sebagai kelasi yang setia akan melaksanakannya dengan penuh suka cita!" sahut Arvand, lagi-lagi dengan nada puitis yang membuat Pak Rizwan Maulana merinding di tempatnya berdiri.
Arvand bangkit berdiri dari kursinya, menyampirkan tas belacu usangnya di bahu kanan dengan gaya yang sangat santai. Sebelum melangkah pergi, ia memberikan kedipan mata yang penuh percaya diri ke arah Yasmin Adiba yang masih menatapnya dengan wajah horor bercampur malu.
"Jangan lupa janji makan malam kita nanti malam ya, Pak Kepsek. Saya akan datang dengan pakaian terbaik saya untuk melamar bunga tercantik di sekolah ini," ucap Arvand dengan nada santai namun tegas, merujuk pada Yasmin.
Yasmin langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela dengan kasar, mengepalkan kedua tangannya di atas meja kerja. Wajahnya yang anggun kini sudah semerah kepiting rebus akibat kombinasi antara rasa malu yang luar biasa dan kekesalan yang mendalam pada tingkat kepedulian diri Arvand yang terlalu tinggi.
"Pulanglah, Arvand... pulanglah sebelum saya berubah pikiran dan memanggil ambulans rumah sakit jiwa untukmu," gumam *Drs. Hadi Wi***caksana** sambil melambaikan tangannya dengan lemas, merasa energi tuanya terkuras habis hanya karena menghadapi satu orang guru honorer dalam waktu setengah jam.
Arvand hanya tertawa kecil, melangkah keluar dari ruang kepala sekolah dengan langkah kaki yang ringan dan penuh kemenangan. Di luar ruangan, para guru senior yang sejak tadi menempelkan telinga mereka di dinding kaca buram langsung berhamburan kembali ke meja masing-masing, berpura-pura sibuk memeriksa kertas ujian dengan wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya besar mengenai apa yang baru saja terjadi di dalam sana. Arvand mengabaikan mereka semua; ia berjalan melewati koridor utama SMA Cakrawala Bangsa dengan senyuman lebar yang terus terkembang di wajahnya, siap untuk menyambut hari esok sebagai wali kelas paling kaya dan paling berbahaya di sekolah elit tersebut.
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥